Fosessive Brother

Fosessive Brother
9


__ADS_3

Kegiatan di hari ketiga ini tidak banyak, hanya lomba kebersihan, pionering dan pembagian hadiah saja.


Kelompok edelweiss mendapat juara tiga dari total poin keseluruhan lomba. Juara satu diraih oleh kelompok melati sedangkan juara dua diraih oleh kelompok anggrek.


Sebelum pulang, para peserta perkemahan mengadakan upacara penutupan yang dipimpin oleh Ran terlebih dahulu.


...***...


Nan mengaga tidak percaya saat melihat Silvia dan Ran sudah duduk berdua di kursi yang hanya untuk berdua. Sial, lagi-lagi dia terlambat. Tapi Nan tidak mau membiarkan kedua saudaranya hanya berdua saja tanpa dirinya. Walau bagaimanapun, mereka harus duduk bertiga.


Tanpa permisi dan tanpa tau malu, Nan duduk dipangkuan Ran, membuat kakaknya itu memekik kaget. Oh, bukan hanya Ran yang kaget tapi si bungsu Silvia juga.


"Apa apaan sih anjir?!" Ran mencoba mendorong tubuh saudara kembarnya, namun Nan masih tak bergeming.


"Minggir bego!"


Nan melipat kedua tangannya di depan dada, "kan gue udah bilang, gue harus duduk sama kalian berdua," Katanya santai.


"Ya lo gak liat?! Udah gada bangku tiga lagi! Udah sana lo duduk di belakang lagi sama Theo!"


"Gue maunya disini. Biar bisa nyender mandja sama kakak kesayangan gue," Nan menyenderkan kepalanya pada kepala Ran. Para siswa yang melihat kejadian itu hanya tertawa, kakak beradik itu selalu saja membuat keributan.


"Akhh!!" Nan menjerit keras. Bagaimana tidak? Silvia baru saja menyubit pahanya dan itu sangat sakit,  sungguh Nan tidak bohong.


"Hahaha mampus lo!" Ran tertawa, bahagia rasanya saat melihat saudara kembar nya menderita. Biadab memang:)


"Jahat," Dengusnya.


"Bacot! Udah sana pergi!" Usir Ran.


Tapi Nan tetaplah Nan. Remaja itu akan keras kepala sebelum keinginan nya tercapai.


"Ya ampun Nann, lo terus aja ngeganggu orang yang lagi pdkt."


Tiga bersaudara itu menoleh dan mendapati Theo dkk sedang berdiri di samping kursi mereka.


"Hah?! Pdkt?!"


"Iyalah," Dimas menjawab, "Emang biadab ya lo, sodara lagi pdkt malah di ganggu," lanjutnya.


"Pdkt apaan sih sat? Mereka..."


"Iya nih. Bawa gih, ganggu tau gak," Ran menyela ucapan Nan dengan cepat.


"Yuk Nan, kita nyanyi nyanyi lagi," ajak Malik. Namun ditelinga Nan, ajakan itu lebih seperti ajakan orang dewasa pada anak kecil. Huh, memangnya dia anak kecil apa? Dasar sialan.


"Ogah," Nan berbalik dan memeluk leher kembaran nya.


"Heh, lepasin sat! Geli bet gue!" Ran mencoba melepaskan pelukan Nan pada lehernya, namun nihil, karena pelukannya terlalu erat.


"Heh, tolongin napa. Gebetan gue bisa elfeel nih sama gue." melas Ran.


Melihat Ran yang sudah kewalahan menghadapi kembarannya sendiri, membuat Theo cs mau tak mau menolongnya. Malik dan Theo yang mencoba melepaskan tangan Nan yang melingkar di leher Ran. Dimas yang menggelitiki pinggang Nan, membuat remaja itu tergelak dan melepaskan pelukannya. Rendi? Oh, dia tidak mau membuang tenaganya hanya untuk hal sia-sia seperti itu, jadi dia hanya diam memperhatikan.


Setelah Nan melepaskan pelukan nya, Tyo cs menyeretnya paksa. Oh, bukan menyeret, lebih tepatnya membopong. Theo dan Malik yang membopong tangan Nan dan Dimas serta Rendi yang membopong kaki Nan. Rendi ya? Yeahh mau tak mau dia harus ikut andil dalam pembopongan Nan kali ini.


"Dahh Nan," Ran melambaikan tangannya, "Nyanyinya yang romantis ya, biar acara pdkt gue lancar," dan tertawa setelahnya.


"Bangsat lo kak," maki Nan dalam bopongan keempat temannya.


...***...


"Dek, bangun, bentar lagi sampe."


Silvia membuka matanya perlahan saat merasakan tepukan kecil di pipinya.


"Bentar lagi sampe," Ulang Ran, Silvia hanya mengangguk menanggapi karena nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya.


"Mau minum? Bentar ya," Ran mencari air mineral, membukanya lalu memberikannya pada sang adik.

__ADS_1


Kepala Silvia sedikit pusing, mungkin efek karena bangun tidur. Dia menoleh ke samping saat tiba tiba sebuah ponsel tersodor ke arah nya. Oh, tentu pelakunya adalah Ran.


"Mungkin sampenya 5 menitan lagi."


Silvia mengerti. Mungkin Ran ingin dia memainkan ponsel itu sambil menunggu bis tiba di pelataran sekolah.


