
...Happy reading...
"Yang udah sampe laporan dulu ya," Suara Ren menyapa indra pendengaran saat mereka-- kelompok edelweiss-- baru menginjakan kaki di buper setelah selesai widegame.
Seperti biasa, Endah akan memberi penghormatan dan laporan pada pembina.
"Lapor, kami dari kelompok edelweiss sudah selesai melaksanakan instruksi. laporan selesai."
"Kembali ketempat."
"Siap kembali ke tempat."
"Gimana widegame nya ? cape ?" Ren bertanya sesaat setelah endah kembali ke barisannya, namun matanya tertuju pada satu titik. Silvia, adiknya. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu sepertinya sangat kelelahan. Wajar saja, Silvia tidak pernah berjalan kaki sejauh ini. Paling jauh biasanya dari basement rumah sakit ke ruang praktek dokter ketika check up.
"Capee..."
Ren dan kedua teman wanitanya terkekeh pelan.
"Yaudah laporan lagi."
Endah melakukan apa yang Ren suruh.
"Silvi," Langkah kelompok edelweiss terhenti saat Ren memanggil nama itu.
"Tunggu disini dulu," Katanya.
"Ren?" Wanita di sebelah kanan Ren yang diketahui sebagai pratama putri bertanya.
"Yang lainnya boleh kembali ke tenda, tapi Silvi tunggu di sini dulu," Rasanya asing saat lidahnya memanggil sang adik dengan nama aslinya tanpa embel-embel 'adek'.
Ran menyuruh Silvia duduk di belakangnya. Jadi Ran dan kedua temannya itu duduk di kursi. Di depan mereka ada meja panjang untuk mencatat peserta yang sudah selesai melakukan widegame.
"Minum dulu," Ran menyerakan air pada adiknya, membuat kedua temannya mengernyit heran. Tidak biasanya Ran seperti itu.
Pratama putra itu mengeluarkan ponselnya, mencari nama saudara kembarnya lantas menelponya. Di dering pertama Nan langsung mengakat telponya, tapi malah mematikannya, membuat Nan mengumpatinya di seberang sana.
Cepetan kesini, ada si adek nih.
Pesan itulah yang Ran kirimkan pada kembarannya.
Sedangkan di seberang sana, Ran kalut. Dia takut terjadi sesuatu pada adiknya.
Tidak lama, Ran datang dengan napas yang sedikit terengah akibat berlari.
"Manahh huhh?" Dia bertanya tanpa peduli jika ada kelompok yang sedang melapor pada Ran dan kedua temannya.
"Kembali ke tempat," Ran menjawab penghormatan kelompok di depan nya. "Dibelakang. Ajak makan gih," Suruhnya.
Nan mengangguk, berjalan ke belakang kakaknya,
"Ikut yuk," ajaknya, menarik lengan Silvia untuk ikut dengannya. Sedangkan gadis mungil itu hanya pasrah. Dia tidak punya tenaga untuk memberontak.
Entah kemana Nan menyeretnya, yang jelas itu masih disekitar area buper. Sebuah tenda yang tidak terlalu besar namun sedikit jauh dari tenda tenda lainnya.
"Ngapain sih ?" Silvia menyentakkan lengan kakaknya.
"Pasti cape kann ?"
Silvia tidak menjawab. Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak lelah sama sekali tapi dia yakin Nan tidak akan percaya. Jadi diam adalah pilihan terbaik.
__ADS_1
"Kalo di kasih yakult bakal muntah lagi gak ?"
Si cantik mendengus sebal. Tragedi ketika ia muntah selalu saja diungkit ungkit oleh kakaknya yang satu ini. Menyebalkan.
"Bisa gak sih gak ngungkit ngungkit itu ?"
"Maaf maaf," Kekehnya disertai usapan di rambut panjang sang adik.
"Mana ?"
"Apanya ?"
"Katanya yakult!"
Nan terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi dan bersih. Dia membuka tutup minuman fermentasi kesukaan adiknya yang entah sejak kapan dia bawa, lalu memberikannya pada Silvia yang langsung diterima dengan senang hati.
"Bang."
"Hm ?" Nan menyahut tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang merapihkan rambut panjang Silvia yang sedikit berantakan.
"Pinjem HP."
"Buat apa ?"
"Pelit."
Oke, Nan hanya bertanya tapi kenapa dia dikatai pelit ? dasar wanita.
Mau tak mau anak kedua dari tiga bersaudara itu memberikan ponselnya pada sang adik. Terserah Silvia ingin melakukan apa pada ponselnya, dia tidak peduli, yang terpenting gadis itu senang dan tidak marah padanya.
"Nanti malem gak usah ikut jurit malem ya ?"
