
"Kakak sama abang kemana dad?" tanya Silvia pada Sean yang sedang menikmati kopi panas sambil memainkan ponsel nya di meja makan. Dia sendiri berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol yakult kesukaannya, lalu duduk di samping ayahnya.
"Belum bangun kali," Jawab Sean. Dia meletakkan ponselnya di meja, lalu beralih menatap anak ketiga nya yang sedang membuka tutup yakult nya.
"Kamu baik-baik aja kan selama camping?" Jelas sekali bahwa dia sedang khawatir. Terdengar dari nada bicara nya yang-- ah sudahlah.
Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, Silvia menegak yakult nya terlebih dahulu hingga tersisa setengah.
"Iya, daddy gak usah khawatir gitu kali" dengusnya geli.
Sean mengusap rambut panjang putrinya, dia tersenyum, senyum yang tidak bisa diartikan.
"Gimana rasanya camping? "
"Seruu banget. Aku bisa tau gimana bentuk asli sungai, gunung, sawah sama hutan. Terus pas pentas seni sama api unggun nya juga seruu bangett. Kak Ran keren banget pas jadi pemimpin upacara nya. Pas di gunung, bintangnya kaya banyak banget loh dad, mana bulannya gede lagi. Pokoknya seruuuuuu bangettt," silvia bercerita layaknya anak kecil yang sedang menceritakan pengalaman di hari pertama nya sekolah, sangat lucu hingga Sean tersenyum karenanya.
"Seru banget kayanya. Sampe sampe lupa sama daddy," Sean mendengus, "Daddy disini kesepian," candanya, walaupun itu nyata.
Sean terkekeh geli. Dia beranjak dari duduknya lalu berjalan memutari kursi yang diduduki ayahnya. Saat berada tepat di belakang sang ayah, Silvia memeluk pria tampan yang menjadi ayahnya itu dengan sayang, mengalungkan kedua lengannya di leher sang ayah dan meletakkan dagunya di pundak kokoh ayahnya.
Sean mengusap lengan bungsunya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain tersenyum. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ayah selain pelukan kasih sayang dari anak anakanya.
"Abang nyebelin," Adu Silvia tiba-tiba.
"Kenapa? "
Si cantik melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Masa dia ngikutin aku terus pas widegame."
"Kan bagus. Abang gak mau kamu kenapa-napa sayang."
"Ya tapi gak harus ngikutin juga kali."
"Wahhh, pelukan gak ngajak ngajak nihh," Sean yang tadinya akan menjawab perkataan Silvia terpotong karena ada yang mendahuluinya.
Kedua ayah dan anak itu memutar mata malas. Disana, diujung tangga, Ran dan Nan sedang berjalan menuju ruang makan, dengan rambut yang acak-acakan dan baju yang sedikit kusut. Sepertinya mereka baru saja bangun tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 19.15, yang artinya sudah hampir 6 jam mereka tertidur.
Si kembar duduk di kursi meja makan. Mereka berdua kompak merebahkan kelanya di meja, lalu mulai memejamkan matanya karena masih mengantuk.
"Kalo masih ngantuk kenapa malah bangun?" Sean bertanya, tak habis pikir dengan kedua anak kembarnya. Masih mengantuk tapi malah bangun, padahal tidak ada yang membangunkan mereka sama sekali.
"Laper dad elahhh."
"Loh, bisa laper juga ternyata."
__ADS_1
"Ngajak ribut nih bapak bapak."
Sontak Sean dan Silvia tertawa. Disaat sedang mengantuk seperti itu, Nan masih sempat sempatnya melawak.
"Biii, masih lama gak sih? Pangeran laper nih," Nan bertanya pada asisten rumah tangga keluarganya yang sedang memasak untuk makan malam.
"Bentar lagi."
"Yaelah lama. Lama-lama bibi nih yang aku makan" Nan menggumam.
Sean dan Silvia saling pandang, perkataan Nan barusan sedikit ambigu. 'Lama-lama bibi nih yang aku makan' itu bisa saja berarti... Sean menggelengkan kepalanya saat pikiran kotor terlintas di otak nya.
Hei otak, berhentilah bertraveling ria. Cukup diam di tempatmu! Jangan kemana-mana!
Maki Sean dalam hati.
"Berisik bert sih Nqn! Diem napa," Ran menyahut saat merasa terganggu oleh kembarannya yang tidak berhenti bicara.
"Suka suka gue lah. Mulut mulut gue yakali gue kudu diem bae."
Oke, Ran mengalah, tidak ada gunanya berdebat dengan Nan yang sudah pasti akan menang. Nandika itu memang... ah sudahlah.
...***...
"Ihhh, kenapa dipindah-pindahin terus sih?!" Silvia yang sedang berbaring di paha ayahnya berdecak kesal saat kakak keduanya itu terus terusan mengganti chanel TV yang sedang mereka tonton. Hari sudah berganti menjadi pagi btw.
"Huaaa..." Nan menguap tanpa menutup mulutnya, "Dad, deliv pizza dong dad," Pintanya.
Di hari minggu ini, Sean memang sengaja meliburkan para asisten rumah tangganya. Dia hanya ingin quality time bersama ketiga anaknya tanpa ada yang mengganggu.
