
Sean berjalan dengan penuh kewibawaan. Dagunya terangkat, hingga kini dia berjalan layaknya orang sombong. Di sebelah pria itu, ada Cahya yang juga berjalan dengan wibawanya.
Mereka berdua mendapat panggilan dari sekolah atas nama Randika, Nandika dan Rendi.
Sejujunya, ini bukan pertama kalinya mereka di panggil ke sekolah, ini sudah yang kesekian kalinya.
Kadang, Sean merasa heran, bagaimana anak baik-baik seperti Rendi bisa terjebak dengan anak-anak nakal seperti kedua putranya? Ah, sudahlah, jangan dipikirkan.
"Lo masih inget ruang gurunya, Se?"
"Yakali udah sering ke sekolah tapi lupa ruang guru." jawab Sean tanpa menghentikan langkahnya.
"Kok gue lupa, ya?"
"Yang ada di pikiran lo kan cuma cewek doang." sarkas Sean.
Cahya mendengus, "gue udah insyaf."
Keduanya kembali meneruskan langkahnya. Sean menarik napas saat dirinya dan Cahya sudah sampai di ruang guru. Ah, di depan ruang guru lebih tepatnya.
Tok. Tok. Tok.
Dengan sopan, kedua ayah itu mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam.
Keduanya meringis. Merekalah yang terakhir sampai di sana. Karena saat mereka berdua masuk, di dalam ruangan yang cukup luas itu sudah ramai. Ya, ramai oleh orang tua yang datang karena anaknya yang bermasalah.
"Maaf terlambat." sesal Sean. Seketika, dia memaki dirinya sendiri karena malah menunggu Cahya. Seharusnya, tadi dia berangkat sendiri saja.
"Tidak apa, silahkan duduk."
Guru bername tag Laskar yang diketahui menjabat sebagai kepala sekolah itu mempersilahkan kedua orang itu duduk.
Sean melirik Ran dan Nan sekilas sebelum dirinya bergabung bersama para orang tua lainnya. Bisa dia lihat, wajah kedua anaknya yang sedikit dihiasi luka. Pasti habis berkelahi.
"Jadi, alasan saya memanggil bapak dan—"
"Maaf saya terlambat."
Perkataan Pak Laskar terpotong saat ada seorang yang masuk, lagi.
Pak laska tersenyum sekilas, "tidak apa, silahkan duduk."
Berdehem sebentar, pak laskar kembali meneruskan perkataannya. "Jadi, alasan saya memanggil bapak ibu kesini adalah karena putra bapak dan ibu yang kembali berulah, lagi." terdengar helaan napas dari kepala sekolah tampan itu. Dia sudah bosan melihat murid-muridnya selalu membuat masalah. Murid yang sama, dan memanggil wali yang sama pula sampai-sampai dia hafal pada semua wali murid yang kini duduk di ruangannya itu.
Semua murid itu menundukkan kepalanya, juga para wali yang memijat pelipisnya pusing.
"Maaf pak Laskar, lagi-lagi putra kami membuat masalah yang membuat anda pusing." salah satu wali murid angkat bicara. Sedangkan yang lainnya hanya diam. Terlalu malu karena perbuatan putra mereka.
"Mohon untuk lebih tegas lagi terhadap mereka. Karena ya... anda semua tahu jika ini bukan yang pertama kalinya."
"Tentu." ucap para wali serempak.
Kemudian, pak Laskar memberikan surat pada semua wali. Surat peringatan tentu saja. Entah sudah surat yang keberapa, semua wali lupa saking seringnya mendapat surat sakral itu dari pihak sekolah.
"Skorsing sampai minggu depan sepertinya cukup untuk membuat mereka merenungkan kesalahan."
__ADS_1
Semua siswa membelalak.
"Bapak nggak ngerti, kenapa kalian yang notabenenya anak-anak IPA malah sering ngulah kaya gini, apalagi kalian itu anggota osis sama DA, kan?"
Anak-anak IPA yang dimaksud adalah si kembar, Dimas, Theo, Joo, Reno, Rendi, Lucky, Malik dan Chandra.
"Dan kalian, walau kalian anak IPS, bukan berarti kalian bisa berbuat seenaknya."
Kali ini, mereka yang dimaksud adalah Haris, Fandy, Wijaya, Juno, Dana, Dikta, dan Arif.
Ini sudah seperti perang atau permusuhan antara anak IPA dan IPS, sungguh.
"Pak, tapik—"
"Nggak ada yang nyuruh kamu bicara Fandy!"
Pak Saipul— ayah dari Fandy itu menatap anaknya tajam, membuat laki-laki tampan itu menciut.
"Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi, kami permisi pak Laskar." ujar Pak Saipul, berdiri dari duduknya, diikuti para anak dan wali lainnya.
Pak Laskar juga ikut berdiri.
Setelah saling berjabat tangan, mereka pamit dengan anak-anaknya masing-masing.
Ran dan Nan berjalan mengekori Sean. Mereka tahu, setelah sampai di rumah, mereka akan di marahi habis-habisan.
Sama halnya dengan si kembar, Rendi pun hanya berjalan mengikuti Cahya dengan kepala tertunduk. Dari tadi, ayahnya tidak bicara sedikit pun, membuat Rendi paham, jika sang ayah marah padanya.
"Dad—"
Dingin tak tersentuh, begitulah aura Sean saat ini. Pria itu berjalan dengan tegasnya melewati lorong sekolah diikuti kedua anaknya, membuat para siswa yang dilewati melongo melihat ketiganya.
