
Silvia memegang sendoknya erat. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Cahya padanya. Dia... tidak suka diperhatikan seperti itu.
"Kok diem aja? makan dong."
Lamunanya buyar saat sang ayah berkata seperti itu. Dia mengangguk kaku, lalu mulai menyuapkan makananya dengan kaku.
Ngomong-ngomong, sekarang ini mereka bertiga sedang makan siang bersama di luar. Hanya mereka bertiga, karena si kembar sedang pergi ke rumah nenek.
"Dek?"
"Dek, kok diem aja?"
Lihat, Silvia melamun lagi.
"Iya dad?"
"Om Cahya nanya tuh."
"Eh? Kenapa om?" tanyanya.
Cahya terkekeh. Dia sangat gemas sekali dengan Silvia.
"Nggak papa. Lanjutin aja makannya."
Gadis itu mengangguk.
Drtt.. Drttt
Ponsel Sean berdering. Dia mengambil benda pipih itu lalu permisi untuk mengangkatnya.
Tidak lama, ayah beranak tiga itu kembali, dengan wajah murung yang membuat Silvia bertanya-tanya dalam benaknya, apa yang terjadi pada daddy nya ini?
"Kenapa Se?"
"G-gue ada rapat dadakan," katanya. Silvia dan Cahya hanya menatapnya.
"Kapan?"
"Sekarang. 10 menit lagi."
Sean menghela napas. 10 menit bukan waktu yang lama. Perjalanan dari restoran ini ke kantornya mungkin akan menghabiskan waktu sekitar 8 menit, dan jika dia mengantar bungsunya terlebih dahulu, dia akan terlambat.
"Yaudah, biar gue aja yang nganterin Silvia."
Sean mengangkat kepalanya. "Gak ngerepotin?" tanyanya. Oh ayolah Sean, Cahya tidak akan kerepotan, tapi putrimu yang pastinya keberatan dengan ide itu.
"Ya nggak lah."
Satu-satunya gadis yang ada di sana meremat rok sekolahnya, bagaimana ini? Dia... takut pada teman ayahnya ini.
"Dek, nggak papa kan?"
__ADS_1
Silvia terdiam sejenak. Bukankah dia tidak boleh egois seperti ini? Ayahnya sedang terburu-buru bukan? Egois rasanya jika dia tidak ingin diantar oleh Cahya. Lagipula, ini kesempatan bagus bukan? Dengan ini, mungkin traumanya bisa perlahan menghilang. Dia harus bisa berinteraksi dengan orang lain agar dia sembuh bukan?
Karenanya, Silvia memutuskan untuk mengangguk, mengiyakan ajakan Cahya dan menjawab pertanyaan ayahnya tadi.
Sean berdiri, menghampiri Silvia, lantas mencium puncak kepalanya. "maaf ya sayang, daddy--"
"Iya, gak papa kok." Silvia menyela.
Silvia tersenyum, lalu, untuk terakhir kalinya dia mencium pipi bungsunya lalu pergi dari sana. Meninggalkan Silvia dan Cahya berdua.
...***...
"Ndi!! Ndi!!"
Cahya berteriak nyaring memanggil putranya.
"Apa sih teriak teriak? Ini rumah, bukan gua!" Rendi menyahut, dia keluar dari kamarnya dengan wajah dongkol. Namun, dia cepat mengganti ekspresinya itu saat tahu ayahnya tidak datang sendiri, melainkan dengan orang lain.
"Hehe..." Cahya menyengir, "titip Silvi ya, papa ada kerjaan soalnya."
What? Titip Silvi? Rendi tidak salah dengar bukan? Kenapa ayahnya menitipkan gadis itu padanya? Kemana si duo brangsek yang selalu mengawal gadis itu? Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran Rendi.
"H-hah?"
"Udah gak usah banyak tanya, jagain dia ya. Kalo laper kasih makan, kalo haus kasih minum, kalo mau berak suruh ke toilet." kata Cahya sambil mendorong tubuh mungil Silvi pada Rendi.
