GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Girang


__ADS_3

Elnara mendorong kursi roda yang diduduki Emir sampai ke taman hotel, tepatnya di belakang hotel, di sana menyajikan pemandangan indah yang sangat mengesankan, menyejukkan mata.  Ada air pancur, taman warna hijau, beberapa pasang meja kursi yang dipayungi, dan kolam ikan yang indah.


Elnara mulai membantu Emir berjalan, seperti biasa, Elnara merangkul tubuh gagah Emir, memapahnya untuk mengajarinya berjalan.  


Duh, jadi kayak mengurus bayi besar.  Tapi ada harapan tersendiri bagi Elnara, yaitu berharap Emir bisa berjalan.  Harapan itu membuatnya terlihat gigih dan bersemangat setiap kali membantu Emir belajar berlajan.


Justru yang membuatnya patah semangat adalah setiap kali membawa Emir ke kamar kecil.  Itulah pekerjaan menakutkan baginya, disebabkan ia harus membantu suaminya membuka celana, membantu menggosok badan pria itu, serta hal- hal lain yang membuat bulu kuduk meremang.  Sebab tak hanya sekali atau dua kali Elnara harus berhadapan dengan kegiatan yang lumayan menegangkan, tepatnya kalau Emir minta disabunin ketika mandi, minta dibantu berendam di bath tub, dan yang paling unik adalah saat memasangkan celana.  Ini pekerjaan paling membingungkan.  Hadeeeh…  


Deringan ponsel membuat Elnara melepas rangkulannya di tubuh Emir.  “Sebentar!” ucap Elnara sambil menjawab telepon.  Tak lain telepon dari Afsa.


“Kamu di mana?  Nggak ngampus?” tanya Afsa di seberang.


“Enggak.  Aku cuti.”


“Eh?  Cuti apa?”


“Aku sedang liburan sama Emir.”


“Oh… Kamu malah enak- enakan ya bersenang- senang sama pembunuh ayah.  Bedeb*h!”  


Telepon diputus begitu saja.


Elnara termenung.  Di sini, Elnara sedang berjuang keras meleburkan perasaan bencinya terhadap Emir, mengingat kecelakaan itu adalah musibah.  Tidak ada yang bisa lari dari musibah.  Bahkan Emir pun mungkin tak inginkan peristiwa itu terjadi.  Oleh sebab itu ia berperang melawan dirinya sendiri untuk menyingkirkan keegoisan.  


Elnara menyesal sudah keceplosan memberi tahu kepada Afsa siapa pelaku yang telah menjadi penyebab kematian ayahnya.


Tap tap…


Langkah kaki itu membuat Elnara terkejut saat menatap ke sumber suara.  Emir berjalan?

__ADS_1


Mata Elnara membelalak lebar melihat Emir sudah maju selangkah dan dilanjutkan selangkah lagi.  Meski tertatih, namun pria itu sudah bisa mulai menggerakkan kaki dan menapakkannya dengan kokoh di atas tanah.


“Waaaah… Kamu bisa jalan!”  Elnara menjerit girang.  “Kamu bisa jalan.  Ini beneran bisa jalan?  Ya ampun, akhirnya beneran bisa mulai melangkah.”  


Elnara merasa senang melihat Emir ada perkembangan, sampai- sampai ia menjingkrak kegirangan sambil tepuk- tepuk tangan.


Keceriaan Elnara membuat Emir terdiam menatap senyumnya.  Sebahagia itukah Elnara saat tahu Emir bisa mulai melangkahkan kaki?


“E e eeeh…” Elnara meraih tubuh Emir ketika tubuh gagah itu hendak tumbang.  Sepertinya kaki Emir belum kuat menyangga tubuh untuk berdiri terlalu lama sendirian.  “Ayo kubantu.  Kita duduk dulu.”  Elnara memapah tubuh Emir menuju ke kursi.  Ia membukakan botol air mineral dan memberikannya kepada Emir.


Bukannya meraih botol, Emir malah menatap Elnara tanpa kedip.


“Ini diminum!” ucap Elnara membuat lamunan Emir buyar seketika.


Pria itu lalu meneguk air mineral sampai habis.


Emir hanya menatap Elnara tanpa memberikan jawaban.


“Aku kurang suka kalau kamu kebanyakan minum,” celetuk Elnara kemudian menabok mulutnya snediri pelan.


“Kamu tidak suka kalau aku sehat?  Kamu ingin aku cepat mampus?”


“Loh?  Kok nanyanya gitu?  Ya enggaklah.”


“Kalau kurang minum kan aku akan cepat mati karena tidak sehat.”


“Aku nggak bermaksud begitu.  Pemikiran kamu negatif mulu.  Kalau kamu kebanyakan minum, kamu bakalan sering ke kamar kecil. Aku Cuma sedikit bingung aja kalau kamu mesti bolak balik buang air kecil.”


Emir mendekatkan tubuhnya kepada Elnara.  “Memangnya kenapa?  Apanya yang bikin kamu bingung?”

__ADS_1


Melihat wajah Emir yang mendekat, Elnara menjauhkan tubuhnya.  Ia menggaruk pelipis yang tak gatal.  


“El!”


“Ya?”  Elnara menatap Emir yang mengawasinya dengan pandangan lekat.


“Kenapa kamu kelihatan senang kalau aku bisa berjalan?”


“Loh, ya iya.  Tentu senang.  Aku merawat kamu setiap hari kan berharap supaya kamu cepat bisa jalan.”


“Bukankah aku adalah penyebab ayahmu meninggal?  Seharusnya kamu lebih suka melihatku menderita dan berlama- lama berada di kursi roda ini.”


“Kamu kan suamiku.  Status itu membuatku harus mematuhi perintah supaya aku wajib berbuat baik ke suami,” lirih Elnara. 


Jawaban yang membuat Emir terdiam dan hanya menatap mata istrinya dengan semakin lekat.


“Setelah ini aku beliin kurk ya!  Supaya kamu bisa berjalan menggunakan kurk.  Pasti bisa,” ucap Elnara dengan senyum girang, harapan melihat suaminya bisa berjalan seakan ada di depan mata.


Tak perlu menunggu hari esok, Elnara langsung mengajak Emir membeli benda itu.  dan langsung dipakai oleh Emir saat kembali ke hotel.  Pria itu mulai berjalan pelan menggunakan dua kurk yang diapit di kedua ketiaknya.  Ia berjalan di koridor hotel menggunakan barang baru.


Elnara berlari- lari kecil di depan Emir, sesekali menoleh dan melambaikan tangan.  Senyumnya merekah sambil berkata, “Ayo, semangat!  Jangan terburu- buru, yang penting bisa!”


Sudut bibir Emir tertarik sedikit menyaksikan kelakuan istrinya.  Mereka malah jadi seperti anak kecil begini.


Nah, ada untungnya juga bagi Elnara saat Emir sudah tidak lagi menggunakan kursi roda.  Elnara tak perlu lagi mendorong- dorong kursi itu, dia hanya perlu mengawasi Emir saja dari dekat.


Say good bye pada kursi roda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2