
...Happy reading...
"Nggak! Itu nggak akan pernah terjadi! Daddy nggak akan ngizinin kamu buat ikut!" Sean berkata tegas pada anak bungsu nya.
"Yah dad, aku bukan anak kecil lagi. Aku udah 15 tahun. Daddy nggak perlu khawatirin aku," Silvia memohon, berharap sean akan luluh dengan permintaan nya.
Ayah tiga anak itu memalingkan wajah nya, dia tidak ingin berubah pikiran hanya karena mata Silvia yang penuh dengan permohonan.
"Nggak Silvia! Sekali daddy bilang nggak ya nggak," Final Sean.
Si bungsu mendesah kecewa. Kenapa dia terus diperlakukan layaknya anak kecil yang selalu dikekang ? yang selalu diawasi ? yang selalu dilarang-larang ? Merasa tidak punya pilihan lain, Silvia melirik kedua kakaknya untuk meminta bantuan.
Si kembar yang merasa terus di tatap oleh sang adik pun pura-pura tidak melihat. Mereka menatap sekeliling asalkan tidak bertatapan secara langsung dengan Silvia.
Karena kesal pada kedua kakaknya yang pura-pura tidak tahu, dengan sangat terpaksa Silvia mencubit lengan Nan yang kebetulan duduk di samping nya, membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
"Kenapa kamu ?" Tanya Sean.
"Eh, nyamuk dad. Tadi aku digigit," bohongnya yang membuat Silvia ingin menerkam kakaknya sekarang juga.
"Udah malem. Mending kalian tidur," Sean beranjak dari sofa,
"Dad!!"
...dan menghentikan langkahnya saat si sulung memanggilnya.
"Kenapa ?"
"Daddy gak lupa kan alesan aku sama Nan jadi osis sama dewan ambalan ?"
Sean mengerutkan kening nya.
"Ya karena si adek lah dad. Masa daddy lupa sih ? Kita tuh udah berjuang buat masuk organisasi sekolah biar bisa ikut dalam kegiatan adek kelas. Biar kita bisa mantau adek. Bahkan ada yang sampe masuk inti osis sama DA gara-gara ini," Nan menjawab dengan sedikit sindiran untuk saudara kembar nya.
"Teruus ?"
"Gini nih, susah kalo ngomong sama bapak bapak," Nan mencibir dengan nada pelan namun masih bisa di dengar oleh Sean.
__ADS_1
"Ekhem," Sean berdehem, membuat Nan cengengesan karena tertangkap basah sudah mengatai ayah nya.
"Ya masa daddy gak ngerti sih ?" Ran menatap ayahnya malas. Dia tahu jika ayahnya tidak sebodoh itu untuk tahu apa maksud perkataannya dan Nan.
"Nggak."
"Labil nih orang tua satu," lagi, Nan mengatai ayahnya.
"Mending kamu tidur deh Nan. Sakit kuping daddy kalo denger omongan kamu."
"Yehh gitu amat sih dad."
"Diem deh Nan," tegur Ran yang langsung dituruti Nan. Si tengah menarik tangan dari sudut bibir nya, seakan sedang menarik resleting, mengunci mulutnya.
"Ya maksud aku tuh, daddy gak usah khawatir sama adek. Ada aku yang bakalan jagain karena aku tahu kalo Nan gak bisa di andelin."
Nan mendelik, apa apaan Ran bicara seperti ini ? Heoll, perlukah Nan ingatkan bahwa Ran lah yang tidak bisa diandalkan. Siapa diantara mereka berdua yang tahu kondisi silvia lebih dulu ? Siapa diantara mereka berdua yang mengetahui jika Silvia dikira bisu ? Siapa hah ? Tentu saja Nan. Ran tidak berguna sama sekali. Jabatan saja sekretaris osis dan pratama putra, tapi menjaga adik sendiri saja tidak bisa.
"Apaan lo nyalahin gue ? Lo tuh yang gak bisa diandelin. Karna jabatan pratama lo itu, lo bakalan sibuk dan gak bakalan punya waktu buat si adek."
