
****
Dikantor Angel tampak menghampiri Damar diruangan nya. Damar hanya melirik nya sekilas ketika Angel duduk menghadap ke arah nya sambil menyilangkan kedua tangan nya didada.
"Kak Damar sejak kapan kerja bareng sama si hendra itu"
"Kenapa memang nya"
"Bukan nya perusahaan ini menjungjung tinggi pribadi para kolega. mereka harus baik. tapi dengan kak Damar kerja sama. dengan dia akan mencoreng sedikit nama baik perusahaan. dia nikah dengan wanita yang bisa memajukan bisnisnya. meninggalakan wanita yang mencintainya. dan menceraikan istrinya setelah semua keunginan nya terpenuhi. laki laki macam itu akan berbuat semaunya dalam hal kerja an pula. manusia tidak bertanggung jawab akan tetap sama saja."
"ok. tenang lah Angel. semua memang telah disetujui. tapi yang membawa pak hendra ke perusahaan adalah pak Badri. ayah mu" Damar tampak tersenyum manis mendapati angel yang terus nyerocos mendumel karena pak Hendra.
"Aku kesel aja sama dia. Liat tadi dia aja udah berani godain Dita. gak tahu malu banget udah nyakitin dita Segituny. ninggalin nikah ketika dalam hubungan serius dengan Dita. oh pengen nabok aja bawaan nya"
"Benarkah. Apa Hendra mantan dita. apa Zain tahu"
"Mana aku tahu. kenapa emang nya kalo tahu"
"Gak apa apa sih. zain jarang ngambil keputusan dengan emosinya. jadi kalo memang menguntungkan aku rasa kesepakatan akan tetap berjalan. tapi lihat saja Nanti"
"Oh. kasian teman ku tersayang. apa dia sedang menangis. ah semoga saja kak Zain bisa hibur Dia" Angel berdiri dan berlalu menuju pintu untuk kembali kemeja kerja nya. sebelum membuka pintu Angel melirik ke arah Damar "Aku merasa belum pernah dilama kak Damar. jadi sejak kapan Aku jadi Calon istri Kak Damar" Angel membuka pintu dan langsung keluar.
Damar yang mendengar hanya terkekeh dengan kicauan Angel.
****
Dita dan zain telah tiba dimansion Zain. Dita segera berjalan munuju kamar dilantai atas.
Dita merebahkan diri dikasur sambil terus memikirkan cara meminta maaf pada Zain. hingga kantuk datang menerjang kesadaran nya. dia pun terlelap dalam mimpi indahnya.
Zain yang hendak memberikan paper bag berisi pakaian untuk dita pakai nanti malam. malah disuguhkan pemandangan indah nan menggoda. Bagai mana tidak Dita tertidur dengan masih memakai rok pendek nya dan blush tipis setelah blezernya ia lepas. cara tidur Dita yang sedikit berantakan membuat rok yang memang sudah pendek mendaki lebih ke pangkal pahanya, dengan secara tidak langsung mempertontonkan paha mulus putih miliknya. Zain susah payah menelan salivanya.
Menaruh paper bag. dan merangkak naik keranjang dan berbaring disamping Dita sambil memeluknya. hingga tak lama dia pun ikut tertidur.
Waktu menunjukan pukul 3 sore ketika dita perlahan mendapatkan kesadaran nya. Dita meregangkan tangannya berusaha bangun tapi terbebani oleh pelukan Zain. Zain melingkarkan Tangan nya diperut dita. mengunci kaki dita dengan kakinya.
"Eum.. Sayang.. Bangun ini jam berapa" Dita menekan nekan pipi zain dengan jari telunjuknya.
"Mas. sayang.." Dita kini mengecup pipi Zain untuk membangunkan nya. belum juga berhasil akhirnya dita mengecup bibir Zain. Dan berhasil Zain mulai terganggu dalam tidurnya dan menggeliat tapi tidak juga terbangun hingga Dita kembali mengecup bibir Zain dan sedikit mengesapnya. Ketika dita hendak menjauhkan Bibirnya Zain seketika menarik tengkuk Dita.
