Fosessive Brother

Fosessive Brother
11


__ADS_3

"Gimana kalo kita ngerjainnya tugas biologinya di rumah Silvia aja."


"Bener tuh, lagian kan kita belum pernah dateng ke rumah Silvi."


"Hooh, kita udah pernah ngerjain tugas dirumah aku, dirumah Indi juga pernah, nah sekarang giliran di rumah kamu Sil."


"Gimana ? kamu setuju kan Sil?"


"Oke deh, berarti deal ya di rumah Silvi."


"Nanti sekitar jam setengah dua siang kita ke rumah kamu."


"Dahh Silvi sampe ketemu nanti"


Sivia menjambak rambutnya kala perkataan Endah dan Indi terngiang di kepalanya. Oh ayolah, apa yang harus dia lakukan sekarang. Endah dan Indi ingin datang ke rumahnya, tidak mungkin juga dia menolak bukan? tapi masalahnya, dirumah ada Ran dan Nan. Silvia harus menyembunyikan kedua kakaknya di mana? Dia tidak mungkin membiarkan kakak kembarnya berada di dalam kamar mereka karena biasanya sehabis pulang sekolah, si kembar akan main game sambil berteriak-teriak tidak jelas, bisa-bisa Endah dan lndi curiga nantinya. Siapapun, tolong beri Silvia saran.


Sedang asik dengan pikirannya sendiri, Silvia sampai tidak sadar jika orang yang sedang dia tunggu sudah berada di depannya.


Gadis cantik itu tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang menurunkan tangan mungilnya dari kepala.


"Kamu kenapa hm?" Tanyanya, tangan besarnya bergerak untuk mengelus rambut gadis itu sayang.


Silvia menggeleng, dia ingin menangis, mengatakan bahwa dia sedang cemas, tapi semua itu tidak bisa dia lakukan. Bisa-bisa ada orang lain yang melihatnya bicara nantinya.


"Gak mau cerita? Kakak siap dengerin loh," Orang itu-- Ran menatapnya lembut. Namun Silvia tetap menggeleng.


Helaan napas terdengar dari yang lebih tua. Ran tidak tega melihat adiknya yang sepertinya sedang memiliki banyak pikiran. Dia ingin membantunya, ingin mengurangi beban yang ditanggung adiknya, tapi apa boleh buat, Silvia sangat keras kepala, jika dia bilang tidak maka tetap tidak. Ah sudahlah, mungkin adiknya butuh istirahat.


"Pulang yuk, kayanya kamu kecapean," Ran mengulurkan tangannya yang disambut dengan baik oleh Silvia.


Mereka berdua memang masih ada di sekolah. Entah bagaimana caranya, tapi setelah insiden di perkemahan, para siswa jadi menyimpulkan bahwa Ran menyukai Silvia. Mereka tidak curiga sama sekali pada marga mereka yang sama. Yang mereka tahu hanyalah Randika, sekretaris osis yang merangkap menjadi pratama putra itu sedang menjalin hubungan dengan Silvia, murid kelas 10 yang bisu.


"Lama banget sih njir!"


Saat memasuki mobil, Ran dan Silvia langsung disambut omelan oleh si tengah. Oh, perlu diingatkan, Nan memang sensitif setiap kali pulang sekolah. Alasannya? Tentu saja karena dia cemburu. Hei ayolah, saat widegame dan jurit malam, dia yang selalu mengekori Silvia, tapi kenapa malah kembarannya yang dituduh menjalin hubungan dengan adiknya? tidak adil. Apalagi kini mereka berdua selalu pulang bersama-- maksudnya, setiap hari Ran akan menjemput Silvia di kelasnya, lalu berjalan bersama menuju mobil. Sedangkan Nan hanya sendiri. Menyebalkan.


"Apa?!"


Nan refleks memundurkan sedikit wajahnya saat Silvia memelototinya.


"B-biasa aja dong."


Si sulung terkekeh, entah apa yang terjadi pada adik bungsunya sampai-sampai menjadi sangat galak seperti itu.


"Kenapa sih dek? ayo cerita, kakak sama abang siap dengerin semuanya."


"Kenapa?" tanya Nan, dia merasa telah melewatkan sesuatu yang penting.


"Nggak tau."


Nan memegang pundak adiknya, menatapnya lekat lalu tanpa diduga mengguncang tubuh kecil itu.


"Hei princess, are you okay?"


"Ih, apaan sih!"


Oke, untuk yang kedua kalinya Nan memundurkan wajahnya, tatapan Silvia yang seperti ingin menelannya hidup-hidup sungguh mengintimidasinya, membuatnya takut.


"Y-ya maaf."


Merasa tidak tahan lagi untuk menahan semuanya, Silvia tiba-tiba menangis keras. Menumpahkan segala kesedihannya dalam tetesan air mata. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan mungilnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah, menahan isakan kecilnya agar tidak bisa didengar oleh kedua saudaranya.


