Fosessive Brother

Fosessive Brother
7


__ADS_3

Para siswa yang ikut camping sampai di buper pada pukul 10.45. Mereka dengan kompak mendirikan tenda beserta anggota kelompok nya masing-masing.


"Yoo... Yang udah selesai ngebangun tenda boleh istirahat dulu. Boleh minum, boleh makan atau boleh apa aja," Ran, selaku pratama putra memberi pengumuman melalui mikrofon.


"Nanti, jam setengah satu kita akan mulai lomba sesuai yang ada di jadwal ya."


Para siswa hanya mengangguk menanggapi ucapannya.


...***...


"Yang kebagian lomba cerdas cermat pramuka sama ngelukis siap-siap ya, bentar lagi lombanya bakal di mulai," Endah, sebagai pemimpin regu edelweiss mengumunkan.


lSilvia sendiri sedang menyiapkan peralatan melukisnya. Kebetulan dia ikut lomba melukis. Terkurung di dalam rumah hampir sepanjang waktu membuatnya kadang merasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosan, dia sering melukis. Dan siapa sangka, melukis yang awalnya hanya penghilang bosan kini berubah menjadi hobby.


"5 menit lagi lombanya di mulai. Ayo silahkan menuju tempat lomba yang udah ditentukan." Ran kembali memberi pengumuman.


"Eh ayo ayo!" Endah menginstruksikan kepada peserta lomba dari kelompok nya untuk segera ke tempat lomba.


"Yang gak ikutan lombanya diem di tenda aja, sekalian bersih-bersih," Suruhnya, karena dia sendiri mengikuti lomba cerdas cermat pramuka bersama Indi. Mereka berdua memang sahabat dekat, wajar saja lomba saja berdua. Eh, peserta cerdas cermat pramuka memang harus dua orang sih, dan Endah memilih lndi untuk jadi partner nya.


Silvia berjalan dengan kaku menuju tempat perlombaan melukis. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan dan bisikan siswa lain mengenai dirinya yang beberapa saat lalu muntah di dalam bis dan mengenai celana Ran. Sudah dia duga bahwa dia akan menjadi topik hangat dikalangan para siswa. Tapi... Apa yang bisa dia lakukan selain pasrah? Toh seharusnya dia merasa bersyukur karena dia muntah dan mengenai celana kakaknya, jika saja mengenai celana orang lain mungkin orang itu sudah memakinya. Setiap yang terjadi pasti ada hikmahnya. Dan Silvia tahu bahwa inilah hikmah dibalik Ran yang duduk di samping nya.


"Waktunya 1 jam. Silahkan menggambar sekreatif mungkin," Dewan ambalan yang bertugas menjadi panitia lomba memberi tahu sesaat setelah memberikan kertas HVS pada peserta.


Tema lomba melukis kali ini adalah alam. Dan Silvia memutuskan untuk menggambar suasana perkemahan. Gadis itu sibuk menggoreskan pensilnya pada kertas, menggambar apa yang dia lihat saat berada di perkemahan ini. Pohon pinus, tanah yang bertanjakan yang terlihat seperti sistem trasering, tenda-tenda dan sungai jernih yang mengalir tidak jauh dari tempat mereka berkemah. Pinus ya ? Iya, Sekolah mereka memang mengadakan perkemahan di hutan pinus.


"It's so beautiful. Kaya biasanya."


Sontak Silvia menolehkan kepalanya ke samping, dimana si biang masalah berada. Dia memasang wajah sangar, seakan menyuruh orang itu untuk pergi.


"Pergi ? Big no! Kan abang panitia lomba melukis. Masa abang harus pergi sih," Nan berkata santai.


"Gambar kamu gak pernah ngecewain. Selalu bagus kaya biasanya," Nan mengulas senyum manisnya.


Jangan macem-macem. Kan aku udah bilang, jangan deket deket aku pas lagi di sekolah.


Tulis Silvia pada kertas yang dia gunakan untuk menggambar.


