
...Happy reading...
+6285xxxxxx
Sil?
Silvia menatap ponselnya. Sebuah nomor tanpa nama mengiriminya pesan. Tapi, dia tidak tahu siapa pelakunya. Jadi, dia hanya membacanya, tanpa berniat membalas.
+6285xxxxxx
Ini aku, Rendi
Rendi? Bagaimana dia tahu nomor ponselnya? Seingatnya, tadi mereka tidak sempat bertukar nomor ponsel. Tapi--
--untuk yang ketiga kalinya, sebuah chat masuk pada ponselnya.
+6285xxxxxx
Kok diem?
Silvia menggigit kukunya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Mana chat nya sudah dia baca. Jika dia tidak membalas, pasti Rendi berpikir jika dia sombong.
Karenanya, dia memilih untuk membalas pesan itu, meski dengan tangan gemetar akibat gugup.
+6285xxxxxx
^^^Iya kak?^^^
Buku fisika kamu ketinggalan di rumah
^^^Eh, emang iya?^^^
Heem
Tidak mempunyai alasan untuk menjawab lagi, Silvia pun hanya membaca chat dari Rendi.
+6285xxxxxx
Besok aku anterin ke kelas kamu, ya?
Hah? Silvia memelototkan matanya. Rendi? Ke kelasnya? Yang benar saja, dia tidak mau semua siswa heboh karena hal itu. Sudah cukup kejadian tempo lalu yang membuat sekolah heboh karena mengira jika dirinya dan kakak pertamanya menjalin hubungan. Dan sekarang tidak lagi. Dia tidak mau menjadi bulan-bulanan siswa lain.
+6285xxxxxx
Kok diem lagi?
^^^Em, kak?^^^
Percayalah, saat ini gadis itu sedang menggigit bibirnya. Efek terlalu grogi.
+6285xxxxxx
Iya?
^^^Bisa gak, kalo jangan di kelas?^^^
Loh, kenapa?
^^^Aku takut orang lain tau^^^
Ohh,
Kalo gitu mau gimana?
^^^Di tempat lain bisa gak?^^^
Dimana?
^^^Gak tau^^^
Cukup lama tidak ada balasan. Rendi hanya membaca pesan darinya, hingga dia bisa bernapas lega.
Ini hanyalah chatroom, tapi kenapa bisa semenegangkan ini?
+6285xxxxxx
Di deket perpus aja gimana?
Disana biasanya sepi
^^^Em, boleh deh^^^
__ADS_1
Yaudah, ntar pas istirahat pertama aja, ya?
^^^Iya kak^^^
...***...
"Gimana, gimana? Pdkt nya lancar?"
Rendi berdecak kesal. Dia menatap ayahnya datar, tak habis pikir. "Apa sih? Siapa yang pdkt coba?"
Cahya tertawa keras, "Gak usah malu kali," dan mencolek dagu sang putra pelan. Membuat anak itu mendengus.
"Orang aku cuma mau bilang kalo buku dia ketinggalan kok."
"Yeah, awal yang baik," gumamnya. "Lanjutkan nak, papa ngedukung."
...***...
"Ini kita mau kemana, heh?"
Silvia menghela. Endah sudah 5 kali menanyakan pertanyaan itu. Dia sampai bosan mendengarnya.
"Bising you."
Bukan, bukan Silvia yang menjawab, tapi Indi. Sepertinya Indi juga sudah jengah mendengar pertanyaan itu.
"Kak Ndi?"
Laki-laki yang sedang bersandar pada tembok itu menoleh, lantas tersenyum saat orang yang dia tunggu sudah datang.
Indi dan Endah tentu terkejut. Bukanya... orang lain mengira jika Silvia bisu? Tapi kenapa sekarang gadis itu malah bicara?
"Kok—"
"Gak papa." kata Silvia, mencoba menenangkan kedua sahabatnya yang tampak tercengang itu.
"Makasih kak Ndi. Maaf udah ngerepotin." sesal Silvia.
"Nggak pa—"
"Heh njir, ngapain kalian di sini?!"
Belum sempat Indi dan Endah menghirup oksigen karena terlalu terkejut, kini mereka kembali dikejutkan oleh kedatangan segerombolan orang tak di undang.
"Ngapain lo di sini, Ndi? Mau mesum, ya?" selidik Nan. Dia memutari tubuh Rendi, oh jangan lupakan tatapan matanya yang terus memicing, menelisik wajah seorang Rendi.
Rendj memutar mata malas. Drama lagi_-
"Wah parah lo Ndi, Silvia itukan pacarnya Ran, masa lo rebut sih?" celetuk Chandra yang diangguki Lucky.
