
...Happy reading...
"Biar aku aja bi."
Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu mengangguk pada anak majikannya.
Silvia berjalan menuju pintu utama rumahnya.
Saat pintu terbuka, tubuhnya tercekat, dia mematung menatap orang di depannya.
"K-kak Ndi?" kagetnya.
Bagaimana tidak kaget? Jika tiba-tiba saja Rendi berdiri di depan rumahnya seperti ini. Dan yang paling parah adalah, dia membukakan pintu untuk Rendi saat dirinya hanya memakai kaos putih polos, dan celana pendek di atas lutut.
Silvia malu, sungguh. Rendi ini anggota osis dan DA di sekolahnya, tapi dia berpenampilan sangat tidak layak seperti ini.
"Nan—"
Perkataan Rendi terpotong saat suara gaduh terdengar dari dalam rumah. Sontak, kedua orang itu melihat ke arah sumber suara dan menemukan Nan sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah terburu-buru.
"Maaf hehe," dia terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi. "yang lainnya mana?" tanyanya pada Rendi.
Rendi memutar tubuhnya, mengangkat dagu, menunjuk segerombolan orang yang sedang asik berfoto di depan gerbang rumah Nan.
Mata Silvia kian membulat. "kok gak bilang kalo pada mau ke rumah?" tanyanya dengan nada kesal, dia seakan lupa jika ada Rendi di sana.
Nqn menggaruk tengkuknya. "Ya maaf, kan lupa."
Si bungsu mendengus.
"Udah sana masuk. Ntar yang lain malah tau, lagi." usir Nan. Dia mendorong tubuh sang adik untuk masuk saat melihat teman-temannya mulai berjalan menuju pintu utama rumahnya.
Meski kesal, tapi Silvia tetap menurut. Dia berlari meninggalkan kakaknya.
Duk
Nan dan Rendi menahan napas saat melihat Silvia menabrak sofa hingga hampir terjatuh.
"Ya Allah, dek, hati-hati napa sih." omel Nan.
Silvia menoleh menatap keduanya, lalu menyengir lebar, seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Lalu setelahnya dia kembali berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kenapa lari-lari, heh? Nanti jatuh." tegur Ran yang kebetulan berpapasan dengannya di tangga.
"Tanya aja sama Nandika."
"Abang denger ya dek!" teriak Nan di bawah sana. Namun Silvia tidak menggubris, dia melanjutkan langkahnya. Sedangkan Ran hanya menggelengkan kepala.
...***...
"Si anjir malah ngegame, bukannya ngebantuin juga."
"Si setan malah komen gak jelas, bukannya diem juga." balas Chandra, tanpa mengalihkan pandangannya dari game di ponselnya.
"Kek lo ngebantuin aja sih sat." tambah Nan yang sedang berbaring di sebelah Chandra. Mereka berdua sedang main game ngomong-ngomong.
"Gue ngebantuin ya jir." jawab Lucky.
"Bantuan lo gak guna nying!"
Lucky meringis mendengar perkataan Reno. Memang sih, dia tidak membantu banyak. Dia hanya mengambilkan stik es krim, lalu memberikannya pada Reno. Reno akan memotong stik es krim itu sesuai ukuran yang dibutuhkan lalu Malik dan Rendi yang merakit.
Berbeda dengan Nan and the geng yang terlihat terus adu mulut, Ran and the geng terlihat anteng. Mereka bertiga- Ran, Dimas, Theo dan Joo sedang mengerjakan tugas biologi, sedangkan Nan dan teman-temannya mengerjakan tugas PKWU, membuat kerajinan.
Ran dan Nan berbeda kelas. Ran, Dimas, Theo dan Joo kelas 11 IPA 3. sedangkan Nan, Rendi, Malik, Reno, Chandra dan Lucky 11 IPA 4.
Lucky mengambil stik es krim yang sudah di rakit Malik dan Rendi. Dia menatapnya lekat, "Ini abis ini di gimanain dah?" tanyanya.
"Ya di rakit lagi lah. Disatuin bego."
Lucky menggoyangkan lengan Nan, "Nan, yutub dong, liat tutorialnya, biar gue bisa ngebantuin."
"Ya pake HP lo aja sat."
"Gada kuota." Lucky menyengir.
"Si bego. Wifi lah." timpal Reno.
"Hah? Siapa yang mau ngasih hotspot?" Lucky melongo.
"Wifi *** wifi, bukan hotspot." Reno kesal sendiri pada Lucky.
"Emang ada wifi?"
__ADS_1
Rendi menepuk keningnya. Pusing dengan kelakuan teman-temannya ini. "Bego. Yakali di rumah segede gini gak ada wifi."
