Framia Radita

Framia Radita
Kegilaan Zain


__ADS_3

.


.


.


******Hai reeders.


Makasih yang udah mampir. jangan lupa Vote. like dan Koment nya yah..


Sekedar emoji aja pun tak apa.. asal jangan numpang lewat. biar Aku gak kesepian hehheee


Selamat membaca******.


****


Zain dan dita tiba dimansion dengan sedikit Ragu Dita memasuki ruang tamu.


Pak Darto menatap Dita dengan pandangan khawatir. Membuat dita sedikit takut untuk bertemu calon mertuanya. Dengan terjadinya pertengkaran besar bersama para ponakan pak Santoso.


Zain dan dita masuk ke dalam di ikuti pak Darto. Pak santoso serta merta berdiri menghampiri Zain Dan Dita.


"Berani beraninya........Mereka menghina anak menantu ku... Apa kamu tidak apa apa sayang." Pak santoso mengelus rambut dita penuh kasih.


Dita masih syok dengan sambutan Pak santoso yang berbeda 180° dengan prediksinya. menjawab dengan terbata.


"Eumm bbaaaaiiiikk ayah" Zain tersenyum melihat respon dita yang tergagap lucu.


"Bilang pada ayah. apa anak anak manja itu menyakiti mu." tanya nya lagi khawatir.


"Tidak ayah. Dita rasa dita yang lebih bersalah ayah"


"No. No. kamu anak baik bagaimana bisa kamu bersalah. ayah akan menegur mereka semua. Ayah pastikan mereka akan meminta maaf padamu nak"


"Ayah.." Dita tampak terharu perlakuan calon mertuanya diluar ekspektasinya. Dita mengira calon mertuanya akan memarahinya dan menyalahkan nya atas pertengkaran yang mengakibatkan Zain melarang mereka semua dipesta pernikahan mereka.


"Mereka memang anak anak manja merepotkan, baguslah mantu ayah bukan cewe lembek yang kalah mulut sama mereka. hahahhaa." Pak santoso tampak sangat senang mendengar pertengkaran yang diakhiri dengan tamparan pada ponakan kurang sopan nya.


Pak Darto yang cemas dengan keadaan dita pun kini tampak sumringah melihat dita tak terpojok dan terintimidasi oleh ponakan ponakan tuan mudanya yang memang sangat bar bar dan tinggi hati.


Sambil duduk santai dan menikmati kopi teh dan cemilan, mereka terus berbincang.


"Bagaimana pendapat paman dan bibi tentang pertengkaran tadi ayah" tanya Zain pada pak santoso


"Paman dan bibi mu menelpon ayah. mereka bilang calon mantu ayah memukul yasmin. dan menghina nya. mereka bilang kau juga membela mantuku dan melarang mereka datang. tentu saja ayah tidak percaya. ayah lebih tau kelakuan anak anak manja itu bukan."

__ADS_1


"Jadi apa mereka tidak akan hadir. karena mau nya Zain mereka tidak hadir dihari bahagia Zain. zain takut mereka mengganggu hari bahagia Zain."


"Zain. mereka harus hadir apa kata kolega dan karyawan lain yang mengetahui keluarga kita tidak hadir di pesta pernikahan ahli waris santoso. Jangan khawatir mereka berada didalam pengawasan ayah. mereka tidak akan berani menyentuh dita sama sekali"


"Terima kasih ayah" Zain melirik ke arah dita yang tak kunjung bersuara. ternyata dita terkantuk kantuk disamping Zain. Zain pak santoso dan pak Darto tampak terkekeh melihat dita kelelahan.


"Jangan menyiksanya terlalu berat diranjang. lanjutkan nanti setelah sah Zain. kau memalukan. tak pernah mengenal wanita sekali nya mengenal kau sangat lengket dan tak punya rem."


"Ayah..." Zain tersipu malu mendengar teguran sang ayah yang terasa pulgar dan mengundang tawa renyah pak Darto.


"Sudah bawa dita keatas untuk istirahat jangan bangunkan dia. Gendong dia Zain kau laki laki dengan tubuh tinggi besar memalukan kalau sampai membangunkan wanita tidur."


"Ayah. wanitaku ini juga bukan wanita mungil dia gadis tinggi dengan tubuh molek. tentu saja berat" Walau dengan penolakan argumen ayahnya Zain tetap menggendong Dita ke atas menuju kamar nya. Pak Santoso dan pak darto kembali pulang setelah melihat dita baik baik saja.


Dikamar Zain membaringkan tubuh dita dikasurnya. perlahan agar dita tidak terbangun. Zain sedikit demi sedikit menarik tangan yang berada dibawah leher dita. tapi gerakan nya membuat sita terbangun.