"Mau pizza," Silvia menatap manik Sean penuh harap, seperti anak kucing yang minta untuk dipungut, membuat Sean tidak tega.
"Kak, tolong ambilin HP daddy!" Sean meminta bantuan Ran karena ponselnya berada di atas singel sofa di samping Ran.
Ran menurut, dia mengambil ponsel milik ayahnya lalu memberikan benda pipih itu pada pemiliknya.
Sang kepala keluarga pun menerima ponsel itu dan langsung memesan pizza yang diinginkan oleh anak-anaknya.
Sekitar 30 menit kemudian, pizza pesanan mereka pun sampai. Mereka memakannya sambil menonton sinetron yang Silvia inginkan. Oh, jangan lupakan minuman kesukaan masing-masing yang tergeletak diatas karpet beludru di depan si kembar. Secangkir kopi panas milik sang kepala keluarga, Jus buah milik si sulung, adem sari milik si tengah dan dua botol yakult milik si bungsu.
"Kwann... apwa akwu bilwangg, kawloo dia itwuu pelakwunya," Nan berkata dengan mulut penuh, menyebabkan suaranya terdengar kurang jelas namun masih bisa dimengerti oleh keluarganya.
"Iya, Nandika emang hebat, udah kaya cenayang aja," Sean memuji anak keduanya, namun dengan bada yang tidak ikhlas.
Nan menyugar rambutnya ke belakang menggunakan tangan kirinya yang bersih, sedang bersombong ria atas pujian dari ayahnya.
__ADS_1
Sontak kedua saudaranya langsung memegang kepala Nan dengan tangan kiri masing-masing.
"Dek, dek, pegangin dek, ini udah makin gede, bisa bahaya nantinya!"
"Apaan sih?! " Protes Nan, dia berusaha menyingkirkan lengan kedua saudaranya dari kepalanya sendiri.
"Takut kepalanya meledak." Silvia menyahut sambil cekikikan.
"Hah?!"
"Besar kepala itu bisa mengakibatkan kepala jadi meledak adikku sayang," Ran menjawab.
Mereka bertiga--- Sean, Ran dan Silvia tertawa. Sedangkan Nan memberengut kesal. Selalu saja dia yang diperlakukan seperti ini oleh keluarganya. Tapi tidak apa, dia tahu bahwa keluarga nya hanya bercanda. Lagi, dia akan baik-baik saja selama keluarganya bahagia.
...***...
"Dad?"
Sean yang sedang bersiap untuk tidur menengok ke arah pintu. Disana, di depan pintu kamar nya yang sedikit terbuka, menyembul kepala bungsunya.
"Kenapa sayang?"
Pintu bercat putih itu terbuka semakin lebar, dan ternyata tidak hanya Silvia, tapi Ran dan Nan juga ada di belakang gadis itu.
"Kakak sama abang mau tidur bareng," si bungsu menunjuk kedua kakaknya, membuat si kembar membulatkan matanya tidak percaya. Hei, Silvia yang punya rencana seperti ini, tapi kenapa malah mereka yang dikorbankan?
Sean terkekeh. Ada sedikit rasa ragu, apa kasur king size nya akan muat untuk mereka berempat? apalagi tubuh ketiga pria itu besar, hanya Silvia yang mungil. Tapi ya sudahlah, Sean merasa senang saat anak-anaknya masih ingin tidur bersama nya walau sudah SMA.
"Sini."
Silvia tersenyum senang, dia langsung membanting dirinya pada kasur king size ayahnya, lalu mulai berbaring, diikuti Nan yang tidur disebelah kirinya, dan disebelah kiri Nan, ada Ran. Jadi posisinya, sean-silvia-nan-ran.
Kebersamaan ini mengingatkan Sean pada kejadian beberapa tahun silam. Saat itu juga kedua anaknya yakin si kembar memaksa tidur dikamarnya dengan alasan ingin menjaga Silvia yang sedang sakit. Ah, mata Sean jadi memanas saat mengingatnya.
Grep
Sean tersentak dari lamunanya saat Silvia memeluknya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang ayah. Sean tersenyum, dia balas memeluk putrinya, mengusap punggung sempit itu, sesekali menciumi rambut hitam yang wangi itu.
"Gak adil. Masa meluk daddy sih," Nan protes.
"Biarin." Suara Silvia agak terendam oleh dada Sean.
Nan memeluk tubuh mungil adiknya, tangannya melingkar di pinggang sang ayah, diikuti Ran yang juga melakukan hal yang sama dengan kembarannya.
Sean tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Dia pikir dia tidak akan pernah bisa merasakan pelukan ini lagi karena anak-anaknya yang sudah besar. Tapi dia salah. Saat ini dia merasakannya lagi. Sea melepaskan pelukannya pada Silvia, lalu mengelus kepala Nan dan Ran. Tangan besarnya tidak sampai untuk memeluk tubuh sulungnya secara sempurna, jadi tangan kekar itu hanya sampai menyentuh tangan Ran yang memeluk mereka. Malam ini, keluarga mereka tidur bersama sambil berpelukan.
__ADS_1
...***...