Seketika, Chandra duduk. Dia menatap Nan kesal. "jadi dari tadi lo ngewifi?"
"Hm." jawab Nan santai. Dia masih tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Ngajak gelut nih orang." Chandra menggulung lengan bajunya, mengambil ancang-ancang untuk menghajar Nan...
"Yang di sana, bisa diam tidak?"
...namun urung saat Ran bersuara.
Ran and the geng dan Nan and the geng memang mengerjakan tugas di ruang tamu. Tapi karena ruang tamunya luas, jadi mereka mengerjakan tugas terpisah, dengan jarak yang cukup jauh.
"Eh iya, lupa kalo di sini ada netizen." Chandra terkekeh pelan, namun dengan cepat dia merubah ekspresinya, "lagian kenapa sih kita kudu barengan sama mereka?" kesalnya.
"Ya kan gue udah bilang, kalo hari ini kak Ran bakalan nugas di sini sama temen-temennya. Lo nya aja yang maksa pengen nugas di rumah gue." jawab Nan.
"Kalo anda keberatan, silahkan get out." usir Ran, main-main.
"Yahh, jangan gitu dong Ran. Gue kan belum ngewifi."
Namun Ran tidak menggubris, dia lebih memilih untuk kembali fokus pada tugasnya dari pada meladeni tingkah absurd Chandra.
"Password please." pinta Chandra yang diangguki Lucky.
"Adek we lop yu."
Lucky dan Chandra langsung tertawa. Mereka tentu tidak percaya begitu saja jika password yang dikatakan Nan benar. Bisa saja mereka sedang ditipu bukan?
"Yakali nying."
"Yaudah kalo gak percaya." Nan mengangkat bahu acuh.
Karena melihat Nan yang sepertinya serius, Haechan pun mencoba memasukan password yang tadi dikatakan Nan, dan ternyata benar.
"Bener njir." teriaknya heboh.
"Mohon untuk diam, karena ini rumah, bukan suaka marga satwa."
"Yaelah, komen mulu sih netizen." sebal Chandra.
Saat sedang memainkan ponselnya, Chandra baru teringat sesuatu. Dia menatap sekeliling ruangan, namun tidak menemukan foto yang menurutnya mencurigakan. Tatapannya beralih pada Nan yang sedang bermain game sambil tengkurap.
Nan menggosok hidungnya, "gak ada, dia sibuk."
Diam-diam, Reno, Malik dan Lucky memasang telinga mereka baik-baik. Mereka juga ingin tau tentang adik Nan yang tidak pernah terekspos publik.
Dimas, Theo dan Joo saling pandang, lalu mereka menatap Ran, seakan meminta penjelasan.
Ran yang ditatap seperti itu hanya mendengus, "iya, gue punya adek lain selain si kampret." jawabnya malas.
Saat akan meminta penjelasan lebih rinci, Ran menatap ketiga temannya tajam, seakan memperingatkan mereka untuk tidak bertanya lebih jauh lagi padanya.
Yang ditatap seperti itu hanya bisa mengerjap. Mereka takut, sungguh.
Karenanya, kini tidak hanya Reno, Lucky dan Malik yang memasang telinga, tapi juga Theo Joo dan Dimas.
"Emang adek lo umur berapa anjengg?" tanya Chandra.
"5 bulan."
"So what? Yang bener aja dong."
"Stupid." Malik memukul kepala Chandra pelan. "mau-maunya ya lo di begoin sama Nan."
"Hah?"
Kali ini, giliran Lucky yang mendapat pukulan di kepalanya. Tapi pelakunya bukan Malik, melainkan Reno.
"Om Sean kan belum nikah lagi bego, yakali punya anak umur 5 bulan."
"Oh iya ya, kok gue gak kepikiran?"
"Emang lo punya otak buat mikir?"
Semuanya tertawa mendengar omongan pedas yang keluar dari mulut Rendi. Sedangkan Lucky hanya diam karena dia merasa sama bodohnya dengan Chandra.
"Cewek apa cowok Nan?" tanya Chandra lagi.
"Kepo amat lu ah."
"Ya kan g-"
__ADS_1
"Chan, sekali lagi lo ngomong, gue lakban mulut lo!"
Chandra mendengus, mengelus dadanya, seakan dia adalah orang yang tersakiti, "maha benar netizen dengan congor setannya."
...***...
Ini aneh. Kenapa Rendi mau maunya di suruh-suruh? Dia disuruh Nan mengambilkan minuman untuk mereka semua. Dan yang anehnya Ran menurut.
