
"Biasa aja dong."
"Lah, yang dari tadi marah-marah terus siapa? Kok malah nyalahin sih?"
"Tau ah. Ngeselin!" Silvia menghentakkan kakinya, merasa kesal pada kakak keduanya karena tidak mau mengalah ketika berdebat dengannya.
"Dih ngambek." ledek Nan. Dia menyamakan langkahnya dengan sang adik, sedangkan Ran berjalan di belakang mereka dengan kalem.
"Bodo."
"Ululuuu.... lagi PMS mbak? marah marah mulu sih," si tengah sengaja mencubit pipi adiknya, ingin membuat gadis itu marah padanya. Melihat wajah adiknya yang sedang kesal adalah hiburan tersendiri untuknya.
"ABANGG!! MAU AKU TIMPUK HAH?!" marahnya, dia hendak membuka sepatunya jika saja pintu utama rumahnya tidak terbuka.
"Kenapa teriak teriak? Cewek kok gitu sih." Orang yang baru saja membuka pintu menyindir Silvia secara terang-terangan.
"N-nenek?" Gadis itu terbata, hatinya mulai dilingkupi rasa takut saat tahu nenek nya ada di rumahnya.
Mengabaikan pertanyaan atau mungkin gumaman Silvia, nenek malah bertanya pada Nan,
"Kamu baik-baik aja kan?" tanyanya penuh rasa khawatir. Tangannya yang sudah mulai kriput membulak balik wajah tampan cucunya.
Tahu maksud dari perkataan sang nenek, Nan tertawa canggung, "A-aku baik-baik aja kok. Si adek cuma bercanda doang," Kekehnya, padahal tidak ada yang lucu. Dia hanya sedang berusaha untuk tidak terlihat gugup di depan neneknya sendiri.
Silvia menunduk, dia tahu setelah ini dia akan disalahkan oleh neneknya.
Si sulung yang dari tadi hanya berdiri dan memperhatikan dari belakang pun maju, lalu merangkul pundak adik bungsunya. Dia tahu, dia sangat tahu bahwa Silvia sedang ketakutan sekarang.
"Kamu--"
"Nek," Ran menyela, dia memaksakan senyumnya, "bicara di dalem aja ya," pintanya, mencoba untuk melindungi sang adik dari tuduhan neneknya.
Tidak ada alasan bagi nenek untuk menolak permintaan cucunya. Dia sangat menyayangi si kembar, jadi dia tidak mungkin menolak.
"Kita ganti baju dulu ya nek."
Nenek mengelus rambut Ran dan Nan sayang, "Jangan lama-lama. Nenek udah masakin makanan kesukaan kalian."
Kesukaan kalian, maksudnya hanya kesukaan Ran dan Nan saja. Karena Silvia yakin bahwa nenek tidak akan mau memasak untuknya.
"I-iya."
...***...
"Syalan! kenapa nenek mesti ke sini segala sih?!" Nan menjambak rambutnya frustrasi karena kedatangan sang nenek yang terkesan tiba-tiba.
"Jangan diem aja dong kak!" bentaknya pada sang kakak. Bagaimana dia tidak membentak, disaat dia sedang pusing tujuh keliling, kakaknya itu hanya duduk di tepi tempat tidur sambil menopang dagu.
"Makan dulu yuk."
Nan sama sekali tidak menyangka bahwa respon kakaknya akan seperti itu. Disaat keadaan sedang genting seperti ini, dia malah mengajak makan. Tidak ada akhlak!
"Kok makan sih jir?!" kesalnya.
"Iyalah. Nanti nenek malah curiga lagi sama kita," Si sulung beranjak meninggalkan kamar, meninggalkan Nan yang sedang menyumpah serapahinya di dalam hati.
...***...
"Makan yang banyak ya. Kalian udah makin kurus sekarang."
Kata 'kalian' bagi nenek itu hanya Ran dan Nan, tidak termasuk Silvia di dalamnya. Tapi tidak apa, dia sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh neneknya sendiri.
Nenek mengambilkan si kembar nasi dan lauk dengan telaten. Sedangkan cucu perempuannya disuruh mengambil sendiri dengan alasan bahwa Silvia itu perempuan, jadi harus bisa mandiri. Padahal Silvia juga ingin merasakan bagaimana rasanya diperhatikan oleh neneknya sendiri. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.
...***...
