GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Penganiayaan


__ADS_3

Emir kemudian berdiri di hadapan Elnara. Tubuhnya yang tegap dan tinggi membuat Elnara mendongak untuk dapat menangkap wajah itu.


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Emir merentangkan tangan. Mengharap sesuatu.


Elnara bingung. Lalu menggeleng. "Memangnya aku harus berkata apa?"


Emir menggeser langkah ke samping, dua langkah. Berharap Elnara akan menjingkrak girang seperti saat wanita itu pertama kali melihat Emir bisa melangkahkan kaki. Namun ternyata tidak seperti yang dia harapkan, Elnara malah memalingkan pandangan dan mengambil hp. Wanita itu tampak sibuk dengan hp nya.


Loh? Kok, tidak ada reaksi? Secuek itu ternyata. 


Emir berjalan menuju nakas, mengambil air mineral di gelas lalu meneguknya. 


"Apa kamu tidak mau mengatakan sesuatu saat melihatku sudah bisa berjalan?" Emir akhirnya mengungkapkan kalimat itu begitu saja. Menunggu Elnara sadar kalau ia sudah bida berjalan juga rasanya cukup sulit.


Elnara menatap Emir sebentar, kemudian pandangannya kembali ke hp.


"Baguslah."


Begitu saja? Emir mengira Elnara akan berbahagia dengan ekspresi heboh, namun ternyata tidak. Waktunya tidak tepat. Elnara sedang merasa trauma atas kejadian mengenaskan dimana tiga preman hampir merenggut kesuciannya, Elnara juga sedang sedih karena tahu kembarannya telah menusuknya sejauh itu, Elnara pun juga tengah kesal pada Emir karena pria itu malah nge prank disaat ia sedang dalam keadaan duka. 


Kekacauan di benak Elnara membuat wanita itu tak memiliki ekspresi apa pun terhadap kejadian sekarang.


"Emir!" Suara keras dari arah luar membuat Emir terkejut. Ia mengenal suara yang memanggil namanya itu.  Tak lain suara mamanya.  Tapi ada yang aneh dengan suara itu, kenapa suara mamanya kedengaran keras dengan intonasi tinggi begitu?  Seperti sedang marah.


Elnara bergegas menuju pintu dan membukanya.  “Mama!”


Tatapan Yona tampak tajam.  Ia melengos masuk tanpa mempedulikan sapaan Elnara.  Lalu dengan ekspresi kesal, ia berkata, “Emir, apa yang sudah kamu lakukan pada Elnara?  Sejak kapan kamu menjadi seorang psikopat?  Mama tidak pernah mengajarimu berbuat kasar pada wanita, lalu kenapa kamu memperlakukan wanita dengan sadis?”


Kata- kata yang dipenuhi emosi itu membuat Emir mengernyit.  Namun ia tetap rileks.  Sedikit pun tak terpengaruh oleh kemarahan mamanya.  Hanya saja, ia sedang bingung, apa yang sedang dibicarakan oleh mamanya itu?


“Bisakah mama jelaskan dulu apa maksud ucapan mama?” Emir menyilangkan tangan di dada.


“Halah, mama sudah dengar bahwa kamu menganiaya Elnara.  Bahkan setelah Elnara pergi meninggalkan rumah, kamu mengejarnya dan membawanya pulang kembali saat dia dalam keadaan kacau.  Sebenarnya ada masalah apa dengan kalian?” 

__ADS_1


Emir mengingat- ingat.  Tadi ia di kamar bersama dengan Afsa, kemudian Afsa keluar kamar dalam keadaan menangis seperti baru saja dianiaya.  Tak lama Emir keluar rumah, lalu kembali pulang dengan membawa Elnara yang kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi Afsa yang terlihat frustasi saat keluar dari rumah.


Sepertinya terjadi kesalah pahaman.  Bukankah Yona tidak ada di rumah ketika peristiwa itu terjadi?  Lalu dari mana Yona bisa tahu soal itu?


“Apa yang membuat mama menuduhku begitu?  Dari mana mama tahu kalau aku menganiaya Elnara?” tanya Emir.


“Elnara, katakan pada mama, apa masalahmu sampai- sampai Emir memperlakukanmu dengan tidak manusiawi?”  Yona menatap Elnara dengan pandangan penuh harapan.


Elnara menggeleng.  Ia bahkan jauh lebih bingung sekarang.  Memangnya penganiayaan apa yang dimaksud?


“Kamu jangan takut Elnara, kamu harus berani speak up.  Wanita jaman sekarang tidak ada yang boleh diperlakukan dnegan buruk oleh laki- laki, itu sama saja dengan KDRT dan hukumannya berat.  Ayo, bicaralah!  Jangan takut!” ucap Yona berapi- api.


“Emir sama sekali tidak menganiaya aku, Ma.”


“Hei hei….  Cuma wanita bodoh yang rela dianiaya dan menutupi perilaku buruk suami hanya karena demi menutupi aib.  Memangnya siapa yang betanggung jawab menjaga badan kalau bukan diri kita sendiri?  badan utuh dan sehat itu adalah hak, jangan sampai hak kita di rampas orang lain, meski pun itu suami sendiri.”  Yona menggebu- gebu.


“Mama bicara seperti ini sumbernya dari mana?  Tidak ada penganiayaan, mama!” Emir meyakinkan.


Melihat keyakinan di wajah Emir, mendadak Yona menjadi ragu.  Apakah informasi yang dia dapatkan itu salah?


