Fosessive Brother

Fosessive Brother
28


__ADS_3

Kak Ndi


Dek?


^^^Iya kak?^^^


Belum tidur?


Ini udah malem loh


^^^Belum ngantuk hehe^^^


Kenapa?


^^^Nggak tau juga^^^


Yaudah, aku temenin,


ya?


^^^Eh, nggak usah,^^^


^^^Kak Ndi tidur aja^^^


Gak bisa tidur kalo kamu belum tidur:)


Silvia menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia masih tidak percaya jika seorang Rendi bisa 'menggombal' seperti ini. Dan sialnya, jantungnya selalu berdetak kencang saat Rendi memberinya gombalan receh seperti itu.


Jangan heran, hubungan mereka berdua memang sudah mengalami kemajuan yang lumayan pesat sejak Rendi meminta izin untuk menghubunginya saat pramuka dulu.


Kak Ndi


Dek?


Kok diem?


Udah tidur, ya?


^^^Eh, belum kok kak^^^


Kok tadi diem?


^^^Nggak papa hehe^^^


Masih belum bisa tidur?


^^^Belum^^^


^^^Read^^^


Hanya di read, karena Silvia tidak melihat tanda-tanda jika Rendi akan mengetikkan balasan. Tapi, dia mencoba berfikir positif, mungkin saja laki-laki sudah tidur. Mengingat ini sudah pukul 22.35 malam.


Namun, ternyata tebakannya salah. Karena sedetik kemudian, Rendi menelponnya, membuatnya terduduk dari acara tidurannya, lalu berdehem sebentar, sebelum mengangkat telpon itu.


"H-halo?" gugupnya.


"Kok lama? Aku kira kamu untuk tidur."


"Belum kak."


Hening, tidak ada yang bersuara. Mereka bungkam satu sama lain. Sudah terlalu bingung mencari topik pembicaraan.


"Dek?"


"I-iya kak?"


"Mau vc an gak?"


"Hah? Nggak mau." tolak Silvia.


Di seberang sana, Rendi tertawa. Hanya dengan mendengar suara Silvia saja sudah membuatnya menebak, bagaimana ekspresi gadis itu saat ini. Pasti sangat lucu.


"Kenapa?"


"Malu." cicit Silvia.

__ADS_1


"Kok malu? Kaya baru kenal aja."


"Nggak mau pokoknya."


"Yaudah deh, pangeran mah ngalah aja."


Silvia mendengus geli. Tak habis pikir dengan perkataan Rendi barusan. "Dih, sejak kapan kak Ndi jadi kaya bang Nan?"


"Emm..." Rendi menggumam, seperti sedang berpikir. Tapi Silvia tahu, jika laki-laki itu hanya sedang pura-pura. Dia tersenyum, karena menurutnya Rendi sangat lucu dengan tingkahnya yang seperti ini. "sejak aku sayang kamu."


Senyuman itu perlahan luntur, digantikan dengan ekspresi terkejut yang kentara di wajah cantiknya.


"Dek?"


"Eh, iya kak?"


"Sering banget ngelamun perasaan? Lagi mikirin apa sih? Mikirin aku ya?"


Mencoba untuk mengusir rasa tidak nyaman yang tadi sempat dia rasakan, Silvia pun mencoba bersikap biasa saja.


"Yeuuu, kak Ndi mah pd. Sekarang kakak udah sama kaya bang Nan. Suka bikin kesel, bawaannya pengen nimpuk."


Rendi tertawa, "ngangenin kali ah."


"Timpuk tidak ya? Timpuk tidak ya?"


"Kan jauh sayangkuuu."


Sayang? Kenapa jantungnya berdetak kencang? Kenapa dengan tidak tahu dirinya Silvia malah berharap lebih? Apa Rendi sedang bercanda? jika iya, maka itu tidak lucu, karena dia... terbawa perasaan.


"Astagfirullah dekkk, sumpah ya, diem-diem mulu dari tadi." protes Rendi.


"Hehehe."


"Btw, yang tadi serius loh dek."


"Hah? Yang mana?"


"Yang aku sayang kamu."


"Yeuuu, gak lucu tau. Udah sana tidur."


"Dih, emang siapa yang lagi ngelucu? Orang aku serius kok."


Bolehkah Silvia berharap lebih? Tolong jangan memaki nya. Karena wajar bukan jika dia menaruh perasaan lebih pada Rendi? Laki-laki itu begitu baik padanya. Laki-laki yang selalu ada untuknya selain keluarganya. Laki-laki yang mengisi hari-harinya belakangan ini. Dan laki-laki yang tanpa Silvia sadari telah mengisi ruang kosong di hatinya.