"Nek, aku ke kamar dulu ya, ada banyak tugas," Silvia meminta izin pada neneknya. Bukan apa apa, hanya saja dia merasa bahwa kehadirannya disana juga tidak diinginkan dan tidak dianggap. Neneknya dari tadi terus bertanya ini itu pada kedua kakaknya, tapi dia diacuhkan. Sungguh, hatinya tidak sekuat itu untuk menerima ini semua.
"Yaudah sana," Nenek menjawab dengan sinis, tanpa menoleh pada ketiganya sedikitpun.
Gadis cantik itu tersenyum kecut. Neneknya benar benar membencinya. Terbukti dari cara wanita tua itu memperlakukan ketiga cucunya dengan berbeda. Ran dan Nan yang diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang, sedangkan dia yang terus dibenci dan tidak pernah dianggap oleh neneknya.
Silvia menanggap sikap nenek padanya itu wajar, karena nenek hanyalah seorang ibu yang bersedih ketika putrinya harus tiada. Putrinya, Yani, harus meninggal karena melahirkannya.
Tapi hei, apa ini semua memang murni kesalahannya? maksudnya, apa Silvia pernah memilih untuk hidup seperti ini? jika bisa memilih, dia lebih memilih untuk tidak dilahirkan sama sekali ketimbang kedua kakaknya yang harus kehilangan ibu, ayahnya yang harus kehilangan istri dan neneknya yang harus kehilangan anak.
Tapi pernahkah nenek berpikir, jika dibandingkan dengan mereka semua, Silvia lah yang paling tidak beruntung, yang paling tersakiti, yang paling menderita? Ran dan Nan masih bisa merasakan pelukan, gendongan, dan ciuman dari ibunya walau mungkin mereka tidak mengingatnya karena saat itu mereka masih kecil. Tapi Silvia? Bahkan saat dirinya membuka mata untuk yang pertama kalinya, dia tidak bisa melihat ibunya. Tidak pernah merasakan dekapan hangatnya, ciuman kasih sayangnya.
Kadang, sebuah tanya hampir dibenaknya, apa ibunya menyesal karena telah melahirkannya? Melahirkan anak lemah berpenyakitan yang selalu menyusahkan ayah dan kedua kakaknya seperti dirinya? Seharusnya Silvia tidak pernah lahir, karena mungkin pada akhirnya, cepat atau lambat dia juga akan menyusul ibunya karena penyakit yang dideritanya saat ini.
Neneknya memang membencinya, tapi Silvia masih bersyukur karena orang terpenting dalam hidupnya-- Sean, sang ayah masih tetap menyayanginya. Oh, atau mungkin tidak? mungkin saja dalam hati kecil ayahnya terbesit rasa marah / benci padanya. Mungkin saja Sean muak melihat wajahnya. Wajah dari anak yang sudah membuat istrinya tiada.
Tidak Silvia! jangan berpikir seperti itu! apakah pantas kau menuduh orang yang paling menyayangimu? yang merawatmu dari kecil? yang paling berjasa dalam hidupmu setelah ibumu? Tidak bukan?! jangan berpikir yang macam macam tentangnya. Dia menyayangimu. Sangatt! kau harus ingat itu.
Oh, mengingat itu semua, membuat Silvia tiba-tiba jadi rindu pada ayahnya. Dia ingin memeluknya, menangis sekencangnya dan mengatakan ribuan kata terima kasih atas jasanya. Dia ingin mengatakan bahwa dia sangat menyayangi malaikat tak bersayapnya itu.
Ah, membayangkannya saja sudah membuatnya ingin menangis saat ini juga. Sebelum air mata benar benar keluar, Silvia sesegera mungkin pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya.
Setelah menutup pintu kamar, tubuh kecilnya merosot ke lantai, air mata mulai berlomba keluar dari pelupuk matanya, mulutnya sengaja dia tutup dengan tangan agar isakannya tidak terdengar.
"Da-ddy... hiks, maaf, aku hiks aku nge-bunuh mommy."
"Aku hikss.... " Dia tidak meneruskan perkataannya karena merasa tidak kuat lagi, "Aku sayang daddy," Lirihnya.
Gadis cantik berambut panjang itu tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya. Dia mendongakkan kepalanya. "Kak Ran?"
Ya, orang itu Randika. Dia tahu bahwa adik bungsunya sedang tidak baik baik saja, jadi dia memutuskan untuk menyusulnya ke kamar, dan ternyata dugaannya benar, adiknya sedang menangis tersedu.
Tangannya terulur untuk menghapus air mata di wajah pucat sang adik, "Jangan nangis, kakak sedih liatnya," dia kembali memeluk tubuh mungil itu, sesekali menciumi wajahnya yang masih terdapat jejak air mata, "Kamu gak sendirian, kakak akan selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi."
