Framia Radita

Framia Radita
Jemputan dan Izin


__ADS_3

Haii Reders.. Terimakasih udah mampir diceritaku.


Tolong tinggalin jejak yah..


Happy Reading...


🍍🍍🍍🍍


"Sit. kaya nya percuma deh kita jemput. tuh jemputan kak dita banyak banget.. itu supirnya kak Zain kan" Ujar Abel


"Ya iya sih.. tapi ini akan memompa keberanian gw buat minta izin"


"Alah kaya biasa aja. emang kapan lu sungkan sama ka dita"


"Ini mengenai gw pergi jauh dari dia dengan waktu yang lama. Dita pasti sedih, gw yakin di izinin, tapi gw gak yakin dia gak menderita. kita hanya punya satu sama lain bel sekarang. walau dulu ada ibu sama ayah. mereka juga sibuk. jadi dita gak pernah bisa menikmati liburan atau pacaran dengan tenang, selalu ingin cepat pulang jagain gw."


"Kalian kaya yang gak deket yah. soal nya sering berantem terus lu juga manggil kak dita cuman nama aja"


"Kita mah pada gengsian. hehe. kalo soal manggil nama itu ada ceritanya.


Flashback on


"Kak dita ikut main" Sita merengek minta ikut main bersama Dita dan teman teman nya. Dita memandang teman teman nya minta ijin.


"Dia adik kamu. kaya nya gak usah di


ajak deh anak kecil. kirain seumuran kamu nanti dia manja lagi minta ini minta itu." ujar salah satu teman dita.


"Dia gak manja ko. ajak aja yah." Dita ingin mengajak sita. tapi teman teman nya tetap tak mau mengajak sita. hingga akhirnya dita mengalah dan tidak ikut bermain bersama teman teman nya.


"Kak dita kenapa gak jadi ikut main sama temen temen kak dita"


"Mereka gak mau sita ikut. jadi kak dita mending main sama sita aja." Dita nampak sedikit berpikir apa alasan teman teman nya tak mau mengajak sita.


"Sita coba panggil kak dita pake nama aja. biar kamu gak keliatan masih kecil. lagian badan kamu juga besar.. siapa tau temen temen kak dita lain kali mau main bareng. ibi sama ayah juga manggil dita sama kakak. yah"


"Iya deh mulai besok aja ya kak"


"Sekarang."


"Harus ijin ibu dulu nanti sita dimarahin ibu"


"biar nanti dita yang bilang sama ibu. yah"


"iya.."


flashback off.


Abel melihat dita berjalan bersama Zain menuju keluar bandara.

__ADS_1


"Tuh kak dita.. " abel menunjuk dengan kepalanya.


Sita melihat Dita berjalan sambil bercanda dengan Zain, Nampak Zain sangat menjaga dita, wajah dita yang penuh senyum bahagia membuat sita sedikit lega. Rasanya sita menemukan cara agar bisa mendaoat izin dari dita agar bisa sekolah diluar negri.


"Sita.." Dita nampak tersenyum melihat adiknya berada disini menjemputnya. Moment langka memang. Jarang sekali dia merasa sebahagia ini. Sita anak yang cuek tak pernah sekalipun dia menjemput dita ketika pulang bekerja selalu tak ambilvpusing dengan keberadaan kakaknya. Dita memeluk sita melepaskan nya dan menatap sita.


"Ada maunya gak nih." ujar dita kemudian


"Hehehhee" sita hanya nyengir kuda dan menggeleng " Kak Zain.. sita ada perlu sama kak Zain.. Boleh bicara dengan nya?" tanya sita kemudian


"Oh. gw tanyain yah." Dita berbalik menuju Zain dan bertanya " Sita ingin bicara apa mas ada waktu."


"Eum.. ikut ke mansion saja kalian semua. kita makan disana" Jawab Zain.


"Aku juka kak" Tanya robbin kemudian


"Yah semua" Zain menyuruh abel ikut jemputan damar dan angle. sedang Sita dan Robbin ikut jemputan Zain. Mereka menuju mansion Zain.


Setiba nya dimansion Zain mengajak dita beristirahat sebentar dikamar atas. Sedang yang lain di ijinkan memakai apapun pasilitas yang tersedia di mansion.


Sore hari Zain dan dita baru turun karena perut mereka yang minta diisi. Setelah mengajak semua makan Zain baru mengajak sita keruang kerja nya


"Apa yang ingin kau bahas.?" Tanya Zain pada sita. Sita tergelak dia baru tersadar sipat manis zain hanya untuk kakak nya. itu membuatnya sedikit senang.


"Bisa bantu aku. Aku ingin meminta izin pada dita agar di izinkan sekolah diluar negeri" Sita berhenti sejenak memandang Zain yang terdiam menunggu penjelasan selanjutnya.


