
"Udah disiapin semua ? Ada yang ketinggalan gak ?" Sean memandang ransel sang putri beserta dua ransel lainnya. yang pastinya milik si kembar.
"Kayaknya nggak deh dad," Silvia mencoba mengingat-ngingat apa saja yang harus dibawanya untuk camping dan dia rasa tidak ada yang tertinggal.
"Kamu yakin mau ikut ?"
Yang ditanya hanya memutar mata malas. Dia sudah mendengar perkataan yang sama keluar dari mulut sang ayah puluhan kali, dia sampai bosan mendengar nya.
"Oke maaf," Melihat keterdiaman si bungsu, Sean pun meminta maaf. Dia tahu jika dirinya sudah membuat si bungsu kesal. Tapi salahkah dirinya ? Sebagai seorang ayah, tentu Sean khawatir pada kondisi putrinya. Apalagi Silvia itu mudah lelah, dia juga tidak punya pengalaman apapun soal camping, wajar bukan jika Sean khawatir ?
"Ran!! Nan!! Lama banget sih, kaya cewek aja," Sean sedikit berteriak saat si kembar tidak kunjung keluar dari kamarnya.
"Iya dad, bentar!!"
Mereka baru keluar setelah 5 menit. Si kembar sudah rapi, pakaian pramuka lengkap, baret yang diselipkan diatas pundak dan kacu yang mengantung di leher membuat si kembar terlihat sempurna.
"Let's go!!" Nan berteriak heboh membuat ketiga orang itu menggeleng melihat kelakuan nya.
***
"Berangkat ya dad," Silvia mencium tangan ayahnya saat mereka sudah sampai di depan sekolah.
Hari ini di luar gerbang, banyak orang tua yang mengantar kepergian anak mereka untuk acara camping sekolah, sama dengan yang Sean lakukan saat ini, mengantarkan kepergian anak-anaknya.
"Bareng dongg... Ranselnya berat lohh. Minta sama kakak atau abang aja buat bawain," Sean menahan kepergian silvia yang hendak membuka pintu mobil.
"Emm... Duluan aja dad, soalnya kelompok aku udah pada nunggu kayaknya," Silvia beralasan.
Meskipun sedikit heran, tapi Sean tetap mengizinkan putri semata wayangnya pergi.
"Tunggu apa lagi hah ?! Cepet turun!" Suruh Sean saat melihat anak kembarnya hanya diam saja.
"Dad, puter balik deh dad. Kita ke supermarket bentar," usul Ran membuat Sean dan Nan mengerutkan kening nya.
"Mau apa ? Snaknya udah bawa dari rumah kan ?"
Ran memutar otak. Alasan apa yang akan ia pakai untuk mengelabui ayahnya kali ini ? Tidak mungkin bukan jika mereka keluar dari mobil sekarang juga ? Nanti yang ada para siswa malah curiga lagi.
"Emm beli yakult sama susu dad. Kayaknya si adek lupa gak bawa deh. Daddy tau sendiri kan kalo dia gak bisa hidup kalo nggak minum susu sehari aja ?" Ran merasa idenya sangat briliant. Pasti Sean tidak akan curiga.
"Bener tuh dad. Sekalian beli adem sari," Tambah Nan.
"Yaudah," Sean memutar kemudi.
Tentu dia sangat tahu kebiasaan bungsunya itu. Sean itu penggila minuman berbahan dasar susu, apalagi susu fermentasi seperti yakult dan yogurt. Dia sudah biasa meminum minuman fermentasi itu setiap hari dan susu dia minum saat pagi dan malam hari. Pernah suatu hari mereka kehabisan susu, dan Silvia yang saat itu berusia 5 tahun menangis tanpa henti bahkan bujukan Sean, Ran dan Nan pun tak mampu menghentikan tangisnya. Alhasil Sean harus pergi ke supermarket di jam 11 malam hanya karena tangisan Silvia. Dan Sean tidak bisa membayangkan jika gadis itu akan histeris meminta susu di tengah hutan. Ohh tidak, itu mengerikan.
...***...
Silvia memandang jendela di samping nya. Dia tidak punya teman untuk di ajak mengobrol. Sekarang saja dia duduk sendiri di bangku bis untuk dua orang. Terlihat menyedihkan memang. Disaat siswa lain sibuk mengobrol tentang aktivitas di perkemahan nanti, dia hanya bisa diam dan menyimak. Silvia tahu, keputusan dan keinginannya untuk ikut camping bukanlah hal yang mudah. Dia tidak punya teman sama sekali, dan sebuah keberuntungan jika saat ini ada kelompok yang merekrut nya jadi anggota. Apa dia akan baik baik saja nanti ? Ohh tentu saja, dia sudah 15 tahun. Semuanya akan baik baik saja.
