
****Haii.. Readerss..
Jangan lupa tinggalin jejak yah.. like nya koment nya. kalo berkenan vote nya juga..
selamat membaca****..
****;
Sesampainya Zain diruangan nya yang disusul Dita yang menjadi assistant pribadinya. Mereka langsung beraktipitas seperti biasa karena rencana pernikahan dan rencana honeymoon setelah nya harus disiapkan dengan baik. Setelah keberhasilan bekerja sama dengan Jcompany Zain harus mengurus berbagai kerjaan yang harus diselesaikan sebelum hari pernikahan nya.
Begitupun dita yang sibuk mengatur ulang jadwal Zain dan beberapA Rapat penting yang harus dioercepat atau diundur.
Zain tampak sibuk berkutat dengan tumpukan berbagai berkas di meja nya. dan sesekali menatap layar komputer yang terpampang didepan nya demi mempercepat kerjaan nya.
Dita yang sibuk menelpon kesana kesini untuk memastikan tanggal dan waktu pertemuan. rapat perusahaan dan lain hal yang telah dijadwal ulang.
Walau pun belum begitu berpengalaman Dita memang tipikal orang yang berjuang keras. jadi dia akan bekerja keras untuk bekerja dengan baik dan teliti.
Jam sudah menunjukan jam 12.30 waktunya makan siang tapi Zain masih saja tak terganggu. karena banyak nya pekerjaan. Dita yang menyadari itu berinisiatip memesan makan siang nya bersama Zain.
Dita masuk keruangan Zain. tanpa disadari Zain dita menata makan siang nya yang telah datang tak lama setelah dipesan.
"Mas. makan siang dulu yuk.." Ujar Dita membuyarkan konsentrasi kerja Zain.
"Oh sayang. sudah jam makan siang ternyata. makan lah duluan. Mas masih ada sedikit kerjaan."
"Makan dulu mas. Baru lanjutkan kembali. Coffee dan Cemilan mas saja dari pagi belum tersentuh. Aku gak mau yah pas hari pernikahan malah mas nya sakit" Dita bicara sambil mendekat ke meja kerja Zain
Mengambil pena yang terselip diantara jari tangan kanan nya. dan menarik lembut tangan Zain agar meninggalkan sejenak kerjaan nya untuk makan siang.
Zain menurut saja karena memang perut nya sedikit lapar. Tadi pagi mereka tidak sempat sarapan karena Zain hanya mencicipi tubuh Dita.
"Semoga MAS suka. Tadi aku pesan tanpa bertanya" ujar dita.
"Tak apa sayang. Ayo makan lah." Zain mengambil bagian nya dan mulai menyendok makanan ke mulutnya. begitu pun dita.
Sedang asyik makan siang suara ketukan pintu membuat mereka berhenti sejenak.
"Pak Zain bisa saya Masuk" Suara Damar terdengar dari Luar.
"Masuklah" Zain menjawab dan meneruskan makan nya.
Damar masuk membawa map berisi berkas yang harus ditanda tangani Zain.
"Kak Damar sudah makan?" tanya dita
"Belum. tapi aku akan pergi makan siang setelah memberikan berkas ini. Anggel menunnguku dibawah"
"Begitu. baiklah hati hati dijalan" Ucao dita.
"Simpan dimejaku Damar." Zain menunjuk arah meja sambil tetap melanjutkan makan nya.
"Ok. selamat makan siang maaf menggangu" Kata nya sambil berlalu dan terkekeh
"Udah tau ganggu masih aja lo nongol" ujar Zain.
"Kan tadi udah mastiin dulu boleh masuk apa ngak" bela nya lagi sambil berlalu keluar pintu.
"Dasar.. " Zain telah menyelesaikan makan nya dia duduk sambil memperhatikan Dita yang tampak masih semangat makan.
"Mas cepet banget makan nya. tapi udang nya gak habis. boleh buat aku kan mas." Dita tersenyum malu memandang Zain.
"Makan lah sayang. pelan pelan" Zain tampak gemas melihat Dita yang masih asyik makan.
