Fosessive Brother

Fosessive Brother
26


__ADS_3

Kak Ndi


Tadi siang, pulang sama siapa?


^^^Di jemput daddy, kak^^^


Ohh, syukur deh


Btw, kamu Lagi


ngapain, dek?


^^^Nggak lagi ngapa-ngapain, hehe^^^


Sudah sekitar lima menit, tapi tidak ada balasan lagi dari Rendi.


Mungkin bingung mau nyari topik apa lagi, batin Silvia.


Baru saja ia akan beranjak dari duduknya, tapi Rendi lebih dulu mengirimnya pesan.


Kak Ndi


Dek?


^^^Iya, kak?^^^


Jangan lupa pake baju anget. Takutnya Kamu kedinginan. Kan lagi ujan.


^^^Iya,^^^


^^^Kak Ndi juga.^^^


Iya.


"DEK!! SINI TURUN!! DADDY UDAH BIKININ SUSU ANGET NIH BUAT KAMU!!"


Karena tidak punya alasan untuk membalas lagi, Sivia pun meninggalkan ponselnya di dalam kamar. Lantas turun ke bawah untuk berkumpul bersama keluarganya.


...***...


Sean turun dari mobil dengan tangan yang menutupi kepalanya. Ayah tiga anak itu berlari menerobos hujan untuk masuk ke dalam rumah besarnya.


Namun, sepi menyapa saat dirinya sudah sudah berada di dalam. Ia mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya rumahnya sepi seperti ini. Biasanya, setiap kali dia pulang, akan ada tawa ketiga anaknya yang menyambutnya di ruang keluarga, disusul teriakan girang dan berakhir dengan pelukan yang dia dapatkan dari para malaikatnya.


Tapi kali ini beda. Tidak ada satupun diantara ketiga hal itu yang ia dapatkan.


"Loh, tuan udah pulang?"


Sean menoleh, lalu mengangguk sekilas.


"Anak-anak kemana, bi?" tanyanya.


"Ada di kamar, tuan."


Lagi, Sean hanya mengangguk. Hatinya lega saat para kurcaci kesayangannya ada di rumah.


"Tuan?"


"Iya?"


"Boleh saya pulang sekarang?"


Bukannya tidak sopan karena meminta pulang di saat jam masih menunjukkan pukul 2 siang, tapi jam kerjanya memang dari pukul 6 pagi sampai Sean pulang kerja.


"Boleh. Tapi kan lagi hujan, bi. Mau dianterin aja atau gimana?" tawarnya.


Wanita paruh baya itu menggeleng.


"Anak saya yang akan jemput, tuan." ujarnya.


Setelah berbincang sebentar dengan asisten rumah tangganya, Sean pun naik ke atas, menuju kamar putra kembarnya.


Bukannya mendapat sambutan, tapi sepi malah menyapanya lagi. Sean mengerutkan dahinya. Bukannya tadi ART nya bilang jika ketiga anaknya ada di kamar? Tapi kenapa tidak ada?


Menggeleng pelan, Sean beralih menuju kamar yang ada di samping kamar putranya, kamarnya dan si bungsu.


Senyumnya mengembang saat ketiga buah hatinya ada di dalam kamarnya, sedang menatap ke luar jendela.


"Daddy cariin, eh kaliannya malah di sini."


Sontak, ketiganya menoleh, dan sedetik kemudian mereka langsung berteriak heboh menyambutnya.


"Daddy!!" teriak ketiganya.


Sean berjongkok, lantas merentangkan tangannya saat Ran, Nan dan Silvia berlarian ke arahnya.


Bahagia rasanya saat selepas lelah bekerja lalu mendapat pelukan dari para buah hatinya saat pulang ke rumah.


"Kok daddy udah pulang?" tanya si sulung, sesaat setelah melepaskan pelukannya.


"Kan hujan, sayang. Daddy takutnya adek takut petir lagi, makanya daddy pulang cepet."


Namun, respon si bungsu tidak sesuai dugaannya. Silvia menggembungkan pipinya. Anak kecil itu menatap sebal ayahnya.


"Silvi udah besal. Nda akut petil lagi. Lagian kan ada kak Lan sama abang," protesnya.


"Boong, tadi aja kamu takut pas ada petir," ejek Nan.

__ADS_1


Mata si bungsu sudah memerah. Dengan cepat Sea menarik bungsunya ke dalam pangkuannya,


"Jangan berantem, dong. Masa sodaraan tapi berantem sih." ujarnya, "Abang juga, jangan ngejekin adeknya kaya gitu lagi, ya."