Ini semua berawal dari Chandra yang bilang bahwa dirinya haus. Nan yang malas mengambil minum pun menyuruh laki-laki berkulit gelap itu untuk mengambilnya, namun tentu saja Chandra menolak, dengan dalih bahwa tamu adalah raja.
Lalu, entah apa yang merasuki Nan, tapi dia menyuruh Rendi untuk mengambil minum dan Rendi menurut, karena kebetulan asisten rumah tangga di rumah besar itu sedang menyetrika baju di belakang.
Dan di sinilah Rendi berada. Berdiri kaku di dekat meja makan.
"K-kak Ndi?" jantung Silvia hampir lepas saat melihat ada orang lain di dapur. Untung, beruntung orang itu adalah Rendi, jika saja orang lain, maka habislah dia.
"Maaf, ngagetin ya?"
Silvia mengambil napas dalam sebelum menjawab, "nggak kok."
"Kamu ... Ngapain di sini? Gak takut ketahuan?"
Silvia menunjukkan sebotol yakult pada Rendi. "mau ngambil ini," katanya.
Butuh keberanian besar bagi Silvia untuk pergi ke dapur di saat keadaan sedang seperti ini. Dia haus, ingin minum. Dia bisa saja menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengambilkan minuman untuknya, tapi dia tidak ingin merepotkan, dia tahu jika pembantunya itu sedang sibuk. Jadi, dia memutuskan untuk mengambil sendiri. Dan untungnya, tidak ada yang melihatnya, kecuali Rendi tentunya.
"Kak Ndi mau ngapain?"
"Disuruh ngambil minum sama Nan." jujurnya.
Silvia melongo, tidak habis pikir. Kenapa tamu disuruh mengambil minum sendiri? Dimana adab kedua kakaknya ini?
"Emang bener-bener ya si Nandika."
Rendi terkesiap, dia tidak percaya jika Silvia baru saja mengumpati kakanya seperti ini. Sedetik kemudian, dia tertawa pelan. "kamu lucu."
Gadis itu nampak kaget. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Emmm, kak Ndi duduk aja. Biar aku yang bikinin minumnya." tawarnya, untuk memecah suasana yang tiba-tiba terasa canggung.
"Nggak papa?"
Silvia mengangguk. Dia berjalan menuju kulkas, mengambil jus jeruk, lalu menuangkan ke dalam gelas. Sedangkan Rendi duduk di kursi meja makan sambil terus memperhatikan gadis itu.
"Kamu suka yakult?" tanyanya tiba-tiba saat melihat botol yakult Silvia tergeletak di meja makan.
"Iya."
"Berarti dulu pas camping, Ran sama Nan bawa yakult banyak itu buat kamu?"
Silvia meringis, namun tetap membenarkan pertanyaan Rendi.
"Em, kak Ndi?" gadis itu berbalik, menatap Rendi.
"Kenapa?"
"Mau dibikinin berapa?" dia sampai lupa jika dirinya tidak tahu jumlah orang yang datang ke rumahnya hari ini.
Rendi mengingat-ngingat, temanya.
"8 dek."
Mereka berdua diam. Suasana tampak semakin canggung dari sebelumnya.
Rendi memaki dirinya sendiri dalam hati. Dek? Yang benar saja. Memangnya sudah seakrab apa mereka hingga dia berani memanggil Silvia seperti itu?
"Ng... nggak papa kan, kalo aku manggil kamu kaya gitu?" tanyanya. Jangan ditanya bagaimana keadaan jantunya saat ini, karena Rendi merasakan bahwa ada dentuman keras di jantungnya saat dia mengatakan itu tadi.
Silvia menangguk kaku. Lalu kembali mengisi gelas dengan jus jeruk untuk teman-teman kakanya.
"Nan mau adem sari katanya."
Lagi, Silvia hanya mengangguk. Dia sudah hafal betul dengan kebiasaan kakaknya yang satu itu. Karenanya, dia mengambil satu kaleng adem sari, lalu meletakannya di atas nampan bersama kedelapan gelas jus jeruk.
Dia berjalan dengan hati-hati menghampiri Rendi, takut minuman yang dibawanya tumpah.
Rendi dengan sigap berdiri, lalu menghampiri Silvia yang nampak kesusahan membawa nampan itu. Dia mengambil alih nampan itu dari Silvia.
"Makasih ya dek."
Silvia mengangguk, "sama-sama," jawabnya. "bawanya hati-hati kak."
Kini, giliran Rendi yang mengangguk. Dia menyunggingkan senyum manisnya pada Silvia sebelum berbalik meninggalkan gadis itu.
__ADS_1
...***...