Apa egois jika dia mencintai Rendi? Mencintai seseorang yang terlalu sempurna untunya yang punya banyak kekurangan.


Cinta itu datang tanpa diduga. Tanpa dia sadari. Dan tanpa dia minta. Seiring berjalannya waktu, dia merasa nyaman pada Rendi, dan tanpa dia sadari, dia menaruh rasa pada laki-laki itu.


Tapi dia sadar jika dirinya tak pantas. Kalau pun Rendi sedang serius, maka dia tetap tidak bisa membalas cinta itu. Dia hanya takut Rendi terluka karenanya, sakit karenanya, dan Silvia tidak ingin itu terjadi.


Silvia sadar, orang sepertinya tak pantas untuk jatuh cinta, karena itu hanya akan menyakiti pasangannya saja. Meski dia... juga sama. Sama dengan Rendi. Dia menyayangi Rendi. Tapi dia tidak bisa menerima cintanya.


"Mau jadi pacar aku, gak?" enteng Rendi.


Silvia nyaris tersedak ludahnya sendiri saat mendengar itu.


"Kak Ndi mah bercanda terus."


"Serius dek. Sumpah."


"Masaaa?"


"Heem. So, di terima gak, nih?"


Gadis itu terdiam. Bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia ingin menjawab iya, karena dia tidak bisa memungkiri jika dia sudah suka pada Rendi. Tapi di sisi lain, dirinya tidak ingin membuat Rendi terjebak dengan orang sepertinya.


"Kalo kamu gak mau jawab sekarang juga gak papa. Tapi aku tetep nunggu jawaban dari kamu loh."


"Dek, tidur, ya. Ini udah malem," Rendi kembali bersuara saat Silvia hanya diam. "Atau mau aku nanyiin biar bisa tidur?" tanyanya.


"Eh, nggak usah. Ini udah mau tidur kok."


"Oke, sleep well bocil. Mimpiin aku ya. And, jangan lupa nerima aku."

__ADS_1


"Tidur kak Ndi jangan ngegombal mulu."


"Ahaha iya. Matiin gih."


Setelah berpamitan satu sama lain. Silvia mematikan sambungan telepon mereka. Lalu mulai merebahkan dirinya di ranjang. Sepertinya malam ini dia tidak bisa tidur nyenyak.


...***...


Paginya, saat baru membuka ponsel, Silvia sudah disambut oleh ucapan selamat pagi dari Rendi.


Kak Ndi


Morning dek


Udah mau nerima aku buat jadi pacar kamu?


Senyuman terbit dari bibirnya. Tidak ingin membuang waktu, Silvia pun membalas chat dari Rendi.


Kak Ndi


^^^Pagi kak Ndi^^^


Tidak butuh waktu lama bagi Rendi untuk membalas chat darinya.


Kak Ndi


Udah mau jadi pacar aku?


Aku nunggu loh dek:)


Sungguh, bagaimana caranya Silvia membalas ini? Dia ingin menerima tapi tidak bisa. Tapi, jika dia menolak, dia tidak tahu caranya.


Sedang asik dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Rendi melakukan panggilan video padanya.


Silvia merapihkan rambutnya, lalu melihat pantulan dirinya di cermin. Entah kenapa dia melakukan itu, dia juga tidak tahu.


Dirinya langsung disambut oleh senyum manis seorang Rendi kala dia mengangkat panggilan video itu.


"Dek?"


"Iya?"


"Egois nggak sih kalo aku pengen kamu jawab cepet?"


Silvia diam.


"Egois gak sih kalo aku berharap kamu nerima aku?"


"DEKKK!! CEPET SARAPAN!! DARI TADI BELUM TURUN JUGA!!"


Sontak, Silvia menyembunyikan ponselnya. Dia mentap gugup ke arah kakak keduanya yang berdiri menatapnya di ambang pintu, takut jika dia ketahuan sedang video call dengan laki-laki.


"I-iya, bentar lagi."


"Jangan lama!!"


"Iya, udah sana!"


Gadis itu menghela napas saat Nan sudah keluar dari kamarnya. Dia kembali mengeluarkan ponselnya.


"kak Ndi—"


"Apa sesusah itu buat ngejawab?" potong Rendi.


"kasih—"


"Aku mau kamu jawab sekarang."


"Iya nan—"


"Dek—"


"Aku gak bisa."


Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

__ADS_1


Tolong jangan menyalahkannya. Rendi terus mendesaknya hingga kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Awalnya, dia ingin mempertimbanhkan terlebih dahulu, tapi Rendi tidak memberinya pilihan lain selain menolak.


...***...


__ADS_2