
"Mau makan di mana? Di sini atau di kelas aja?"
Kedua gadis itu terdiam, saling bertatapan. Lalu, keduanya mengangguk saat merasa bahwa apa yang mereka pikirkan sama.
"Kelas aja. Males kalo di kantin."
Endah mengangguk. Setelahnya, ketiga sahabat itu— Endah, Indi dan Silvia— pergi meninggalkan kantin menuju kelas.
Jam istirahat digunakan dengan baik oleh para siswa. Hingga di jam istirahat yang terbatas ini, semua siswa meninggalkan kelas untuk mengisi perut mereka yang kosong di kantin.
Sepanjang perjalanan, mereka bertiga selalu berpapasan dengan lalu lalang siswa. Tidak jarang ketiganya menyapa atau disapa oleh orang yang dikenal.
"Woy!!"
Endah dan Indi tersenyum manis, sedangkan Silvia memasang wajah. Kenapa dia selalu bertemu dengan kakak keduanya? Kenapa tidak kakak pertamanya saja? Menyebalkan.
"Hai kakak-kakak ganteng."
"Hai juga adik-adik cantik."
Bukan, itu bukan Nan yang menjawab, tapi Chandra dengan senyum lima jarinya.
"Baru mau ke kantin kak?" tanya Endah.
"Iya nih."
Saat teman-temannya sibuk mengobrol dengan Endah dan Indi, diam-diam Nan menyodorkan dua botol yakult pada adiknya.
"Mau gak?"
Silvia mendengus, tentu saja dia mau. Karenanya, tanpa basa-basi, gadis itu merebut botol yakult dari tangan kakaknya, membuat Nan terkekeh gemas. Dan hal itu tidak luput dari penglihatan Rendi.
"Ayo ah, ke kantin. Keburu waktu istirahat habis lagi."
Suara Reno berhasil mengalihkan semua pasang mata yang ada di sana. Setelah pamit, para laki-laki itu berlalu dari hadapan ketiga gadis itu.
Silvia merasa detak jantungnya berdetak sangat kencang. Entah dia yang ke-geeran atau memang benar.
Tadi, nertanya tidak sengaja bersibak dengan netra Rendi. Dan yang membuat jantungnya berdetak secara abnormal adalah, Rendi memberikan senyum manis padanya.
...***...
Sebenarnya, dari awal, Sean sudah mengadakan perjanjian dengan putrinya. Sean akan mengizinkan Silvia sekolah, asal dengan beberapa syarat. Diantaranya, Silvia tidak boleh mengikuti kegiatan yang bisa membuatnya lelah seperti olahraga atletik, lompat jauh dan sejenisnya. Selanjutnya, Sean juga melarang sang putri untuk ikut kegiatan tambahan di luar jam pelajaran seperti estrakulikuler.
Tapi, tentu saja Silvia melanggar janjinya. Gadis itu dengan keras kepalanya, memaksa kedua kakaknya untuk ikut membujuk sang ayah agar mengizinkannya ikut kegiatan pramuka.
Memang dasar Sean yang lemah, ayah tiga anak itu pada akhirnya mengizinkan sang putri untuk ikut pramuka setelah sebelumnya ketiga anaknya membujuknya hingga memohon padanya.
Karenanya, di sinilah Silvia berada, di dalam kelas bersama teman-temannya yang lain. Ngomong-ngomong, mereka baru saja selesai melakukan upacara pembukaan pramuka.
"Katanya hari ini bakalan langsung dipulangin, soalnya gurunya ada urusan."
"Wah, beneran?"
"Denger-denger dari DA sih gitu, tapi gak tau deh."
"Semoga aja emang bener. Males banget gue kalo udah pramuka. Panas."
"Hooh, semoga aja bener."
Silvia hanya diam memainkan ponselnya, namun telinganya tetap terpasang untuk mendengarkan gosip dari teman sekelasnya itu.
Gadis cantik itu menoleh saat merasakan bahunya di tepuk. Dia menoleh, dan menemukan jika Endah dan Indi tersenyum padanya.
"Nggak pramukaan, yeay."
Namun Silvia hanya mengedikkan bahunya, seakan mengatakan jika gosip itu belum tentu benar.