Nan menatap Sean sebal, apalagi saat sang adik menjulurkan lidah padanya.


"Kalian tunggu di sini bentar, ya. Daddy mau ganti baju dulu." katanya, menurunkan Silvia dari pangkuannya.


Akibat menerobos hujan tadi, kemeja yang dikenakannya sedikit basah.


Ketiga anak kecil itu berjalan ke arah jendela lagi, lalu menatap ke luar. Sedangkan Sean masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.


Tidak lama, Sean keluar dengan pakaian yang lebih santai lalu menghampiri ketiga buah hatinya.


"Adek, dingin gak? Mau ganti baju?" tanyanya.


Silvia menggeleng.


"Beneran?"


"Huum."


Kini, atensinya beralih pada putra kembarnya.


"Kakak sama abang? Mau ganti baju, gak?"


"Nggak." jawab keduanya kompak.


"Daddy, daddy."


Silvia menarik celana yang Sean kenakan, membuat ayah muda itu menunduk menatapnya.


"Kenapa, sayang?"


"Mau ujan-ujanan." ujar Silvia polos, yang diangguki kedua kakaknya.


"Eh?" kaget Sean. "nggak boleh, sayang. Dingin, ntar kalian sakit." larangnya selembut mungkin agar mereka mengerti.


Rengekan keluar dari mulut anak-anaknya. Mereka semua memohon padanya agar memberi mereka izin.


Namun, Sean tetap menggeleng.


"No," tegasnya, membuat ketiganya memberengut sedih.


Untuk mengalihkan perhatian para kurcacinya, Sean mengajak ketiga anaknya turun ke bawah.


"Turun, yuk. Nanti daddy bikinin coklat panas buat kalian."


Silvia menggeleng tidak setuju.


"Ndak mau otat, mau cucu."


"Nggak mau susu. Mau coklat aja."


Sean terkekeh gemas mendengar perbedaan pendapat keduanya.


"Iya, iya. Coklat buat abang, susu buat adek. Terus kakak mau apa?"


Ran terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab, "Coklat aja."


Mengangguk, Sean menggiring aanak-anaknya ke bawah. Dia berbelok ke dapur, sedangkan ketiga buah hatinya pergi ke ruang keluarga.


Tidak lebih dari sepuluh menit, coklat panas pesanan anak kembarnya, susu pesanan bungsunya dan kopi untuk dirinya sendiri sudah siap. 


Dengan hati-hati, ayah tiga anak itu membawa nampan berisi empat gelas minuman itu ke ruang keluarga.


Namun, ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Menyimpan nampan ke atas meja, Sean pun memanggil anak-anaknya.


"Kakak? Abang? Adek?" teriaknya.


Samar-samar, Sean mendengar suara dari jauh. Dengan panik, ia keluar rumah. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat ketiga anaknya bermain hujan-hujanan di halaman rumahnya yang luas itu.


Di dekat mereka, ada kedua satpam yang mencoba melarang sambil memayungi mereka. Namun, Ran, Nan dan Silvia selalu menghindar.


Menepuk dahinya pelan, Sean tidak menyangka jika mereka akan senekat dan senakal ini. Jika Ran dan Nan, mungkin dia masih bisa percaya. Tapi jika Silvia?


Alasan Sean melarang mereka bermain hujan adalah karena takut mereka sakit, apalagi daya tahan tubuh Silvia lemah.


"Kakak, abang, adek, sini!" ujarnya, sedikit berteriak.


Namun yang dia dapat malah gelengan kepala.


"Ndak mau."


"Nggak mau."


"Bentar lagi."


Oke, kini Sean harus bagaimana agar anak-anaknya mau berhenti?


Ketiga anak itu berteriak kegirangan saat ayah mereka masuk kembali ke dalam rumah. Bagi ketiganya, itu adalah tanda jika sang ayah sudah memberi izin pada mereka untuk bermain hujan.


Namun, kebahagiaan itu harus terhenti saat tubuh besar Sean keluar dengan membawa beberapa handuk.


"Ayo sini. Kalo gak mau nurut nanti mainan kalian, daddy buang semua," ancamnya.


Tentu saja ancaman itu berhasil. Meski dengan wajah sebal, tapi ketiganya tetap menurut untuk mendekat padanya.

__ADS_1


Sang kepala keluarga  memberikan handuk pada masing-masing anak kembarnya, lalu membantu si bungsu untuk mengeringkan tubuhnya. Setelahnya, Sehun menggendong Silvia untuk membantunya mandi, diikuti oleh kedua putranya.


.


.


.