"Aku akan sekolah ke korea selatan. Beasiswa telah aku dapat kan. biaya makan dan tempat tinggal ditanggung. jadi sepertinya tidak akan membebankan dita. Bagaimana menurut kakak." Sita sedikit memberi kesempatan Zain untuk mencerna dan memberi saran


"Aku sebenarnya yakin dita. mengijinkan hanya saja. bukan berarti dia tidak akan bersedih. Aku meminta bantu kakak bila dita memberi izin. jaga dia disini. bersama kakak. jangan biarkan dita tinggal di apartment sendiri." Ujar sita Ragu. Takut Zain tidak mau membawa kakaknya tinggal bersama nya.


"Kalo soal tinggal disini harusnya seperti itu. karena. sebentar lagi dita akan menjadi nyonya santoso ku kira." Zain menatap sita dengan tenang. menunggu reaksi sita akan pernyataan nya.


"Apa kakak akan menikahi dita. sungguh kapan apa secepatnya. ah syukurlah. aku telah dewasa sekarang dia tak lagi bertanggung jawab padaku dengan mengorbankan sesuatu untukku. terima kasih ..syukurlah. Apa boleh aku meminta ijin di depan kakak.. seperti nya akan sedikit lebih mudah" Sita beranjak tanpa meminta persetujuan memanggil dita dengan paksa dan membawa kembali ke ruang kerja Zain. Dita terduduk disofa diikuti Zain yang beranjak duduk disamping dita.


"Ada pa sita.. jangan bikin gw penasaran" Dita yang terduduk nampak sedikit gelisah dengan kelakuan adiknya tersebut.


"Gw mau kasih tau kalo gw daoet beasiswa" ujar sita.


"Bener wah.. lu emang hebat.. Dia keren kan Mas." Dita tertawa sambil menggoncangkan tangan Zain. Zain hanya tersenyum.


"Beasiswa di universitas mana.?" lanjutnya.


"Seoul university.. Korea Selatan"


"Dimana?" Dita nampak terhentak mendengar universitas yang disebut Sita.


"Korea Selatan. gw dapet beasiswa full. dapet asrama, biaya makan dan lain nya." Sita berhenti melihat raut wajah dita. Dita nampak terkejut wajahnya sedikit nanar mendengar tujuan kuliah sita


"Tapi disana lu sendirian. kalau ada apa apa bagaimana. Apa tidak bisa disini saja Sita. Gw kira kalau pun ingin keluar negeri Singapore mungkin jadi tujuan yang lebih dekat"

__ADS_1


"Gw gak sendiri gw sama robbin. Disana selain asrama gw bisa pulang ke tempat Nenek nya Robbin yang tinggal sendirian. Gw udah punya rencana ko dit. lu tau gw kan dan lu percaya gw kan."


"Hmm.. tapi.. apa itu sedah keputusan final sita.. "


"Yupz.." sita menjawab mantap.


"Apa yang sangat kau khawatirkan dari pemintaan sita sayang" Tanya Zain pada dita yang nampak termenung.


"Tempat tinggal.. dan teman yang menjaga. Robbin kan hanya pacar sita. bila mereka putus aku yakin jadi masalah Mas."


"Baiklah.. Akan aku siapkan Apartment dan orang yang menjaga sita disana.. apa jalan tengah ini membantu.. sita juga adik ku sekarang. Begitu saja. " Zain berdiri menggenggam tangan dita dan membawa nya kembali ke kamar.


Sita berlari riang menuju ruang depan.


"Bagai mana.?" tanya abel penasaran.


"Rebes.. donk.. Kak Zain bantu banget. hehhee"


"Syukurlah.. jadi kita gak terpisahkan" Ucap robbin.


"Kenapa gak mau pisah. bisa aja disana aku dapet cowo baru"


"Dapet cowo baru boleh.. aku tunggu sampai kamu yakin gak ada yang sebaik aku babe" ucap Robbin yakin.


"Hahahaaa.. PD amat ni cowo" Sita tergelak dengan ucapan robbin tapi juga bahagia.


****


"Mas apa gak apa apa ninggalin sita di negeri orang"


"Korea gak jauh.. Mas bisa antar kamu seminggu sekali kesana.." ucapnya ringan


"Mas tuh kalo ngomong suka se enaknya"


"Hmm. Jangan khawatir. Mas bakalan nyiapin semua yang sita butukan disana. Mas juga bakal kirim pengawal yang bisa jaga sita dari jauh .. Jadi kamu pokus sama Mas yah Sekarang" Zain mulai bermain dengan rambut dita, menarik nya mendekat lalu mulai denagn aktipitas panas nya. Mencium. meraba dan berakhir kembali diranjang.


"Mas.. Apa tadi belum cukup?"


"Ayo cepat menikah.. Mas akan atur acaranya secepatnya.. Dan sekarang Mas udah gak tahan" Wajah Zain memerah suara seraknya tak lagi terdengar. Hanya cepat bergerak membuat Tubuh dita bergelenjang memanas, Dan berakhir kembali bergelut diranjang.


🍇


🍇


🍇


🍇


🍇

__ADS_1


To Be continue


__ADS_2