Ribut-ribut di kelas itu harus terhenti saat beberapa anggota dewan ambalan masuk ke kelas mereka.
"Siang, adek-adek."
"Siang."
"Masih semangat?"
"Lemes, pengen pulang."
__ADS_1
Seisi kelas tertawa karena candaan itu.
"Hari ini materinya nulis aja. Yuk, keluarin buku pramukanya."
Kelas terasa hening karena tidak ada yang bersuara, semuanya sedang fokus menulis. Hingaa—
Brak
Semua siswa menoleh, menatap orang yang baru saja menggebrak pintu dengan bingung.
Bukan, kali ini bukan Nan pelakunya, melainkan Satya, salah satu anggota dewan ambalan.
Satya meringis pelan, dirinya merasa tidak enak karena membuat semua orang terkejut.
"Maaf," sesalnya.
Kemudian, laki-laki itu menghampiri salah satu diantara dewan ambalan yang ada di kelas itu. Dia membisikan sesuatu lalu pamit undur diri.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara spidol yang diketukkan pada papan tulis membuat semua murid mendongak.
"Hari ini para guru ada rapat, jadi boleh pulang lebih awal."
Sontak, satu kelas heboh. Namun, kehebohan itu harus terhenti saat dewan ambalan dengan rambut ikal itu mengatakan kata-kata selanjutnya.
"Kalo mau pulang, cari 10 tanda tangan dari kakak DA dulu. Yang udah dapet nanti laporan lagi."
Semuanya langsung berhamburan ke luar kelas.
Silvia memejamkan matanya, ia sedikit memperlambat larinya saat sadar jika dirinya terpisah dari Endah dan Indi karena banyaknya orang dari kelas lain yang juga berhamburan ke luar kelas mereka untuk mencari tanda tangan DA.
Gadis cantik itu menyodorkan buku tulis juga bolpoinnya, menyerahkan pada dewan ambalan yang dilihatnya, bermaksud meminta tanda tangan.
Sudah sekitar 6 tanda tangan yang dia dapat, hanya tinggal 4 lagi. Saat sedang berjalan menyusuri kelas lain, tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
Silvia kaget, dia hampir berteriak jika saja mulutnya tidak langsung di tutup oleh orang itu. Gadis itu merasakan tubuhnya dituntun menuju suatu tempat.
"Gak mau minta tanda tangan aku?"
Matanya terbuka saat mendengar suara familiar itu, kemudian membulat sempurna. Rasa kaget begitu kentara di wajah cantiknya. "K-kak Ndi?" tanyanya.
"Kenapa gak nyari aku?" tanyanya. Matanya masih terfokus pada buku tulis di tangannya.
"Bingung mau nyari kak Ndi di mana?" gadis cantik itu menunduk.
Tanda tangan sudah Rendi bubuhkan di buku Silvia, setelahnya dia mengembalikan buku itu pada pemiliknya.
"Makasih."
"Sama-sama."
Silvia menatap sekeliling. Kelas 10 IPS 1, sekarang dirinya ada di dalam kelas itu. "Kak, a-aku--"
"Dek."
Panggilan itu berhasil membuatnya bungkam. Dia mengurungkan niatnya yang akan meminta izin untuk pergi dari sana karena takut ada yang melihat kebersamaannya dengan Rendi. Sejenak dia terdiam. Dirinya masih belum terbiasa dengan panggilan yang Rendi sematkan untuknya.
"Iya?"
Rendi terlihat menghela napas dalam sebelum bicara, "lain waktu, boleh ngechat kamu lagi gak?"
Silvia mengerjapkan matanya. Tunggu, dia tidak salah dengar bukan? Rendi... meminta izin padanya untuk menghubunginya lagi?
"Dek?"
Tubuh kecil itu terlonjak kala Rendi memanggil disertai lengan yang dilambaikan di depan wajahnya.
"E-eh?"
"Boleh?"
Tidak ada alasan untuknya menolak. Lagipula, hanya sekedar bertukar pesan bukan? Tidak lebih, dan tidak akan lebih.
"B-boleh."
Senyuman terbit di wajah tampan Rendi, "makasih."
__ADS_1
Silvia mengangguk, "kak Ndi, aku—"
"Iya sana." Rendi memotong perkataan Silvia.