Gadis berusia 15 tahun itu menoleh saat merasa ada yang duduk di sampingnya. Dan matanya membelakak kaget saat melihat wajah orang itu.
Randika dengan senyum manisnya.
Silvia sedikit melotot, seakan menanyakan apa yang dilakukan Ran di samping nya. Dia tidak ingin menjadi perbincangan siswa lain karena dia duduk dengan pratama putra yang terkenal tampan itu.
"Kenapa ? Gak ada yang duduk di sini kan ?" Ran bertanya santai, seakan tahu arti dari tatapan Silvia.
Benar sih, tapikan...
Silvia baru saja akan memprotes saat tiba tiba terdengar suara gaduh dari depan sana.
"Bapak pratama mana woyy ?! Anjir lah gue ditinggalin."
Sudah jelas itu suara Nan. Dia berjalan menyusuri bangku bangku bis sambil membawa gitar, diikuti oleh teman-teman seperbar-barannya di belakang, Theo, Malik, Dimas, Joo, dan Jevan.
"Wahh anjirrr, gue cariin juga. ternyata lo udah ada disini," Nan menatap kakaknya sinis setelah tahu jika wanita yang ada di samping Ran adalah adiknya. Semua pasang mata menatap ke arah mereka. Silvia merutuk dalam hati, dia tidak henti hentinya menyumpah serapahi Nan yang kini membuat nya jadi pusat perhatian lagi. Awas saja, Silvia akan mencakar wajah tampan itu jika sudah sampai di rumah nanti.
__ADS_1
"Minggir lo kak. Gue mau duduk di sini," Usirnya yang sama sekali tidak digubris oleh Ran. Walaupun bar-bar begini, tapi Nan masih punya sopan santun, dia akan tetap memanggil Ran dengan embel-embel kakak.
"Sana aja. Tempat duduk kan masih banyak."
"Gue maunya di sini," Nan bersikukuh.
"Udah sih Nan, kita duduk di belakang aja, sekalian bisa nyanyi nyanyian," Theo merangkul pundak Nan, lalu menariknya.
"Eh, eh, gue gak mau," Nan memberontak dalam rangkulan Theo. Kepalanya dia tolehkan ke belakang, menatap kakak dan adiknya.
"Udah diem napa sih Nan," Dimas yang mulai jengah dengan tingkah Nan pun menegur.
"Sialan lo pada. Awas aja ya kak, gue bakalan bales dendam sama lo," ancam Nan. Enak saja Ran berduaan dengan Silvia, Nan tidak akan membiarkan nya.
Silvia meremat ujung hoddie yang dikenakan ran diam-diam. Dia merasa terusik dengan tatapan para siswa yang menatap nya intens. Ran menoleh saat merasakan rematan kecil pada hoddienya. Dia melihat sang adik yang duduk dengan gelisah di samping nya. Dan seakan tahu apa yang Silvia rasakan, Ran pun berdiri,
"Adek-adek, silahkan diminum obatnya kalo ada yang suka mabuk perjalanan"
Para siswa mengalihkan perhatiannya dan mulai fokus lagi pada kegiatan masing-masing lagi setelah mendengar perkataan Ran.
"Woy kak!! Adem sari gue mana ?! Gue mau minum," Nan berteriak dari belakang sana. Dia dan komplotannya memang duduk di bangku bis paling belakang-- agar bisa rusuh tentu saja.
"Gada," Ran menjawab singkat.
"Yaelah, siniin gak ?!" Nan menghampiri kakaknya yang duduk di kursi pertengahan.
"Apaan sih Nan ?! Kita belum berangkat ya, masa lo udah mau minum soda sih, ntar mabuk lagi. Kan gue juga yang repot," cibir Ran.
Nan mendengus lalu kembali ke tempat duduknya dan memulai kerusuhan bersama teman temannya, nanyi-nanyi tidak jelas. Sampai akhirnya nanyian mereka harus terhenti saat guru pembina pramuka--Pak Titan datang dan mengatakan bahwa mereka akan segera berangkat.
"Kamu laper ?" Ran bertanya saat mereka sudah satu jam menempuh perjalanan, sedangkan jarak antara sekolah dan bumi perkemahan memakan waktu sekitar dua setengah jam. Jadi masih ada satu setengah jam sebelum mereka sampai di buper.
"Mau ngemil ? Atau roti ?" Ran mencari cemilan di kantung kresek yang ia bawa, karena ransel siswa dan Dewan ambalan disimpan di bagasi bis.