__ADS_1
"Mas kembali kerja. teruskan makan mu. setelah selesai jangan dulu keluar. ok"
Dita memandang sambil memincingkan mata.
"Mau apa memang nya"
"Minta di charger lah. kan Mas perlu tenaga tambahan buat beresin kerjaan."
"Mas ih.. mesum amat"
Zain hanya terkekeh dan berlalu menuju meja kerjanya tak perlu waktu lama zain telah kembali berkutat dengan kerjaan nya diwaktu yang sama Dita telah selesai makan siang. memanggil Ob untuk membersihkan bekas makan mereka. sekalian memberikan jatah makanan yang belum tersentuh dita dan Zain sama Sekali.
"Bawa yang ini buat makan siang."
"Terima kasih bu Dita" Ob memebersihakan dengan cepat dan pamit keluar serta membawa makanan yang diberikan dita.
"Mas aku kembali ke meja ku yah" Ujar dita
"Tunggu. Mas tadi bilang apa." Zain mencegah dita keluar dengan memanggilnya mendekat.
Dita menurut walau dengan wajah sedikit cemberut.
"Duduk lah disini" Zain menepuk paha nya memerintahkan Dita duduk dipangkuan nya.
Dita duduk dipangkuan Zain dengan menghadap kearahnya.
"Beri mas ciuman dulu" Zain menyambar bibir ranum dita mengecapnya dengan lembut dibalas dengan lebih agresip oleh dita. Zain tertegun tak biasanya Dita membalas dengan lincah. harus Zain terlebih dahulu yang mendalam agar dita ikut terhanyut. tapi sekarang dita yang tampak lebih bernafsu.
Setelah bergumul beradu dalam kecapan yang dalam Zain berhenti dan sedikit menjauhkan wajah dita.
"Sudah.. kalau dilanjutkan mas takut membawa mu keruang belakang." Sambil menunjuk kamar pribadi nya dengaa matanya.
"Ah.. cepatlah selesaikan. aku akan menunggu sampai nanti malam" Ujar dita ringan sambil turun dari pangkuan Zain. Zain mengerutkan dahinya memandang takjub dita yang mulai berani.
"Wah. kamu udah mulai nantang yah."
"Oh ya mas. Jam 3 nanti ada meeting dengan pak hendra. itu ditunda apa disesuaikan dengan jadwal"
"Tidak. Meeting tetap diadakan. kamuvikut mas yah."
"Eum ok" Dita menggaguk dan keluar sambari menutup pintu.
****
Jam menujukan 14.30 siang. Dita telah bersiap untuk meeting dengan Pak hendra. Ada sedikit rasa was was. karena perkelahian nya tempo hari dengan Hendra yang diakhiri pukulan Zain. Menurut Damar Zain tetap menerima kerja sama nya dengan Syarat hendra harus datang minimal dengan 3 orang staff dari perusahaan nya.
Zain keluar ruangan menuju meja dita. Tersenyum lebar disusul Damar yang membawa berkas ditangan nya.
"Ayo sayang. Meeting kita dilantai 3 jadi bersiap lah kita turun sekarang."
"Aku udah siap ko mas." Ujar dita sambil mendekat ke arah Zain. dan berjalan menuju lift untuk ke lantai 3.
"Masih ada 20 menit lagi. kenapa mas turun. bisa nanti saja. setelah aku beres merapikan semua. "
"Mas juga sudah menyelesaikan semua kerjaan dan berkas yang harus mas urus. jadi bisa turun lebih awal"
"Eum ok ayo.."
Mereka turun menggunakan lift untuk kelantai 3 ruang meeting yang disediakan team advocate perusahaan.
untuk menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Hendra.
Zain tampak menatap dita yang tak menunjukan ekspresi apapun. dia memang propesional dengan kerjaan nya. dia bertindak santai dan biasa saja.
__ADS_1
"Kenapa mas liatnya kaya gitu" Dita merasa pandangan Zain terlalu tajam untuk sekedar memandang.
"Kamu nyantai banget sayang."