Silvia mengalihkan atensinya dari layar ponsel pada kakaknya, "Gak mau, mau ikut."
"Kan hampir, nggak sampe pingsan."
"Iya deh iya," Nan mengalah, " Tapi nanti abang bakal ngikutin kamu lagi," cengirnya.
"Indi udah mulai curiga loh."
"Gak peduli! wlee" Nan menjulurkan lidahnya, membuat Silvia naik darah dan langsung menyambar rambut hitam sang kakak untuk dia jadikan objek pelampiasannya kali ini.
"Nyebelin! nyebelin!" Makinya, sedangkan Nan hanya mengaduh kesakitan tanpa melawan sedikit pun.
"Ehhh kenapa nih ?!" Ran yang baru datang langsung dikagetkan dengan live penganiayaan yang terjadi di depannya. Dia mencoba melerai mereka berdua. Menghentikan tangan Silvia yang terus menjambak rambut kembarannya.
Setelah berhasil menjauhkan silvia dari Nan, Ran memeluk adik bungsunya untuk mengantisipasi agar gadis itu tidak menyerang lagi. "Kenapa hm ?" Tanyanya lembut setelah Silvia berhasil menormalkan deru napasnya yang tadi sempat memburu.
"Nan nyebelin!"
"Heh!!" Nan yang sedang merapihkan rambutnya sendiri menyahut saat Silvia memanggil namanya tanpa embel embel abang.
Tidak mempedulikan teguran kakaknya, Silvia melepaskan pelukan Ran lalu berjalan menuju pojok tenda untuk duduk.
"Huhhh..." Dia mendesah tertahan sambil meremat dadanya yang tiba tiba terasa nyeri.
"Dek, kamu kenapa ?" Ran menahan tubuh Silvia saat gadis itu hampir saja limbung.
Silvia tidak menjawab, rasa sakitnya terlalu mendominasi hingga untuk bicara saja rasanya sangat sulit.
__ADS_1
"Nan, ambil obatnya adek!" Titah Ran yang langsung dilakukan oleh Nan.
Tidak butuh waktu lama untuk Nan mengambil obat abat adiknya. Dia segera membuka beberapa butir obat dan memberikannya pada sang kakak.
"Minum dulu."
Silvia minum obatnya dengan dibantu oleh Ran. Sedangkan Nan hanya diam melihat pemandangan di depan nya. Melihat itu, membuatnya teringat pada kejadian di masa lalu. Kejadian yang membuatnya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Kejadian yang membuatnya hampir kehilangan sosok yang kini terlihat lemah. Kejadian yang membuatnya menyesal hingga saat ini dan kejadian yang membuatnya sangat menyayangi adiknya.
Melihat kejadian di depan matanya membuat jiwa Nan seakan ditarik pada kejadian beberapa tahun silam.
Saat itu nenek datang ke rumah sambil membawa makanan kesukaannya dan kembarannya. Nan bertanya kenapa nenek tidak membawa makanan kesukaan Silvia juga dan nenek malah menjawab bahwa dia tidak akan memasakkan makanan untuk pembunuh seperti Silvia. Nenek selalu mengatakan bahwa penyebab Yani -- ibunya si kembar dan Silvia -- meninggal karena kelahiran silvia. Jika saja Silvia tidak lahir, maka Yani tidak akan meninggal. Karena itulah nenek sangat membenci Silvia. Pernah suatu hari Ran dan Nan terpengaruh omongan nenek, tapi Sean memberi pengertian bahwa Yani meninggal karena sudah takdir. Sejak saat itu Ran dan Nan tidak pernah menggubris ujaran kebencian nenek pada adiknya lagi.
Dihari yang sama saat nenek datang membawa makanan, disaat itu juga Nan mengagetkan Silvia hingga anak itu terkejut sampai kesulitan bernapas. Sean yang waktu itu baru pulang kerja langsung membawa anak ketiganyake kamar. Entah apa yang dilakukan pria dewasa itu di kamar, karena Sean tidak mengizinkan Ran maupun Nan untuk masuk ke kamar adiknya saat itu.
Setelah hampir setengah jam menunggu di depan pintu kamar Silvia, Sean akhirnya keluar. Ran dan Nan yang panik langsung menanyakan keadaan adik mereka tapi Sean malah memarahi Nan, mengatakan bahwa Nan hampir membunuh putrinya. Hal itu membuat Nan merasa bahwa Ayahnya tidak sayang padanya. Karena bentakan Sean itulah Nan menjadi benci pada ayah dan adiknya.