Silvia menggeleng.
Sang adik memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti. Bukankah dia tidak membawa susu ?
"Ini. Tadi kakak mampir ke supermarket sama daddy pas kamu udah masuk ke sekolah," Ran memberikan susu yang sudah ia pasangkan sedotannya pada adik bungsunya.
"Nggak boleh. Kalo kamu mau yakult, harus makan roti dulu," Ran menggeleng tegas saat tangan Silvia menunjuk yakult yang ada di dalam kantung kresek. Ran hanya tidak ingin adiknya sakit perut. Yakult adalah minuman fermentasi yang sudah bisa dipastikan bahwa rasanya pasti asam. Silvia baru sarapan nasi goreng sedikit tadi pagi jadi dia tidak akan membiarkan Silvia meminum yakultnya jika gadis itu masih menolak untuk makan roti. Ditambah keadaan di dalam bus yang ribut beserta sejuknya AC dan perjalanan yang luak-liuk, pasti itu akan membuat perut terasa diaduk aduk jika minum/makan yang asam asam.
Silvia menerima susu dari kakak pertamanya dan meminumnya perlahan. Sejujurnya dia merasa ada yang aneh pada dirinya. Tapi mungkin itu bukan apa apa. Ini kali pertamanya bepergian jauh mengunakan bis jadi mungkin itulah sebabnya. Dia hanya belum terbiasa.
"Dek, kamu kenapa ?" Ran bertanya panik saat melihat adiknya yang sepertinya sedang menahan sesuatu.
Silvia hanya menggeleng. Perutnya terasa diaduk aduk. Kepalanya pusing. Rasanya dia sangat mual sampai sampai ingin muntah.
"Dek--"
Uuooo....
Belum sempat Ran menyelesaikan perkataannya, sebuah cairan putih lebih dulu mengguyur celana pramuka nya.
"Dek ?" Ran terlihat panik saat melihat adiknya yang seperti kehabisan tenaga setelah memuntahkan susu yang beberapa saat lalu diminum nya. Benar dugaan Ran. Berada di dalam bis dengan AC yang menyala, teriakan berisik orang orang dan jalan yang meluak-liuk akan membuat siapa saja merasa perutnya diaduk aduk. Apalagi adiknya habis meminum susu dan sama sekali belum pernah naik kendaraan umum seperti bis. Ran memaklumi.
Bukannya merasa jijik, Ran malah melepas hodie yang dikenakannya lalu mengelap sekitaran mulut sang adik yang berwarna putih akibat susu yang dikeluarkannya tanpa peduli pada celananya sendiri.
"PMR... minta minyak angin sama tisue!!" Ran sedikit berteriak tanpa menghentikan kegiatannya mengelap mulut adiknya.
Ran sendiri hanya pasrah saat kakak pertamanya memperlakukannya seperti itu. Dia terlalu lemas untuk menghentikan kakaknya. Kali ini dia tidak peduli jika semua siswa tahu rahasianya.
Banyak siswa yang tertidur namun ada juga yang masih mengobrol bersama temannya atau sekedar menikmati pemandangan di luar jendela bis. Para siswa yang masih terjaga itu mencari sumber suara. Begitupun dengan Nan and the gang di belakang sana yang masih menyanyi nyanyi tidak jelas. Nan tentu hafal suara siapa yang meminta tisue dan minyak angin. Dengan perasaan khawatir, dia berjalan menghampiri tempat duduk kakak dan adiknya. Seketika, matanya membelalak melihat apa yang terjadi.
"Dia kenapa kak ?!" tanyanya panik, membuat para siswa terbangun dan menatapnya.
"Muntah," Ran mengangkat wajah adik bungsunya agar sedikit mendongak, lalu mengelap leher putih Silvia yang terdapat sisa muntahnya sendiri .
__ADS_1
"Anjirrr, lo racunin ya?!" tuduh Nan.
"Bacot! cepet ambilin tisue sama minyak angin!"
Oh iya, Nan sampai lupa jika tadi Ran meminta tisue dan minyak angin.
"Woyy PMR mana sih anjirrr ? cepetan tisue sama minyak anginnya!!" Nan tidak peduli jika di dalam bis ada guru pembina pramuka, karena yang dia pikirkan saat ini hanyalah keadaan adiknya.
Naya, sebagai ketua PMR datang dengan tergesa menghapiri Ran dengan beberapa anggotanya dan guru pembina yang ikut berkumpul.
Para siswa kini mengerubuni kursi Ran untuk melihat apa yang terjadi. ada beberapa diantara para siswa itu yang jijik melihat cairan putih di celana Ran.
