Fosessive Brother

Fosessive Brother
13


__ADS_3

"Males dad."


"Lagian kek anak kecil aja ikut reunian sama orang tua."


Silvia mengangguk, merasa setuju dengan perkataan kedua kakaknya. Ikut Reuni dengan ayahnya? Tidak, terima kasih. Pasti disana banyak orang dan dia tidak mau ikut.


"Yaaa kita udah sepakat buat ngajak anggota keluarga masing-masing."


Ketiganya saling bertatapan. Anggota keluarga? Yang Sean punya hanyalah mereka bertiga, dan jika mereka tidak mau ikut, berarti... Sean hanya pergi sendiri? Oh yang benar saja, Ayah mereka akan terlihat menyedihkan jika hanya pergi sendiri.


"Sama kak Ran aja deh dad. Daddy tau kan kalo aku ini petakilan, ntar yang ada aku malah malu-maluin daddy lagi," Nan berkelakar, "Nanti biar aku yang ngejaga adek," dia tersenyum cerah saat membayangkan jika dirinya akan menghabiskan waktu berdua bersama adik tersayangnya.


Tukkk


Satu pukulan mendarat di kepala Nan yang dihadiahkan dari kakaknya.


"Sakit bego," Si korban mengusap kepalanya, dia menatap tajam kakaknya. Namun yang ditatap tidak merasa takut sama sekali.


"Atau daddy gak usah ikut aja ya?" Sean bertanya, atau mungkin bergumam.


"HAH?!"


"Ke-kenapa?" ayah tiga anak itu mengerjap pelan. Kaget saat melihat respon anaknya yang berlebihan seperti itu.


"Kok gak ikut sih? kan daddy udah lama gak ketemu sama temen-temen daddy."


Tersenyum lembut, Sean mengusap rambut putri semata wayangnya.


"Gak papa, lagian gak penting juga," Kekehnya.


Mau tak mau tiga orang itu merasa bersalah. Mereka seharusnya tidak boleh egois bukan? Ayahnya melakukan apapun untuk mereka, tapi apa yang mereka lakukan untuk sang ayah? Bahkan hanya diminta untuk menemaninya reuni saja tidak mau. Padahal mereka hanya tinggal duduk jika sudah sampai di sana.


"Aku ikut."


"Nggak usah. Daddy tau kamu--"


"Aku pengen sembuh. Mungkin dengan cara ikut sama daddy, bisa bikin aku perlahan terbiasa dengan keramaian."


"Adek--"


"Kalo gitu aku juga ikut."


"Aku juga."


Sean beralih menatap kedua putra kembarnya. Dia merasa sangat senang karena putra putrinya mau ikut bersamanya.


Brakkk


Tubuh besarnya hampir saja limbung saat tanpa diduga Silvia memeluk tubuhnya, diikuti kedua kakaknya.


"Aku sayang daddy," Ucapnya pelan dalam pelukan ayahnya.


"Aku juga."


"Aku juga."


"Daddy lebih sayang sama kalian."


...***...


"Kamu baik baik aja kan? Tangan kamu dingin banget loh," Ran menggenggam erat tangan adiknya, mencoba untuk membuat tangan kecil itu kembali hangat.


Mereka bertiga sedang duduk di kursi paling pojok. Hanya bertiga karena Sean sedang menyapa teman temannya di dekat pintu masuk restoran. Ngomong-ngomong, yang datang baru beberapa keluarga saja. Jadi restoran yang sudah dipesan secara privat itu masih lumayan sepi.


Yang ditanya hanya mengangguk kaku. Jujur saja, Silvia sangat gugup bercampur takut. Baru beberapa orang yang datang ke restoran tempat ayahnya dan teman temannya mengadakan reuni, tapi dia sudah merasa takut seperti ini.


"Kak..." Panggilnya lirih.


"Kenapa hm?"


"M-mau ke toilet."


"Yaudah kakak anter," Ran berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada sang adik.


"Kalo daddy nanya, bilang aja gue lagi nganter adek ke toilet," pesannya pada kembaran nya.


"Hm," Nan hanya menggumam, dia sedang asik main game pada ponsel nya.


"Ini pasti si kembar ya?"


Nqn mendengar suara yang cukup nyaring di telinganya, juga rangkulan pada lehernya yang dilakukan seseorang yang tidak dia kenali sama sekali. Sial, karena orang ini tiba-tiba merangkulnya, dia jadi kalah bermain game.


