Framia Radita

Framia Radita
Butik


__ADS_3

****


"Dasar.. cewe ganjen.. Kayanya nyodorin badan duluan deh. .."


Plakk


Suara tamparan keras terdengar di ruangan mengema membuat orang terdiam seketika.


"Kau...."


"Kenapa sakit" Dita memandang tajam ke arah sepupu Zain yang iya tampar barusan.


"Jangan pernah ngerendahin gw. kalo masih mau gw anggap sepupu Mas Zain. Gw gak takut sama kalian semua. Gak ada dikamus gw hirarki manusia berada ditingkat kekayaan nya. dan gw yakin dari semua yang ada di sini gak ada yang sebanding ma gw. Kalian punya orang tua gw gak. tapi masih bisa berpenampilan cantik. Kalian punya mobil mewah dari orang tua ,gw gak tapi masih bisa jalan jalan tanpa kepanasa. Dan kalian dari kalangan elit, gw engak tapi hidup gw diberi berkah cinta yang tulus. karena kalian bisa saja dikelilingi manusia manusia serendah kalian."


Mereka semua terdiam. Mendengar ceramah dita panjang lebar. bagi dita yang memang selalu menjaga hati nya agar tidak terlukai oleh status nya yang yatim piatu. tidak terintimidasi dengan berbagai pandangan orang.


"Ahhahaaahaaa. Wah wah kesayangan mas. galak nya gak bakal ada yang nandingin yah" Zain tiba tiba saja muncul dibalik pintu ketika semua orang memandang nya dengan mata mengadu berbeda dengan Dita yang menatap nya dengan amarah yang masih tersisa.


Zain menghampiri dita memeluk nya erat dan mengecup kening nya hangat.


"Apa yang kalian lakukan pada calon istriku. sudah bagus aku ngijinin kalian buat bisa datang dipestaku. malah bikin kekacauan"


"Kak. tapi aku yang ditampar. dia cewe bar bar"


"Dan kamu cewe hina. memandang seseorang tanpa tahu siapa dia bagaimana dia. kalian saja baru melihatnya sekali ini. sudah berani menghina nya."


"Mereka iri aja kak. badan kak dita molek. mereka kaya triplek" ujar sita dengan santai sembari berbalik kembali memilih gaun yang ingin dia pakai. para sepupu Zain tampak sangat kesal memandang sita


"Kalian semua keluar dan jangan pula datang di pestaku."


"Tapi kak"


"Keluar. atau mau aku menyuruh pengawalku melempar kalian keluar dengan paksa"


Mereka tak lagi bisa berkutik wajah Zain lebih dari serius menatap mereka lekat.


segera setelah semua saling pandang akhirnya mereka keluar dengan kecewa.


"terus gaun nya buat siapa dong..bridesmaid nya gak ada sekarang." Pria gemulai kini bersuara setelah syok melihat pertikaian calon keluarga baru saja.


"Ada ko. Mas ngijinin temen temen deket aku kan. aku mau mba widya sama mba sarah."


"Boleh panggil mereka sekarang"


"Beneran.. " Dita berbinar mendengar perintah Zain


"Bener lah sayang."

__ADS_1


"Satu lagi. gaun nya ada 4. aku dan dua temen dita. masih sisa satu orang" Sela sita


"Abel. kamu panggil abel aja. badan mereka gak jauh beda sama 3 orang ini. mungkin cuman buat abel harus sedikit kecil kan" Jawab dita.


"Ok deh. aku telpon yah"


****


Zain dan dita duduk di sofa yang tersedia di butik kenan. pria gemulai dengan kreativitas dewa. Mereka duduk bersebelahan tanpa jarak melekat mesra membuat orang yang melihat merasa sesak karena iri.


"Mas ko bisa ada disini. bukan nya bilang nya sore baru bisa dateng yah."


"Mas pengen liat kamu pake gaun nya." Ujar Zain sambil memainkan jemari dita. Sesekali mengecup pipi dita.


"Mas soal tadi. Maaf dita gak bisa nahan emosi."


"Haha. Harusnya Mas yang maaf. ngijinin mereka datang. Mas dari dulu gak suka mereka. itu ponakan ayah. ayah yang minta. biar ada salah seorang dari keluarga jadi bridesmaid mu"


"Gimana donk. nanti ayah marah"


"Gak bakalan. percaya sama Mas. dimata Ayah kamu lebih penting sekarang. ayah terlihat terlalu bersemangat. malah mas lebih mengasihani mereka. kalau ayah tau menantunya dihina. orang tua mereka bisa saja jadi bulan bulanan ayah. ayah tak sebaik kelihatan nya sayang"


"Hehe. Dita gak pernah sekalipun melihat ayah sebaik itu Mas."


