Fosessive Brother

Fosessive Brother
16


__ADS_3

"Udah kenyang," Silvia menggumam, memalingkan wajahnya dari Sean, mencoba mengatakan jika dirinya sudah tidak ingin makan lagi.


Sean mengangguk. Dia menyimpan mangkuk berisi bubur itu di atas meja, lantas mengambil gelas serta obat dan membantu sang putri meminum obatnya.


"Sekarang tidur ya, udah malem."


Si bungsu menggeleng,


"Ini masih sore," bantahnya. Jam memang masih menunjukan pukul 19.05 malam, Belum terlalu malam untuk tidur.


"Tapi kamu harus istirahat."


"Iya nanti," dengusnya.


Setelah itu hening, tidak ada yang bersuara. Keduanya lebih memilih untuk bungkam. Sampai akhirnya Sean bersuara, memecah keheningan yang tercipta diatara dirinya dan putri bungsunya.


"Dek," panggilnya pelan.


Silvia menoleh, menatap ayahnya. "Kenapa dad?" tanyanya.


"Emm... daddy boleh nanya?" nada suara Sean terdengar ragu.


Si bungsu hanya menjawab dengan anggukan. Mengizinkan ayahnya untuk bertanya padanya.


"Kamu... gak kangen sama kakak sama abang?" tanya Sean dengan hati-hati. Pasalnya dia tahu jika mungkin saja Silvia masih trauma pada kedua kakaknya. Tapi... bagaimana pun, selama hidupnya, mereka tidak pernah berpisah lama. Paling lama hanya tiga hari dua malam saat si kembar camping, itu pun masih saling berhubungan, tapi sekarang? bahkan setelah Silvia siuman, dia belum pernah sekalipun menanyakan dimana kedua kakaknya berada.


"A-aku..." gadis itu menggantungkan kalimatnya, "...mau tidur dad."


Sean hanya bisa menghela mendengarnya. Dia tahu, mungkin Silvia masih butuh waktu untuk semua yang terjadi. Jadi Sean memakluminya.


Ayah tiga anak itu menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya sebatas dada. Setelah kelopak mata itu sudah mulai tertutup, dia mengelus rambut panjang putrinya, membantunya agar cepat terlelap sampai ke alam mimpi.


...***...


Rendi menjatuhkan rahangnya ketika melihat bahwa di meja makan tidak ada makanan barang sedikit pun. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil air, setidaknya dia berharap jika dengan minum, perutnya yang keroncongan bisa sedikit terobati.


Cahya yang menyadari kehadiran Rendi di dapur pun menoleh, "Oh, tunggu bentar lagi ya."


Sang anak hanya mengangguk, meski dia tahu jika ayahnya tidak melihat itu. Dia mengambil gelas, menuangkan air dingin itu pada gelasnya, lantas meneguknya hingga tersisa setengah.


"Tumben papa baru masak?" Tanyanya, merasa heran saat makan malam belum siap, padahal ini sudah lewat dari jam makan malam mereka bisanya.


"Iya. Niatnya mau makan di luar bareng om Sean, tapi dia gak bisa." Jelas Cahya, masih tidak mengalihkan atensinya dari masakan di depannya.


Rendj menyandarkan punggungnya pada kitchen bar, meneguk airnya lagi hingga tandas sebelum bertanya,


"Kenapa?"


"Silvia masuk rumah sakit katanya."


Kalem adalah sifat alami seorang Rendi. karenanya, dia hanya bersikap biasa saja saat mendengar berita itu. Yaaa walaupun sebenarnya dia cukup terkejut, karena tadi siang gadis itu masih baik baik saja, tapi tau tau sekarang sudah masuk rumah sakit saja.


"Ndi?" Panggil Cahya saat tidak mendapatkan respon dari putranya.


"Hm?"


"Nanti abis makan malem, kamu ikut papa ke rumah sakit. Kita jenguk Silvi."


Rendi mendengus, tidak habis pikir dengan ayahnya. "Papa gak punya etika ya? Ini udah malem tau. Yakali mau jenguk orang sakit malem-malem gini."


"Ya nggak papa dong. Papa yakin mereka belum tidur kok."


Jika saja Cahya bukan ayahnya, jika saja Cahya tidak lebih tua darinya, maka sudah dipastikan bahwa Rendi akan berteriak di depan wajah orang itu. Oh ayolah, kenapa ayahnya sangat bersikeras untuk mejenguk Silvia malam-malam begini? Padahal besok juga masih bisa.


"Nggak mau. Mending papa pergi sendiri aja, aku ada ulangan besok."


"Udah gak usah ngapalin, kamu udah pinter kok."