Ran dan Nan kaget. Tidak hanya mereka berdua, tapi supir pribadi keluarganya juga kaget saat salah satu anak majikannya tiba-tiba menangis. Si kembar menoleh ke samping, mereka berdua saling tatap sebelum akhirnya mencoba menenangkan silvia dan bertanya pada gadis itu.


"Adekk... "


"Endah sama Indi mau ke rumah," Silvia memotong perkataan Ran cepat.


Sontak, si kembar cengo ditempatnya.


...***...


"Disini aja ya dek, janji gak berisik deh," Nan mengangkat tangan kanannya ke atas, membentuk V sign, mencoba bernegosiasi dengan sang adik yang mengusir keduanya agar pergi dari rumah selama ada Endah dan Indi dirumah keluarga mereka.


"Gak believe ah," Si bungsu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap kakak keduanya dengan angkuh.


"Yaelah, males keluar dek, serius deh lagi mager bet."

__ADS_1


Ran dan Silvia memutar mata malas, Nan ini sangat banyak bicara sekali.


"Bisa langsung keluar gak? takutnya Endah sama Indi keburu dateng," jengah sang adik.


"Oke oke, tapi nanti malem tidur bareng ya?" Rupanya Nan masih belum menyerah untuk bernegosiasi dengan adiknya.


"Plis deh, abang pikir aku anak TK apa yang takut tidur sendirian."


"Heh, lupa hah? seminggu lalu kita tidur bereng perasaan."


Siapapun tolong sumpal mulut Nan sekarang juga, karena remaja itu sangat berisik sekali untuk ukuran laki-laki.


"Ohh, yaudah nanti aku bilang daddy dulu."


"Kok daddy sih?" Tanya Nan tidak mengerti.


Oke, Sabar Silvi... kau harus sabar untuk menghadapi makhluk yang satu ini.


"Huh... " Gadis itu membuang napasnya pelan, mencoba meredam emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun. "Ya tadi katanya mau tidur bareng lagi, yaudah aku ajak daddy juga," Silvia tersenyum, senyum yang sangat sangatt dipaksakan.


"Nggak usah lah. Tidur berdua aja," Si tengah menaik turunkan alisnya.


Ran dan silvia saling melirik,


"Abangggg.... " Si gadis memanggil kakak keduanya dengan nada yang terdengar mengerikkan di telinga Nan. "MAU AKU TABOK YA?!" teriaknya.


Nan mengerjap tidak percaya saat Silvia tiba-tiba membentaknya, sedangkan Ran masih tetap stay cool. Nan yang mencari gara-gara, jadi biarkan dia juga yang menerima amukan dari Silvia:)


"B-biasa aja dong. Kok mal--"


"Beneran mau ditabok? "


"Oke maaf," Remaja itu mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda menyerah.


"Yaudah pergi cepet," Usirnya.


Si sulung yang sedari tadi diam saja, kini mendekat pada si bungsu, mencium pipi mulus itu singkat lalu menarik baju bagian belakang kembarannya.


"Eh, kalem dong," Protes Nan.


"Iya iya, tapi nanti dulu dong, gue kan juga mau sun sama adek."


Si sulung dan si bungsu diam, membiarkan Nan melakukan apapun semaunya. Nan tidak akan pernah diam jika terus diladeni, jadi orang waras mengalah saja:)


Mula-mula Nqn mencium pipi kanan adiknya, lalu kiri, berlanjut ke dahi, hidung lalu dagu.


Silvia berusaha tersenyum semanis mungkin, walau rasanya dia sangat sangattt sangattttt dongkol pada kakak keduanya itu.


"Udahkan? bisa pergi sekarang?"


"Iya," Ketusnya, "Tapi gak usah ditarik gini juga dong," Dia protes karena saudara kembarnya masih saja menarik baju belakangnya.


"Diem lo."


Oke, Nan pasrah, membiarkan Ran menariknya.


Duk


"Kenapa sih bangs--" Nan hampir saja mengumpat. Bagaimana tidak, Ran menariknya, sedangkan dia hanya pasrah. Tapi baru selangkah, kembarannya itu sudah menghentikan langkahnya, membuat dirinya yang membelakangi Ran itu bertubrukan. Dan saat menoleh, dia kaget, begitu pula dengan Ran dan silvia, mereka berdua diam, mereka tampak terkejut. Sekarang dia tahu apa alasan kembarannya itu berhenti mendadak.


Disana--- diruang keluarga, berdiri dua orang perempuan yang seumuran dengan Silvia, menatap mereka bertiga dengan tatapan yang sulit diartikan. Mata mereka membelalak juga mulut yang ternganga lebar.


Sial. Sejak kapan mereka ada di sana?


