Fosessive Brother

Fosessive Brother
27


__ADS_3

"MINGGIR BEGO!!"


"LO YANG MINGGIR, ORANG SOFANYA AJA MASIH LUAS, KOK!"


"YA TAPI—"


"BERISIK KALIAN!!"


"Kayaknya di dalem rame banget, ya?"


Susy sedikit mendongakan kepalanya ke dalam rumah, membuat Silvia menggaruk kepalanya bingung.


"Eh, i-iya, tente." jawabnya.


"ADEKK!! CEPETAN ELAH!!"


"JANGAN TERIAK, NAN!"


"Lagi apa emang?" tanya Susy.


"Eh, itu—"


"Kayaknya kelebihan uang ya, tente? Sampe-sampe sering banget nganterin makanan ke sini."


Silvia kaget saat tiba-tiba saja Ran muncul di belakangnya. Sedangkan Susy menunduk malu karena singgungan putra sulung Sean.


"Itu... Iseng aja bikin makanan. Kalo diabisin sendiri kan gak bakalan abis, jadi tante anterin ke sini aja." alasannya.


"Kan tetangga masih banyak, kok ke sini terus?"


Sebuah sikutan Ran dapatkan dari sang adik. Menurut Silvia, kakak pertamanya ini sudah keterlaluan.


Karena tak kunjung menjawab, Ran pun menarik Silvia ke dalam. "udah mau malem, tante. Lebih baik tente pulang aja." usirnya halus.


"Kak!" protes Silvia, namun tak dihiraukan oleh Ran.


Setelah menutup pintu, kedua kakak beradik itu berjalan menghampiri Sean yang tengah duduk di sofa sambil fokus pada laptop dihadapannya, juga Nan yang duduk lesehan dekat kaki Sean sembari memainkan ponselnya.


"Dad?" panggil Silvia.


Sean melepaskan kaca mata bening yang menempel di hidungnya, lantas menyimpannya di atas meja.


"Mau digimanain?" tanyanya, meminta pendapat pada semua anaknya.


"Ora urus." komentar Nan.


"Adek sama kakak?" tanyanya lagi.


Silvia menngedikkan bahunya, sedangka Ran menggelengkan kepalanya.


Terdiam sesaat, Sean mencoba mengambil keputusan yang paling tepat.


"Kasih ke bibi aja gimana?"

__ADS_1


"Ora urus."


"Berisik ah." sebal Sean.


"Yaudah, aku kasihin ke bibi, mumpung dia belum pulang." ujar Silvia, pergi menuju dapur.


Tidak sampai lima menit, Silvia kembali bergabung bersama keluarganya. Gadis itu memaksa untuk masuk ke dalam pelukan kakak keduanya, hingga Nan mendengus karena kegiatanmya bermain gamenya terganggu.


"Ada yang punya ide?" tanya Sean.


"Ide apa?"


"Buat yang tadi."


Nan mengerling, "ohh, calon istri?"


"Jan ngadi-ngadi, ya, Nan." tegur Ran.


"Loh, kan tante Susy emang suka sama daddy."


"Emang daddy suka sama tente Susy?"


"No." bukan Nan yang menjawab, tapi Sean. Ayah tiga anak itu menggeleng tegas. "No and never."


"Emang daddy gak mau nikah lagi, apa?" tanya Ran, hati-hati. Tidak ingin menyinggung ayahnya.


Sekali lagi, Sean menggeleng sebagai jawaban. "nggak. Daddy mau fokus ngebahagiain kalian dulu."


Hidup menduda selama belasan tahun tak membuat Sean berkeinginan memiliki istri. Karena baginya, anak-anaknya adalah hal terpenting dalam hidupnya. Kebahagiaan mereka bertiga di atas segalanya. Dia rela melakukan apapun untuk putra putrinya, termasuk mengorbankan kebahagiaannya sendiri.


Lagipula, Sean tidak ingin ada yang menggantikan posisi Yani di hatinya. Yani adalah satu-satunya wanita yang dia cintai, dan akan selamanya seperti itu, tidak akan berubah sedikit pun.


"Tapi... Daddy juga harus mikirin kebahagiaan daddy. Kita udah bahagia, kok."


"Emang kalian mau punya ibu baru?"


"Selama daddy bahagia, why not?"


Nan dan Silvia mengangguk setuju.


Selama ini, mereka sudah cukup bahagia walau tanpa kehadiran seorang ibu. Tapi mereka juga tidak bisa memungkiri jika mungkin saja sang ayah butuh pendamping hidup.


Meski berat, tapi mereka harus ikhlas jika suatu saat ayahnya meminta untuk menikah. Egois rasanya jika mereka melarang.


Namun, hanya saja, si kembar dan Silvia masih belum siap jika nanti kasih sayang dan fokus Sean pada mereka akan terbagi jika dia sudah memiliki istri.


Hal yang wajar, bukan? Biasanya, itulah kekhawatiran seorang anak jika akan memiliki anggota keluarga baru.


"Tapi kebahagiaan daddy itu, ada sama kalian."


Nan melingkarkan tangannya pada punggung Silvia, mengusapnya pelan. "dad, kalo yang daddy khawatirin itu kita yang bakalan ngelarang daddy buat nikah lagi, daddy salah. Bener kata kak Ran, selama daddy bahagia, why not?"


"Bahagianya daddy, bahagianya kita juga." tambah Silvia.

__ADS_1


Mendapat izin seperti itu, tidak membuat Sean berubah pikiran. Ia masih ingin mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar. Karena selama ini dia merasa menjadi orang tua yang sangat buruk bagi ketiga anaknya.


Juga, Sean itu duda beranak tiga, dia tentu tidak akan percaya begitu saja pada orang lain. Ia hanya takut jika istrinya kelak tidak bisa menyayangi anak-anaknya.


"Makasih buat izinnya, tapi daddy gak mau."


"Kalo itu udah jadi keputusan daddy, kita gak bisa apa-apa lagi." Ran mengedikkan bahunya. "tapi, kalo suatu saat daddy berubah pikiran, bilang aja. Kita akan tetep dukung daddy."


Sean mengangguk. Walau kadang menyebalkan, tapi putranya juga bisa bersikap dewasa seperti ini.


"Dad?"


Panggilan Silvia berhasil membuat suasana hening itu pecah seketika.


"Kenapa, dek?"


Jemari Silvia membuat gerakan abstrak di dada Nan. "Menurut daddy, mommy itu orangnya kaya gimana?" tanyanya tiba-tiba.


Ketiga pria yang ada di sana tentu saja terkejut. Tidak biasanya topik tentang Yani terangkat kepermukaan.


Namun, Sean tetap tersenyum. Sedangkan Ran dan Nan memasang telinganya baik-baik.


"Mommy itu... Orang yang baik, cantik lagi. Dia... Orang tersabar yang pernah daddy kenal."


Saat mengatakannya, bayangan Yani terlintas di benaknya. Bagaimana kehidupan keduanya sebelum anak-anaknya lahir. Bagaimana ujaran kebencian selalu keluar dari mulutnya setiap hari, juga bagaimana tangis dari wanita itu keluar karena ulahnya.


Kehidupannya dulu tidak mudah. Tidak ada cinta meski status mereka sudah menjadi suami istri. Sean masih ingat betul, kejadian satu malam yang selalu dia anggap kesalahan itu berhasil membuat membuat dua makhluk tumbuh di rahim Yani. Karena hal itu juga sikap dingin dan semena-menanya pada wanita itu jadi sedikit melunak hingga akhirnya cinta tumbuh begitu saja diantara keduanya.


Saat cinta telah tumbuh, saat hubungan baik telah terjalin, saat kehidupannya terasa sempurna karena putra kembarnya telah lahir lalu beberapa bulan setelahnya dia mendapat kabar jika Yani sedang hamil anak ketiganya, tapi kabar buruk membuat dunianya seakan runtuh.


Putri kecil yang sudah sangat dinanti kehadirannya memang lahir dengan selamat meski terlahir secara prematur, tapi... wanitanya tidak bisa bertahan.


Rasanya, Sean baru sebentar mengecap kebahagiaan, tapi sumber kebahagiaannya pergi begitu saja, meninggalkan dirinya bersama ketiga buah hatinya yang masih kecil. Sean tau, hidup memang tak selamanya bahagia. Hidup itu berputar antara kesenangan dan kesedihan. Antara suka dan duka. Antara tangis dan tawa. Tapi—


"Daddy... Pasti sayang banget sama mommy."


Sean melirik Nan sekilas, lantas tersenyum sendu.


"Banget."


Silvia melepaskan pelukannya pada Nan lalu menghampiri ayahnya dan memeluk tubuh besarnya.


"Kita juga sayang sama daddy, banget."


Nan ikut memeluk adik dan ayahnya.


"Daddy nggak sendirian, kita bakalan selalu ada buat daddy."


Si sulung juga ikut bergabung. "that is the real meaning of family, to love and strengthen each other."


Inilah alasannya tetap bertahan di saat cintanya telah pergi, karena ada tiga malaikat kecil yang membutuhkannya. Tiga malaikat kecil yang membuatnya bisa bertahan hidup hingga sekarang. Tiga malaikat kecil yang menjadi alasannya untuk tetap hidup.


...***...

__ADS_1


__ADS_2