Sean memeluk tubuh mungil putri bunsunya yang sudah dibungkus selimut, sedangkan si sampingnya ada si kembar yang juga sedang berbagi selimut untuk menghangatkan tubuh mereka.


Mereka bertiga menatap wajah sang ayah serius, karena Sean sedang bercerita tentang salah satu kisah si kancil.


"Tamat..."


Si sulung, tengah dan bungsu berteriak kegirangan.


"Silvi kancil, abang buaya, telus kakak tupai, yeay," Silvia berteriak lagi, membuat Jaemin mendengus.


"No, no, no. Abang kancil, adek burung, sama kakak buaya."


Ran menggeleng.


"Kakak kancil, adek kelinci, abang serigala."


Ketiganya menatap sengit satu sama lain, merasa tidak setuju pada pendapat saudaranya.


"Hei, hei, kenapa pada berantem gitu, hm?" tanya Sean, mencoba melerai. "yang cocok jadi kancil itu daddy."


Kini, ketiganya beralih menatap Sean tajam, membuat Sean menggeruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oke, maaf."


Niat ingin melerai, tapi dia malah mendapat tatapan tajam. Memang, kadang yang keinginan tidak sesuai dengan kenyataan.


...***...


"Mau susu."


Sean membantu bungsunya mengambil susu hangat yang ada di meja.


Dengan sedikit kesulitan, Silvia mengeluarkan tangannya yang tadinya ada di dalam selimut, lalu menerima susu dari ayahnya.


Sama seperti dirinya, kedua kakaknya juga sedang memegang secangkir coklat panas yang dibuatkan sang ayah. Oh, jangan lupakan satu selimut yang melilit tubuh keduanya.


Silvia tersenyum miris. Dia memang sudah bahagia meski hanya hidup berempat bersama ayah dan kedua kakaknya. Tapi, kadang ada bagian dalam dirinya yang menginginkan kehadiran seorang ibu dalam hidupnya.


Saat hujan adalah saat yang tepat paling untuk berkumpul bersama keluarga. Di saat seperti ini, sesama anggota keluarga bisa berbagi cerita dan kehangatan. Tapi, Silvia merasa ada yang kurang.


Harusnya, jika saat ini ia di peluk ayahnya, maka kedua kakaknya akan di peluk oleh sang ibu. Namun sayangnya sosok ibu tidak ada di tengah-tengah keluarganya.


Kadang, Silvia merasa tidak sabar untuk melepas rasa sakit yang dideritanya dan segera menemui sang ibu di surga sana. Tapi, di sisi lain, dia tidak rela untuk meninggalkan orang-orang yang disayanginya, terutama ayah dan kakak kembarnya.


Kenapa? Kenapa seumur hidupnya tidak pernah merasakan betapa indahnya, betapa menyenangkannya, betapa bahagianya memiliki keluarga yang lengkap? Ah sudahlah, Silvia akan menjadi orang paling tidak bersyukur jika dia terus mengeluh tentang kehidupannya.


"Kenapa, hm?"


Suara berat milik sang ayah berhasil membuyarkan lamunannya.


"Eh, nggak papa, kok."


"Beneran?"


"Heem."


Setelahnya, kembali hening. Semua orang itu fokus pada minuman hangatnya masing-masing.


"Dad?" panggil Nan yang berhasil membuat semua atensi keluarganya terarah padanya.


"Kenapa, bang?" tanya Sean.


Diam sebentar, Nan menyunggingkan senyumannya.


"Mau ujan-ujanan."


Mereka saling pandang sebelum akhirnya tertawa bersama.


"No, no, no. Dingin, nanti kalian sakit."


Ran dan Silvia memberengut, mencoba mendalami peran yang sedang mereka mainkan.


"Tenang saudara-saudaraku, nanti kalo daddy lagi ke dapur, kita kabur," ujar Nan.


"Kalo kalian berani ujan-ujanan, daddy buang semua mainan kalian."


Keempatnya tertawa lagi. Ingatan mereka berputar pada kejadian belasan tahun lalu dimana Sean kecolongan hingga anak-anaknya hujan-hujanan tanpa sepengetahuannya.


"Waktu kecil kalian lucu." gumam Sean.


"Emang sekarang, nggak?"


"Cuma adek yang lucu. Kalian berdua mah nggak."


"Jahat."


"Kejam."


Sean dan Silvia tertawa keras mendengar respon kedua laki-laki itu.

__ADS_1


Dulu, harapan Silvia adalah bisa sembuh, tapi sepertinya itu terlalu sulit untuk terkabul. Karenanya, kini keinginannya adalah terus hidup bahagia seperti ini bersama keluarganya.


...***...


__ADS_2