Hati kecilnya mulai merasa tenang mendengar perkataan kakaknya. Benar, dia tidak sendirian, masih ada ayah dan kedua kakaknya yang akan selalu menyayanginya. Hanya karena neneknya membencinya, bukan berarti semua orang juga membencinya bukan? lagipula, tidak peduli seberapa banyak orang yang membencinya, dia akan baik baik saja selama ada ayah dan kedua kakaknya.
"Mending kakak keluar, nenek pasti nyariin kakak," suruhnya setelah mengurai pelukan keduanya.
Tersenyum kecil, Ran merapihkan rambut panjang adiknya yang sedikit berantakan, "Mau ikut sama kakak?" Tanyanya.
"Ke..hiks mana?"
"Jalan-jalan."
"Tapikan, nenek--"
"Biar bang Nan yang urus."
"Oh, Nggak papa, aku disini aja," tolaknya. Dia hanya merasa kasihan jika Nan menghadapi neneknya seorang diri, ya walaupun neneknya tidak menggigit sih:)
Ran bangkit, lalu menarik tangan Silvia untuk ikut bangkit berdiri.
"Cuci muka dulu sana," Suruhnya.
__ADS_1
"Tapikan--"
Tidak menggubris perkataan adiknya, Ran mendorong tubuh saudaranya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
...***...
"Mau kemana?"
Nan menggigit bibir bawahnya resah. Dia tidak bodoh untuk mengetahui jika adiknya habis menangis. Terbukti dari wajahnya yang sembab dan matanya yang memerah.
"Ke tempat fotocopyan nek."
"Ngapain?"
"Ngeprint tugas."
"Terus dia? katanya kamu banyak tugas? kok malah ikut sih."
Silvia menunduk, tidak berani menatap neneknya.
Ran yang tahu ketakutan sang adik pun menggenggam tangan kecil itu semakin kuat, seakan menenangkannya.
"Adek juga mau ngeprint tugas katanya. Jadi sekalian aja."
"Yaudah sana, tapi jangan lama lama."
"Nggak janji," Batin Ran.
"Iya" tapi itulah yang keluar dari mulutnya.
Nan memandang kakaknya seakan berkata,
"Gila lo! kenapa kalian malah pergi?! tega bener ninggalin gue sendirian! "
Tapi Ran hanya mengedikkan bahunya acuh. Dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan adiknya, termasuk mengorbankan adiknya yang lain. Lagipula nenek tidak akan pernah membentak atau memarahi Nan. Jadi ya sudahlah.
...***...
"Yuk naik."
Silvia menatap kakaknya bingung. Sungguh? Ran mengajaknya jalan jalan menggunakan sepeda yang biasanya di pakai si kembar saat SD? tidak salah?
"Kakak--"
Sebelum Silvia menuntaskan perkataannya, Ran lebih dulu menariknya hingga kini gadis itu duduk di menyamping di depannya.
Ran mulai mengayuh sepedanya keluar dari pekarangan rumah, dengan satpam yang membukakan pintu gerbang untuk kakak beradik itu.
Silvia berpegangan erat pada tangan Silvia.
percaya tidak percaya, ini pertama kalinya dia naik sepeda. Jadi dia sedikit merasa takut.
Sang kakak yang tahu ketakutan adiknya hanya terkekeh pelan. Demi apapun, wajah Silvia yang sedikit sembab dan raut wajahnya kini benar lucu. Jika memungkinkan, Ran ingin sekali mengabadikannya, tapi sayang, dia tidak membawa ponselnya.
"Kok ketawa sih?"
"Kamu lucu," Dia mencubit hidung sang adik gemas.
"Jangan dilepasin!!" Teriak Ran heboh saat kakaknya melepaskan satu tangannya pada stir sepeda dan malah mencubit hidungnya.
Lagi, yang lebih tua terkekeh,
"Dek, mau itu gak?" Tanyanya, menunjuk penjual telur gulung yang sedang mangkal di depan pintu kompleks bersama penjual makanan yang lainnya.
"Emang boleh?"
Bukannya apa. Silvia bertanya seperti itu karena selama ini dia selalu makan makanan yang terjamin kehigienisannya. Ayahnya juga tidak pernah mengizinkannya memakan jajanan luar. Itulah sebabnya dia sangat senang ketika Ran dan Nan membawakannya makanan dari kantin sekolah ketika mereka masih kecil.