"Lupa heh ? Kan daddy nyuruh abang sama kakak buat jagain kamu."


Si gadis menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Untung semua peserta sibuk menggambar jadi tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Lagi pula tempatnya menggambar adalah di barisan paling belakang, jadi aman.


Jangan keras-keras ngomong nya bambang!


Percaya tidak percaya, Silvia akan menjadi bar-bar jika berhadapan dengan keluarganya terutama kedua kakaknya.


"Jangan di curat-coret terus! Nanti gambar kamu jadi jelek!" Nan menegur sambil membantu adiknya untuk menghapus tulisannya di kertas itu.


"Woy Nan! Jangan modus terus lo!" Malik yang kebetulan menjadi panitia lomba melukis menegur Nan saat tidak sengaja melihat sahabatnya sedang modus pada peserta paling belakang.


Sontak perhatian semua peserta tertuju pada mereka berdua.


Silvia benci ini. Lagi lagi dia jadi pusat perhatian. Dan semua ini gara gara Nan sialan.


"Gue kan panitia. Wajar dong kalo gue merhatiin peserta," jawab Nan tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengahapus coretan adiknya.


"Ye lo curang! Merhatiin mah boleh, tapi jangan sentuh sentuh. Gak adil itu namanya," Protes Malik disusul teriakan para peserta lomba.


Yang bisa Silvia lakukan hanya menunduk. Namun tangannya tak tinggal diam. Dia menuliskan sesuatu di kertas gambarnya yang berhasil membuat Nan mendengus. Baru saja dihapus, tapi sudah dicurat coret lagi.


"Heh!!" Tegurnya.


Awas aja! Bakal aku aduin sama kak Ran sama daddy kalo abang itu nyebelin!!


"Whatt ?!" pekik Nan tanpa sadar. Dan tentu saja itu berhasil membuat peserta dan panitia menatapnya.


"Jangan dong!!"


Mereka heran, kenapa Nan bicara sendiri ? Sudah menjadi rahasia umum jika Silvia itu bisu. Mereka sudah tahu tentang fakta itu.


"Waktunya tinggal 25 menit lagi."


Perkataan salah satu panitia membuat para peserta kembali fokus pada gambar nya.


"Oke oke, abang pergi," putus Nan.


"Tapi kamu udah baik-baik aja kan ? Masih mual gak ?" tanyanya sebelum pergi.


"Ampun nyai," Dan dia langsung pergi ke depan saat melihat tatapan menusuk adiknya itu.


...***...


Tangan kurus itu sengaja memperlambat gerakannya. Jantung nya berdetak sangat kencang saat satu persatu teman setendanya mulai meninggalkan tenda yang dihuni 10 orang anggota itu. Apa dia harus mencari kamar mandi sendiri ? Oh ayolah, ini di tempat asing yang tidak dia ketahui, bagaimana dia bisa mencari kamar mandi seorang diri ?


"Silvi ayo."


Dia menoleh, lalu menaikan sebelah alisnya.


"Kita cari kamar mandi bareng."


Thanks god. Silvia sangat bersyukur saat Indi dan Endah mengajaknya. Gadis mengangguk lalu memasukkan pakaian gantinya ke dalam paperbag kecil lalu bergegas menghampiri kedua teman yang menunggunya itu.


...***...


Malam pertama kegiatan camping ini diadakan acara pentas seni. Setiap kelompok wajib menampilkan pentas, baik itu menari, bernyanyi, atau pun bermain alat musik. Jumlah Pesertanya juga tidak dibatasi, terserah ingin berapa orang. Apakah solo, duo, trio, ataupun kuartet.


Semua siswa, baik peserta maupun dewan ambalan duduk mengelilingi peserta yang sedang melakukan pentas. Mereka menggelar tikar dan duduk lesehan di atas tikar itu. Entah fokus pada penampilan peserta ataupun ada yang mengobrol bersama temannya.


Sungguh, demi apapun, Silvia baru pertama kali merasakan hal seperti ini seumur hidup nya. Maklum saja, dia sudah seperti rapunsel yang terus terkurung di menara tanpa diperbolehkan untuk keluar jika tidak ada hal yang mendesak.


Alunan musik dari CD, suara lembut yang mengalun, kebersamaan, angin sepoi sepoi yang berhembus, langit gelap yang bertaburkan ribuan bintang dan suara para penonton yang ikut bernyanyi membuat malam ini terasa sempurna. Silvia dapat melihat bahwa tampaknya semua orang sangat bahagia, termasuk teman yang duduk di samping nya. Indi dan Endah, mereka ikut bernyanyi mengikuti musik dan suara merdu si peserta. Dia beruntung, karena kedua sahabat itu selalu mengajaknya saat hendak pergi ke mana-mana.


"Dek ?"


Silvia menoleh ke samping kananya, dan menemukan kakak pertamanya sedang berada di samping nya. Jadi, kelompoknya menggelar tikar di barisan paling belakang dan kebetulan Silvia, Endah dan Indi duduk yang paling belakang dan dia mendapatkan tempat di paling kanan, Endah di samping kiri dan Indi di tengah.


"Ikut yuk?" Ajak Ran.


Silvia diam, membuat Ran menarik tangan nya pelan. "Udah, ikut aja."


"Eh, kak Ran?" dua bersaudara yang tadinya hendak pergi diam diam kini terhenti saat suara lembut Indi mengintrupsi keduanya.


"Ssttt... " Ran menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri, menyuruh Indi agar tidak berisik.


"Pinjem Silvi ya ?" Huh, memangnya Silvia barang apa yang seenaknya dipinjam dan dikembalikan ? Tapi, bukankah Ran lebih berhak tentang dirirnya ? Kenapa dia harus meminta izin dulu ?

__ADS_1


"Kemana ?" Bisik Indi agar tidak didengar orang lain, ya... Walaupun semua orang sedang sibuk bereuforia.


"Jalan-jalan bentar."


"Eh, emang nya diizinin ya ?" Tidak salah Indi bertanya seperti itu, pasalnya tadi salah satu dewan ambalan ada yang bilang bahwa tidak ada yang boleh meninggalkan lapangan sebelum pentas seni selesai.


"Lupa kakak siapa ?" Ran bertanya dengan sedikit kesombongan.


Oh iya, Indi lupa jika saat ini dia sedang berbicara dengan pratama putra.


"Oh iya hehe... "


"Kita pergi dulu ya... "


"Eh kak."


"Hm? Apa?"


"Temen aku jangan di apa apain ya ?" peringat Indi yang membuat Ran terkekeh pelan sedangkan Silvia tercengang. Teman ya ? Baru kali ini ada yang menyebutnya teman. Dia pikir tidak ada yang mau berteman dengannya karena ya... Mereka pikir dirinya bisu, dan lagi, dia sadar diri jika dirinya itu aneh. Tapi dia terharu ada menyebut nya teman. Sepertinya Indi adalah orang pertama yang menganggap nya seperti itu.


"Tenang aja. Eits, tapi jangan bilang siapa-siapa kalo Wonyoung pergi sama kakak. Kalo ada yang nyariin, Silvi gak tau, 'Silvi lagi ke toilet kali' gitu," intruksi Ran.


Meskipun tidak mengerti apa maksud dari perkataan pratama putra itu, Indi hanya mengangguk mengiyakan.


Silvia tersenyum pada Indi, yang dibalas senyuman tak kalah manis dari gadis itu.


"Kemana ya dek?" Ran menatap sekeliling, mencari tempat yang tepat untuk mereka berdua-- ah bertiga maksudnya.


"Kita mau kemana kak ?" Tersirat nada jengkel dalam kalimat itu, dan Ran tahu itu.


"Dinner. Kamu belum makan malem kan?" Tanyanya yang sama sekali tidak digubris oleh sang adik.


"Kamu marah?"


Si bungsu mendengus.


"Indi bisa curiga!" Sentaknya.


"Tenang aja. Biar kakak yang urus," Enteng Ran.


"Gimana caranya ?"


Bukannya menjawab, Ran malah mencium puncak kepala adiknya.


"Kak Ran!" Sengit Silvi.


Drttt... Drt...


Ponsel Ran berdering membuat siempunya mengambilnya dan langsung mengangkat panggilan itu.


"Lo dimana sih anjirrr ?! Gue nyariin lo nih!!"


Ran menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Sungguh, dia tidak menyalakan mode loud speaker, tapi suara orang di sebrang sana sangat keras sekali.


"Biasa aja dong jir."


"Bacot! Dimana kalian sekarang ?!"


"Gue juga bingung nih. Kita makan di mana ya ?"


"Oke. Kita otw ke sana sekarang."


"Kemana ?" Silvia bertanya sesaat setelah Ran memasukkan ponsel itu ke dalam celana pramuka nya.


"Ke depan," Tangan yang lebih besar itu menggenggam tangan adiknya yang lebih kecil.


Tidak membutuhkan waktu lama, kedua kakak beradik itu sudah sampai di pintu masuk perkemahan itu. Seseorang sudah menunggu mereka. Dan Silvia tahu betul siapa orang itu. Ah, mengingatnya saja sudah membuatnya ingin menjambak rambut hitam legam itu.


Nan menatap sang kakak dengan tajam, namun tatapan itu kian melembut saat melihat gadis mungil di samping kakaknya. Senyum lebar tak lupa dia pemerkan pada gadis itu.


"Hello my sister... How are you today ? Masih mual gak ?"


RA merotasikan matanya malas. Kembaran nya ini so inggris sekali sih. Padahal nyatanya tidak seperti itu. Karena dulu Jaemin pernah bilang,


"Jangankan what itu apa, i don't know aja gue gak tau," ---Oh Nan yang hansome.


Berbeda dengan Ran yang tidak menanggapi perkataan kembarannya, Silvia malah seperti tidak bisa menahan emosinya lagi. Wajahnya memerah menahan marah. Hingga membuat Ran dan Nan berpikir bahwa adiknya sedang menahan rasa sakit nya lagi.


"Adek... " Panggil mereka serempak.


"Kak Ran."


"Ken--"


"Abang nyebelin... " Bukan emosi yang keluar mainkan sebuah aduan.


Si kembar cengo.


"Hah ?!"


"Abang nyebelinnn.. " Silvia menghentakkan kakinya sebal karena kejadian tadi sore.


"Lo ngapain lagi sih anjir ?!" Ran pura-pura marah pada kembarannya.


"Gak bisa ya kalo sehari aja lo gak banyak tingkah ?!"


"Ya sorry, gue kan cuma khawatir sama adek," Nan yang tahu jika kembarannya sedang berakting pun ikut-ikutan menunjukkan bakat terpendam nya.


"Awas aja lo! Sekali ngulah lagi, gue aduin sama daddy!" ancamnya, "Siniin makannya!" Ran merebut kantong plastik yang dari tadi di bawa oleh kembarannya, Lalu duduk diikuti Silvia yang kini menggembungkan pipinya.


Nan hanya diam. Ternyata semudah itu membohongi adiknya. Ternyata Silvia masih belum dewasa juga. Dan dimatanya, Silvia akan selalu jadi adik kecil nya yang manis. Yang akan menangis keras ketika susu di rumah habis. Yang akan berteriak histeris jika dirinya atau kembarannya mengambil yakult kesukaannya. Yang akan terus merengek pada ayahnya ketika ingin pulang dari rumah sakit. Yang tertawa tanpa beban sambil mengelilingi ruang tamu ketika kedua kakaknya diam-diam memberinya makanan yang di beli di kantin sekolah. Yang akan merentangkan tangannya lebar-lebar saat ayah mereka pulang kerja. Dan yang akan menahan rasa sakitnya sambil berkata, "Aku baik-baik aja kok" Ah, membayangkan itu membuat mata Nan memanas oleh air mata.


