Fosessive Brother

Fosessive Brother
18


__ADS_3

Hari minggu banyak digunakan untuk beristirahat dari segala aktivitas yang sudah dilakukan selama enam hari sebelumnya. Tapi sayangnya, di minggu kali ini Sean terpaksa harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Jadi, di rumah hanya ada tiga bersaudara dan ART saja.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa tiga anak manusia itu akan bangun dari tidur nyenyaknya. Mereka masih betah bergelung dalam selimut, tidak peduli sudah setinggi apa matahari di luar sana.


Duk


"Akh!!" Ran memekik. Matanya terbuka secara sempurna saat merasakan rahangnya ngilu. Dia duduk, menatap kembarannya yang masih berada di alam mimpi itu dengan datar.


Nan sialan! jika bukan karena kaki laknatnya, mungkin saat ini Ran masih tertidur. Tapi...


Buk


"Awww!!" Sama seperti Ran tadi, Nan pun menjerit, matanya terbuka, tangannya mengusap pantatnya yang terasa sakit akibat tendangan kakaknya.


"Sakit nying!" kesalnya.


"Ya lo pikir gue gak sakit?" Ran bertanya balik.


"Hah?!"


"Berisik! sana keluar!" Silvia yang merasa terganggu oleh perdebatan kedua kakaknya pun menyahut.  Gadis itu membalikan tubuhnya hingga menyamping-- membelakangi kedua kakaknya yang duduk di atas karpet, lantas menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Nan pun naik ke ranjang adiknya, memeluk tubuh mungil itu dari belakang, hingga siempunya tubuh mendecak kesal, tapi dia tidak melakukan penolakan apapun, dia terlalu malas untuk berdebat dengan kakak keduanya itu.


Berbeda dengan Nan, Ran hanya menatap kembarannya datar. Sial, dia kalah cepat. Karena tidak rela jika Nan memeluk adik bungsunya, Ran pun menarik tubuh Nan paksa, melepaskan tanganya yang melingkar di pinggang Silvia hingga Nan terus mengumpatinya. Tapi  Ran tidak peduli.


Nan berhasil lepas dari Silvia, hal itu membuat nan puas. Tapi, bukan hanya lepas, Nan juga jatuh dari kasur hingga pantat mulusnya mencium lantai.


"Gelud kuy," Nan mengacungjan jari tengahnya, menantang sang kakak.


"Siapa takut."


Saat keduanya baru saja akan memulai sesi baku hantam, Silvia menghentikan. Dia ingin acuh dan melanjutkan tidurnya, tapi duo hama di kamarnya ini sangat berisik hingga dia tidak bisa tidur.


"Get out!"


Mereka berdua diam. Tidak berani bergerak barang seinci pun.


Merasa kedunya sudah tenang, Silvia kembali melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


"Lo sih," tuduh Nan menyenggol lengan Ran.


Ran yang tidak terima disalahkan pun balas menyenggol lengan Nan. "Lo lah."


Sesi adu mulut pun tidak bisa terhindarkan. Mereka berdua berdebat lagi, membuat Silvia menggeram kesal.


"BISA DIEM GAK SIH?!!"


...***...


"Jalan yuk, bosen tau dirumah terus." usul Nan.


Ran dan Silvia tidak menanggapi. Mereka lebih memilih fokus pada tontonan di depan mereka. Film kartun ini jelas jauh lebih berfaedah dibandingkan mendengarkan omongan Nan yang tidak ada faedahnya sama sekali.


"Aaaa," Nan membuka mulutnya lebar, mengarahkannya pada Silvia, meminta agar adiknya menyuapinya salad buah.


Gadis itu hanya menurut. Dia tidak mempunyai tenaga untuk berdebat dengan kakak keduanya ini.


Setelah Nan, Ran pun melakukan hal yang sama, membuka mulutnya agar Silvia menyuapinya.


Nan yang tidak terima idenya di copy paste  kembarannya pun protes.


"Apa lo?"


"Lo yang apa?!"


Mereka berdua bertatapan sejenak. Saling melempar tatapan mematikan andalan masing-masing, seakan menunjukkan kekuatannya sendiri.


"Aaaa," dengan kompak mereka membuka mulut.


Brak


Silvia yang dari tandi hanya diam menahan emosi pun menaruh mangkuk salad itu di meja dengan sedikit kasar.


"Makan tuh sendiri!" kesalnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kedua kakanya yang menatapnya dengan mulut yang terbuka.


...***...


"Mau makan sama apa dek? ayam?" tanya Nan sambil menyodorkan sepiring penuh dengan ayam goreng tepung.

__ADS_1


"Ayam gak terlalu sehat dek, mending sayur aja biar sehat." Ran yang tidak mau kalah dari Nan pun menyodorkan tumis kangkung pada adiknya.


"Halah, kalo makan kangkung gak keliatan aura sultannya. Mending ayam aja." cibir Nan.


"Tapi kangkung lebih sehat."


Oh, dimata Silvia, sekarang ini mereka sudah terlihat seperti seles yang menawarkan produk pada pembelinya, lucu tapi juga menyebalkan.


"Ayam!"


"Sayur!"


"Ayam lah!"


"Sayur lah!"


"Stop!" relai silvia. "Siapa juga yang mau makan ayam sama kangkung?" tanyanya. Dengan cepat dia mengambil tempe lalu melahapnya. membuat si kembar saling berpandangan.


...***...


"Mau apa?" Silvia menghembuskan napas lelah.


Oh ayolah dia sudah sangat lelah menghadapi kalakuan kakak kembarnya seharian ini. Dia ingin istirahat. Tapi, belum juga matanya terpejam pintu kamarnya sudah diketuk lebih dulu oleh kedua kakaknya.


"Nginep."


"Nggak perlu kak. kamar kita sebelahan loh," Silvia menjawab frustrasi. "udah sana tidur," usirnya.


Baru saja dia akan berbalik ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya jika saja telinganya tidak mendengar perdebatan kakaknya.


"Lo sih. Kan gue udah bilang jangan macem-macem."


"Kok nyalahin?  kan lo yang punya ide."


"Lupa heh?!"


"Gue gak lupa. Lo tuh yang udah pikun."


"DADDYYYYYYY CEPET PULANG!!!!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2