Dasar tidak ada akhlak. Tentu saja Rendi tahu tentang itu.
Kini, hanya tingga Rendi dan silvia yang terdiam dengan suasana canggung, tidak tahu harus melakukan apa.
Silvia menggaruk tengguknya. "E-eh, duduk dulu Sil."
Silvia mengangguk kaku, lantas duduk di sofa, diikuti oleh si pemilik rumah.
"Mau minum apa?"
"Eh," Silvia salah tingkah, "nggak usah kak." tolaknya.
"Kalo mau apa-apa tinggal bilang aja ya."
Oh, kenapa suasana bisa secanggung ini? Rendi benci ini. Dia memang jarang berinteraksi dengan orang lain, tapi bukan berarti dia tidak bisa bersosialisasi ya. Dia bisa, dan biasanya dia tidak pernah merasakan suasana seperti ini.
Ayolah Rendi, ini hanya Silvia, adik kelasmu, adik dari kedua temanmu, dan juga anak dari teman ayahmu.
Hm, Ayah ya? Ngomong ngomong soal ayah, dia jadi teringat perkataan Cahya tempo lalu. Perkatannya yang bilang ingin menjodohkannya dengan... Silvia.
Tunggu, apa Cahya serius dengan ucapannya? Rendi pikir ayahnya hanya main-main. Tapi, sepertinya tidak. Juga, sekarang Rendi mengerti. Pasti kedatangan Silvia ke rumahnya ini rencana ayahnya. Rencana untuk mendekatkannya dengan Silvia.
Ya ampun, Rendi tidak mengerti cara berpikir ayahnya.
"Kak Rendi?"
__ADS_1
Rendi tersentak saat Silvia memanggil namanya sembari mengibaskan lengannya di depan wajahnya.
"E-eh, maaf."
Silvia tersenyum kecil. Dia baru tahu sisi lain dari seorang Rendi yang biasanya terlihat galak saat di sekolah, ternyata bisa lucu seperti ini juga.
Rendi terkesiap. Baru kali ini dia melihat senyum Silvia yang begitu tulus. Dan... dia tidak bisa memungkiri jika... gadis itu cantik.
"Kak?"
Ya ampun... Kenapa dia terus saja melamun?
"Kenapa?"
"Boleh numpang ngerjain pr gak?"
Putra semata wayangnya Cahya itu melirik ke belakang Silvia. Dia baru sadar jika gadis itu masih memakai seragam sekolah lengkap dengan tasnya.
"Boleh." jawabnya, "bentar ya, aku ambilin minum dulu."
Aku? Rendi meringis mendengar kata-katanya sendiri. Selama ini, dia tidak pernah berbicara menggunakan bahasa 'aku' dengan orang lain, baik itu laki-laki maupun perempuan. kecuali dengan orang tua tentunya.
"Nggak usah kak." Tolak Silvia.
"Nggak nerima penolakan."
Ya ampun, Rendi tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dari mana dia belajar kata-kata semacam itu?
Tidak ingin malu, Rendi pun berlalu menuju dapur untuk mengambilkan minuman bagi tamunya itu.
Jus jeruk. Silvia kurang suka sebenarnya, tapi karena dia menghargai Silvia, dia pun mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
"Ada yang susah gak?"
"Hm?"
"Kalo ada yang susah tanyain aja. Mungkin aku bisa bantu."
"I-iya kak."
...***...
"Gue mau pula--mphh!!"
Ran menyumpal mulut kembarannya dengan remote tv. Dia kesal. Dari tadi Nan terus saja merengek ingin pulang. "Diem bogo. Nanti nenek denger."
"Tapi mau pulang... Kalo si adek kangen sama gue gimana?"
"Dih, najis."
"Iri bilang sahabat."
__ADS_1
Ran tidak menanggapi perkataan Nan. Dia berlalu dari ruang keluarga menuju dapur untuk mengambil minum. Otaknya perlu direfreshkan. bisa gila dia jika terus berdebat dengan kembarannya itu:)