"Kakak gak akan bilang sama daddy kok."
Tersenyum cerah, mata gadis itu berbinar mendengar penawaran dari sang kakak.
"Mauuu."
Mengangguk, Ran kembali mengayuh pedalnya menuju para pedagang yang ada di depan pintu kompleks.
Silvia menelan ludahnya susah payah, telur gulung di depannya terlihat sangat enak sekali.
"Pak, telur gulungnya 4 ya," Pinta Ran yang diangguki si penjual telur gulung itu.
"4? kok banyak banget sih?"
Ram mencium pipi mulus adiknya tanpa malu. Dia tidak berniat menjawab perkataan sang adik sedikit pun.
Setelah transaksinya dengan si penjual telur gulung selesai, Ran mendekati si penjual teh poci (masih zaman teh poci Ran?😭) lalu memesan 2 gelas(?).
"Yaelahhh, masih zaman ngedate pake sepeda kek gini?"
Tau-tau sebuah tangan sudah merangkul bahu Ran. Si pemilik bahu menoleh dan mendapati Joo, Theo, Dimas, Malik, Rendi, Chandra, dan Jevan ada di belakangnya.
"Ng-ngapain kalian di sini?" Tanyanya sedikit tergagap. Mereka... tidak mendengar ataupun melihat Silvia bicara kan tadi?
"Jajan. Laper boss," Theo menjawab.
"Laper mah makan. Lagian ya, kaya gak ada pedagang lagi aja, ngapain kalian malah kesini sih?" Ran tak habis pikir, ini kompleks perumahan dimana dia tinggal, dan tidak ada satupun dari mereka yang tinggal disini, lalu kenapa mereka harus jajan di sini?
"Yaelah, jajan mah dimana aja kali," Jengah Dimas.
"Lagian ini basecamp kita kita, yegak?" Malik menatap teman temannya meminta persetujuan.
"Lo aja sih gak pernah ikut ngumpul bareng kita kita," Tambah Chandra.
"Ran, para pedagang di sini itu langganan kita kita tau gak," Jevan angkat bicara.
"Ya deh, semerdeka lo pada aja," Jengah Ran.
"Eh, ngemeng-ngemeng, Nan mana? "
"Yee tolol!" Theo menoyor kepala Chandra, "Yakali ada orang lagi ngedate malah ngajak kembarannya buat ikut juga sih," lanjutnya. Chandra menggumam tidak jelas karena perlakuan Theo padanya.
"Bang telor gulung 3 sama es kelapa muda satu," Pesan Jevian.
"Samain bang," -- Malik.
"Gue siomay bang, sama es kelapa muda," -- Theo.
"Batagor bang, sama es campur," -- Rendi.
"Ketoprak sama es teh," -- Dimas.
__ADS_1
"Seblak bang, sama es susu," -- Joo (anjirr Joo😭)
"Cilor bang kek biasa, sama es campur. Eh, sekalian tahu bulatnya 3000 bang," -- Chandra. (Pliss deh Chan😭)
Mereka mulai ribut memesan jajanan masing-masing, Silvia menggunakan kesempatan itu untuk menyenggol lengan kakaknya.
"Eh, guys kita balik dulu ya," pamit Ran yang tahu tentang ketidak nyamanan sang adik.
"Eh, ntar dulu dong. Kita kumpul kumpul disini dulu," Cegah Chandra, tangannya tak tinggal diam, dia menyomot ketoprak Dimas menggunakan krupuk.
"Tau lo, kan jarang-jarang kita kumpul kek gini," Timpal Theo sambil asik memakan siomaynya.
"Ntar dulu lah bro, kita nyantai aja dulu," Dimas ikut ikutan mempropokasi Ran.
"Ngaso dulu lah," Jevan memakan telor gulungnya dengan lahap.
"Happy happy dulu kita," Joo meniup niup seblaknya yang masih mengepul lalu menyuapkan makanan pedas itu kemulutnya
"Heem bang. Ajak Nan sekalian," Malik juga ikut ikutan😭Hanya Rendi yang tetap diam.
Ran menumpukkan dagunya di pundak Silvia. Dia berbisik pelan, tepat di telinga sang adik.
"Bentar doang ya, kakak gak akan biarin mereka macem-macem sama kamu kok."
Setelah mengatakan itu, Ran menjauhkan wajahnya dari pundak sang adik.
"Oke, bentar aja," katanya. Teman temannya bersorak senang mendengarnya.
Silvia mengunyah telur gulungnya dengan canggung karena sesekali Ran dkk akan mencuri pandangan padanya.