"Mau kemana. Lanjutkan Sayang" Zain menarik tengkuk Dita. mengecap dan mencumbu dita. Hasrat yang tadi tertahan kini mulai menguasai zain kembali. Zain terus menjamah tubuh Dita hingga melepas kemeja tipis yang memang sedari tadi sedikit menampakan bagian dalam nya.
Dita tak melawan dia hanya menenerima cumbuan Zain membalas ciuman panas dibibirnya hingga mengeluarkan desahan yang membuat Zain bergairah. Dita kini sudah tidak terhalang oleh selembar benang. Hingga akhirnya zain menyatukan tubuhnya bermain dengan Dita hingga semua sesak dan gairah mencapai klimaks nya.
Zain membaringkan dirinya disebelah Dita.
"Ah. Maaf kita main cepat. Mas lanjutkan nanti malam. sekarang kita harus bersiap untuk bertemu dengan Ayah dan Pak Badri."
Zain beranjak dari ranjang dan membawa dita kekamar mandi. Bergumul kembali didalam bath tub sehingga menghabiskan lebih banyak waktu untuk sekedar membersihkan badan.
****
"Dimana Zain, Damar jam berapa ini. masih belum juga sampai" Pak Santoso terlihat gelisah. Pak Badri ,angle ,sita ,dan damar telah berada diruangan yang telah disiapkan untuk jamuan makan malam hari ini.
"Sebentar pak saya telpon dulu"
__ADS_1
Damar terlihat manggut manggut mendengar pembicaraan dari seberang telpon. Kurang dari 3 menit panggilan diakhiri oleh damar dan kembali duduk disebelah pak Santoso.
"Zain segera naik dia berada dilobby sekarang."
"Kenapa akhir akhir ini dia terlihat sangat sibuk. jam berapa tadi dia pulang"
"Jam 1 siang pak. setelah makan siang bersama pak Hendra."
"Apa. terus kenapa bisa terlambat kemari. dia yang paling banyak memiliki waktu bukan." pak santoso terlihat kesal.
"Yah. Namanya juga pacaran mana lagi berduaan. waktu berlalu tanpa terasa." Sita mendumel sendiri. Ocehan Sita diamini oleh pak Badri dan Tawa angel.
"Ta..." Belum selesai pak santoso menyangkal pintu ruanga terbuka dan memperlihatkan Zain dan Dita masuk kedalam ruangan di iringi makanan yang dibawa pelayan.
"Maaf jadi menunggu lama. ada sedikit gangguan tadi" Dita tampak malu wajahnya sedikit memerah.
"Apa Zain gak lepasin kamu dari siang tadi Nak." Pak santoso melirik Zain yang berekpresi biasa saja datar dan tenang seperti biasanya.
"Ah itu.." Dita menggaruk bawah telinganya yang tidak gatal.
"Udah ayah. kan kita Udah dateng mana makanan udah terhidang. Mari kita mulai acara makan nya."
Mereka kini mulai makan malam dengan obrolan ringan membahas sita. Tanggal kepergian nya dan beberpa pertanyaan tentang persiapan nya untuk pergi ke korea.
Tiba Saat nya pak Santoso membahas pernikahan Zain.
"Jadi kapan baik nya Acara disenggarakan. Lebih cepat lebih baik"
"Dua minggu dari sekarang. Semua hampir selesai. tinggal Foto pre-wedding. karena Dita baru melamar ku."
"Baiklah. sisanya Biar ayah yang Urus. bagaimana Zain. Badri apa ada yang mau di tambahkan "
"Undangan. Apa dita ingin mengundang kenalan dita di kampung" Pak Badri tampak memandang dita dengan hangat.
"Dita tidak punya sanak saudara. jadi Dita mungkin hanya akan mengundang Bi sasti dan keluarga."
"Baiklah. Jadi semuanya telah setuju."