"Terus dita harus bagaimana. Sedih cemas buat apa toh cuman buat meeting aja yah biasa lah mas" ujarnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"haha" Zain tergelak mendengar jawaban Dita.
ya biasa aja lah mas. toh aku malah semangat pengen liat tuh muka orang rese abis ditoyor bakal calon suami. batin dita.
"Masalah dengan Hendra sudah saya bereskan " ujar Damar santai.
"Apa sih yang gak dibereskan kak Damar hehhe" Timpal dita.
Memasuki ruang Meeting yang masih kosong karena pihak sebelah belum sampai. Zain dita dan Damar duduk bersebelahan diseberang pintu sambil menunggu kedatangan pihak lain. Damar kembali menilik berkas dengan seksama. Advocate perusahan masuk dengan menundukan kepala kepada Zain.
"Sudah beres semua " Tanya Zain
"Ya semua sudah diurus sesuai dengan legal. tak akan ada cacat hukum." Jawab salah satu lawyer dengan mantap
"Bagus lah. pihak lain juga jangan dirugukan dengan ke untungan kita" ujar Zain tegas.
Begitulah bagaimana Zain dapat melebarkan usaha nya dengan sangat pesat. kerja sama dengan banyak pihak yang selalu memikirkan keuntungan kedua nya tanpa harus merugikan salah satu.
Bagi Zain melihat rekan dan kolega bisnis. Harus sesuai dengan apa yang ingin di dapatkan. entah keuntungan atau pun kepercayaan.
Tidak lama Pihak perusahaan lain Datang. 3 Orang yang diantara nya Hendra memasuki ruangan dengan sopan.
Mereka duduk diseberang meja saling berhadapan. Memulai meeting untuk penandatanganan kerja sama. setelah berdikusi saling membaca kembali persyaratan dan legal hukum. Akhirnya Zain menandatangi kerja sama. Pertemuan berjalan cepat. tanpa ada rasa lain di alami dita Maupun Zain. berbeda cerita dengan Hendra yang sedikit cemas akan kejadian terakhir kali. tapi akhirnya hendra nampak lebih tenang ketika melihat dita maupun Zain sama sekali tak menampakan rasa benci atau marah.
"Baiklah terima kasih atas kehadiran nya. saya harap kerja sama kita akan berujung baik." Zain berdiri dan mengulurkan tangan nya pada utusan perusahaan itu.
mereka silih berganti bersalaman. kini giliran dita yang bersalaman diawali dengan hendra dan menuju 2 rekan nya. direkan nya yang ketiga yang semenjak masuk terus curi curi pandang pada dita yang dimata nya memang terlihat cantik dengan body yang terlihat seperti model. pria normal mana yang tidak tertarik melihat nya.
"Oh Anda sangat cantik. Nona " Ujar nya sambil tersenyum. Wajah Hendra berubah tegang merasa teman nya bersikap kurang ajar pada dita didepan Calon suaminya.
"Pak Andre. " Tegur hendra dengan suara bergetar.
"Oh maaf saya hanya mengungkapkan kekaguman saya" Ujarnya sambil melepaskan jabat tangan nya.
"Terima kasih" ujar dira ringan. Berbeda dengan Zain yang selalu merasa bahaya bila ada pria lain yang melirik nya.
"Tentu saja cantik. Kalau tidak. tidak mungkin dia akan menjadi istri seorang Zain. betul kan pak andre." Zain menarik pinggang Dita merapat dan tersenyum devil ke arah pak andre.
Melihat Zain yang mengandeng dita dan mengecup rambut nya didepan nya membuat andre bergetar. merasa dia melakukan kesalahan fatal.
"Maaf atas kelancangan rekan kerja saya pak Zain. beliau tidak tahu bahwa Nona Framia adalah calon istri anda" Ujar Hendra menengahi. takut yang terjadi padanya kini meninmpa teman kerja nya.
"Tidak apa. saya maafkan karena tidak tahu. tapi setelah tahu sebaiknya jaga pandangan anda pada calon istri saya." ujarnya tegas.
Zain menarik lembut dita agar berjalan bersama nya keluar ruangan di ikuti Damar yang semenjak tadi sudah menahan kekehan nya. melihat bagaimana teman nya menunjukan cemburunya terang terangan.
.
..
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued