
Zain dan dita makan malam dilokasi yang sepi. Resort diluar kota dijadikan tujuan dita sepi, indah, Dan ini adalah tempat kenangan bersama keluarganya.
Restoran terletak didalam resort. Jarak yang tidak begitu jauh menjadi alasan dita memilihnya.
"Eumm.. Perfect" Gumam Zain.
"Iya kenapa mas?" Dita tak begitu mendengar gumaman Zain. Hanya dengungan kecil yang terdengar
"Kita duduk disana yah." Ujar dita kemudian menunjuk kemeja ujung dengan View yang indah. Lampu lampu berkelap kelip dari rumah rumah pinggir gunung. Udara dingin menjadi tambahan kesunyian tempat ini.
"Mas aku ke toilet dulu yah. Tunggu yah.."
"Jangan lama sayang"
Dita hanya mengedipkan mata nya sambil tersenyum. Jantung dita dag dig duh ketika berjalan kebelakang. bukan je toilet tapi bertemu salah satu pelayan di resorts khusus nya direstoran ini. Tampak dita memberikan barang kecil ke tangan pelayan dan berbicara seperti memerintahkan sesuatu yang di angguki oleh pelayan tersebut.
"Iya. Titip nya. Maaf merepotkan" Ujar dita pamit kedepan.
"Wah keren.. Mbaknya yah.. Kalau aku juga bakal pake cara ini kalo dia yang jadi....."
Mulut pelayan nya dibekap oleh teman nya.
"Jangan banyak cing cong. ayo kita kerjakan tugas. Demi tamu kita." Sambil mengusur pelan teman nya menuju Dapur.
Makan malam berlangsung dengan perbincangan ringan antara zain dan dita. tawa renyah keduanya tampak sering kali terdengar.
sekarang waktu yang pas. Buat melamar Dita, setelah selesai makan aku mencari waktu yang tepat. Batin Zain.
Dessert datang setelah makanan utama mereka masuk dengan lancar kedalam perut kedua orang ini.
Stroberry cake dengan tampilan yang menggugah selera tampak manis di atas piring kecil menanti disentuh garpu.
"Mas.. Eum. kalo udah makan Dessertnya. ....."
"Kenapa.. mau yang mas. "
"Ah ngak. Makan nya hati hati."
Jantung Dita dagdigdug gak karuan ketika Zain mulai menikmati Dessertnya. Suao ketiga Zain berhenti karena ada benda keras diujung garpunya. Zain mengeser sedikit cake dan melihat. belum begitu jelas.
"Apa Ini.. " Dia hampir marah karena di makanan nya terdapat benda asing. Setelah di periksa lebih teliti Zain mendapatkan cincin Emas berbatu kecil dengan bulatan sederhana tapi indah.
"Cincin... Oh" Zain masih menatap cincin yang berada di dessertnya. Tetiba Dita mengambil dan membersihkan Cincin itu dengan tisu yang terletak dimeja.
"Eumm....(Jantung dita terpacu lebih kencang. mukanya memerah dan suaranya tampak sedikit gemetar sehingga sulit meneruskan kalimat yang iya siapkan)"
"MAS.. mas mau kah menikah denganku" Dita menatap lekat Zain dengan begitu dalan.
Trenggg.. Garpu yang sedang dipegang Zain terlepas begitu saja. Mulut Zain menganga karena syok dengan lamaran Dita.
Oh tuhan.. sepertinya Mas zain terkejut. apa dia tidak mau menerima lamaranku, Ah memang aku yang bodoh masa iya berniat melamar duluan. Batin Dita
"Mas. Dita tau mas pasti belum berpikir ke arah sana. Dita berharap mas tidak berpikir ke lain arah. Dita memang benar benar ingin menjadi istri sah mas. Dita rasa Mas akan menjadi suami yang sangat Baik untuk dita.. Mas.." Belum selesai dita dengan ocehan nya. yang tidak begitu romantis tidak begitu puitis tapi sanggup membuat Zain terlonjak bahagia juga Malu. Bergerak menuju Dita memeluknya dengan Erat.
"Terima Kasih. Mas Malu" Zain menyusupkan wajah nya ditengah ceruk leher dita. Dia benar benar merasa malu. Bagaimana bisa dia didahului oleh Dita.
"Apa mas malu karena lamaran ini. Maaf."
Zain melepaskan pelukan nya dan menatap Dita. Zain mengeluarkan Kotak hitam disaku jas nya. Membuka nya dan memperlihatkan isi nya pada Dita.
