
Langkah Elnara gontai memasuki rumah. Setelah pulang kampus, ia langsung menemui Linol tadi. Dan kini saatnya ia pulang ke rumah suaminya untuk rebahan. Eh? Bukan rebahan, tapi menemui pekerjaan baru yang menurutnya sudah menjadi tanggung jawabnya. Apa lagi kalau bukan mengurus Emir.
Elnara melihat Emir sedang duduk santai di salah satu ruangan, pria itu sudah mengenakan pakaian tidur. Pasti dia sudah mandi. Yes, artinya Elnara tidak perlu lagi mengurusi Emir. Pekerjaannya berkurang.
“Emir!” Elnara mendekati suaminya.
Pria itu mendongak dan menatap istrinya.
“Kamu sudah mandi?”
“Hm.”
“Sudah makan?” Elnara ingin melayani suaminya bila mana ada kegiatan yang belum dikerjakan oleh suaminya.
“Sudah. Kenapa kamu baru tanya sekarang?” Emir heran, bukankah sejak tadi Elnara ada bersamanya, tapi kenapa baru mempertanyakan sekarang? Kenapa tidak dari tadi?
“Emir, jangan mulai. Aku nggak mau dimarahin terus.”
Melihat muka polos Elnara, Emir pun menarik sudut bibirnya. “Tidak ada lagi yang perlu kamu kerjakan sekarang.”
“Kalau begitu aku ke dalam.” Elnara melangkah pergi. Sayup- sayup ia mendengar suara tangisan saat melintasi kamar Cindy.
Loh, Cindy menangis? Elnara penasaran. Sejak kapan Cindy menangis? Bukankah dia adalah gadis petakilan yang seperti baja?
Elnara ingin tahu apa yang terjadi dengan Cindy, kenapa gadis baja itu bisa menangis. Ia memiliki ide. Segera ia mencari keberadaan Yuni, yang ternyata ia temukan di kamar asisten rumah tangga. Wanita itu tengah olah raga mengikuti gerakan pemandu di televisi.
“Yun, Cindy udah makan apa belum?”
“Eh, ada Mbak El yang cantik jelita. Non Cindy belum makan, Mbak. Soalnya tadi yang makan di meja makan Cuma Mas emir. Non Cindy belum pulang dari les pas Mas Emir makan. Kenapa ya?”
“Oh. Nggak apa- apa. Ya udah, dilanjut senang nungging- nunggingnya.” Elnara kembali menutup pintu kamar Yuni dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Pada satu piring, ia menaruh nasi, udang krispi celup tepung, sedikit sambal, capcay, dan ayam tongseng masakan Yuni. Piring itu diletakkan di atas nampan, tak lupa ia menaruh segelas air mineral di atas nampan. Makanan dan minuman itu dia bawa ke kamar Cindy.
__ADS_1
Tok tok…
Tak ada sahutan dari dalam kamar setelah Elnara mengetuknya.
Elnara kemudian membuka pintu sendiri. dia menemukan Cindy dalam keadaan terisak- isak di sudut kamar. Duduk dengan memeluk kedua kakinya yang terlipat. Matanya sampai membengkak. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah yang bagian dada sampai ke perut basah oleh cairan berwarna kekuningan.
Aneh, kenapa Cindy bisa menangis sampai sepilu itu? ini pasti ulah emir. Pikir elnara yang menduga bahwa pelaku utama yang bisa membuat Cindy tertekan hanyalah Emir.
“Cindy, aku bawakan makanan untukmu.” Elnara menaruh nampan ke lantai, tepat di hadapan Cindy.
Bocah cilik itu terkejut, tatapannya tampak berbeda saat menatap Elnara.
Elnara menemukan tatapan asing di mata itu,. ya, Cindy seperti sedang menatap orang asing saja. bocah itu bersungut dan memalingkan wajah. Masih terisak- isak.
“Cindy, kamu kenapa?”
Mata besar Cindy melirik.
“Kamu dimarahin papamu?”
“Kamu belum makan kan? Ayo, makanlah. Nanti kamu sakit.”
Cindy menggeleng cepat, menggeser duduk supaya lebih menjauh.
“Hei, kenapa malah menghindariku? Aku nggak akan menjahatimu.” Elnara mendekatkan nampan. “Ayo makan!”
“Apa kamu memberikan racun lagi di makanan itu?”
Elnara menghela napas. “Cindy, aku nggak pernah memiliki niat jahat kepadamu, apa lagi sampai meracunimu. Kamu itu anak dari suamiku, bukan musuhku. Aku ingin kita dekat. Seperti ini.” Elnara tersenyum sambil memperlihatkan dua jarinya yang menempel. “Kita berdamai, kita berteman. Okey?”
Cindy tampak agak takut, namun juga bingung.
“Ayo, makanlah!” Elnara memposisikan piring semakin dekat ke arah Cindy.
__ADS_1
Takut dipukul dan dianiaya lagi karena tidak mau makan, Cindy akhirnya mengambil piring itu. kemudian menyantapnya meski isakannya masih berlanjut.
“Sekarang ceritakan padaku, kenapa kamu menangis?” tanya Elnara lembut.
Mata hitam Cindy berputar mengawasi Elara dengan was- was. Ia mengira mama tirinya itu psikopat, yang sebentar- bentar sikapnya bisa berubah- ubah. Bahkan mama tirinya itu terlihat pura- pura lupa dengan kejadian barusan.
“Ya sudah, kalau nggak mau cerita sekarang. Kita akan bertemu besok pagi dan mengobrol bersama. Sekarang, ada satu hal yang perlu kamu tahu, aku menyukai semua milik papamu, termasuk kamu.” Elnara berharap pendekatannya ini akan berhasil meluluhkan hati Cindy. Elnara ingin mendapatkan hati bocah itu.
Cindy tidak menanggapi. Ia terus mengunyah, mempercepat makan.
“Pertama kali melihatmu, sebenarnya aku sangat menyukai wajahmu. Kamu cantik, mirip seperti boneka berbi. Anak seusiamu jarang memiliki kecantikan sepertimu. Aku ingin bermain bersamamu. Tapi sepertinya aku belum memiliki waktu yang tepat untuk bermain bersamamu.”
Cindy sudah selesai makan.
Elnara mengambil piring kotor dari tangan Cindy, juga gelas yang sudah kosong. “I love you.” Elnara tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Cindy, kemudian bergegas keluar kamar.
Huuuh… Elnara lega, ia tidak berantem lagi dengan Cindy. Ia tidak tahu ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi, bahkan memperhatikan sejak ia membujuk Cindy di kamar melalui celah pintu yang terbuka. Tak lain Emir.
Prang!
Piring di tangan Elnara terjatuh, pecah. Semua itu gara- gara Emir. Pria itu malah diam saja di balik dinding saat Elnara hendak berbelok untuk menuju ke arah dapur.
Segera Elnara memungut pecahan piring. Memasukkannya ke gelas utuh.
“Aku harap ini bukan kesalahanku. Kamu ngumpet di situ dan membuatku terkejut, aku nggak sempat melihat keberadaanmu,” ungkap Elnara sambil terus memunguti. Dari pada diomelin, lebih baik memberikan alasan duluan.
“Awh!” Elnara mengaduh saat tangannya terluka akibat pecahan piring. Darah segar menetes melalui ujung jemarinya yang terluka.
Deg!
Jantung Elnara berdetak kencang saat tiba- tiba jarinya itu disentuh dan diemut oleh mulut emir. Pria itu sudah jongkok di hadapan Elnara.
Elnara terbengong melihat jarinya berada di dalam mulut pria itu. hangat.
__ADS_1
Bersambung