Fosessive Brother

Fosessive Brother
19


__ADS_3

...Happy reading...


"Gue seneng banget Se, akhirnya gue bisa ketemu Silvi!" Cahya berkata heboh. Sedangkan Sean hanya menanggapi dengan senyuman. Sesenang itukah Cahya bertemu dengan anaknya?


"Udah ketemu?" tanya Sean, hanya untuk menanggapi keantusiasan temannya.


"Udah donggg. Dulu itu loh, waktu gue ngajak lo makan malem bareng tapi kata lo Silvi masuk rumah sakit, nah pas siangnya gue ketemu mereka di jalan. Jalan kaki lagi. Kenapa lo gak jemput?"


Sean menghembuskan napasnya pelan, dia memainkan pisau yang ada di genggaman tangannya, namun tidak berniat memakan steak yang sudah dia potong. Emm, kebetulan mereka berdua sedang makan siang bersama. Cahya yang memaksa ngomong-ngomong.


"Mereka yang gak mau dijemput."


Cahya mengangguk, memakan makannya dengan semangat, tidak mempedulikan perubahan ekspresi temannya sama sekali.


"Oh iya Se,"


"Apa?"


"Kalo dipikir-pikir... Rendi sama Silvi cocok juga."


Tawa Sean pecah saat itu juga. Dia tidak bodoh untuk mengetahui maksud perkataan temannya itu. "Jangan bilang..."


"Yeah, lo bener. Gue mau ngejodohin mereka berdua,"


"Cah, Cah... lo hidup di zaman apa sih? Masih zaman aja main jodoh-jodohan," Sean tertawa saat mengatakannya.


"Sebenernya, dari mereka kecil juga gue udah mau ngejodohin mereka. Tapi lo kan tau kalo gue harus tinggal di Singapura selama beberapa tahun. Dan akhirnya sekarang ketemu lagi, dan gue mau nerusin rencana mulia gue."


Sean tidak habis pikir pada Cahya, saat mereka kecil katanya? Yang benar saja, disaat anak-anaknya masih kecil, yang Sean pikiran hanyalah bagaimana mereka bisa hidup dengan bahagia tanpa kekurangan apapun. Tapi Cahya? Orang itu malah merencanakan perjodohan konyol yang tidak masuk akal.


"Kayanya Rendi boleh juga," masih dengan tawa, Sean pun menjawab. Hanya main main, tapi tentu saja Cahya menganggap itu lampu hijau.


"Boleh juga apanya? Anak gue itu pinter, baik, ganteng, sopan, baik hati dan tidak sombong pula. Kurang apa lagi coba?"


Rasanya, setiap kali bersama Cahya, Sean selalu ingin tertawa. Pria yang lebih tua darinya beberapa bulan itu selalu saja bisa mencairkan suasana. Ah, sepertinya dia sangat beruntung memiliki teman seperti Cahya.


"Terserah," malas Sean. Dia tidak ingin mendengar temannya memuji-muji anaknya sendiri. Yaaa walaupun yang Cahya sebutkan tadi memang benar sih. Rendi itu sudah seperti paket komplit.


"Lampu hijau nih?" tanya Cahya antusias.


"Yaa... terserah lo aja Ya," pasrah Sean.


"Oke, nanti biar gue yang ngajarin Rendi buat pdkt sama Silvia."


Sudah Sean bilang bukan jika Cahya itu selalu membuatnya tertawa, kali ini saja pria berkulit putih seputih porselen itu tertawa. Cahya ini memang beda dari yang lain.


"Yang bener aja lo, disaat orang lain ngajarin anaknya biar pinter, lo malah ngajarin anak lo buat pdkt. Ckck dasar mantan playboy."


"Gak usah diajarin juga dia mah udah pinter," bangga Cahya.


Sean terdiam. Benar, Rendi itu pintar, baik, kalem. Orang sepertinya tidak cocok dengan putrinya. Putrinya, Silvia terlalu banyak kekurangannya untuk laki-laki sesempurna Rendi. Sean benci pada otaknya yang terus saja memikirkan kemungkinan terburuk tentang Silvia. Dia ingin, ingin sekali meyakinkan dirinya sendiri bahwa putrinya akan sembuh, namun otaknya tidak bisa diajak kompromi.


"Tunggu aja, kurang dari dua bulan, Rendi sama Silvi pasti udah off--."


"Cahya," San memanggil, mengakibatkan pria itu tidak jadi meneruskan perkataannya.


"Kenapa?"


"Gue gak tau lo cuma main-main atau serius soal i--"


"Gue serius Se," sela Cahya cepat.