Indi dan Endah saling pandang, mereka menahan tawa mendengarnya. Sedangkan Silvia nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Gue gak nyangka Ndi, ternyata lo kek gini." Lucky memanas-manasi keadaan.
"Ternyata lo itu—"
"Kak Nan..." panggil Indj yang berhasil mengintrupsi perkataan Nan. Laki-laki itu menoleh ke arah tiga gadis itu, lantas tersenyum sangat manis pada adiknya.
"Hm?"
"Boleh pergi gak?" tanyanya.
Nan tahu jika adiknya tidak nyaman berada di keramaian seperti ini, terlebih teman-temannya ini sangat banyak tingkah. Jadi, sebagai kakak yang baik, Nan membiarkan adiknya pergi. Perkara pertemuan mereka dan Rendi itu bisa diselesaikan nanti.
"Mangga."
Setelah mendapat izin dari Nan, ketiga siswi itu pergi dari sana.
"Sumpah, gue mau ngakak pas denger kak Chandra ngomong kalo kamu pacarnya kak Ran." Endah memukul pundak Indi sambil tertawa.
"Iya haha. Tapi kan ya, kok kamu malah ngomong di depan kak Rendi sih?"
Silvia mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum menjawab pertanyaan Indi, "panjang ceritanya."
...***...
"Acie cieee udah dikerjain sama kak Rendi."
Bungsunya Sean menatap buku fisikanya tidak percaya. Apa benar Rendi yang mengerjakan tugasnya? Karena seingatnya, kemarin dia tidak sempat mengerjakan tugas itu. Dia hanya mengerjakan tugas biologinya saja. Tapi tiba-tiba sekarang tugas itu sudah terisi.
"Co cweett bingits sih. Jangan-jangan kak Rendi suka sama kamu lagi."
__ADS_1
Dari tadi, kedua temannya ini tidak ada henti-hentinya menggodanya. Mengatainya seperti itu. Silvia sampai bosan sendiri mendengarnya.
"Nyontek ya?"
Huh, tadi mengatainya, tapi sekarang ingin mencontek, dasar Indi dan Endah.
Tapi, karena Silvia itu baik hati dan tidak sombong, maka dia memberikan buku catatannya pada kedua temannya.
"Eh, gak nanya sama kak Rendi nya aja?" tanya Indi sambil fokus menulis.
"Nah iya tuh. Harus dikonfirmasi kebenarannya."
Benar juga. Kenapa Silvia tidak terpikir sampai sana?
Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Baru saja dia akan menanyakan perihal pr nya pada Rendi, tapi guru sudah lebih dulu masuk ke dalam kelasnya. Membuatnya mau tak mau mengurungkan niatnya.
...***...
"Ngomong gak kamu? Atau abang gigit nih?"
Si bungsu tertawa kegelian karena Nan mengungkung tubuhnya, memeluknya dari samping, dan yang paling parah meniupi kupingnya. Laki-laki itu terus mendesaknya untuk mengatakan perilah pertemuannya dengan Rendi di sekolah tadi.
"Geli abang hahaa..."
Mendengarnya, Nan semakin gencar meniupi kuping itu. Dia suka melihat adiknya tertawa lepas seperti ini.
"Apa?" tanya Ran yang baru bergabung bersama mereka di ruang keluarga.
"Apanya yang apa?"
"Kalian ngomongin apa?"
"Kepo anda."
Setelahnya, Ran diam, tidak menanggapi perkataan kembarannya lagi. Dia memakan salad buah yang dibawanya, sesekali menyuapi Silvia yang masih berada dalam pelukan Nan.
"Ayo ngomong."
Si bungsu memanyunkan bibirnya. "gak ngapa-ngapain kok. Cuma gak sengaja ketemu aja," kelakarnya.
Mata Nan memicing. "Masa? Kok pangeran gak believe, ya?"
"Emang princess peduli?"
Mereka berdua tertawa. Kadang, bahagia itu sederhana.
...***...
Silvia memberanikan diri untuk menekan tombol send. Dia menatap ponselnya cemas-cemas.
Kak Rendi
^^^Kak?^^^
Iya, Silvia sudah mensave nomor ponsel Rendi sekarang.
Kurang dari 5 menit ponselnya berdenting, tanda ada notifikasi masuk.
Kak Rendi
Iya?
^^^Tentang tugas fisika^^^
^^^itu...^^^
Kenapa? Salah ya?
^^^Eh, nggak kok^^^
^^^Cuma, itu kak Njun^^^
^^^yang ngerjain?^^^
Iya
^^^Kenapa?^^^
Takutnya kamu gak sempet ngerjain,
Jadi aku kerjain aja
__ADS_1
Silvia bungkam melihat balasannya.