"Woyy apaan sih anjirrr!! sana duduk di tempat masing-masing. Sesek nih," marah Nan.
"Iya, kalian duduk di kursi masing masing. Nanti malah ikut ikutan pengin muntah lagi," Pak Titan, sebagai pembina pramuka menyuruh anak didiknya yang langsung dipatuhi oleh mereka.
"Jae.. " Panggil Naya saat melihat Ran tanpa jijik mengelap belas muntakan Silvia. Itu seharusnya dilakukan oleh PMR sepertinya.
"Udah gak papa. Mana tisue nya?"
Naya memberikan tisue itu pada Ran dan Ran dengan telaten mengelap wajah Silvia dengan tisue basah agar tidak bau anyir.
"Mending kalian istirahat aja. Dia, biar gue yang urus."
"Tapi gue PMR nya. Mending lo minggir, biar gue yang urus dia."
Tatapan mata yang tadinya syarat akan kekhawatiran kini berubah menjadi tatapan tajam penuh intimidasi.
"Lo gak denger barusan gue ngomong apa ?!"
"T-tapi--"
"Yaudah Ran, kalo butuh sesuatu tinggal bilang aja," Pak Titan menggiring Naya pergi. Jujur saja, Pak Titan merasa takut melihat tatapan mata Ran tadi.
"Daddy nih. Angkat sana," Ran mengeluarkan ponsel nya yang berdering lalu melemparnya pada Nan saat tahu bahwa Sean lah yang menelpon. Biarkan Nan dengan mulut ceplas ceplos nya yang menghadapi ayahnya.
"Ha-hallo dad," Sapanya gugup.
"Loh, kok kamu jaem, perasaan daddy nelpon kakak kamu deh."
"Hehe... Nih orang nya lagi ngebo dad. Aku ambil aja HP nya pas geter terus, eh ternyata daddy handsome yang nelpon. Kenapa dad ? kangen ya sama Nandika yang tamvan ini ? yaelah dad, baru juga pisah beberapa jam yang lalu, masa udah kangen aja sih ?" Nan nyerocos panjang lebar.
Benarkan ? Ran tidak salah, biarkan kali ini Sean pusing sendiri menghadapi bacotan anak kedua nya itu.
"Dih PD banget kamu. Daddy cuma khawatir sama si adek. Dia belum pernah naik kendaraan umum kaya bis. Daddy takut dia gak bisa nyesuain diri."
Nan melirik Silvia yang terkapar tidak berdaya samping kembarannya, dia berdehem sebentar untuk mengenyahkan rasa gugup yang menghampirinya.
"I-itu... jangan khawatir dad. Nih orangnya lagi ngebo sama kak Ran," Nan menguap, hanya pura-pura, "Udah dulu ya dad, aku juga ngantuk. Mau bobok guanteng dulu. Bhayyy," dan mematikan sambungan secara sepihak.
"Nih," Dia menyerahkan ponsel yang sedang dipegangnya pada pemiliknya.
"Tar, pegangin dulu," Ran mengelap celana yang tadi terkena muntahan Silvia dengan tisue basah. Agak risih memang dengan rasa basah yang menyentuh kulitnya. Tapi tidak apa-apa selama adiknya baik-baik saja.
"Gila lo!!" Nan mengedarkan pandangannya lalu sengaja menutupi tubuh Ran yang sedang mengoleskan minyak angin pada perut Silvia. Kakaknya memang tidak punya akhlak, kenapa dia tidak tahu tempat sih ? dia laki-laki, sedangkan Silvia perempuan tapi dia malah dengan seenak jidatnya mengoleskan minyak angin pada bagian dalam tubuh Silvia. Para siswa bisa berpikir yang iya-iya nanti.
"Gak adil lo, menang banyak klo gini caranya. Pokoknya pas pulang nanti, gue yang duduk sama dia."
"Bacot!! ambilin air buat minum."
Walaupun dengan gerutuan, tapi Nan tetap melakukan apa yang Ran suruh.
"Minum dulu," Ran membantu adik bungsunya minum, setelah itu memberikan air mineral itu pada Nan-- menyuruh nya menutup dan menyimpan kembali. Ran menandarkan kepala Silvia di pundaknya. "kamu tidur lagi aja. Nanti kakak bangunin pas udah sampe," Katanya. Silvia hanya menurut.
"Ngapain masih di sini ? udah sana pergi!!"
"Bangsat!! awas aja lo kak," Nan mengumpati kakaknya lalu segera pergi menuju kursinya dengan gerutuan dan sumpah serapah untuk kakak biadabnya.
__ADS_1
...***...