Tapi, apa yang akan dia lakukan dengan ponsel kakaknya? Main game? Tidak, Silvia tidak terlalu suka main game. Berselancar di sosial media? Tidak, dia juga tidak terlalu suka dunia maya. Jadi apa? Ah, lebih baik membuka aplikasi chating saja, toh dia yakin kakaknya tidak akan keberatan walau dirinya membuka salah satu aplikasi 'privasi' orang lain.


Daddy


Kak, udah sampe mana?


^^^Masih di jalan dad, kata kak Ran bentar lagi sampe^^^


Ini siapa? Adek? Atau abang?


^^^Adek hehe^^^


Eh,


gimana kabar kamu sayang?


^^^Always baik^^^


Syukur deh


"Lagi apa?" Ran mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat apa yang sedang adiknya lakukan pada ponselnya.


"Daddy?" Tanyanya, Silvia mengangguk.


"Pinjem bentar."


Si bungsu menyerahkan ponsel itu kembali pada pemilik nya.


Daddy


^^^Dad, jemputnya ntaran aja. 15^^^


Eh, kata si adek udah mau sampe?


^^^Mungkin nanti bakalan ada pengumuman dulu^^^


Oh yaudah


Ran menyerahkan ponselnya pada Silvia. Si bungsu membaca pesan yang dikirimkan kakak pertamanya pada sang ayah. Dia menatap Ran, seakan bertanya apa benar akan ada pengumuman.


Seakan paham arti dari tatapan sang adik, Ran menjawab,


"Nggak. Tapi kita pulangnya pas sekolah udah rada sepi aja, biar gak ada yang curiga."


Ohh, sekarang Silvia paham. Tiba tiba dia merasa bersalah pada kedua kakaknya. Dia merepotkan mereka berdua. Tidak, sangat merepotkan malah. Harusnya dia bersyukur mempunyai dua kakak yang sangat menyayanginya, tapi dia malah tidak mau mengakui mereka berdua.


Maaf udah sering ngerepotin kakak


Ran membaca ketikan Silvia, dia tersenyum.


"Sejak kapan kamu ngerepotin kakak?" Dia mengelus rambut adiknya sayang. Mungkin jika mereka sedang tidak berada di dalam bis, dia akan mencium adiknya, tapi Ran masih sadar diri dan ingat situasi.


Maaf ya:(


"Jangan gitu dong. Kan kakak jadi sedih" Dia merangkul bahu adiknya.


"Kamu itu segalanya buat kakak" Tidak bisa menahan dirinya lagi, Ran memberikan kecupan singkat di pipi sang adik.


...***...


"Lo dimana?" Nan menggendong tasnya. Dia mengucek matanya, mengusap rambutnya pelan, lalu menguap kecil.


"Kelas."

__ADS_1


"Kelas apa? "


"Kelas gue lah."


"Gada akhlak lo! Yakali gue kudu naik ke lantai dua, huaa," dia menguap lagi.


"Yaudah sih."


"Iya iya, gue kesana," Nan menjawab dengan ogah ogahan. Dia mematikan sambungan telepon nya lalu melangkah menuju lantai dua, dimana kelas kakaknya berada.


Kembaran dari Randika itu membuka pintu dan menemukan kedua saudaranya ada di dalam sedang memakan snak yang mereka bawa untuk bekal di perkemahan.


Tanpa meminta izin pada pemiliknya, Nan merebut snak yang sedang dimakan Ran.


"Abang kenapa? Kok kaya lemes gitu," Silvia yang sedang asik mengunyah bertanya saat sikap Nan berbeda dari biasanya.


"Ngantuk bet dek," Jawabnya, dia memasukan keripik kentang itu ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.


"Pantes bis kaya tentram gitu. Ternyata lo ngebo," Ran mendengus geli.


"Ngantuk kak. Dari kemaren gue cuma tidur bentaran doang."


Lagi, Silvia merasa bersalah. Jika saja dia tidak bersikeras untuk ikut jurit malam, mungkin tadi malam kakak keduanya bisa tidur. Tapi tidak, dari pada tidur, Nan lebih memilih untuk mengawasinya, memastikan dirinya aman dan penyakit nya tidak kambuh.


"Maaf ya bang," Sesalnya.


Nan menegakkan tubuhnya. Dia menatap sang adik dengan bingung. Tumben sekali Silvia meminta maaf padanya, biasanya juga tidak.


"Kenapa minta maaf hm?" Tanyanya, tangannya tak tinggal diam, dia mengelus kepala Silvia.


"Ya mau maaf aja."


Nan terkekeh. Dia merentangkan tangannya, meminta sang adik untuk memeluknya.


"Peluk dulu dong."


Menurut, Silvia memeluk kakak keduanya erat, yang dibalas pelukan tak kalah erat oleh Nan. Sedangkan Ran mengusap rambut panjang itu sayang.


"Poponya?"


Tak


"Yeuu saepull, itu mah enak di elo," Ran mendumal.


"Sirik lo supri."


Cup


Cup


Tidak ingin mendengar adu mulut kedua kakaknya lagi, Silvia lebih memilih untuk mencium keduanya.


Ponsel Ran berdering, tanda ada panggilan masuk.


Daddy


Ran sudah menduganya, pasti dari ayahnya. Dia menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"kak?"


"Iya dad?"


"Ada di mana? Kok udah sepi sih?"


"Oh, daddy udah sampe?"


"Iya, kalian di mana? "


"Bentar dad, kita turun dulu." Ran mematikan sambungan telepon nya lalu mengajak kedua adiknya untuk segera turun karena Sean sudah menunggu di halaman sekolah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2