Fosessive Brother

Fosessive Brother
25


__ADS_3

...Happy reading...


"Ngapain kalian?"


Ran dan Nan menatap ayahnya bingung.


"Ya sarapan lah, dad."


Sean mendecih pelan, main-main. "yang gak sekolah ngapain ikut-ikutan sarapan?"


Baik Ran maupun Nan tahu, bahwa kalimat yang baru saja keluar dari mulut Sean itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan singgungan marena mereka berdua di skors selama beberapa hari ke depan karena perkara perkelahian mereka tempo lalu.


"Singgung aja terooos," ucap Nan. Ia mendengus, namun tangannya tak tinggal diam, mengambil nasi goreng dalam wadah lalu meletakkannya dalam piring dan memakannya.


"Loh?" gumam Sean, "kok nyinggung? Kan emang bener. Iya gak, dek?"


Silvia menganggukkan kepalanya mantap. Dirinya sudah terlalu lelah dengan drama antara ayah dan anak itu.


"Kok malah ngebela, sih?" protes Nan tidak terima.


"Kan emang bener."


Baru saja Nan akan menjawab, tapi pintu rumahnya sudah lebih dulu diketuk, membuatnya melompat dari kursi dengan gembira.


"Rezeki pagi, ahay." ujarnya.


Ran dan Silvia berpandangan, lalu secara bersamaan mereka menatap Sean.


Yang ditatap hanya mengedikkan bahunya, "daddy juga gak tau mesti gimana," pasrahnya.


"Opor ayam dari tante Susy!!" teriak Nan. Anak itu membawa satu mangkuk berisi opor ayam yang diberikan oleh tetangga sebelah rumah mereka.


Ketiga anak itu langsung berebut opor yang dibawa Nan. Sedangkan Sean hanya memijat pelipisnya pelan. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Karena sebenarnya, ini bukan pertama kalinya tetangganya itu membawakan makanan untuk mereka. Ini sudah yang kesekian kalinya.


Sea merasa tidak enak jika tetangganya terus saja memberi keluarganya makanan. Tapi Nan bilang tidak apa-apa, karena Susy— tetangga mereka itu menyukainya. Segala jenis makanan pemberian wanita itu adalah bentuk rasa suka wanita itu padanya.


Namun, Sean tidak peduli. Dia tidak berniat untuk melupakan Yani sama sekali. Biarkan saja tetangga wanitanya marah atau apapun, toh Sean tidak pernah meminta makanan padanya. Dia masih mampu dan sangat mampu untuk sekedar membeli makanan bagi keluarganya.


"Mau, dad?"


Sean melirik Nan sekilas, lalu menggeleng tegas.


"Buat kalian aja."


...***...

__ADS_1


Sean dongkol. Kenapa data keuangan perusahaannya harus tertinggal hingga berakhir dia harus pulang ke rumah? Lagi, kenapa dia tidak menyuruh salah satu karyawannya saja untuk mengambil?


Ah sudahlah. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Dan kini dia menyesal karena telah pulang ke rumah. Pemandangan di depannya ini membuat matanya sepet.


"Terus, terus!!"


"Ah, lari bego."


"Tembak dong kak. Lo mah pengecut banget, anjir!!"


Lihat. Bukannya belajar atau melakukan sesuatu yang berfaedah, tapi kedua anaknya malah bersantai sambil main game.


Kedua anak kembarnya itu tengah bersantai di ruang keluarga, oh jangan lupakan beberapa toples cemilan yang berserakan di sekitar mereka.


Sean mendecih. Kemarin saja putra kembarnya terlihat menyesal, kemarin saja kedua putranya meminta maaf padanya. Tapi sekarang? Tidak ada penyesalan sama sekali di wajah mereka.


Ah, Sean tahu. Wajah tertunduk mereka yang tampak murung bukan karena mereka menyesal, tapi karena mereka takut padanya. Juga, permintaan maaf yang terlantar dari mulut keduanya bukanlah sesuatu yang tulus dikatakan dari hati atas dasar rasa bersalah, tapi lebih kearah merasa bersalah karena dirinya mengatakan lelah dengan sikap mereka.


Terkadang, ada hasrat yang menggelora dalam diri Sean untuk meloakan anak kembarnya. Karena mereka berdua hanya bisa menyusahkannya, hanya bisa membuang uangnya, dan hanya bisa membuat emosinya naik.


"Kenapa, dad?"


"Loh, daddy ganteng udah pulang, toh? Kan ini masih jam 10, dad."


Lagi, suara ketukan pintu membuat dua anak manusia itu saling pandang.


"Gak mungkin tante Susy, kan?" tanya Nan.


Masuk akal. Karena biasanya, tante susy hanya akan mengantarkan makanan ke rumahnya saat pagi dan malam. Tidak pernah sekalipun di waktu siang seperti ini.


"Bisa jadi. Mungkin aja tante Susy ngeliat mobil daddy, jadi dia ngenterin makanan lagi."


Nan memangut.


"Yaudah, gue bukain." katanya, beranjak dari duduknya menuju pintu.


ART yang bekerja di rumahnya baru saja pulang karena mendapat kabar jika suaminya sakit.


"Loh, nak Nan? Kok gak sekolah?"


Dugaan Ran benar. Yang datang memanglah Susy.


"Em, lagi gak enak badan, tante." jawabnya.


"Eh, kenapa?" tanyanya kepo.

__ADS_1


"Nggak papa, sekarang udah mendingan kok."


Hembusan napas terdengar dari wanita itu.


"Em, nak Nan, papa nya ada?" tanyanya, malu-malu.


"Ada, tapi lagi sibuk."


Wajah wanita di depannya tampak kecewa. Namun cepat-cepat Nan mengalihkan perhatiannya.


"Itu—"


Susy mengikuti arah pandang Nan. Seketika, dia tersenyum. "Buat papa— em, maksudnya buat kalian sekeluarga."


Dengan senang hati, Nan menerima piring berisi brownis dari Susy.


"Makasih tante." ujarnya.


Susy mengangguk. "Em, nak Nan, boleh tolo—"


"Aku masuk dulu ya tente. Makasih loh makanannya."


Dengan tidak sopannya, Nan memotong perkataan wanita seumuran dengan ayahnya itu. Lalu, masuk ke dalam, meninggalkan Susy sendirian di luar rumah besarnya.


...***...


"Apa, apa?"


Ran mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap kembarannya penuh harap.


"Brownis!"


Matanya langsung berbinar.


"Cepetan potong Nan!"


"Iya, iya, sabar dong."


Untuk yang kedua kalinya, Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tahu jika brownis yang sedang dimakan kedua anaknya adalah pemberian dari tetangga mereka. Karena hal itulah dia tidak enak. Meskipun tidak meminta, tapi tetap saja Sean merasa sudah merepotkan wanita itu. Tapi— ah sudahlah, dia tidak ingin memikirkan apapun selain keluarganya.


"Dari calon istri nih, dad. Mau, gak?" tanya Nan, menaik turunkan alisnya, sedang menggoda ayahnya.


"Berisik ah Nan!" ketus Sean, lalu segera pergi dari sana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2