
Dengan langkah gontai, Afsa melewati beberapa ruangan lua. Kali ini ia sudah hafal dengan posisi tata ruang di rumah itu. Maka ia tidak perlu bingung lagi kemana arah yang akan ditempuh. Tangan Afsa menggenggam bandul kalung dengan senyum smirk. Itu adalah kalung milik Elnara.
Rumah sepi. Entah kemana para penghuninya. Yang jelas Yuni sedang ke pasar. Yona ke mall. Sedangkan Cindy sekolah. Tinggal Emir seorang diri di rumah itu.
Afsa mencari keberadaan Emir. Pertama- tama, ia menuju ke kamar. Tapi tidak ada siapa pun di sana.
“Emir!”
Tak ada sahutan.
Afsa kembali mengulang panggilan, tetap tak ada sahutan. Tangannya yang dilapisi sarung itu masuk ke tas yang disangkutkan ke satu pundak. Ia memegang gagang pisau, berharap benda tajam itu akan mencabik- cabik pria itu dan meregang nyawa sama seperti yang dirasakan oleh ayahnya.
Afsa sudah memikirkan hal ini sebelumnya, bahwa jika Emir menyusul ke liang lahat, maka dendamnya terbalaskan. Dan saingan hidup yang selalu membuatnya merasa tersaingi akan masuk penjara. Elnara- lah yang akan menjadi tersangka.
Sekali tepuk, dua lalat mati. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kembali senyum smirk itu tercetak.
Afsa melangkah keluar kamar, mencari keberadaan Emir. Disaat rumah sepi begini, maka ini adalah kesempatannya untuk melancarkan aksinya.
Afsa menuju ke ruangan lain, ia mendengar suara- suara seperti benda beradu, buku diletakkan ke meja, pena terjatuh, dan lain sebagainya. Juga ada suara seseorang sedang mengobrol.
Ah, mungkin Emir di sana. Afsa menuju ke ruangan itu. Benar dugaannya, ia melihat Emir tengah berada di ruang kerjanya, ruangan luas yang tak jauh dari kamar Emir di lantai bawah. Sebuah pemandangan mengejutkan membuat Afsa membelalak kaget, Emir tampak tengah berjalan sambil berbincang dengan seorang pria muda. Tak lain pria muda itu adalah Hamish, asistennya Emir.
Ah, kenapa Afsa bisa sampai menduga kalau Emir hanya sendirian di rumah? Tidak ada jejak apa pun yang menunjukkan ada tamu di rumah itu, misalnya mobil asing yang bertengger di depan rumah. Afsa tidak tahu kalau asistennya Emir menggunakan mobil milik Emir sebagai inventarisnya.
__ADS_1
Dan itu kenapa Emir bisa berjalan? Apakah dia tidak cacat? Emir terlihat sempurna dengan kondisinya sekarang, perfect. Tampan dan tanpa cacat. Mapan lagi.
Afsa terdiam di balik dinding, mendengarkan perbincangan antara Emir dan Hamish yang membuatnya tercengang.
“Kenapa Bapak tidak memberitahukan kepada Ibu El kalau Cindy itu hanyalah anak angkat Bapak?” tanya Hamish, ia takut suatu saat Elnara keceplosan kalau Hamish sudah membongkar hal itu sebelum Emir menjelaskannya kepada Elnara. Ia ingin secepatnya Emir membongkarnya supaya ia tidak disalahkan.
“Tidak perlu. Aku mau tahu sejauh mana ketulusan Elnara menyayangi keluarga ini, merawat aku yang dia pikir adalah duda dan cacat.”
“Bapak baru pertama kalinya menikah, yaitu dengan Ibu El. Hal ini akan dengan mudah diketahu olehnya.”
“Biarlah dia mengetahuinya sendiri.”
“Apakah Bapak tidak mau memberitahukan kepada Ibu El kalau Bapak sudah bisa berjalan?”
“Eh, baik.” Hamish mengangkat dokumen di dalam map.
Bergegas Afsa menghambur pergi, berlari keluar rumah. Apa tadi? Emir bukan duda? Cindy anak angkat? Dan Emir sudah bisa berjalan? Dia tidak cacat lagi.
Ya ampun, Emir benar- benar terlihat sebagai pria tampan yang sempurna. Dia bukan duda, dia belum memiliki anak, dia juga tidak cacat lagi. Perfect!
Seharusnya Afsa yang menikah dengan Emir, bukan Elnara. Seharusnya Afsa yang menikmati kekayaan Emir. Seharusnya Afsa yang ada di posisi itu.
Rencana untuk menghancurkan Emir malah berubah haluan sekarang. Dia menginginkan Emir, menginginkan pria tampan yang tampak sempurna itu. Bayangan Afsa terus terngiang oleh kesempurnaan sosok Emir, sungguh mengguncang hatinya.
__ADS_1
Emosinya benar- benar sedang naik sekarang, tiba- tiba ia berpikir sangat ingin mendapatkan Emir. Harus!
Afsa meninggalkan rumah Emir untuk membeli sesuatu, hingga akhirnya ia kembali lagi ke rumah itu dengan membawa sebungkus serbuk bernama obat yang dapat memicu naiknya keinginan laki- laki pada hubungan dewasa.
Mobil milik emir yang biasanya dipakai oleh Hamish sudah tidak ada lagi di depan rumah. Artinya Hamish sudah pergi.
Saat melintasi ruangan utama, Afsa berpapasan dengan Emir. Pria yang tengah berjalan keluar dari ruangan kerja menggunakan kruk itu menatap Afsa.
“Emir, perlu kubantu?” Afsa meraih lengan Emir.
Pria itu hanya diam. Dia membiarkan Afsa membimbingnya hingga duduk di ruang tamu.
Jantung Afsa berdebar tak menentu berdekatan dengan Emir begini.
“Aku akan ambilkan minum untukmu,” ucap Afsa dengan segudang ide di kepalanya.
Emir mengangguk.
Afsa berlalu pergi ke dapur. Ia mulai membuatkan minum dan menaburkan serbuk yang sudah dia beli ke minuman itu. Berharap setelah Emir menidurinya, maka ia akan dengan mudah meminta Emir untuk menikahinya juga. Ide cemerlang. Jangan malah Elnara yang mendapatkan posisi enak. Afsa harus mendapatkan posisi itu.
Afsa membawa gelas berisi minuman hangat itu meninggalkan dapur dengan senyum skeptis. Tak sabar membayangkan percitan yang pastinya tak akan bisa dihindari jika Emir sudah meneguk minuman itu. Adegan itu pasti indah!
Bersambung
__ADS_1