Dengan wajah dongkol, dia mendongak, menatap orang yang membuatnya kalah bermain game. Mulutnya membulat saat menemukan pria yang tak kalah tinggi dari ayahnya, sedang menatapnya dengan senyuman yang-- bodoh(?)


Dia berbaik menatap ayahnya yang berada di sampingnya, seakan meminta penjelasan siapa orang yang sok akrab ini.

__ADS_1


"Om Cahya, temen daddy."


Nan hanya beroh ria.


"Haii o... ngapain lo disini?!" Tanpa sadar dia sedikit berteriak, membuat Sean dan Cahya terkaget karena ulahnya.


"Nan, yang sopan dong!" Peringat Sean.


"Y-ya tapi ngapain dia disini?" Nan menunjuk seseorang yang berdiri di belakang Cahya.


Pria tinggi itu menggeser sedikit tubuhnya.


"Oh, kenalin ini Rendi, anak om."


Mata Nan membulat. Anak? Rendi anak om Cahya yang notabenenya adalah teman ayahnya? Oh, kenapa dunia sangat sempit sekali.


"Kalian.... Udah saling kenal?" Tanya Cahya, memastikan.


Nan mendengus geli.


"Temen sekolah. Satu geng juga," Jawabnya.


"Wahhh, kebetulan banget ya."


Setelah basa basi, mereka duduk. Nan menatap Cahya dengan bingung. Kenapa bisa ya, orang dingin seperti Rendi bisa mempunyai ayah easy going seperti Cahya? Jika dipikir pikir, sepertinya Cahya lebih cocok jadi ayahnya, mengingat mereka sama-sama bobrok. Dan Sean lebih cocok jadi ayahnya Rendi, mereka sama sama memiliki aura yang dingin tak tersentuh, ya walaupun sebenarnya Sean tidak sedingin kelihatan nya. Oh, atau jangan jangan dia dan Rendi itu tertukar saat masih bayi?


Jangan konyol Nandika. Sepertinya kau terlalu banyak menonton film.


Oh, Nan baru sadar. Bukankah ayahnya bilang jika setiap orang harus membawa istri dan anaknya? Lalu kenapa Cahya hanya berdua bersama Rendi? Apa istrinya tidak ikut? Atau sedang bergabung dengan ibu-ibu lain?


"Dad?" panggil Nan, berbisik pelan.


"Apa?"


"Istrinya om tiang mana?"


"Heh?!" Tegur Sean, yang ditegur hanya cengengesan.


"Gak ada."


"Kemana? Gak ikut? Atau kemana?"


"Udah gak ada, udah meninggal."


Sungguh, Nan baru tau jika istri dari om Cahya, alias ibu dari Rendi sudah tiada. Selama ini dia menyangka bahwa diantara gengnya, hanya dirinya dan saudaranya lah yang tidak mempunyai ibu. Tapi nyatanya Rendi pun sama seperti dirinya.


"Oh ya, yang satunya lagi kemana? Kok cuma ada satu?" Suara berat Cahya terdengar. Dia bertanya saat tidak mendapati si kembar yang satunya lagi. "sama... Adik mereka juga kemana? Yang duanya gak ikut?" lanjutnya. Dia baru ingat jika Sean punya tiga anak.


"Adik?" Rendi yang dari tadi bungkam akhirnya angkat bicara. Adik apa maksudnya? Bukankah Nan tidak punya adik?


"Iya adik. Dia... Eh, kamu siapa namanya? om lupa."


"Nan, om."


"Yang satunya lagi?"


"Ran," Sean yang menjawab.


"Nah iya, Ran sama Nan kan punya adik," Jelas Cahya.


Rendi menatap nan tajam. Kenapa dia tidak pernah tahu mengenai adiknya Nan? Selama ini dia pikir mereka hanya dua bersaudara. Tapi tidak.


"Kamu gak tau?" tanya Cahya pada putranya.


Yang ditanya hanya bisa menggeleng.


"Kok bisa gak tau sih? Katanya temen, kok malah gak tau?"


"Ya dianya aja gak pernah cerita!" Rendi menunjuk Nan.


Helowww!! Rendi, apa kau tidak sadar diri? Kau juga tidak pernah cerita tentang ibumu!!!


Nan sudah seperti tersangka yang tertangkap basah melakukan kejahatan. Dia terus ditatap oleh sepasang ayah dan anak itu. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah menyengir.


