Fosessive Brother

Fosessive Brother
3


__ADS_3

"Gimana hari pertama MPLS nya ?"


Silvia menegakkan kepalanya saat mendengar pertanyaan itu. Sebelum menjawab, dia sempat melihat pada kedua kakaknya yang sedang asik memakan makannya.


"B-baik dad," Cicitnya.


"Bener ?" Sean, sang ayah tampaknya tidak terlalu yakin dengan jawaban anak bungsunya.


Silvia mengangguk kikuk.


"Kalian jagain adek kan ?!" Mata elangnya kini beralih menatap putra kembarnya.


Ran dan Nan tersedak makanan mereka. Membuat Sean sedikit curiga.


"Ya pastilah," Nan menjawab.


"Awas kalo kalian gak jagain adek! daddy sita semua fasilitas kalian!" Ancam Sean.


Si kembar menelan ludahnya. Bagaimana ini, ini baru hari pertama MPLS, tapi mereka sudah kecolongan untuk menjaga Silvia, bagaimana dengan hari hari yang akan datang ?


"Masa anak sendiri di ancam sih ?" Nan mencibir untuk menutupi kegugupannya.


"Suka suka daddy dong."


"Nyesel gue punya bokap kekinian cem gini," Ran bergumam.


"Daddy denger ya Ran! "


Si sulung hanya cengengesan tidak jelas.


...***...


"Wihhh belum berangkat pak ?" Nan yang baru keluar dari kamar bertanya pada Sean yang saat ini masih duduk manis di meja makan.

__ADS_1


Tidak salah Nan bertanya seperti itu, karena biasanya saat Nan keluar kamar, ayahnya itu sudah berangkat bekerja.


"Omongannya!" Sean memperingatkan.


"Hehe... sorry dad," Nan nyengir sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya.


Sean menyeruput kopi paginya dengan tenang,


"Hari ini daddy yang akan nganterin kalian sekolah," katanya santai.


"HAHHH ?!" Bukan hanya Nan, tapi Ran dan Silvia pun berteriak histeris.


Tidak tidak tidak! ini tidak boleh terjadi! bagaimana jika Sean curiga ? pasalnya, selama ini mereka bertiga selalu masuk sekolah dengan waktu yang berbeda. Mereka sengaja tidak masuk sekolah di waktu yang sama agar para siswa tidak curiga pada hubungan ketiganya.


"Kenapa sih ? kok responnya gitu banget ?"


Silvia menunduk. Nan memutar otak. Sedangkan Ran menggaruk tengkuk.


Namun, sebagai orang yang paling pintar-- jika dibandingkan dengan Nan, Ran merasa bahwa dia harus menjawab pertanyaan ayahnya.


"No. Ini hari pertama adek masuk sekolah secara resmi jadi daddy mau jadi orang pertama yang nganterin dia."


"Dih, pilih kasih. Pas kita sekolah juga gak kaya gitu. Dari TK sampe SMA juga daddy gak pernah mau jadi orang yang pertama," cibir Nan.


"Kalian beda lagi. Masa laki mau dianterin sama daddy sih. Gak malu ?"


Skak mat! mereka bungkam.


"Cepetan dong Jaem! lelet banget sih, nanti telat loh," Sean mendesak Nan membuat si tengah mendengus sebal.


"Ya makanya gak usah nganterin. Kita udah gede kali dad."


Memutar mata malas, Sean menatap Nan tajam.

__ADS_1


"Cepet atau daddy potong uang jajan nya ?"


Lagi lagi ancaman. Tidak ada yang lebih elit apa ?!


Dengan sangat terpaksa, Nan menyelesaikan sarapannya, mengambil tasnya lalu mengikuti langkah keluarga nya.


...***...


"Aku berangkat dad," Silvia mencium punggung tangan ayahnya.


"Eh bentar, bareng dong sama kakak sama abang."


Ran yang duduk di samping ayahnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Emm... aku ada... p-piket. iya, piket," Serunya.


Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Silvia segera membuka pintu mobil dan melangkah memasuki sekolah elit itu.


"Ngapain masih di sini ? sana susul adek kalian!"


Si kembar tersentak mendengar suara berat ayah mereka. Ran menoleh ke belakang, menatap sang adik. Mereka berdua saling tatap, membuat Sean geram.


"Mau di potong uang jajan nya ?!" Ancaman itu lagi. Mereka sungguh malas mendengarnya.


"Sabar dong."


"Nan... " geram Sean.


Cilaka 12, jika sang ayah sudah memanggil nya seperti itu, berarti mereka dalam bahaya.


"Berangkat dulu dad," mereka berdua keluar dari mobil secara bersamaan tanpa pamit terlebih dahulu pada ayahnya.


Sedangkan di dalam mobil, Sean memijat kepalanya pusing melihat tinggah luar biasa kedua anak kembar nya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2