"Mas.."


"Maaf Mas bangunin kamu yah.. kalau sudah bangun. ayo bersihkan dulu badan kita. "


Zain mengajak dita kekamar mandi. Tentu saja bukan hanya mandi bukan. pasti ditambah aktipitas panas dingin yang membuat berkeringat dan melelahkan.


satu jam bergulat dikamar mandi akhirnya mereka keluar dan segera meneruskan istirahatnya. aktivitas normal akan kembali dijalani Zain besok bukan.


****


"Eumm. Mas udah bangun"


"Dari tadi pak Hendra telponin Aku mas. bisa tolong dijawab"


"Hendra mau apa dia.." Zain terduduk dengan mata yang masih berat untuk terjaga. Pikiran nya kembali ke kejadian disaat makan siang.


"Mas apa mas marah. kemarin"


"Untuk apa mas marah mas hanya takut salah bicara dan membuat kamu tidak nyaman."


"Dia masa lalu ku mas. Aku sudah tak ada sedikitpun perasaan padanya. sungguh. dia meninggalkan ku untuk menikahi wanita lain. dulu aku tersakiti tapi sekarang aku hanya merasa takut mas salah paham padaku. kemarin dita marah bukan karena masa lalu dita. tapi hendra membuat mas bersikap dingin pada dita"


"Ah maafkan mas sayang. kemarin mas sedikit kesal. apa mas membuatmu sedih"


"Sangat.." Dita menggelayut manja melingkarkan tangan nya dileher Zain. dan mengecup kilas bibir Zain.


"Morning kiss" Ucap dita.


"No. Mas ingin lebih" Zain kembali menarik Tubuh dita. mencumbunya dengan panas dipagi hari yang sejuk zain dan dita terus bergumul setelah semua pakaian tertanggal dan tanpa menyisakan apapun.

__ADS_1


Desahan panas nan erotis terdengar dikamar ini. mereka terhenti oleh ketuka pintu dari luar yang menandakan pak agus telah memanggil mereka untuk sarapan.


"Ah.. sayang kita sudahi dulu bisa bisa kita terlambat"


"Eum tanggung sayang. Sebentar lagi mas sampai. lanjutkan dulu. women on top" Zain mengedipkan mata nya dan membalik kan tubuh dita yang kini berada di atas tubuh zain.


Dita mengambil alih sekarang Zain berada dibawah kendalinya . Pagi yang cerah diawali dengan morning s*x.


****


Damar tampak cemberut melihat tuan nya turun tangga dengan sumringah sambil memeluk Dita erat.


"Selamat pagi.." Sapa Zain mendahului Damar.


Dita hanya tersenyum manis pada Damar.


"Kamu masuk juga. bukan nya istirahat untuk mempersiapkan pernikahan"


"Gak deh kak. persiapan nya kan udah ada yang ngurusin. kalau fitting gaun kemarin memang gak bisa diwakilkan bukan."


Dita kembali tersenyum. Zain hanya menatap senang ke arah dita. Lamunana nya masih berada di atas ranjang dengan gaya baru yang dita peragakan. jadi suasana hati nya sangat baik pagi ini.


"Ayo nanti kesiangan. bisa bisa sampai diwaktu makan siang" sindir Damar yang dibalas tatapan sebal Zain


Mereka berangkat menuju kantor dengan mobil yang dikendarai pak anwar. Zain yang duduk dibangku belakang bersama dita belum juga move on dengan sensasi morning s*x nya bersama dita. terus saja melancarkan serangan tangan yang membuat dita jengah.


"Mas bisa berhenti. bajuku menjadi kusut. dan berhenti mencium ku. aku jadi berantakan." bisik dita pelan takut didengar pak Anwar dan Damar.


"euumm mmm" Zain tetap tak mau diam masih saja melanjutkan kegiatan nya hingga sampai didepan kantor.


"Kita sampai pak" Damar berujar dengan sedikit menekankan kata katanya. berharap Zain kembali sadar dari kegilaan nya.


"Aku tau..." Jawabnya ketus. Dita cepat cepat merapikan rambut blous dan penampilan nya. yang sudah tampak sedikit acak acakan karena ulah Zain.


Zain turun menunggu dita keluar. Merangkul dita dan membawa nya berjalan masuk dengan mesra sontak saja semua mata karyawan kini menjadi terpana dengan kebersamaan Zain dan dita. Dita tampak biasa saja sekarang mungkin karena sudah terbiasa.Mau dibagaimana pun Zain tak pernah mendengar permintaan Dita.


Mereka menaiaki lift untuk sampai diruangan Zain menggunakan lift khusus eksekutif.


.


.


.


.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2