"Heh!! Kenapa diem aja? Ayo sini!" Ran membuyarkan lamunan Nan.


"Makan sampe habis," Ran menyerahkan kotak sterofoam berisi makanan pada kedua adiknya.


"Adem sari gue mana kak ?!" Nan mencari cari minuman kesukaannya di dalam kantong plastik itu. Seingatnya, tadi dia sudah memasukkan adem sari itu, tapi kenapa sekarang tidak ada ?


"Makan dulu bego."


"Siniin deh kak, gue haus nih."


"Tuh air putih ada."


"Kak... "

__ADS_1


Melihat kekeras kepalaan kembarannya, Ran hanya pasrah lalu memberikan minuman soda kesukaan adiknya itu, lalu menyeruput jus jambu kemasan kesukaannya dan memberikan sekotak susu vanila dan yakult pada Silvia.


"Gak tau kenapa aku suka banget sama susu," -- Silvia.


"Gue suka jus soalnya jus itu sehat," -- Randika.


Tentang Nan... Jangan tanya kenapa si tengah itu sangat suka pada adem sari. Kalian pasti tidak akan percaya jika mendengar penjelasan nya.


"Gue badboy, gue nakal, gue berandal. Kan gak lucu kalo badboy minum nya jus kaya... You know lah. Badboy itu minumnya alkohol, vodka, bir, sampanye, martini, anggur merah atau apalah yang 'memabukkan', bukan jus kaya...! Tapi, Bisa mampus gue kalo daddy sampe tau gue minum minuman yang begituan. Jadi, gue lebih milih minum adem sari aja. Toh adem sari juga ada soda nya. Lagian ya, gue pernah liat di drakor yang adek gue tonton kalo orang korea minum bir nya itu yang kalengnya warna ijo, nah kan adem sari juga warna ijo. Gak salah kan gue ?" -- Nandika yang smart.


"Kenapa gak fanta, sprite atau coca cola aja bambang ?"


"Gak sehat maemunah. Adem sari kan ada bahan herbalnya. Sehat dong gue minum itu terus terusan,"-- Nandika yang tak terbantahkan.


"Serah sat."


Back to the story.


Mereka bertiga selalu berbeda dalam segala hal. Mereka hanya punya satu kesamaan yaitu mereka sama sama anak daddy Sean dan mommy Yani. Meski hanya memiliki satu kesamaan, tapi di situasi tertentu mereka akan tetap kompak sebagai saudara.


"Suapinn," Nan menatap Silvia dengan memelas.


Seharusnya, Silvia menolak permintaan Nan, tapi entah kenapa dia mau mau saja melakukan apa yang kakak keduanya itu ingikan. Tatapan itu... Tatapan Nan seakan menghipnotisnya untuk menyuapi sang kakak.


Bersamaan dengan nasi yang masuk ke dalam mulutnya, air matanya jatuh tanpa permisi.


"Maafin abang ya dek. Abang sering bikin kamu kesel."


Baik Silvia maupun Ran tahu, bahwa kata kata yang baru saja keluar dari mulut Nan bukanlah kata maaf karena Silvia membentaknya ataupun Ran yang menyalahkannya. Ada maksud lain dibalik ungkapan itu. Dan Silvia maupun Ran tidak bodoh untuk tahu apa maksudnya. Pasti ada hubungannya dengan vonis dokter beberapa tahun lalu. Ya, pasti.


Ran memalingkan wajah saat matanya sudah memanas. Air matanya berdesakkan ingin keluar, tapi dia tahan. Napsu makannya hilang entah kemana, padahal dia sangat lapar sekali. Dari tadi dia sibuk sampai sampai melupakan makan.


"Dih, masa gitu aja nangis sih," Cibir si bungsu, sengaja untuk mencairkan suasana, walaupun hatinya juga ikut tidak tenang setelah melihat air mata saudaranya.