Sean mengangguk, "Karna lo udah serius, maka lebih baik kalo ini nggak udah dilanjutin lagi."


Mata bulat Cahya semakin membulat, efek terkejut karena penuturan Sean barusan. Apa apaan ini? Kenapa Seam bicara seperti itu? Padahal tadi dia sendiri yang menyetujui usulannya, lalu kenapa sekarang--


"Kenapa?"


"Gue gak mau Rendi terjebak sama Silvi," Sean mengetukan pisau yang ada di tangannya pada piring.


"Sean!"


"Silvi yang lo kenal dulu sama yang lo kenal sekarang itu beda Cah."


Beda? Apa maksudnya? Kenapa Cahya tidak mengerti?

__ADS_1


Tiba-tiba, ingatan Cahya berputar pada kejadian di mana dia bertemu dengan Silvia dan si kembar di jalan. Dia... merasa Silvia memang berbeda dari Silvia yang dia kenal dulu. Tapi, dia pikir perbedaan itu karena putri semata wayang temannya itu sudah lupa padanya. Tapi sepertinya bukan karena itu.


"Maksud lo?"


"Silvia beda Cah. Dia beda," percayalah, butuh keberanian super besar untuk mengungkapkan itu semua. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya berbeda, termasuk Sean.


"Beda kenapa?"


"Gue yakin, pas lo ketemu sama Silvi, dia kaya ketakutan liat lo kan?"


Ketakutan? Cahya memutar ingatannya. Memang, Silvia tampak sangat ketakutan saat melihatnya.


"Kok... lo tau?"


Sean terkekeh pelan. Tidak ada yang lucu, tapi dia hanya sedang menyembunyikan kesedihannya.


5 menit berlalu, tapi Sean tidak juga membuka mulutnya. Pria itu bungkam. Menatap piring berisikan steak dengan tatapan kosong, tangannya dari tadi tak hentinya mengetukkan pisau pada piring, membuat dentingan kecil terdengar.


"Sean!" panggil Cahya geram. Dia tak suka diabaikan, tapi Sean malah mengabaikannya. "Lo harus ceritain semuanya sama gue. Semua yang gak gue tau. Semua yang gue lewatin selama gue di Singapura."


Namun Sean tak kunjung menanggapi.


"Sean! Lo baik-baik aja kan?" Cahya turun dari kursinya, berjalan menghampiri temannya yang terus terdiam. Dia khawatir. Khawatir terjadi sesuatu pada temannya.


"Gue gagal Cah. Gue gagal jadi orang tua yang baik buat anak-anak gue," setelah sekian lama bungkam, akhirnya Sean bicara.


"Sean--"


"Gue gagal Cah," suara berat itu kian parau, namun tidak ada sedikit pun air mata yang turun dari pelupuk matanya.


"Lo gak baik-baik aja Se. Kita pulang se--"


Sean mencekal lengan Cahya saat pria bertelinga caplang itu akan memapahnya keluar dari restoran.


"Lo mau tau kan Cah? Lo mau tau semuanya kan? Gue ceritain sekarang."


Cahga kembali duduk di kursinya. Dia menatap sean lekat, menunggu ayah tiga anak itu bercerita.


"Dilvia sakit," Sean memulai ceritanya.


"Dari awal dia lahir juga dia udah sakit."


Cahya hanya menyimak, tidak ingin memotong cerita Sean.


"Dia lahir prematur. Lahir prematur, itu memungkinkan si bayi punya beberapa penyakit. Ada bayi yang walaupun lahir prematur taoi gak punya penyakit, tapi Silvi itu salah satu bayi yang nggak beruntung. Dia... punya penyakit gangguan jantung."


"Karna penyakitnya itu, dia kadang sesak nafas, gampang cape, pergerakannya juga terbatas. Silvi yang lo kenal waktu kecil itu gak baik-baik aja kaya kelihatannya. Dari luar dia emang suka ketawa, tapi kalo lagi sendirian di rumah dia sering nangis, nangis karena rasa sakitnya."


Sean menghela napas dalam, berusaha agar tidak mengeluarkan tangisannya.


"Pas baru beberapa hari masuk TK, gue telat jemput dia. Waktu gue udah sampe di sekolahnya, dia udah gak ada. Dan waktu gue nengok ke jalan, disana rame banget. Gue yang khawatir langsung kesana. Di sana ada orang yang ketabrak, sampe berdarah." Sean menggantungkan kalimatnya lagi.


"Yang ketabraknya anak laki-laki."


