
Elnara berhenti ketika berpapasan dengan Afsa di halaman rumah. Tatapan Elnara tampak tajam. Dia ingat bagaimana Emir mengatakan bahwa Afsa telah melepas pakaiannya untuk Emir. Membayangkan itu, dada Elnara terasa panas sekali. Entah bagaimana mereka saat berdua dalam keadaan ingin melakukan. Mereka pasti saling melihat, saling memberi dan menerima. Dan tak bisa dibayangkan apa saja yang sudah mereka saling sentuh.
Memang benar perkataan Emir, bahwa Afsa begitu rendahan. Tidak ada wanita yang lebih rendah dari mereka yang rela memberikan raga untuk lelaki dengan penuh kesadaran, terlebih lelaki itu adalah suami saudaranya sendiri. Sungguh memalukan!
Meski kenyataannya demikian, hati Elnara sebenarnya tetap sakit saat nama Afsa dijatuhkan, direndahkan dan dipermalukan. Mungkin inilah yang disebut dengan naluri seorang kembaran.
Elnara mendekati Afsa, mereka bertukar pandang. Tatapan Elnara yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang, kini tampak sangat emosi. Sedangkan Afsa, tatapannya tak pernah berubah, selalu culas dan sinis setiap kali bertemu dengan Elnara. Dia tidak melihat Elnara sebagai kembaran, tapi saingan yang dianggap menjatuhkan.
“Hai, ada apa kamu kemari?” Afsa melempar senyum palsunya. “Kamu mau mempertanyakan kejadian malam itu? Ya, malam itu kamu ketiduran dan aku nggak menemukanmu sesaat setelah aku sempat berhenti di toilet umum. Kupikir kamu pergi duluan ke restoran karena terlalu lama menungguku. Lalu aku keluar dan nggak mendapatimu di mobil. Aku menunggumu cukup lama. Dan saat aku yakini kamu sudah pergi ke restoran, jadi aku pergi saja ke restoran itu. tapi ternyata kamu nggak ada. Memangnya kamu kemana?”
Elnara tersenyum smirk. “Simpan sandiwaramu itu. Nggak baik kebanyakan berdusta.”
Melihat ekspresi Elnara yang serius dan sinis, Afsa pun mengubah ekspresinya pula. Dia memperlebar senyum dan merangkul pundak Elnara. “Hei, kamu bicara apa? Nggak ada sandiwara diantara kita.”
Elnara menoleh, menatap wajah yang sama seperti saat ia menatap pantulan di dalam cermin. “Aku minta jangan temui Emir lagi. Dia suamiku.”
“Oh… Jadi… Emir mengadu padamu bahwa dia dan aku sempat tanpa busana?”
Plak!
__ADS_1
Elnara mendaratkan tamparan di pipi Afsa.
Wajah Afsa yang putih langsung memerah. Ia langsung sinis. “Beraninya kamu lakukan ini, El?” Afsa mengusap pipinya yang ada bekas tamparan.
“Kamu itu keterlaluan! Kamu sudah menolak Emir sejak awal, dan sekarang malah kamu berusaha mengambil dia dariku saat aku sudah berumah tangga dengannya. Jaga harga dirimu! Sikapmu menunjukkan seberapa tinggi derajatm,u sebagai wanita!” tegas Elnara dengan tatapan tajam dan suara mendominasi. Telunjuknya menunjuk wajah Afsa.
“Jadi kamu sudah berani denganku sekarang, hm?” teriak Afsa tak terima melihat Elnara menjadi lebih berani.
“Apa yang kutakuti darimu sekarang? Jika semua yang kulakukan untukmu nggak cukup membuatmu sadar dan membuka mata, lalu untuk apa aku terus berkorban? Kamu nggak pernah bisa menyadari pentingnya arti persaudaraan.” Elnara melenggang pergi.
“Hei, Emir itu seharusnya milikku. Kamu nggak berhak hidup bersama dengannya.”
Dan sasaran yang mungkin menjadi korban adalah pot bunga yang harganya lumayan.
“Jalan, Pak!” pinta Elnara pada supir taksi yang sejak tadi setia menunggu di depan rumah.
Sebenarnya Elnara pun tak ingin bermusuhan dengan saudaranya sendiri, apa lagi mereka adalah kembar. Tapi jika kelakuan Afsa seperti ini, Elnara tak akan mungkin tinggal diam. Dia harus memberikan pelajaran berharga untuk Afsa, tentang pentingnya rasa persaudaraan, tentang kasih sayang. Sebab ketika Elnara mulai melawan, siapa tahu akan tumbuh rasa rindu untuk bersama- sama.
Selalu membayang di benak Elnara bagaimana Afsa dan Emir sempat saling bertukar rasa saat hendak melakukan, dan bayangan itu berubah- ubah sesuai versi Elnara sendiri. ia kesal sekali setiap kali memikirkannya.
__ADS_1
Kali ini Elnara tak bisa mengampuni Afsa. Ini keterlaluan.
“Menjijikkan!” Elnara geleng- geleng kepala.
“Apanya yang menjijikkan, Neng?” Supir taksi menoleh.
Elnara terkesiap. Ia gelagapan sambil menatap supir, kemudian melihats ke sekitar. Taksi sampai berhenti di pinggir jalan gara- gara supirnya terkejut mendengar jeritan Elnara.
“Eh, enggak, pak. Maaf. Tadi tuh Cuma lagi bayangin aja.” Elnara menggaruk pelipis.
“Owalaaah… kirain taksi saya menjijikkan. Bagian mananya yang menjijikkan gitu, biar saya bersihkan.”
“Nggak ada, Pak. Ayo, jalan lagi, Pak.”
“Siap, Neng.”
Taksi kembali melaju.
***
__ADS_1
Bersambung