GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Bukti Kebenaran


__ADS_3

Elnara terduduk lesu di kursi. Pagi ini sejak bangun tidur, ia tidak menemukan Emir. Dia tatap kasur yang biasanya ditiduri oleh Emir, kosong. 


Ah, kenapa Elnara merasa kangen? Ya ampun, di tengah perasaan kesal dan marah, masih juga terselip perasaan rindu. Apakah Elnara jatuh cinta? 


Sesulit inikah menjalani pernikahan yang didasari paksaan? Ada ruang rindu, namun juga tersisa kemarahan.


Elnara mengusap bantal Emir. Biasanya pria itu berbaring di sana, tapi semalaman pria itu tak ada di sana. Elnara cemas. Apakah Emir sungguhan marah terhadapnya? Kenapa Emir tak bisa memahami bahwa kriminal itu jauh dari kata baik, benar- benar buruk. 


Elnara kemudian menelepon Hamish, ia ingin tahu dimana keberadaan Emir, juga ingin tahu kenapa Hamish mau menuruti perintah Emir untuk mencelakai Afsa.


Sambungan telepon terhubung.


Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua barulah dijawab oleh Hamish.


"Hamish, apakah Emir bersamamu?" 


"Tidak. Aku belum bertemu Pak Emir sejak beberapa jam yang lalu."


"Kamu nggak bohong kan?"


"Tidak."


"Baik. Aku mempercayaimu. Kepercayaan itu mahal harganya, sebab ketika kepercayaan seseorang dikhianati, maka nggak akan ada kesempatan untuk bisa percaya lagi. Pertanyaannya sekarang, alasan apa yang membuatmu menganiaya Afsa?"


Hanya terdengar suara embusan napas Hamish di ujung telepon.

__ADS_1


"Berapa uang yang kamu dapatkan dari Emir sampai kamu mau memenuhi perintahnya untuk mencelakai Afsa?" sambung Elnara geram sekali. "Urusan Afsa biarlah menjadi urusanku. Dia berbuat jahat kepadaku, bukan kepadamu, juga bukan kepada Emir. Sekedar memperingatkan dia, mungkin itu nggak masalah, tapi kalau sampai berbuat kriminal bahkan sampai Afsa kritis dan koma, itu udah keterlaluan. Nggak manusiawi. Apa yang kamu lakukan sampai kondisi Afsa menjadi separah itu? Dia koma, dia kritis." Elnara menggebu- gebu.


Hamish di seberang hanya diam. Mendengarkan saja. Atau dia malah sudah tidak mendengar lagi? 


"Hamish, kami dengar aku kan? Kamu dengar aku bicara? Jawab aku!" seru Elnara lagi.


Hamish masih diam.


"Jangan menjadi pengecut! Bicaralah!" Elnara makin kesal.


"Ibu Elnara boleh marah padaku. Aku sudah khilaf menganiaya Afsa." Suara Hamish terdengar lesu, tak bertenaga.


"Khilaf? Lelucon apa ini? Perbuatanmu itu sudah direncanakan atas perintah Emir, lalu bagaimana mungkin kamu bisa bilang khilaf?"


"Pak Emir sama sekali tidak terlibat dalam masalah ini."


"Jangan bercanda di waktu yang nggak tepat begini. Jangan membodohiku juga." Elnara tegas. "Nggak ada alasanmu menganiaya Afsa kecuali karena perintah Emir. Kamu nggak mengenal Afsa jika bukan karena petunjuk dari Emir."


"Benar. Aku mengenal Afsa atas petunjuk Pak Emir. Tapi aku melukai Afsa bukan atas perintah Pak Emir. Ini murni atas kehendakku sendiri karena aku khilaf." Suara Hamish benar- benar seperti bisikan.


Kemudian Hamish melanjutkan, "Pak Hamish menemuiku dan mengatakan bahwa istrinya dianiaya dengan sadis dan dia belum mengetahui siapa pelakunya. Katanya luka di tubuh Bu El masih baru, kemungkinan kejadiannya adalah ketika Bu El di kampus, sebab saat berangkat dari rumah menuju kampus, Bu El dalam kondisi baik- bak saja. Maka aku menyelidiki ini, dimulai dengan menemui satpam kampus dan meminta rekaman cctv. Aku menemukan Afsa menganiaya Bu El dengan sadis. Bu El, dia nyaris tidak waras, dan saya terbawa emosi menyaksikan hal itu." Hamish menjeda kalimatnya.


"Lalu?"


"Inilah yang terjadi. Saya kebetulan sekali bertemu dengan Afsa di jalan. Dan kejadian itu pun tidak bisa terelakkan, apa lagi Afsa itu malah nyolot saat ditegur. Aku benar- benar khilaf."

__ADS_1


"Oh ya ampun." Elnara tertegun. "Benarkah Emir sama sekali nggak terlibat?"


"Pak Emir bahkan belum tahu siapa pelakunya karena saya belum memberitahukan kepadanya mengenai ini. Katanya, Pak Emir justru tahu bahwa Afsa adalah pelaku penganiayaan itu dari Bu Elnara sendiri. Pak Emir kemudian menelepon saya dan memberitahukan bahwa dia sudah tahu nama si pelaku, dan saat itu juga saya mengaku bahwa saya sudah menganiaya Afsa."


Elnara terdiam. Ia sudah salah paham dengan Emir. Ternyata Emir tidak pernah berbohong dalam hal ini. Elnara sudah menuduh Emir dan pria itu sangat marah sekali, merasa tak dihargai, tak dipercayai. 


Ah, kenapa sesulit ini? Hati Elnara terasa kebas merasakan kekalutan yang mungkin dirasakan oleh Emir. Pria itu pasti merasa kecewa, marah dan terkucil oleh sikap istrinya sendiri. Pada akhirnya Emir pergi dengan keadaan tak tenang.


"Apakah Bu El akan membiarkan saya mendekam dalam penjara setelah penganiayaan ini?" tanya Hamish membuyarkan pikiran Elnara.


Elnara diam. Ia bingung harus menjawab apa. Kalau saja ia membiarkan kasus itu berlanjut, tentu Hamish akan merasakan dinginnya bui.


"Jika saya diseret karena penganiayaan ini, maka percayalah saya tidak akan membiarkan satpam dan pihak kampus tinggal diam atas penganiayaan yang dilakukan oleh Afsa terhadap Bu Elnara. Saya pastikan pihak kampus akan memproses kasus itu karena akan ada yang meng up kasus tersebut ke medsos supaya viral dan segera ditangani. Efeknya akan berimbas sangat besar kemana- mana. Kampus akan tercoreng atas ulah mahasiswa yang kriminal, Afsa pastinya akan di DO atas penganiayaan terhadap Bu Elnara. Dan banyak lagi."


Elnara tertegun dan bingung. Kenapa masalahnya jadi begini?


"Kamu mengancamku?" tanya Elnara.


"Bukan ancaman, lebih kepada konsekuensi. Sama halnya saya yang bila saya wajib menerima konsekuensi, maka Afsa yang melakukan hal yang sama juga harus menerima konsekuensi yang sama. Ini akan impas."


"Nggak akan ada pelaporan. Kupastikan kasus ini akan ditutup setelah pencabutan." Elnara menutup telepon. Ia menghela napas. Ia harus segera mencabut kasus tersebut.


Lalu dimana Emir sekarang?


Duuuh... Elnara jadi merasa sangat bersalah karena sudah menuduh Emir yang tidak- tidak. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2