Mereka melanjutkan makan sampai selesai. Dan kembali kerumah masing masing. Begitupun Zain yang membawa Dita kembali ke mansion bersama Sita.
***
"Dit. Sekarang lu fitting gaun pengantin kan."
"Hooh. Kenapa"
"Gak aku mau ketemu ma robbin bentar boleh gak.."
"Kan lu juga mesti fitting gaun buat entar Sit. mana nanti disana ada sodara dari Zain yang aku belum kenal. sepupunya Zain pada dateng buat nyobain gaun juga. kalo lo gak ada gw gimana"
"Ya elah. takut apa sih loh"
"Jangan gtu donk. gak nyaman aja kan gak ada yang gw kenal disana. lagian angel baru bisa dateng ntar sore. beres dia kerja. Zain juga sama. kan cuman aku yang dikasih libur"
"yah elah.. Ada yang mau gw beli. yang tau robbin. "
__ADS_1
"Ya udah sih ajak aja robbin sekalian. bisa sekalian jadi pendamping pengantin nya Mas Zain kan."
"Seriusan. beneran Boleh ngajakin Robbin"
"Hooh. telpon sana. Trus siap siap."
Sita melengos pergi menggapai ponselnya dan segera menghubungi Robbin. Janji telah ditentunkan. mereka berencana bertemu di Butik saja karena Sita sekarang berada di Mansion Zain. dan berangkat di antar supir pribadi Zain.
Setelah sampai Dita dan sita masuk terlebih dahulu kedalam butik yang telah di tunjuk Zain agar menyiapkan gaun terindah untuk dita.
Butik yang elegan. ruangan bernuansa putih gading dengan banyak foto pengantin dengan Gaun indah terpampang. beberapa adalah pesohor tanah air. yang mempercayakan gaun nya pada sang Desainer.
Sita berkeliling melihat beberapa kileksi gaun yang terpajang rapi didalam Butik. Hingga suara tawa renyah beberapa gadis memasuki ruangan yang sama bersama Seorang pria gemulai yang berdandan sangat mewah.
"Oh. siapa Ini" Sapa sang pria menghampiri Dita.
"Saya Framia Radita."
"Oh. maaf. calon pengantin ternyata. menunggu lama"
"Tidak saya juga baru saja sampai"
"Jadi ini calon kakak ipar kita." Salah seorang gadis menilik dari atas sampai bawah penampilan Dita dengan Cermat.
"Pantes Aja berhasil gaet kak Zain. body nya semok. pinter yah gunain kelebihan" lanjutnya tanpa menghiraukan kata kata nya yang menyinggung Dita.
"Uh.. Ini toh para Sepupu Kak Zain. Pantesan gak dari awal dikenalin. kayanya kak Zain malu sama kalian" Potong sita dari belakang mereka. Dita hanya menatap sita sambil menahan kekehan nya.
"Kayanya Memang bukan kalangan kita." Gadis yang lain menimpali kata kata sita.
"Emang bukan. Kita bukan kalangan anak manja tukang pamer barang dan harta orang tua dengan kelakuan minus. kita hanya wanita mandiri dengan penghasilan sendiri dengan kelebihan paras Cantik, tau etika Satu lagi kakak gw emang Bohay. Gak kaya sebagian wanita yang berdada rata kaya baru dilindes stum." Oceh Sita dengan gaya bicara cepat dan menyebalkan nya.
Para sepupu Zain tampak hendak memaki ketika pria gemulai ini melerai.
"Kalian mau aku bikinin gaun. atau angkat kaki dari sini. Gw mau fitting baju pengantin. bukan ngeliatin cewe bar bar tawuran. kalian ganggu sana pergi" ucapnya dengan nada tinggi
"Dasar.. cewe ganjen.. Kayanya nyodorin badan duluan deh. .."
Plakk
Suara tamparan keras terdengar di ruangan mengema membuat orang terdiam seketika.
"Kau...."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be Continued