"Boleh peluk?"


"Hiks," Silvia merentangkan tangannya, mengizinkan Nan untuk memeluknya sesuka pria itu.


"Jangan nangis."


Percayalah, dibalik sifat Nan yang terkadang menyebalkan, tapi dia tetaplah seorang kakak yang sangat sayang pada adiknya. Dan dia tetap seorang adik yang sangat sayang pada kakaknya.


"Abang yang buat aku nangis. Aku aduin daddy nanti!" Ancaman itu tidak menakutkan sekali bagi Nan, karena dia tahu bahwa adiknya tidak akan melakukan itu.


"Kakak hiks, abang buat aku nangiss," Adunya masih dalam dekapan Nan.


Ran tidak mampu menahan dirinya lagi, pertahanannya runtuh, air matanya juga ikut tumpah melihat kejadian mengharukan kedua adiknya. Dia ikut memeluk kedua adiknya sayang.


"Bodoh. Udah gue bilang jangan banyak tingkah," maki Ran.


"Aduin hiks daddy."


"Jangan dong elahh hiks, ngaduan banget punya sodara," Nan menggerutu.


Ketiganya tertawa dibalik air mata yang masih mengalir deras.


Dering ponsel Ran mau tak mau memisahkan pelukan kakak beradik itu. Ran mengangkat panggilan yang ternyata dari ayahnya itu. Sedangkan Nan memeluk Silvia lagi.


"Hallo dad ?" Ran sebisa mungkin untuk menormalkan suaranya. Tanganya terulur untuk merapikan rambut adik bungsunya yang menutupi dahi gadis yang masih menyamankan dirinya dalam pelukan sang kakak.


"Daddy cuma khawatir sama adek. Gimana baik-baik aja kan ?"


"Pilih kasih. Masa cuma khawatir sama si adek doang sih ? Sama yang duanya nggak gitu ?" Bukan Nan namanya jika tidak memancing keributan sebentar saja.


"Loh, ada abang juga ?"


"Lih idi ibing jigi ?"


Tak.


Ran memukul kepala Nan pelan.


"Yang sopan. Dia orang tua kita."


Si bungsu tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat itu semua.


"Ada adek juga ?" Sean bertanya.


"Lagi dinner dad," Ran mewakili.


"Oh, maaf daddy ganggu. Lanjutin aja lagi. Jangan lupa adek minum obat nya!"


"Iya" Silvia mendengus.


"Daddy udah makan ? Jangan lupa makan ya dad, aku gak mau daddy sakit"


"Gak usah diingetin woy! Daddy mah enak makan di rumah sama yang enak enak. Lah kita ? Makan sama sayur doang, terus tidur juga di atas karpet."


Terdengar suara kekehan di sebrang sana.


"Makanya cepet pulang."


"Ciee kangennn yaaa...."


Si sulung dan si bungsu tertawa. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Ran mematikan sambungan telepon nya.


"Yuk makan lagi" Ajaknya pada kedua adiknya.


"Udah gak laper."


"Dikit lagi aja."


Nan menggeleng.


"Yaudah, minum obat dulu sini," Nan memberikan obat pada adiknya lalu membantu gadis itu meminumnya.


"Kak, nanti kalo ada yang liat gimana ?" Silvia yang sedang berbaring di lengan kekar kakak pertamanya itu bertanya.


Ran melirik jam di pergelangan tanganya.


"Nggak akan. Sekarang masih jam 9.37 pentas seni selesai jam 10.30, masih ada sekitar 47 menit lagi."


"Heem, mending kita quality time aja," Nan yang berbaring di samping Silvia menyahut.


Kini, mereka bertiga sedang menatap langit yang terdapat ribuan bintang yang bertaburan dengan indah. Ran dan Nan menggunakan tanganya sebagai bantal, sedangkan Silvia tiduran di lengan Ran. Posisinya itu, Ran, Silvia, Nan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2