"E-eh, a-ada--"


"Kalian... Silvi... " Indi tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dari Silvia yang bicara bahkan sampai membentak Nan, dan si kembar yang mencium Silvia dan berada dalam satu rumah dengan gadis itu.


"Kamu bisa bicara...." Indi mengumam.


"Kak Ran sama kak Nan tadi nyium... "


"Silvia... "


"Randika"


"Nandika," Endah dan Indi terus bicara bergantian dengan nada lirih.

__ADS_1


"Kalian... " Kedua sahabat itu saling pandang saat menyadari sesuatu, "Sodaraan?!" teriak mereka histeris.


...***...


"Udah sore, kita pulang dulu ya."


Endah dan Indi mengemasi buku dan alat tulis mereka saat merasa bahwa hari sudah mulai gelap.


"Emm... jangan kasih tau siapa-siapa ya soal yang kalian tahu hari ini," Pinta Silvia, tangannya memelintir ujung baju yang dikenakannya, efek terlalu gugup dan takut.


"Emang kenapa sih kamu mau mau aja dikatain bisu? terus juga kenapa gak mau orang tau kalo kamu sama kak Ran sama kak Nan itu sodaraan? Kan enak punya kakak yang ganteng."


Silvia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan salah satu temannya. Dia tidak berniat memberikan penjelasan sama sekali pada mereka. Karena menurutnya mereka tidak perlu tahu.


"Kamu tenang aja, kita bakal jaga rahasia kamu kok."


"Makasih ya," Senyumnya tulus.


...***...


"Gak asik, kenapa gak beli sushi juga sih?"


"Males ah, gak penting juga nurutin kemauan kamu."


"Terooss aja teroos, pilih kasih aja teroos, da aku mah apa atuh, cuma serbuk marimas yang gak ada harganya."


"Teroos aja teroos, drama aja teroos, da lo mah apa atuh? cuma king of drama abal-abal."


Kedua ayah dan anak itu tertawa, sedangkan yang satunya lagi menekuk wajahnya. Lagi lagi dia yang kena. Huhh, susah memang hidup sebagai orang tamvan, selalu saja disalahkan.


"Bicit indi. Buka dong dad, laper nih."


"Eits, nanti dulu," Sean menahan tangan Nan yang baru saja akan mengambil plastik berisi kebab untuk cemilan malam ini.


"Pelit," Dengusnya.


"Tunggu adek dulu dong abang sayang."


"Iya iya."


"Tumben daddy beli makanan." tanya Ran. Tidak salah dia bertanya seperti itu, karena setahunya, ayahnya itu sangat pilih-pilih jika membeli makanan luar. Dia hanya takut anak-anaknya sakit gara-gara makanan itu.


"Ohh, tadi tiba-tiba keinget kalo si adek suka kebab. jadi daddy mampir dulu buat beli deh."


Ran mengangguk anggukan kepalanya mendengar penjelasan ayahnya.


"Aku suka sushi loh dad."


"Emang daddy nanya kamu?"


Lagi, kakak dan ayahnya itu tertawa diatas penderitaannya. Dasar kakak dan ayah yang tidak punya hati.


"Wah wah wahh, seneng bet keknya ya pak kalo ngeliat anaknya menderita," Remaja itu memalingkan wajahnya, pura-pura marah.


"Ululuuu..." Sean memainkan pipi Nan, "Abang marah nih ceritanya?"


"Ish apaan sih?!" Nan menyentakkan lengan besar ayahnya.


"Udah ah,  jangan marah, kaya anak kecil aja," Sean mengelap ujung matanya yang berair karena tertawa tadi.


"Daddy mau man--"


"SiLVI KENAPA KAKAK LO PADA GANTENG SEMUA SIH?! "


"BAGI SATU DONG, MASA KAMU PUNYA TIGA KAKAK YANG GANTENG GANTENG SIH?! "


Sean tidak meneruskan perkataannya karena sebuah teriakan lebih dulu terdengar. Sontak, tiga pria tampan itu pun menoleh ke arah tangga, dimana si oknum yang berteriak berada.


"Punten eceu-eceu," Nan tiba-tiba bicara, "He is our daddy," Jelas Nan saat tahu bahwa Endah dan Indi mengira Sean adalah saudara mereka.


"APAAA?!"


Oke, tidak perlu kaget mendengar reaksi Indi dan Endah yang terdengar berlebihan. Karena Sean memang tidak terlihat seperti seorang ayah.


Huh, kenapa juga sih Sean tidak terlihat tua sama sekali? bukannya terlihat seperti seorang ayah dengan tiga anak, Sean lebih terlihat sebagai kakak mereka. Apalagi wajahnya yang tampan dan awet muda, membuatnya terlihat seperti seorang yang baru berumur 25 tahunan. Uh, Nan jadi merasa tertandingi oleh ayahnya sendiri. Menyebalkan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2