Setelah saling melempar senyum satu sama lain, Silvia berlalu dari sana, meninggalkan Rendi dengan senyumannya yang masih belum pudar.
...***...
Untuk yang kedua kalinya, tangan Silvia dicekal. Gadis itu menoleh ke belakang takut-takut, lantas menghembuskan napas lega saat tahu siapa yang mencekal tangannya.
"Mau kemana, heh?"
Sudah tahu siapa yang bicara?
Silvia memutar mata malas. Dia menunjukan buku tulisnya pada Nan.
"Yaelah dek, ngapain sih harus minta tanda tangan segala? Emang mereka artis apa?"
Si bungsu hanya diam. Dia tidak bisa membuka mulutnya sekarang ini.
"Lagian ya, nanti juga bakalan di pulangin semuanya kalo udah waktunya pulang. Gak usah cape-cape lari sana sini minta tanda tangan."
Nan menggelengkan kepalanya saat ada beberapa siswa yang meminta tanda tangan darinya. Laki-laki itu menolak, dengan alasan bahwa dia bukanlah orang penting yang harus dimintai tanda tangan.
Sama seperti Nan, Silvia pun menggelengkan kepalanya, pertanda tidak setuju pada perkataan kakanya barusan. Ini perintah yang harus dilakukannya sebagai siswa, dan dia memilih untuk melepaskan cekalan Nan pada lengannya.
Namun tidak semudah itu. Nan tidak membiarkan adiknya lepas begitu saja. Laki-laki itu mengambil buku adiknya, lantas membubuhkan 3 tanda tangan yang berbeda-beda. Setelahnya dia memeberikan buku itu pada sang adik.
"Cepetan. Abang nunggu di depan," katanya.
Silvia memberikan senyum terbaiknya pada sang kakak. Membuat Nan mengusak rambutnya gemas.
"Kamu hutang ciuman sama abang," ujarnya.
Tapi Silvia tidak mempedulikan perkataannya. Kaki jenjangnya melangkah menjauhi Nan. Sedangkan si tengah hanya tersenyum. Menjadi DA bukanlah keinginannya. Ini melelahkan, juga terkadang membosankan. Baginya, tidur di rumah atau bermain game lebih baik dari pada mengikuti kegiatan seperti ini. Tapi, ini semua dia lakukan demi adik kecilnya. Inilah gunanya dia menjadi DA, dia bisa membantu sang adik di saat seperti ini.
"Ngapain lo?"
Nan menoleh, dan melihat kakaknya ada di sampingnya, jangan lupakan tas yang sudah ada di punggungnya. "kak, gue sayang sama lo."
Ran menaikan alisnya. Tidak biasanya Nan berkata seperti ini padanya.
"Lo kenapa sih?" herannya.
"Ahaha, gak papa. Yuk ah pulang."
Si tengah merangkul pundak si sulung menuju mobil. Masa bodoh dengan rapat DA yang biasanya diadakan setelah siswa pulang. Masa bodoh dengan jabatan Ran sebagai pratama putra. Mereka berdua tidak peduli akan hal itu. Toh keduanya tidak benar-benar ingin menjadi DA. Ini semua mereka lakukan demi adik bungsu mereka.
"Gue rindu kasur kak."
"Lo emang gak cocok jadi DA, cocoknya jadi kebo."
Nan mendengus, "dan ngebiarin lo berduaan sama si adek? Big no Randika. Gue gak akan pernah ngebiarin itu terjadi."
"Yang sopan nying. Gue itu kakak lo."
"Biarin aja sih. Si adek juga sering manggil gue tanpa embel-embel abang."
"Dan lo ngelampiasin itu sama gue?"
Nan mengangguk mengiyakan.
"Terus nanti gue ngelampiasin sama siapa dong?" tanya Ran, memelas.
Nan mengedikkan bahunya,
"Daddy, mungkin?"
Ran tertawa, diikuti jaemin.
"Bangsat. Yakali njir. Bisa dipecat jadi anak dong gue."
"Bagus lah. Biar gue bisa dapet warisan lebih banyak."
"Oazayakan."
Mereka berdua tertawa lagi karena hal sederhana itu.
__ADS_1
...***...