"Oh iya Nan, kak Ran sama--"


"Ke toilet dad. Si adek pengen ke toilet, jadi dianter sama kak Ran," Nan menyela ucapan ayahnya. Bisa gawat jika ayahnya menyebut nama Silvia di depan si kulkas a.k.a Rendi ini. Rahasia mereka akan terbongkar.


"Yahhh, padahal om pengen banget ketemu sama adek kamu. Pas kecil dia cantik banget loh, lucu lagi. Pipinya sering om uyel-uyel," Cahya berkata dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


"Dih, kek om om pedo," Nan menggumam.


Sean yang kebetulan duduk disebelahnya menyenggol lengan putranya. Tidak sopan! Untung Cahya dan Rendi tidak mendengar nya.


Sekali lagi, Nqn hanya menyengir.

__ADS_1


"Emm.. Dad, aku ke toilet dulu ya, mau pipis," Nqn berdiri dari duduknya.


"Sekalian suruh kakak sama adek kamu cepetan. Om udah kangen."


Nan mendumal dalam hati mendengar perkataan Cahya.


...***...


"Kamu serius gak papa? Atau mau pulang aja?" Nan menyangga tubuh adik bungsunya. Gadis itu sepertinya sangat ketakutan sekali. Wajah pucatnya semakin pucat juga tangannya yang masih tetap dingin.


"Nggak papa kak. Aku baik baik aja," jawab Silvia, memaksakan senyumannya.


"Dek, dengerin kakak! Kalo kamu gak bisa, gak papa. Kita pulang aja, daddy pasti ngerti kok."


"Gak mau pulang."


Ran sudah akan membuka mulutnya, namun sebuah suara lebih dulu terdengar.


"Gawatt!!! Urgent!!! Emergenci!!! Wiuww wiuuww wiuwww..."


Oh ayolah Nqn, disaat seperti ini kau masih bisa bisanya bercanda seperti itu.


"Kenapa?" Si sulung bertanya.


"Kamu baik baik aja dek?" Nan malah balik bertanya.


"Gawat kenapa?" bukanya menjawab pertanyaan kakaknya, Silvia malah balik bertanya.


"Rendi," Nan mulai panik sendiri.


"Kak Rebdi kenapa?"


"Rendi here!!"


"Whatt? Ngapain??"


"Dia anaknya om Cahya, temen daddy."


"Kok bisa sih?"


"Ya bisalah bege."


Tanpa sadar, Silvia meremat lengan Ran yang sedang menyangga tubuhnya.


"Kak Ran..." lirihnya. Tadi dia hanya merasa gugup. Tapi sekarang dia merasa takut.


Memang benar tentang pepatah yang mengatakan jika satu kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lainnya.


Awalnya silvia hanya berbohong tentang statusnya dan kedua kakaknya. Lalu tanpa sengaja dia berbohong tentang kebisuannya. Dan kini dia juga berbohong tentang hubungannya dengan kakak pertamanya itu. Ah, kini semuanya menjadi semakin rumit.


"Kita pulang okey?" Ran menggenggam erat tangan adiknya.


"Sama gue aja deh kak. Om Cahya nyariin lo tuh."


"Apa lo bisa dipercaya?"


"Sialan. Emang lo pikir gue apaan?"


"Lo bisa ngejagain adek?"


"Gue juga kakaknya ya saepul. Lo kira gue gak bisa ngejagain adek gue sendiri?"


"Yaudah," finalnya, setelah tadi sempat berpikir. "kalian pulangnya jalan belakang aja. Ntar gue yang bilang sama dad--"


"Kalian sodaraan?"


Ketiganya tersentak kaget. Mereka menoleh dan mendapati rendi yang kini berjalan ke arah mereka.


"N-ndi, sejak kapan lo ada di sini?" Nan bertanya gugup.


"Dia... adek kalian?"


"Ngg--"


"Dia bukan gebetan lo?"


"Gue--"


"Dia...nggak bisu?" Rendi terus memberi mereka pertanyaan, namun tidak membiarkan mereka menjawab sama sekali.


Dari awal dia sudah curiga. Saat tidak sengaja bertemu di gerbang kompleks, Nan memanggil silvia dengan sebutan 'dek', juga Nan yang menyerobot minuman dan makanan milik gadis itu, seakan mereka sudah sangat akrab. Lalu tadi saat di depan, nan tiba tiba menjadi gugup saat ayahnya membahas tentang adik mereka.


Jadi ini alasannya?


"Ndi, kita bisa jelasin"

__ADS_1


...***...


__ADS_2