"Duduk lah Ran, masa di situ terus sih."
"Gak ah, enakan juga disini, bisa mesra-mesraan," Ran merangkul pundak adiknya, seakan menenangkannya.
"Silvi, mau kenalan gak?" Chandra menaik turunkan alisnya, membuat gadis takutt.
"Mau gue getok pala lo?!"
"Ye kalem dong, kan gue cuma ngajak kenalan doang."
"Sensi amat lu," Joo menimpali.
"Gue balik ya," Ancam Ran saat teman temannya tidak bisa diam.
"Santa--"
"Anjir ya lo. Ninggalin gue sendirian, eh lo nya malah seneng-seneng di sini," Perkataan Joo terpotong oleh Nan. Remaja itu baru datang dengan napas memburu. Oh, jangan lupakan keringat yang membanjiri wajahnya.
Ram menatap kembarannya.
"Kok lo bisa ke sini sih?" Herannya.
Sebelum menjawab pertanyaan kakaknya, Nan mengambil napas dalam lalu menyerobot minuman Silvia tanpa permisi dan menegaknya habis.
"Ya bisalah gue--"
"Bukan itu tolol," Ran memukul kepala Nan pelan.
"Oh," gumamnya saat tahu maksud dari perkataan sang kakak, "Bang, es campur satu!" pesannya.
"Nan?!" Tegur Nan.
"Kalem dong Jiirr, gue kan haus," Nan berkata santai, "Bagi dong dek," Lagi, dia mengambil telur gulung adiknya. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran teman temannya yang kini sedang memperhatikan mereka.
"Nandika!!" Tekan Ran penuh peringatan.
"Ap-- eh, sejak kapan kalian disini," Dia tertawa canggung untuk menutupi keterkejutannya.
"Lah, kemana aja lo njiirr? kita dari tadi ada disini."
"Ya biasa aja dong bang. Gue kan gak tau," Sungutnya, "Dia yang bayar bang," dia menunjuk Ran saat pedagang es campur memberikan pesanannya.
Ran memutar mata malas. "Nenek gimana jirr?" Bisiknya.
"Lagi masak buat makan malem." Jawabnya.
"Lo kesini jalan kaki Nan?" Malik bertanya.
"Gak. Gue naik perahu," Candanya. "Bang telor gulung lima. Dia yang bayar," lagi lagi dia memesan sesuatu dan menyuruh orang lain membayarnya.
"Loh," Katanya saat sadar jika Silvia bersama mereka. Dia menatap Ran, seakan meminta penjelasan kenapa mereka masih tetap berada di sana padahal ada Theo dkk.
Ran balas menatap Nan. Matanya seakan mengatakan, "Pikir bego! Cari alesan biar kita bisa pulang!"
Diam sebentar sembari memakan telur gulungnya, Nan diam-diam berpikir.
"Aduhh perut gue sakit," keluh Nan memegangi perutnya. Dia merintih kesakitan. Tangan kanannya memegangi perutnya sedangkan tangan kirinya memegangi tangan Ran agar dirinya tidak limbung.
"Nan, lo kenapa?!" Teman-temannya panik, mereka mengerubuni Nan.
Silvia hendak turun dari sepeda, namun Ran menahannya.
"Nan lo kenapa?!" tanyanya, pura-pura panik.
"Perut gue sakit kak," rintihnya.
"Kita pulang sekarang," Final Ran.
"Eh, tapi nanti pacar lo gimana?" Jevan melirik Silvia.
"Gue bawa pulang dulu. Cepetan naik Nan!"
"Loh, naik sepeda? bonceng tiga?"
"Ya emang lo mau gendong gue sampe rumah?" Nan balik bertanya pada Chandra.
"Dih, ogah."
"Yaudah diem." kesal Nan. Dia menaiki boncengan belakangan sepeda kembarannya dengan tertatih. Seperti tadi, satu tangannya merangkul pundak kakanya sambil memegang plastik telur gulungnya, es campurnya dia titipkan pada Silvia dan duduk di depan, lalu tangan satunya lagi memegangi perutnya.
"Kita pulang dulu ya," pamit Ran.
Tanpa menunggu jawaban dari teman temannya lagi, tiga bersaudara itu pergi.
Setelah memastikan bahwa teman temannya tidak melihat mereka lagi, Nan kembali memakan telor gulung nya.
"Dek, minun dek," Pinyanya.
Sore itu, mereka bertiga berboncengan pulang ke rumah.
__ADS_1
...***...