Keesokan harinya, Nan bilang bahwa guru menyuruhnya membawa fotocopy akta kelahiran, tapi dia tidak sudi masuk ke kamar ayahnya untuk mencari akta kelahiran nya. Karena itulah dia meminta bantuan kembarannya. Ran bersedia. Dia masuk ke kamar Sean untuk mencari akta kelahiran kembarannya, namun yang dia dapat bukan akta, melainkan beberapa lembar kertas yang membuatnya tercengang.
Saat mendengar suara Sean yang sepertinya baru pulang kerja, Ran langsung menghampiri ayahnya, membombardir ayahnya untuk menuntut penjelasan atas apa yang sedang dia pegang.
Saat mendengar keributan di bawah, Nan memutuskan untuk turun, dan perkataan kakaknya membuat dunianya seakan runtuh.
Silvia, adiknya mengalami trauma.
"Sakit kak hiks."
Isakan Silvia membuat kesadaran Nan kembali. Selama ini, gadis di depannya itu tidak pernah menunjukkan rasa sakit nya. Dia selalu menutupinya, tidak peduli seberapa sakit yang dia rasakan. Dia selalu tersenyum sambil berkata "Gak papa Dad, kak, bang, aku baik baik aja kok" tapi kini gadis itu mengatakan sakit. Apa dia tidak bisa menahannya lagi ?
"Ssstt.... kakak disini sayang," Ran memeluk adiknya erat disertai elusan punggung dan kecupan di kepala, berharap rasa sakit yang dirasakan adiknya bisa menghilang.
"Daddy hiks sa.. kit..."
Tidak tahan melihat dan mendengar adiknya yang sedang kesakitan, Nan melempar dirinya untuk ikut bergabung bersama kedua saudaranya.
...***...
Pukul 20.00 upacara api unggun dilaksanakan. Para peserta perkemahan sudah berbaris mengelilingi kayu yang terletak di tengah. Beberapa lampu yang dipasang untuk menerangi buper sengaja dimatikan agar suasana semakin mendukung.
Para peserta upacara memulai upacara api unggun ini dengan Nan yang bertugas menjadi pemimpin upacara sedangkan Nan yang terus mengawasi Silvia.
Suara lembut paduan suara beserta kobaran api unggun membuat malam semakin syahdu. Tubuh yang tadinya hampir membeku karena tiupan angin malam yang menusuk kulit menjadi hangat ketika api berhasil menghangatkan tubuh mereka. Bulan yang bersinar terang dan bintang yang bertaburan di langit menjadi saksi bisu bahwa Silvia baru saja menyaksikan dan mengalami kejadian seperti ini dalam hidupnya.
Kegiatan malam ini dilanjutkan dengan pentas seni yang belum terselesaikan kemarin malam.
Rasa ini, suasana ini, pemandangan ini, apa Silvia bisa merasakannya lagi nanti ? Dia ingin sekali menghabiskan waktu seperti ini bersama Ayah dan kedua kakaknya sebelum dia harus pergi untuk menemui ibunya.... di surga.
...***...
Apa yang terlintas di pikiran kalian saat mendengar kata jurit malam? hantu palsu? kejadian mendebarkan dan menyeramkan ? pos pertanyaan? lelah? pelantikan? bentakan? Ya. itu memang benar.
Jurit malam. Hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang tapi tidak dengan Silvia. Gadis itu sangat antusias menunggu kegiatan ini tiba.
Ran sengaja memanggil kelompok edelweiss untuk melaksakan jurit malam paling awal agar setelah jurit malam dan pelantikan selesai, adiknya masih punya waktu untuk tidur walau hanya sebentar.
Jurit malam hanya sama seperti widegame. Bedanya jurut malam dilakukan di malam hari dengan pos dan jarak yang lebih sedikit dibanding widegame.
Mungkin jurit malam identik dengan petualangan malam dimana para dewan ambalan akan berpura pura menjadi hantu agar peserta takut. Itu benar. Tapi di sekolah Silvia tidak ada hal menakut nakuti seperti itu. Tidak ada hantu palsu. Tidak sama sekali. Kalaupun ada hantu palsu, Ran dan Nan tidak akan membiarkan adiknya untuk ikut. Bisa bisa Silvia kaget saat melihat hantu palsu itu dan berakhir dengan kesehatannya yang terancam.
Tidak berbeda dengan widegame tadi pagi, saat jurit malam pun Nan terus mengikuti Silvia, membuat Indi dan Endah terus menggodanya.
__ADS_1
Berangkat paling awal, selesai pun paling awal. Pukul 03.45 kelompok edelweiss sudah seleaai mengikuti kegiatan jurit malam dan pelantikan. Mereka kembali ke tenda untuk tidur walau hanya sebentar. Nanti siang, mereka sudah akan pulang ke rumah.
...***...