...***...
Ran dan Nan menunduk, sedangkan Sean menatap keduanya tajam, bersamaan dengan jemarinya yang diketukkan ke meja.
"Apa yang mau kalian jelasin sama daddy?"
Menarik napas sejenak, Ran memberanikan dirinya untuk menjawab.
"Dad, kita udah berubah. Kita gak akan nyari masalah kalo mereka gak nyari masalah duluan."
Sean mengusap wajahnya lelah. "Apapun alasannya, daddy gak bisa nerima." ujarnya, "selama ini daddy udah cukup bangga sama kalian. Setelah naik ke kelas 11, kalian gak pernah ngebuat masalah sedikitpun, tapi sekarang? Kalian ngebuat daddy kecewa, lagi."
Saat kelas 10, kedua putra kembarnya sering sekali membuat ulah hingga dirinya sering dipanggil ke sekolah. Tidak terhitung sudah berapa banyak panggilan dan surat peringatan yang dia dapat. Tidak terhitung pula sudah berapa banyak kali kedua anaknya di skors.
Tapi, semenjak naik kelas 11, semenjak Silvia satu sekolahan dengan mereka, mereka berdua tidak pernah berulah lagi. Tidak ada panggilan dari sekolah, tidak ada gangguan saat meeting, dan tidak ada surat peringatan lagi. Namun nyatanya, sekarang mereka berulah lagi.
"Bisa gak sih, kalian gak ngulah? Daddy tuh cape."
Seingat si kembar, baru kali ini Sean mengeluh seperti itu. Biasanya, walau senakal apapun mereka, Sean hanya akan menceramahi dan memarahi, tanpa mengeluh sedikit pun.
Dalam benak, mereka berpikir, apa mereka sudah sangat keterlaluan? Dan yeah, mereka sadar jika jawabannya adalah 'ya'.
Seharusnya mereka bisa lebih dewasa. Sean, ayah mereka bekerja keras siang malam untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Tapi yang ayahnya dapat malah balasan seperti ini dari mereka.
__ADS_1
Ran dan Nan tahu, menjadi single parent tidaklah mudah, apalagi jika anaknya bengal dan... berpenyakitan seperti mereka bertiga. Seharusnya mereka lebih bersyukur memiliki ayah yang kuat seperti Sean. Tapi...
"Maaf dad."
Sean memijat pelipisnya pusing. Dia salah. Tidak seharusnya dia mengeluh di depan anak-anaknya. Tugasnya sebagai ayah memang mencari nafkah bukan? Ran, Nan dan Silvia adalah prioritas utamanya. Lagi pula, ini juga salahnya. Salahnya yang tidak becus mendidik anak hingga kedua putranya menjadi seperti sekarang ini.
Rasanya, hari ini Sean sedang tidak ingin marah-marah. Dirinya terlalu lelah. Lelah dalam artian yang sesungguhnya. Karenanya, dia beranjak, lantas berlalu begitu saja menuju kamarnya, tanpa mengatakan apapun lagi pada kedua putranya.
...***...
Rendi menunduk, tidak berani menatap netra ayahnya. Dia tahu jika dirinya salah, jadi dia tidak akan mengelak atau melakukan pembelaan apa pun. Dirinya memang patut disalahkan. Dia akan menerima apapun hukuman dari ayahnya.
Sedangkan di depannya, Cahya berjalan dengan santainya. Dia tidak mengatakan sepatah katapun sejak tadi. Hingga suara berat nya terdengar memecah keheningan.
"Ndi?"
Rendi mendongak, lalu berhenti melangkah saat ayahnya juga berhenti, "iya?"
"Kenapa tegang kaya gitu?" tanya Cahya.
Yang ditanya hanya diam, dia tahu jika sang ayah tahu penyebab keterdiamannya.
"Kenapa harus tegang kaya gitu coba?" dengus Cahya.
Rendi menaikan sebelah alisnya. Dia baru saja akan angkat bicara saat tiba-tiba Cahya memeluk tubuhnya, disertai tepukan di punggungnya.
"Papa bangga sama kamu, nak."
Sungguh, Rendi semakin bingung. Bangga apanya? Bukannya dia baru saja melakukan hal yang keterlaluan?
"M-maksud papa?"
Cahya melepaskan pelukannya. Dia tersenyum menatap putranya, membuat Rendi semakin kebingungan.
"Papa... gak marah...?"
"Marah buat apa?"
"Tadikan—"
"Kenapa papa harus marah? Anak seusia kamu mah wajar kalo berantem sama temennya. Malahan, kalo gak ngelakuin itu, masa muda kamu sia-sia."
Ditempatnya, Rendi cengo.
"Tapikan... Papa udah sering di panggil ke sekolah gara-gara aku."
Cahya terkekeh.
"Nakal itu wajar. Lagian kan kamu masih sekolah. Papa kasih kamu kebebasan sampe kamu lulus SMA. Tapi kalo udah kuliah, papa gak akan bisa noleransi sikap nakal kamu lagi." setelahnya, ayah satu anak itu menepuk pundak putranya sebelum meninggalkan Rendi yang masih tak berkutik di tempatnya.
Cahya yang salah mendidik anak, tapi kenapa Sean yang kena imbas? Kenapa malah Ran dan Nan yang nakal?
Sean yang mendidik anak-anaknya dengan baik, tapi kenapa malah Cahya yang enak? Kenapa malah Rendi yang menjadi anak baik?
...***...
__ADS_1