"Ini Jawaban Mas." Dita menatap lekat Cincin berlian dengan bentuk yang indah terselip ditengah belahan busa penyangga dalam kotak. Zain melepasnya dan memakaikan nya di jari dita yang masih tak bersuara.
__ADS_1
"Maaf membuatmu bertindak lebih dulu. Tentu saja mas mau menjadi suami mu Sayang, Entah apa yang membuatmu memperlihatkan Rasa sayangmu pada mas. Tapi Mas sangat sangat berterima kasih."
"Mas.." Dita menitikan Air mata bahagia Malu nya telah tertaganti dengan kebahagian.
"Mas Mau kita nikah sebelum Sita berangkat ke korea. Mas sudah memberi tahu semua orang tentang rencana ini. seoaruh sudah mas siapkan. tinggal kamu yang masih belum mas bereskan. haha" Zain tertawa lebar kembali memeluk dita dalam dekapan nya.
Zain membawa dita kembali ke Apartmentnya. hanya satu jam waktu yang diperlukan untuk sampai di apartment miliknya. Zain segera menghubungi Sita lewat sambungan telpon.
"Eum gimana...." Suara diseberang sana menjawab telponnya
"Dita melamarku.. sebelum aku melamarnya, apa pun itu. kita akan menikah. hanya memberi kabar saja. Malam"
"What..."
Zain langsung menutup telpon nya, Sementara sita diseberang sana masih menganga syok.
****
Hingga jam menunjukan jam 11 malam. Ketika ponsel sita berbunyi. Nada telponnya berkali kali berbunyi membuat si pemilik segera menyambungkan panggilan.
"Ehm gimana............. What!!!!"
Wajah Sita bengong dengan mata melotot kaget.
"Kenapa Dari siapa" Abel menatap Sita dengan lekat begitupun Robbin.
"Kakak ipar.."
"Lamaran ditolak.." Tanya Robbin melihat keterkejutan Sita..
"No.."
"Ya terus kenapa ampe bingung gitu muka lo" ujar Abel
Malam ini Dita menginap di apartment Zain. Mereka tampak tidur dengan senyuman yang terselip disudut bibir mereka. Berpelukan memimpikan Hal indah di dalam mimpi nya.
****
"Kapan kita akan merundingkan tanggal pernikahan Badri" Tanya pak santoso diruang kerja siang ini. mereka berdua tampak sangat serius berbicara tentang tanggal pernikahan Zain dan Dita. Tadi pagi Zain telah memberitahu Pak santoso tentang proposed yang telah dilakukan sesuai permintaan Pak Santoso dan Pak Darto.
setelah mendengar itu pak santoso langsung memanggil Pak Badri kekediamannya. Jadi disini lah pak Badri berada.
"Kapan baiknya menurut Bapak. saya ikut saja. Toh Dita telah menyutujui perihal ini" jawab pak Badri.
"Nanti malam kita bawa mereka Makan bersama. Aku kira 3 minggu ke depan. biar cukup waktu menyesuaikan semuanya."
"Baiklah Nanti malam. Lokasi dan waktu tepatnya saya serahkan pada Pak santoso." Ujar pak Badri menyudahi.
Pak Badri pamit untuk kembali bekerja. sedangkan Pak santoso sibuk mengurus acara nanti malam. kabar ini pun telah disampaikan Pada Zain yang sedang bekerja kantor.
"Iya. Baik lah Nanti malam Zain akan Mengajak Dita kesana" Zain menjawab panggilan dari Pak santoso. Makan malam di adakan di Restoran Hotel. tepat pada pukul 7 malam.
Zain memanggil Dita untuk masuk ke ruangan nya. Dita pun langsung menghampiri Zain didalam Ruangan.
"Ada apa Pak. Ada yang bisa dibantu"
"Mendekatlah. Sayang" Dita mendekat ke arah zain yang masih terduduk dikursi kebesaran nya. Zain menepuk paha nya mengisyaratkan agar Dita duduk dipangkuan nya.
"Is... Mas" Dita berhenti dan cemberut dengan permintaan Zain. Zain melotot memandang Dita dan kembali menepuk pahanya. Tanda tak bisa lagi Dita Tolak. Dita menurut dan duduk dipangkuan Zain.
"Sayang nanti malam kita makan Malam bersama. Ayah mengundang pak Badri angel dan Sita. Kita akan membahas tanggal pernikahan" ujar Zain sambil memainkan Rambut Dita. Dita hanya mengangguk ngangukan Kepalanya tanda memahami dan menyetujui perkataan Zain.
__ADS_1
"Tapi.. Apa kamu akan diam saja seperti ini" Zain mulai meraba punggung Dita dengan tangan nya. Dita bergelinjang Kegelian dengan kelakuan Zain.