Sungguh, Rendri berani bertaruh jika dirinya hanyalah anak angkat Cahya. Melihat perbedaan yang mendalam diantara keduanya, dia tidak yakin jika pria di depannya itu adalah ayahnya. Lagipula hei, mana ada orang tua yang melarang anaknya belajar hanya demi menjenguk seseorang yang sakit.


"Nggak mau." kekeuhnya.

__ADS_1


"Yeuu, sekali kali mah cari muka di depan om Sean dong."


Remaja itu menaikan sebelah alisnya, "kenapa harus?"


"Soalnya papa mau jodohin kamu sama Silvia."


...***...


Lucky menyenggol lengan Chandra, hingga membuat temannya itu mendelik padanya. Bagaimana chandra tidak mendelik? Karena senggolan Lucky itulah pisang gorengnya jadi jatuh.


"Apasih?!" tanyanya dengan nada agak tinggi. Matanya menatap nanar pisang goreng yang tergeletak di lantai.


Yang ditanya hanya mengedikkan dagu, menunjuk salah satu temannya yang sedang duduk menampik dagu dengan pandangan kosong.


"Dia kenapa?" Malik bertanya. Dirinya merasa heran ketika Nan hanya diam tanpa banyak berulah seperti biasanya.


"Nggak tau juga. Dari dia sampe sekolah, dia udah kek gitu." Jevan menjawab. Rupanya bukan hanya Lucky yang memperhatikan Nan, tapi semua orang pun sama.


"Keknya dia kerasukan tuyul gondrong di deket pohon pisang deh."


Celetukan Chandra barusan membuat semuanya-- Mahesa, Lucky, Jevan -- menoleh kearahnya, memandangnya horor, lalu sedetik setelahnya remaja berwarna kulit paling gelap itu diserang dengan jitakan oleh teman-temannya.


"Jan ngadi-ngadi ya lo."


"Apa sih? Sensian kek orang lagi PMS," Chandra mendengus, lantas merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah teman-teman 'laknat' nya itu.


"Serah. Yang waras mah ngalah aja." Kesal Jevan.


Mengabaikan ocehan tidak berfaedah teman-temannya, Rendi berdiri, menghampiri Jaemin, menarik kursi disamping remaja itu-- yang entah milik siapa-- lantas mendudukan dirinya disana. Sepertinya dia tahu penyebab kediaman temannya sejak tadi. Ya, Rendi yakin jika pernyababnya adalah Silvia.


"Oh, lo Ndi," Nan menoleh, lalu menggumam saat merasakan ada tepukan dipundaknya.


Setelahnya dia kembali menatap lurus ke depan, mengabaikan Rendi yang duduk di sampingnya.


"Gue denger... adek lo masuk rumah sakit," Rendi bicara dengan hati-hati, takut perkataannya barusan membuat mood Nan semakin hancur.


Namun, yang rendi dapat bukan respon dari Nan seperti dugaannya, melainkan teriakan heboh teman-temannya yang lain.


"Jaemin punya adek?!"-- Jevan.


"Bukannya lo cuma dua bersaudara?!"-- Malik.


"Jan ngadi-ngadi ya lo ndi!"-- Chandra.


Rendi memijat keningnya, sedangkan Nan mendelik kaget.


"Ndi!! Gara-gara lo mereka jadi tau!!" marahnya.


"Jadi bener? Kok kita gak pernah tau soal adek lo sih?!"


"Ya ngapain juga gue ngasih tau kalian. Gak penting juga." Acuh Nan.


"Ya tapi--"


"Udah sana duduk!" Perkataan Rendi serta tatapan matanya yang sangat mengintimidasi membuat keempatnya kicep. Mereka menurut, tidak berani melawan Rendi sedikit pun.


"S-sorry Nan," Anak satu satunya dari om Cahya itu menundukan kepalanya, merasa bersalah karena secara tidak langsung sudah membocorkan rahasia Nan.


"Hm," Nan menggumam, "Suatu saat nanti juga bakalan kebongkar," kekehnya. "Btw, dari mana lo tau kalo adek gue masuk rumah sakit?" tanyanya, dia sengaja meyebut kata 'adek' agar teman-temannya yang lain tidak mendengar nama adiknya. Dia tahu jika keempat temannya itu sedang mencuri dengar obrolannya bersama Rendi, karenanya dia harus hati-hati, jangan sampai dia menyebut nama Silvia.


"Bokap gue yang bilang," Rendi mengedikkan bahunya, "Kemaren malem juga sempet nengok," lanjutnya.


Nan melebarkan matanya, dia berbalik, menghadap Renndi dengan serius.


"Ndi, gimana keadaannya?" tanyanya, mengguncang tubuh Rendi pelan.