Yuni yang sejak tadi menguping di dekat pintu, gelagapan dan langsung menghambur masuk.  “Ya, Bu?  Saya datang.”


“Kamu bilang tadi Emir menganiaya Elnara.  Dan sekarang mereka berdua tidak mengakui kejadian itu.” Yona tampak emosi.


“Lah, Bu.  Kan saya bilang ibu jangan bongkar rahasia ini.  Nanti kalau saya dimarahi Mas Emir bagaimana?” bisik Yuni ketakutan, sesekali melirik ke arah Emir.


“Tapi nyatanya mereka tidak mengakuinya.  Kalau mereka mengakui, ya tidak masalah aku rahasiakan laporanmu ini.”  Yona makin kesal.  Berharap informasi yang dia dapatkan supaya akurat.  “Hei, aku sudah buru- buru pulang pada saat sedang ada di salon, rambutku bahkan baru separuh yang dikeritingin sama orang salon.  Di jalan pun sampai kejungkang gara- gara jalan terburu- buru hanya untuk kasus yang masih mengambang ini.”


“Apa yang membuatmu mengadu ke mama bahwa aku melakukan penganiayaan pada istriku?” tanya Emir dengan kedua tangan yang masih menyilang di dada.


Wajah Yuni memucat.  Ia seperti terdakwa di persidangan saat ini.  “Awalnya, saya mendengar teriakan di kamar Mas Emir, dan itu adalah teriakan Mbak Elnara.  Nggak lama kemudian Mbak Elnara keluar dengan kondisi memprihatinkan, menangis pilu, wajah sembab, pakaian berantakan, rambut pun kacau.  Acak- acakan begitu.  Kasian sekali.  Lalu Mas Emir pergi menyusul Mbak El.  Beberapa lama kemudian, Mas Emir dan Mbak El balik lagi.  Kali ini kondisi Mbak El jauh lebih mengenaskan.  Masih menangis hingga wajahnya sembab abis.  Tuh, ka nada luka- luka baret di lengan, di betis dan di wajah pun kelihatan lukanya.”  Yuni seperti sedang mencari alibi untuk membenarkan kata- katanya.


Perhatian Yona tertuju ke badan Elnara.  Memang benar perkataan Yuni, ada banyak luka- luka di tubuh Elnara.

__ADS_1


Tatapan Yona tertuju kepada Elnara, berharap penjelasan lebih.


Mengerti maksud tatapan mertuanya, Elnara pun berkata, “Iya, ini memang terluka.”


“Gara- gara Emir kan?” tebak Yona.


Elnara hanya diam, melirik ke arah Emir.  Tiba- tiba saja ia sangat ingin menghukum Emir.  Mungkin inilah saatnya hukuman itu diberikan oleh Emir yang sengaja ngerjain Elnara dengan mengatakan di kamar ada ular.


Emir mengangkat alis dan dagu, berharap Elnara menjawab pertanyaan Yona.  Namun istrinya itu diam saja, tidak mengatakan apa pun.  


“Nah, apa mama bilang?  Memang nyatanya kamu yang membuat Elnara menjadi begini, Emir!  Ingat satu hal Emir, orang yang melahirkanmu ini adalah wanita.  Jika kamu memperlakukan wanita dengan jahat, maka hukuman untukmu akan kontan.”  Yona memperingatkan dnegan keras.


Elnara tidak menyangka jika ternyata sosok Yona akan seheboh ini saat marah.  Padahal awalnya ia mengenal Yona sebagai sosok wanita yang bersahaja, tapi ternyata kalau marah mengerikan juga.


“El, ayo bicaralah!  Katakan apa yang sebenarnya sudah terjadi!” pinta Emir.  Ia tak ingin mamanya salah paham hingga menuduhnya yang bukan- bukan.


“Elnara tidak akan bicara apa pun jika di bawah tekananmu. Apa masalahmu sampai- sampai melakukan hal rendahan ini, huh?” Yona menampar pipi Emir.


Tak hanya sampai di situ saja, Yona bahkan menjewer telinga pria itu hingga kulit wajah Emir memerah karena sakit.


Satunya lagi, Ma.  Kata- kata itu hanya tertelan dalam hati.  Tak tega juga mengatakannya.  


Yona ternyata kalau mengamuk mengerikan juga.


“El, ayo bicaralah!  Jangan diam saja.  Kau yamng harus bicara, El.  Percuma aku bicara karena aku dianggap tersangka yang perkataanku tidak akan dipercayai oleh mama.”  Emir menjauhi mamanya, tak ingin telinga satunya menjadi korban untuk berikutnya setelah telinga yang satu dilepas dari jeweran.


Elnara tak tega juga melihat Emir mundur saat tangan Yona maju hendak memberikan penyerangan.  Ini sedikit aneh, pria yang kesehariannya terkesan kejam pada seluruh anggota pegawainya, kini tampak takluk pada mamanya.


Mungkin benar apa kata orang, bahwa Emir memang penyayang pada keluarganya.  Dan sifat kejam dan juga peraturan kejam hanya dia berlakukan di luar rumah.


“Nggak ada penganiayaan apa pun di rumah ini, Ma,” ucap Elnara menghentikan gerakan tangan Yona yang hendak menjewer lagi ke kuping Emir. 


Yona sontak menatap Elnara.

__ADS_1


“Luka ini karena terjatuh di semak belukar,” jelas Elnara tak ingin membuat situasi semakin runyam.


Bersambung


__ADS_2