"Hahahaha.." Zain kini memeluk dita Erat merasa Dita sangat menggemaskan. Tapi terkadang kuat untuk setidaknya melawan orang orang yang meremehkan nya.


Dita masuk ke ruang fitting untuk menggunakan gaun dibantu oleh beberapa pelayan butik. Karena gaun yang dikenakan dita yang pertama termasuk gaun pendek tanpa lengan. yang akan dipakainya siang hari. Waktu yang dipakai dita untuk menyelesaikan berganti baju hanya sekitar 15 menit. Dita berdiri cantik dengan gaun yang menempel ditubuhnya. walau pun tak menjuntai lebar. tapi tak menghilangkan kesan mewah dengan aksen manik yang tertera indah digaun nya dan dengan tubuh Dita yang memang bak Model.


"Gimana Cantik gak mas?" Tanya dita pada Zain. Zain masih tetap melongo melihat Dita.


"Mas.. cantik gak" Tanya Dita lagi setelah tak mendapat jawaban dari Zain.


"Belom bener bener gw sulap udah ngiler aja tuh muka" Kenan menengahi pandangan Zain.


"Minggir gak lo.."


"Seger kan liat calon istri yang aduhai"


"Apaaan sih loh minggir gak"


"Woy. ntar aja terpesona nya." Jawab kenan sekena nya.


Dita hanya tersenyum melihat Zain yang melongo menggemaskan.


Dita kembali masuk ke dalam ruangan Fitting mengganti gaun nya dengan gaun ke dua dibantu beberapa pegawai Butik.


Kali ini memakai gaun panjang tak kalah mewah yang menambah kecantikan Dita. kembali Zain ternganga..

__ADS_1


"Ini belom 100% yah. Nanti pas hari H. kaya nya Pak Zain bakal mimisan hahaa" Kenan tertawa senang setelah menggoda zain yang mendelik ke arah nya.


Fitting baju berlanjut untuk para Bridesmaid yang telah datang. Mbak Widya, Mbak Sarah dan Abel telah datang untuk sekedar mencoba Gaun. tampak pas dan cocok hanya untuk Abel gaun harus banyak dirombak katena terlalu besar dan panjang dibandan mungil nya.


Robbin juga telah tak luput dari penanganan Kenan. untuk jadi salah satu the best man nya Zain. Selain Damar dan beberapa saudara dan teman zain.


Acara Fitting baju selesai zain mengajak Dita kembali ke Mansion nya. dan yang lain kembali ke rumah masing masing.


*****


Di mansion pak Santoso terlihat duduk disofa ruang tamu menunggu anak dan calon mantunya datang. Tadi sore Dia mendengar laporan dari para saudara nya tentang kejadian di Butik.


Wajah nya tampak kesal sekali. Hingga tak sabar menunggu kedatangan Zain da Dita. Pak Darto terlihat cemas bulak balik didrpan halaman mansion menunggu kedatangan Zain dan dita Pula.


Damar yang sudah berada dimansion karena panggilan Pak santoso sedang berada di dapur menyeduh kopi untuk pak Santoso.


Pak agus yang meminta agar dia yang menyediakan minuman di tolak Damar.


"gw males liatain muka paman kaya donat ditekuk pak agus hhee" Damar terkekeh melihat pak agus yang bingung dengan alasan nya membuat minuman sendiri.


"Itu karena beliau sedang marah. Mungkin khawatir kan den." kata pak agus.


Damar mengangkat kedua bahunya sambil membawa minuman yang dibuat nya ke meja depan.


Didepan Mobil Zain telah terlihat memasuki gerbang dan melaju pelan menuju halaman depan Mansion.


Zain melihat pak Darto berdiri didepan pintu utama mansion.


"Sayang. sepertinya Ayah telah mendengar kejadian di Butik." Zain menyentuh lengan Dita dan menunjuk pak Darto yang tergopoh menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang den. tuan sedang menunggu"


Pak Darto menatap Dita dengan pandangan khawatir. Membuat dita sedikit takut untuk bertemu calon mertuanya. Dengan terjadinya pertengkaran besar bersama para ponakan pak Santoso.


Zain dan dita masuk ke dalam di ikuti pak Darto. Pak santoso serta merta berdiri menghampiri Zain Dan Dita.


"Berani beraninya........" Pak santoso mengawali pembicaraan didepan Zain dan Dita..


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2