Fosessive Brother

Fosessive Brother
14


__ADS_3

"Seriusan nih kita jalan bertiga kek gini?"


"Ya emang lo mau kek gimana lagi saprol?"


"Ya lo pulang kek," Orang itu-- Nan terkekeh pelan. Dia berhenti berjalan, menunggu kakak dan adiknya yang tertinggal di belakang, hingga saat mereka telah beriringan, Nan menepis rangkulan tangan kakaknya pada adiknya. Lalu dirinya sendiri melakukan apa yang tadi Ran lakukan, merangkul Silvia.


Ran hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik pertama sekaligus kembarannya itu. Dia memasukkan lengannya ke dalam saku celananya lalu berjalan beriringan bersama kedua saudaranya.


"Kita mau kemana sih?" tanya Silvia, dia menoleh ke kanan, sedikit mendongak agar bisa menatap kakak keduanya.


Saat pulang sekolah tadi, kedua kakaknya mengajaknya pergi entah kemana. Si kembar sengaja tidak menyuruh supir menjemput mereka karena ingin quality time bertiga. Alhasil disinilah mereka, berjalan kaki di pinggir jalan seperti orang yang tidak punya tujuan.


"Jajan."


"Emang abang punya uang?" Yeah, pertanyaan yang logis, karena Silvia tahu jika kakaknya yang satu ini sangat boros sekali hingga menyebabkan dirinya sering kehabisan uang.


"Tenang aja, semua yang kamu mau, abang beliin," Nan membenarkan kerah seragamnya, sedang sombong.


Mata si bungsu berbinar mendengarnya. Kapan lagi coba kakaknya yang satu ini mentraktirnya? Kesempatan ini langka dan dia tidak boleh melewatkannya.


"...nanti kakak yang bayar," Nan menyengir.


Seketika, binar itu meredup. Bibirnya melengkung ke bawah, wajah cantiknya dia tekuk, pertanda sedang kesal.


"Kalo daddy tau gimana?" tanya Silvia. Dia tiba-tiba teringat ayahnya. Jika ayahnya tahu, dia tidak akan membiarkan anak-anaknya makan makanan sembarangan.


"Daddy kan gak tau jamilah."


"Ya kalem dong."


Tin. Tin.


Mereka semakin menepi saat mendengar suara klakson mobil, tapi sialnya mobil itu tidak juga melaju, malah memberi klakson lagi.


Tin. Tin.


Karena tidak bisa mengontrol emosinya lagi, Nan pun menoleh ke samping kirinya, dia menatap audi hitam itu kesal.


"Berisik anjerr!! Jalan kan masih lebar, kena-- om Cahya?" dia tidak meneruskan omelannya saat kaca mobil terbuka dan menampilkan sosok yang belum lama ini ia kenal.


"Maaf," Cahya meminta maaf, merasa tidak enak karena membuat anak dari temannya itu kesal.


"Eh," Nan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa kikuk sekaligus bersalah. Sangat tidak sopan sekali tadi dia sudah mengumpati teman ayahnya, "maaf om," sesalnya.


Pria tampan itu terkekeh lalu keluar dari mobilnya. Mata bulatnya semakin membulat saat menyadari bahwa Jaemin bersama dengan seorang pria dan wanita.


"Silvia ya?" tanyanya. Dan tanpa basa basi lagi dia langsung menerjang tubuh gadis itu, memeluknya erat tanpa peduli dimana tempatnya saat ini.


Eh, Silvia kaget. Siapa orang ini? Kenapa tiba-tiba memeluknya? Saat dia ingin melepaskan pelukan itu, sebuah suara lebih dulu menghentikannya.


"Om seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi."


"Pa! Ini di jalan loh," Dan suara lain itu mengintrupsi kegiatan Cahya. Setelah sadar tempat, pria itu melepaskan pelukannya.


"Oh maaf."


Silvia tidak merespon, dia takut pada orang asing yang tidak dikenalnya ini. Dia meremat lengan kakak pertamanya kuat, menyalurkan rasa takutnya.


"Dia om Cahya, temenya daddy. Emm... Papanya Rebdi," Jelas Ran yang tahu tentang ketakutan adiknya.


"Hai Jae, apa kabar?" Cahya beralih pada sulung.


"Baik om."


"Om seneng banget bisa ketemu sama kalian disini. Apalagi ketemu sama kamu," Dia mencubit pipi Silvia gemas.

__ADS_1


Melihat keterdiaman Silvia, Cahya menaikan sebelah alisnya, rasanya... gadis ini sangat berbeda dengan anak kecil yang sering dia temui dulu.


"Kamu gak inget sama om?" Tanyanya.


"Ya nggak lah, orang kalian kenalnya pas masih kecil. Aku aja yang kakaknya aja gak inget," sudah dipastikan bahwa itu Nan. Dia menggumam, tapi Ran masih bisa mendengarnya. Karenanya, si sulung menyenggol lengan si tengah, seakan menegurnya untuk tidak bicara macam-macam.