Cahya menghembuskan napas lega. Untung saja yang tertabrak bukan Silvia.


"Gue lega, ternyata ketakutan gue nggak terjadi. Bukan Silvia yang kecelakaan. Tapi, gue mau balik ke TK lagi, gue liat ada sebagian orang yang lari ke pinggir jalan. Gue juga ikutan ke sana, dan Silvia disana. Lagi dipangku orang lain sambil nangis keras. Sikunya luka. wajahnya juga banyak luka."


"Ke... napa? B-bukanya yang ketabrak itu orang lain? Kenapa silvia yang luka?" setelah lama bungkam, Cahya akhirnya bicara.


"Dia ketakutan ngeliat darah yang banyak. Gue gak tau pasti. Tapi mungkin, niatnya mau ngejauh dari sana, tapi badannya yang kecil ngebuat orang lain nabrak-nabrak dia. Dia jatuh, bahkan kata orang, dia udah beberapa kali keinjek sama orang lain."


Mata Cahya membola. Pasti... itu sangat sakit. Untuk ukuran orang dewasa saja sudah sakit, apalagi Silvia yang saat itu masih berusia 5 tahun.


"Karna kejadian itu, Silvi jadi ketakutan pas liat orang lain. Dia gak mau ketemu siapapun selain keluarganya. Dan... gue mutusin buat ngurung dia di dalem rumah. Karna menurut gue, dunia terlalu berbahaya buat Silvi."


"Kalo cuma soal itu--"


"Bukan cuma soal itu Cah. Silvi sakit. Dia punya penyakit gagal jantung sekarang. Jadi Cah, gue mau lo ngehentiin ide konyol lo itu. Rendi berhak dapet yang lebih baik dari Silvi. Gue gak mau dia terjebak sama anak gue yang penyakitan. Cukup gue, cukup gue sama Ran Nan yang udah terlanjur sayang sama dia. Rendi jangan, karena itu cuma bisa bikin dia sakit dikemudian hari."


Sean tidak ingin egois. Dia tidak ingin Rendi mencintai Silvi, karena mungkin, nantinya hanya akan ada rasa sakit jika Silvi tidak bisa selamat. Hanya akan ada sakit hati yang membekas dan sulit untuk dihilangkan. Cukup dia dan kedua putranya saja yang terlalu menyayangi Silvia, orang lain tidak boleh.


Sean benci otaknya, sean benci pikirannya, Sean benci mulutnya yang terus mengatakan jika putrinya tidak bisa sembuh. Hatinya, jiwanya, raganya terus menyuruhnya untuk berpikir positif, berpikir bahwa Silvia akan sembuh, tapi sulit. Otak dan mulutnya mengkhianatinya. Otak dan mulutnya tidak sejalan dengan hatinya.


"Gue... gak bisa Se. Gue akan tetep ngejodohin Rendi sama Silvi."

__ADS_1


Sean mendongak, menatap Cahya tidak mengerti.


"Lo egois Cah. Lo gak mikirin kebahagiaan anak lo sendiri."


"Dan apa lo mikirin perasaan anak lo? Sebagai orang tua seharusnya lo bisa ngasih semangat buat anak lo. Tapi apa yang lo lakuin? Lo malah ngelarang orang lain buat sayang sama anak lo!"


"Gue cuma gak mau Rendi sakit hati Cah. Lo tau gimana rasanya ditinggal sama orang yang kita sayang. Gimana rasa sakit itu datang ditiap detik, gimana rasa rindu itu hadir tanpa permisi. Lo tau gimana rasanya itu. Dan dengan bodohnya lo mau anak lo ngalamin hal yang sama kaya lo? Lo egois!"


"Gue... yakin Silvia bakalan sembuh."


...***...


"Abang balikin!!"


"Gamau, gamauuu wleee."


"Ihhh kalo mau ya ambil sendiri sana, jangan ngambil punya orang lain!!"


"Ngapain harus cape cape ngambil kalo udah ada yang instan di depan mata."


"Nandika nyebelin!!"


"Eh, ngomongnyaa!! Kak, si adek nih ngomongnya gak di filter!"


"Bodo!! Balikin sini!!"


"Sini ambil kalo berani."


Silvia mengambil ancang-ancang untuk mengejar kakak keduanya. Dia berlari secepat yang dia bisa. Sedangkan Nan terus menjauh dari kejaran adiknya.


Remaja dengan senyuman sehangat mentari pagi itu mengacungkan tangan kanannya, menunjukan sebotol yakult yang baru saja dia curi dari adiknya, bermaksud memanas-manasi.