"Eh denger ya sat! Gue jadi inti osis sama DA itu supaya bisa ngelakuin apapun yang gue mau. Supaya gue gak terlalu dituntut buat ngelakuin sesuatu kaya anggota. Supaya gue bisa jagain si adek."
Sean dan Silvia berpandangan. Kenapa mereka berdua malah jadi debat ? Kenapa mereka berdua malah promosi tentang kinerja osis dan DA ? Huhh, kedua kakak nya itu memang tidak bisa diandalkan sama sekali.
"Cukup! Ini sebabnya daddy gak izinin adek buat ikut. Soalnya kakaknya kaya kalian berdua. Gak bisa diandelin!" Sarkas Sean yang berhasil membuat si kembar cengo.
"Ya seenggaknya hargain perjuangan kita buat jadi anggota organisasi sekolah lah dad," Ran memelas.
"Gak gampang tau buat jadi kaya sekarang ini," Nan menambahkan. Memang benar, perjuangan mereka untuk menjadi anggota organisasi sekolah itu tidak mudah. Mereka termasuk berandal sekolah. Tentu tidak ada yang menyangka saat tiba-tiba mereka mendaftar jadi anggota osis dan dewan ambalan.
"Janji deh si adek gak akan lecet."
"Heem, kalo si adek lecet dikit aja, daddy bisa hukum Nan, bisa dikurangin uang jajan nya, bisa gak dikasih makan, atau apalah itu terserah daddy, yang penting daddy bahagia dan Nan menderita."
"Bangsat lo," Nan mengumpat saat mendengar tawa nista kakaknya.
"Heh!!"
__ADS_1
"Dih pilih kasih dih. Orang daddy pasti denger sendiri kalo si kutu kuptet ini malah ngorbanin aku."
"Berapa hari emangnya ?" Sean mengalihkan pembicaraan, membuat Jaemin mendecih, namun hanya sebentar karena dia sadar apa yang dikatakan ayahnya.
Mata ketiganya berbinar. Apa Sean sudah mulai luluh dan akan memberi izin ?
"Cuma 3 hari kok dad," Jawab mereka serempak.
"Kegiatannya macem-macem gak ?" tanaya Sean, hanya ingin memastikan agar kegiatan selama perkemahan itu tidak akan membuat Silvia down.
"Kaya daddy gak pernah ikutan pramuka aja sih," Sudah tahu bukan siapa yang bicara ? siapa lagi kalau bukan Nandika yang bar-bar.
"Ya siapa tahu aja ada perbedaan."
"Kayaknya sama deh dad."
"Boleh bawa HP kan ?"
"Ngg... kalo soal itu, kayaknya nggak deh dad. Soalnya panitia takut peserta lebih fokus sama HP dari pada kegiatan nya. tapi daddy gak usak khawatir, DA dibolehin bawa HP kok, jadi kalo daddy kangen sama anak-anak daddy yang handsome and beautiful ini, daddy bisa telpon aku atau Nan."
"Mm... berat ya... kayaknya kamu gak bakalan kuat deh dek."
"DADDY!!" Ketiganya menegur Sean. Apa apaan tadi Sehun mewawancarai mereka, bertanya ini itu tapi malah tidak memberi izin. bukankah itu menyebalkan ?
Sean terkekeh pelan mendengar teriakan anak-anaknya. Tumben sekali mereka bisa kompak seperti ini.
"Oke, oke daddy izinin."
Mereka bertiga bertos ria sambil bersorak. Akhirnya perjuangan mereka untuk membujuk Sean tidak sia-sia.
"Tapi... " Sean menghentikan kesenangan putra putrinya.
"Apa lagi sih dad ?"
"Jagain adek kalian. Awas kalo sampe lecet dikit aja, daddy gorok leher kalian."
Sontak si kembar memegangi leher mereka sambil meneguk ludahnya kasar. Cih, ayah macam apa yang tega menganiaya putranya sendiri ?
__ADS_1
Silvia dan Sean tertawa melihat tingkah mereka berdua.
...***...