"Baru pulang lo Ndi?" Nan mengalihkan pembicaraan. Dia bertanya pada Rendi yang sejak tadi bersandar pada kap mobil.


Si bungsu menundukkan kepalanya, merasa malu karena ketahuan berbohong. Setelah kejadian hari itu, hubungannya rendi dan kedua kakaknya memang masih baik-baik saja. Rendi menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi tetap saja Silvia malu.


"Oh iya, dia ada rapat osis katanya, makanya pulangnya agak lamaan dikit," Cahya yang menjawab.


Silvia mengerjap. Apa kata om Cahya tadi? Rapat osis? Kenapa dia tidak tahu? Kenapa juga kedua kakaknya malah mengajaknya jajan jika ada rapat osis? Kedua kakaknya kan osis, seharusnya mereka berdua juga ikut tapat. Tapi... Arghh, pasti mereka membolos. Awas saja, jika om Cahya dan Rendi sudah pergi, dia akan mengamuk pada keduanya.


"Kenapa malah bolos?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Rendi itu membuat si kembar menegang.


"A-apanya?" Nan masih berpura-pura tidak mengerti.


"Lo berdua lah," jengah Rendi, "Kenapa lo berdua gak ikut rapat osis? Apalagi lo!" Dia menunjuk Ran. "Lo kan sekretarisnya"


"Kalian berdua osis?" tanya Cahya tidak percaya.


"I-iya om."


"Enggak."


Jawaban itu terlontar dari mulut yang berbeda. Membuat cahya menaikan alisnya bingung. Mana yang benar? Yang satu menjawab iya, dan yang satu menjawab tidak.


"Mereka berdua osis pa. Ran jadi sekretaris malah." Rendi bersuara.


"Ternyata generasi selanjutnya bener-bener memperbaiki keturunan," Gumam Cahya. Dia masih ingat betul, dulu, dia, Sean dan teman temannya yang lain tidak pernah ikut organisasi sekolah, malah bisa dibilang jika mereka itu berandal sekolah yang hobinya membuat onar. Tapi anak anak mereka kini? Ikut organisasi!! Sungguh sesuatu yang membanggakan dan patut diacungi jempol.


"Hah?!" Nan bertanya saat tidak sengaja mendengar gumaman om Cahya.


"Eh, enggak," Cahya menggelengkan kepalanya, "oh iya, kalian kenapa jalan kaki? Daddy kalian gak jemput?" Tanyanya.


"Oh, apa mau ikut sama kita aja?"


"Nggak usah om. Rencanya kita mau quality time bertiga."


"Serius? Mungkin mau dianterin ke tempat kalian mau quality time?" Cahya masih berusaha menawarkan.


"Nggak usah. Lagian tempatnya udah deket kok."


"Yaudah, kita duluan ya, kalian hati-hati," dia mencubit pipi Silvia sebelum masuk ke dalam mobil.


Cahya membunyikan klakson sebagai tanda perpisahan. Nan melambaikan tangannya riang.


"Dahh om tiang..."


"Kenapa malah bolos? Tau gitu aku gak mau ikut sama kalian," Sesaat setelah Nan mengatakan itu, Silvia langsung mengomel.


"Y-ya maaf, lagian gak penting kok rapatnya," Nan beralasan.


"Mana ada rapat osis yang gak penting."


"B-beneran gak penting kok. Kakak juga udah minta izin sama pak Laskar, jadi gak masalah."


"Beneran?" Gadis itu memicingkan matanya, masih belum percaya pada alibi kedua kakaknya.


"Bawel ah," Nan merangkul pundak adiknya. Mereka meneruskan perjalanannya lagi. Namun belum genap dua meter mereka berjalan, sudah ada yang membuat mereka berhenti lagi.


"Kebetulan kita ketemu di sini."


"Udah jadi miskin lo berdua? Tumben gak jadi anak manja yang dianter jemput pake mobil," Seorang lainnya ikut mengejek.

__ADS_1


"Cewe lo berdua boleh juga."


Seketika, Ran dan Nan menggertakkan gigi, tangan mereka mengepal dengan rahang yang mengeras. Mereka masih bisa menahan jika orang-orang yang berhenti di samping mereka ini mencari keributan pada mereka. Tapi jika mereka berkata seperti itu pada adiknya, apa mereka masih harus diam? Oh tentu tidak.


Bugh


"Jaga mulut busuk lo anjing!"


Silvia menutup mulutnya, merasa kaget saat tiba-tiba Nan memukul salah satu dari lima orang itu hingga membuat orang itu limbung dan hampir jatuh dari motor besarnya.


Orang itu mengelap sudut bibirnya, lalu mendecih.


"Kurang ajar lo!! Serang!!" dia memerintahkan empat orang lainnya untuk menyerang.