"Apaan sih lo?!" Rendi menyentakkan lengan Nan, "kenapa malah nanya gue? Lo kan kakaknya, yakali gak tau."


Tatapan nan kembali sendu. Dia menghembuskan napas dalam, mununduk, menatap sepasang sepatu yang dia kenakan.


"Daddy marah sama gue sama kak Ran, jadi... kita gak dibolehin jenguk adek," jelasnya, dengan nada sedih. Raut wajahnya juga seolah mengatakan jika remaja itu sangat menyesal dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


"Papa yang maksa gue buat ikut sama dia. Dan... adek lo baik-baik aja."


Detik berikutnya Rendi bisa mendengar teriakan nan seperti biasanya.


"NDIII!! TUKERAN BOKAP YUK!!"


...***...


"Mau ketemu adekk."


Ran menghempaskan tangan Nan yang sedari tadi terus mengguncang tubuhnya, merengek ingin bertemu dengan adik bungsu mereka yang saat ini masih berada di rumah sakit.


Sejak kemarin, mereka berdua belum mendapat kabar apapun tentang Silvia. Sean masih belum menghubungi kedua putranya semenjak si kembar pulang. Mereka ingin menanyakan kabar Silvia, tapi tidak berani. Mungkin saja Sean masih marah pada mereka berdua.


"Mau ketemu adek," Nan mengulang ucapannya, kali ini dengan linangan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.


"Yaa... gue juga mau, tapi daddy belum ngizinin."


"Ayo pergiii," kali ini si tengah menarik tangan kakaknya agar berdiri. Sungguh, tingkahnya yang seperti itu, membuatnya seperti anak kecil yang sedari merengek minta dibelikan es krim oleh orang tuanya.


"K-kalo daddy makin marah gimana?" Ran beratanya dengan was-was, takut jika ayahnya semakin marah jika mereka berdua nekat pergi ke rumah sakit.


"Ayo ih." tidak mempedulikan kekhawatiran kakaknya, Nan tetap menarik Ran untuk ikut bersamanya. Dan yang bisa Ran lakukan hanya pasrah.


...***...


Dua orang yang ada di ruangan monoton berwarna putih itu fokus pada kegiatan masing-masing. Sean yang sedang mengerjakan pekerjaannya, dan Silvia yang sedang memainkan game di ponsel ayahnya.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, yang terdengar hanyalah suara ketukan keyboard laptop yang ditekan oleh Sean.


Sepertinya kali ini Dean patut merasa lega, sebab


Silvia tidak merengek ingin pulang seperti biasanya. Entah apa penyebabnya, yang jelas dia merasa senang.


Brakk


Suara dobrakan pintu yang keras membuat kedua orang beda usia itu kaget. Mereka mengalihkan pandangan dari layar di depannya pada pintu, dimana ada dua orang remaja yang jatuh.


Mata Sean semakin melebar kala tau jika dua orang itu adalah putra kembarnya. Sungguh, dia belum memberi mereka izin untuk datang ke rumah sakit. Mereka juga tidak mengatakan jika akan datang.


Ran dan Nan langsung berdiri, menegakkan tubuhnya dengan kepala yang tertunduk takut. Tatapan ayahnya membuat nyali keduanya menciut takut.


"Kalian..."


"Maaf."


Perkataan sean dipotong oleh putra sulungnya yang mengatakan kata maaf.


Memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut, Sean pun menatap kedua putranya, meminta penjelasan.


"Ngapain ke sini?" tanyanya, dengan nada yang agak sisis.


Nan menyenggol lengan kakaknya, menyuruhnya untuk menjawab.


"Emm... mau... jenguk adek dad," cicit Ran takut-takut.


"Daddy gak nyuruh kalian ke sini."


"Tapikan--"


"Nggak papa dad," potong Silvia yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan, kini menyahut.


Awalnya dia memang terkejut dengan kedatangan kedua kakaknya yang terkesan tiba-tiba, dia bahkan sempat merasa takut. Entahlah, saat dirinya melihat mereka, bayangan menakutkan tentang perkelahian tempo hari langsung terngiang dikepalanya, membuat jantungnya berdebar semakin keras dari biasanya. Tapi, dia mencoba melawan rasa takutnya. Mencoba mengatakan pada hatinya sendiri jika yang ada dihadapannya adalah saudaranya, orang yang tidak mungkin berbuat jahat dan melukainya.


Sean terlihat ragu, "kamu yakin?"


"Emm, iya."


Mata keduanya berbinar. Jelas sekali jika mereka tengah bahagia saat ini. Tanpa membuang waktu lagi, Ran dan Nan langsung menghampiri Silvia, menciumi wajahnya berkali-kali hingga siempunya wajah kegelian, dan berakhir memeluknya sayang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2