"Ugh," keluh Silvia. Dia berhenti berlari. Tangannya meremat dada sebelah kirinya yang tiba-tiba terasa sakit. Napasnya mulai sesak. Dia merasa pasokan oksigen di sekitarnya mulai menipis.


"Adekkk!!" sebuah teriakan yang sama namun berasal dari mulut yang berbeda itu menggema di ruang keluarga.


Sean, Ran dan Nan kalut. Mereka panik saat melihat Wonyoung yang kesakitan.


"Ambilin obat sama minum buat adek!!" suruh Sean pada kedua putranya.


Si kembar melakukan perintah ayah mereka dengan segera. Nan yang mengambil minum, dan Ran yang mengambil obat.


Tubuh ringkih itu hampir saja jatuh jika Sean tak cepat-cepat menangkapnya. Dia menyangga kepala putrinya. Menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk Silvi, dan terus mengucapkan kata penenang untuk anak ketiganya.


Tak lama, Ran dan Nan datang. Sean dengan cepat mengambil obat dari tangan sulungnya, lalu membantu putrinya untuk meminumnya.


Perlahan, napas Silvia mulai teratur kembali. Dia tersenyum lemah pada ayah dan kedua kakaknya. Hatinya kembali dilingkupi perasaan tidak enak saat lagi lagi dia menyusahkan dan membuat keluarganya khawatir. Dia merasa bersalah. Selama hidupnya, dia tidak pernah membuat sesuatu yang membanggakan, karena yang dilakukannya hanyalah menyusahkan.


Tangan besar itu mengelus pipi mulus nan pucat itu. "Jangan senyum. Jangan senyum kalo kamu gak lagi bahagia. Daddy gak suka liat kamu nangis, tapi ngeliat kamu nangis lebih baik dari pada ngeliat kamu senyum karena terpaksa, senyum karna kamu mau negesin ke orang lain kalo kamu baik-baik aja. Kamu gak perlu ngelakuin itu sayang. Kamu bebas berekspresi. Kamu bisa nangis kalo kamu pengen nangis, ketawa kalo kamu pengen ketawa. Gak perlu nutupin apa-apa dari daddy. Daddy pengen kamu jadi diri kamu sendiri."


Tangis Silvia pecah. Pertahanan yang selama ini dia bangun runtuh sudah. Dia menangis, meluapkan segala perasaan yang selama ini dia pendam sendirian.


Sama halnya seperti Silvia, benteng yang selama ini Sean bangun pun hancur. Dia ikut menangis, mengekspresikan suasana hatinya saat ini. Sudah cukup, Sean tidak biaa terus menerus menahan semuanya. Dia hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit saat melihat anaknya menangis.


Alasannya selama ini selalu menahan tangis adalah karena dia ingin terlihat tegar di depan anak-anaknya, tapi sekarang Sean tidak bisa terlihat tegar lagi. Dia lelah, lelah dengan semua ini.


"Maaf," Nan menunduk, dengan air mata yang juga menetes dari matanya. Dia menangis. Menangis karena merasa sedih sekaligus bersalah. Dialah penyebab Silvia jadi seperti ini, jadi dia harus berani mengakui kesalahannya.


Sean mengusap air matanya kasar. Dia menatap Nan intens. Dia ingin menyangkal, tapi untuk yang kedua kalinya, Nan hampir membunuh Silvia.


"Jangan marah sama abang. Aku yang salah."


Nan mengerjap. Apa Silvia baru saja membelanya? Menyalahkan dirinya sendiri agar ayah mereka tidak memarahinya?


"Nggak dad. Ini salah aku. Aku yang patut disalahin."


"Aku yang paling tua di sini, seharusnya aku lebih bisa ngejaga adik-adik aku. Jadi, aku yang salah."


Sean tersenyum. Tidak bisa dipungkiri jika dia merasa sangat senang. Anak-anaknya begitu kompak. Mereka meyalahkan diri sendiri hanya untuk melindungi saudaranya yang lain. Sungguh luar biasa, mengingat biasanya mereka jarang sekali akur seperti ini.


"Gak ada yang salah," ucapnya. "karna daddy yang salah," batinnya. "daddy butuh pelukan."


Sedetik kemudian, Sean merasakan tubuhnya terhempas ke lantai akibat ketiga anaknya menubruk tubuhnya keras. Mereka menangis bersama. Mengeluarkan air mata yang selama ini ditahan.


...***...

__ADS_1


Yang tentang penyakit itu, aku nyari di google. Kalo aku salah, koreksi aja:)


__ADS_2