Perkelahian tidak bisa terelakkan lagi.


"Bangsat!" Nan mengumpat sambil terus memukul dan menghindar.


"Tunggu di sini," si sulung menjauhkan adik bungsunya dari perkelahian itu, setelahnya dia membantu kembarannya menghadapi mereka.


Kaki Silvia lemas, tubuhnya bergetar hebat. Dia terduduk di jalan, memeluk lututnya, dengan air mata yang sudah mengalir di pelupuk matanya.


Dia takut. Takut pada orang-orang jahat itu. Takut melihat perkelahian di depannya. Takut kedua kakaknya kenapa-napa.


Orang yang tadi mengintruksikan teman-temannya untuk menyerang Ran dan Nan tersenyum miring saat melihat Silvia menangis tidak jauh dari mereka. Dia menghampiri gadis itu. Berjongkok di depannya. Menurutnya, gadis itu lumayan juga.


Dengan penuh keberanian, juga senyum miring yang masih menghiasi wajahnya, dia mengangkat tangannya, hendak menyentuh wajah cantik gadis ini.


Silvia sendiri sudah semakin ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apapun. Dia juga tidak berani untuk melakukan apapun, bahkan hanya untuk sekedar mengangkat wajahnya.


Bugh


Lagi-lagi suara pukulan terdengar di telinga Silvia , namun kali ini terdengar sangat keras.


"Kamu gak papa sayang?"


Silvia tercekat. Suara berat itu, dia tidak salah dengar bukan? Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, dia mendongak.


"D-dad-dy?"


"Daddy?" bukan hanya Silvia, tapi ternyata Ran dan Nan pun kaget melihat kedatangan ayah mereka.


Sean, orang itu memeluk putri semata wayangnya yang terlihat sangat ketakutan. Ternyata firasatnya benar. Dari tadi, Sean merasa gelisah. Dia bertanya pada salah satu asisten rumah tangganya, apakah ketiga anaknya sudah pulang, dan ART-nya menjawab bahwa mereka belum pulang. Dia menelpon supirnya, dan supirnya bilang jika di kembar menyuruhnya untuk tidak menjemput mereka hari ini. Karena merasa khawatir, Sean mendatangi sekolah anak-anaknya, tapi mereka sudah pulang. Dia menyusuri jalanan, berharap segera menemukan ketiga buah hatinya agar dia bisa tenang. Sean menyipitkan matanya kala melihat sosok yang terlihat familiar di matanya sedang berkelahi dengan beberapa orang. Dia segera berbegas keluar dari mobilnya saat tahu bahwa itu benar-benar anaknya.


Awalnya, dia ingin melerai perkelahian yang terjadi di depannya, tapi saat dia melihat putrinya menangis ketakutan dengan seorang laki-laki di hadapannya membuatnya mengurungkan niat. Sean lebih membutuhkannya dari pada Ran dan Nan.


"Gak papa sayang, daddy disini. Jangan takut," Sean mencoba menenangkan bungsunya. Dia takut setelah kejadian ini, psikis Silvia akan semakin terganggu.


Dengan sangat terpaksa, Sean harus melepasnya pelukannya karena pria yang tadi hampir menyentuh putrinya, kini memegang pundaknya, seakan ingin membalas perlakuannya yang tadi.


Ayah tiga anak itu memejamkan matanya sejenak. Sejujurnya, dia tidak ingin menunjukkan sisi lain dari dirinya di depan anak-anaknya, tapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain.


Sean balik memegang lengan itu, dengan gerakan cepat, dia meninju rahang orang itu hingga tersungkur ke jalan. Masih tidak berhenti, Sean menarik kerah seragamnya, lalu kembali memukul dagunya, berkali-kali. Dia kalap, seperti orang kesetanan. Emosinya tidak bisa dikendalikan lagi. Melihat putrinya yang ketakutan membuatnya naik pitam. Tidak ada yang boleh menyentuh anaknya barang seinci pun!


Bugh


Ran dan Nan terkejut. Mereka melamun sampai-sampai tidak sadar jika ada yang hampir memukulnya, untung saja ada Sean, jika tidak, sudah dipastikan jika wajah tampannya akan bonyok.


Kelima orang itu kabur setelah mendapat pekulan dari Sean.


Sean dan si kembar menghembuskan napas. Mereka baru teringat pada Silvia.


Gadis itu menggelenggakan kepalanya. Tangannya memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Dia takut pada orang-orang di depannya-- pada ayah dan kedua kakaknya yang baru saja memukul orang lain.


"Sayang, ini daddy," Sean mendekati Silvia, tapi gadis itu tetap menggelengkan kepalanya sambil beringsut menjauh.

__ADS_1


"Sayang!!" "Adek!!" Ayah dan kedua anaknya itu berteriak saat tubuh Silvia limbung, tergeletak tak sadarkan diri.


...***...


__ADS_2