GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Keinginan


__ADS_3

Elnara tertatih melewati halaman luas rumah Emir.  Kakinya ngilu sekali.  Pinggangnya pun nyeri.  Sekujur badannya terasa sakit yang luar biasa.


Ia memasuki rumah, menuju ke kamar.  Lalu mandi.  Ia meringis merasakan nyeri setiap kali telapak tangannya menggosok kulit.  Hampir di seluruh badannya menjadi ngilu setiap kali mendapat sentuhan.


Usai mandi, Elnara terkejut melihat Emir yang sudah ada di kamar.  Saat ini Elnara mengenakan kimono, sehingga sekujur badannya tertutup.


Elnara mengalihkan pandangan saat tatapan mereka bertemu.


“Dari mana saja kamu?” tanya Emir sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


“Aku…”  Elnara berpikir alasan apa yang harus dia sebutkan untuk membuat Emir tidak curiga kalau dia telat pulang karena Afsa. 


Saat Emir mengetahui kejadian yang sebenarnya, entah apa yang akan dilakukan oleh Emir terhadap Afsa.  Pria itu terkenal kejam bukan?  Mungkin Elnara akan menjadi orang pertama yang dihantui penyesalan jika sampai terjadi sesuatu pada kembarannya yang sebenarnya jahat itu.


Nalurinya masih berkata, bahwa Afsa adalah saudaranya, dan kembarannya itu hanyalah sedang salah jalan, masih ada waktu untuk memperbaikinya.  


“Aku saja?  tidak ada penjelasan apa- apa?” tanya Emir.


“Aku tadi malas keluar dari kampus karena hujan, jarak teras kampus menuju gerbang cukup jauh, dan itu bisa membuatku basah kuyup.  Jadi aku menunggu hujan reda.”


“Lalu… vitaminku mana?”


“Oh… aku lupa membelinya.  Maaf.”  Elnara menunduk, namun manik matanya melirik ke arah Emir.


Tak ada tanggapan apa pun setelah itu dari pria itu.


Elnara kemudian melangkah menuju lemari untuk menjemput pakaian.  


Bruk!

__ADS_1


Elnara terpeleset akibat lantai yang menjadi licin karena telapak kakinya masih agak basah, lagi pula pandangannya pun gagal fokus, malah terus- terusan melirik ke arah Emir, akhirnya malah jatuh kepeleset jadinya.


Hanya berselang beberapa detik saja hingga Emir kini sudah ada di hadapan Elnara.  Pria itu jongkok dan membungkukkan badan.  Gesit sekali mengangkat tubuh Elnara.


“Awh!”  Elnara mengaduh merasakan punggung dan pahanya yang sakit akibat tersentuh oleh tangan Emir yang menggendongnya.  Sakit sekali.


Emir mengernyit heran.  Kenapa Elnara bisa kesakitan begitu  saat disentuh?  “Ada apa?”


Elnara mengangguk meski dengan dahi bertaut dan mulut sedikit meringis.  Sebenarnya ia tak mau menunjukkan ekspresi kesakitan, tapi rasa nyeri yang luar biasa tak tertahankan.  Apa lagi posisi lengan Emir yang menggendongnya itu memaksa lengan pria itu untuk memegang dnegan kuat.  Maka rasa sakit pun tak bisa ditahan lagi.


“Kakiku sakit.  Mungkin terkilir,”  Elnara beralasan.  Berharap Emir tak mencurigainya.


Emir pun beranggapan bahwa Elnara merintih karena merasakan sakit kakinya yang terkilir.


“Aku bisa jalan sendiri,” ungkap Elnara. Semakin tak kuat menahan sakit akibat tersentuh lengan Emir.


“Kamu bilang kakimu terkilir, maka diamlah dan biarkan aku yang menggendong mu.”  Emir meletakkan tubuh Elnara ke tepi kasur.


“Apa itu?”  Emir melihat pemandangan asing saat kimono bawah Elnara tersingkap hingga pahanya yang kebiru- biruan pun terlihat oleh mata Emir.


Elnara mengikuti arah pandang Emir, lalu buru- buru menutup bagian yang lebam.


Tak mau tinggal diam, Emir pun kembali menyingkap ujung kimono.  Ia melihat luka lebam di kedua pada Elnara.  Luka yang baru.


“Siapa yang melakukan ini?” tegas Emir dengan tatapan menusuk.


Elnara menunduk dan diam.  Tangannya meremas- reman ujung kimono.  Ia tak mau Emir sampai tahu kalau Afsa adalah pelakunya.  Pria ini bisa saja nekat melakukan hal yang tak jauh gilanya kepada Afsa.  Lebih baik menutupinya.  Elnara memilih untuk menghadapi Afsa sendiri, tanpa harus melibatkan Emir.


Afsa bukanlah lawan untuk Emir.  Dia hanyalah gadis biasa yang tersulut emosinya, meski pun hal itu kelewatan.

__ADS_1


“Jadi kamu tidak mau mengatakan siapa yang melakukannya?” tanya Emir mendominasi.


Elnara masih diam.


“Biarkan aku melihat luka lainnya.”  Emir menjulurkan tangannya.


Elnara seketika memundurkan badan menghindari tangan Emir yang menuju ke arahnya.


“Jangan menolak!  Aku paling tidak suka ditolak untuk urusan hal- hal begini.”  Emir terlihat bengis, membuat Elnara jadi takut.


Emir menyentuh kimono bagian leher.  


Baru begitu, kulit tubuh Elnara sudah meremang.


Emir menyentak kimono dan menurunkan sampai ke lengan.   Dahinya kembali bertaut melihat luka lebam yang tak biasa.  Terutama di bagian dada.  Luka itu cukup serius.  


Elnara segera menutup dada dengan menyilangkan tangan di bagian itu.  Malu sekali.  Kemudian Emir menggerakkan tubuh Elnara ke samping, melihat luka di lengan.  Kepala Emir geleng- geleng.  Luka itu cukup mengerikan.  Lebam luar biasa.


Kemudian beralih ke punggung.  Emir menurunkan kimono hingga ke pinggang.  Tampaklah luka- luka lebam yang mengenaskan di punggung, bahkan sampai ke pinggang.


“Awh!”  Elnara merintih merasakan pinggangnya yang sakit saat disentuh oleh Emir.


“Aku sudah melihat luka ini dengan jelas.”  Emir mengangguk.  Pemeriksaannya sudah cukup.  Di tengah emosi yang mendidih karena melihat luka- luka itu, sebagai lelaki normal ia merasa ingin disebabkan menyaksikan Elnara dalam keadaan begini.  Emir kembali memasang kimono di tubuh Elnara dengan benar.  “El!”  Emir menatap lekat wajah istrinya.


Elnara membalas tatapan suami.


Emir menelan sebelum akhirnya berkata, “Apa kamu mau tidur denganku sekarang?”


Elnara mendadak jadi tegang.

__ADS_1


“Baiklah, tidak perlu dijawab.  Aku mengerti kondisimu.  Lagi pula tubuhmu sedang sakit- sakit begini.  Sekarang pakailah bajumu.”  Emir melangkah menuju pintu.  “Kalau kau tidak mau mengatakan siapa pelaku penganiayaan itu, biar aku yang cari tahu sendiri.


Bersambung


__ADS_2