"Mas tangan nya" Dita menatap Zain yang kini telah memajukan Wajahnya mendekat.
Pria satu ini emang gak bisa deket sedikit. langsung mesum deh. batin Dita.
"Mas. Lepas donk. nanti ada lihat"
"Siapa yang lihat. Ini ruangan Mas. sayang" Zain menarik tekuk dita agar bisa mencium bibir dita. Ciuman Zain makin lama makin melebar tak cukup zain menhujani bibir dita dengan ciuman panas nya kini Dia menyusur ceruk leher Dita yang tidak terhalang apa pun. Melihat gelagat Zain yang sudah Mulai tidak bisa menahan Hasrat nya Dita mendorong pelan.
"Mas. Ini kantor bukan Apartment sayang" Wajah Zain yang memerah dan Napasnya yang mulai tak teratur tak begitu mendengarkan perkataan Dita. Dia mulai kembali mengambil bibir ranum Dita dan mengecapnya. Hingga pintu Ruangan terbuka membuat keduanya terkejut dan menghentikan Aktivitasnya. Damar tampak melongo dengan pemandangan Yang dia lihat sekarang. Zain memangku Dita dipangkuan nya dengan penampilan yang sedikit berantakan.
"Ups.. " Damar berbalik dan menutup pintu kembali. Beberapa detik kemudian dia mengetuk pintu dengan sedikit keras.
"Pak Zain ada Pak Hendra dari Ag&m Company. Apa bisa masuk sekarang" Tanya Damar masih dibalik pintu.
Zain sedikit terkejut dengan penyataan Damar yang memberi tahukan bahwa ada kolega bisnis nya yang datang.
"Masuk ruang pribadi Mas dulu sayang. benahi penampilan mu dan bawa berkas. di dalam Laci pinggir Ranjang" Dita berdiri tangan nya membenahi sedikit penampilan calon suami nya yang kurang Rapi. Zain kembali mengecup kilas Bibir Dita yang dibalas pukulan pada Dada bidang zain.
Zain hanya tersenyum senang sambil memandang Dita yang masuk ke dalam kamar Pribadi Zain di ruangan itu.
tok tok suara ketuka kembali terdengar oleh Zain.
"Masuklah" Ucap Zain. Damar mendorong pintu dengan tatapan tajam pada Zain. memprotes kegiatan nya tadi, Wajah Zain seperti Biasa datar saja tanpa banyak Ekspresi.
Damar telah masuk dan duduk di sofa ruangan bersama kolega bisnisnya. Zain pun beranjak ke sofa paling ujung untuk menerima kedatangan koleganya tersebut.
"Selamat Siang pak Zain. perkenalkan Saya Hendra wirata. Dari Ag&m company" Sambil mengulurkan tangan nya, Zain hanya menanggapi dengan Kilas.
"Saya ingin mengulas langsung proposal kerja sama kita pak Zain "
"Baiklah. Tunggu sebentar. Secertaris saya sedang membawa berkasnya." Dita keluar dari Kamar tepat setelah Zain berbicara. Zain memandang dita dan Mengisyaratkan agar duduk disampingnya. Dita mendekat menyerahkan berkas dan duduk di samping Zain.
Kolega Zain yang bernama Hendra tersebut sedikit terkejut dengan keberadaan Dita. Dia memandang dita dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ketika pandangan nya bertemu dengan tatapan dita. Sontak Dita terperanjat.
"Mia" panggil hendra dengan suara sedikit tercekat.
"Kak Hendra." Ucap Dita. Zain yang mendengar ucapan Dita mendongak ke arah Dita.
"Kamu mengenalnya " Zain bertanya sambil menatap dita. Dita memandang zain dan mengangguk pelan.
"Oh kau bekerja disini. senang bisa bertemu lagi denganmu. Mia"
Hendra tampak tersenyum ke arah Dita. dita yang ditatap menjadi salah tingkah. Hendra adalah mantan Dita ketika dibangku kuliah. Dulu dita berharap dapat bersanding dengan nya. tapi rencana tuhan sangat lah berbeda. Hendra yang dulu sudah memiliki bisnis sendiri menikahi anak dari rekan bisnis nya untuk menjaga perusahaan nya tetap stabil tanpa memberi tahukan Dita.
Zain menatap tajam ke arah Hendra yang masih saja tidak memalingkan pandangan nya dari wanita pujaan nya. Zain mulai Geram dengan tingkah Kolega nya tersebut.
🍓
🍓
🍓
🍓
🍓
🍓
🍓
__ADS_1
🍓
To be Continued