GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Bingung


__ADS_3

Menjadi istri yang baik adalah idaman bagi setiap wanita, tanpa terkecuali Elnara.  Merupakan kebahagiaan tersendiri baginya saat ia mampu menjadi istri yang baik untuk suami.  


Setelah menjalani hari- hari bersama dengan Emir, Elnara yang awalnya membenci pria itu seperti merasakan dendam kesumat, kini berangsur perasaan benci itu memudar seiring berjalannya waktu.  Terlalu sering bersama adalah alasan kuat yang membuat Elnara merasa nyaman. 


Langkah Elnara gemulai memasuki ruangan yang disebut dengan ruangan kerja oleh Linol, di sana Linol tengah sibuk mencatat sesuatu.  Kertas di mejanya banyak sekali.


Sedangkan Afsa tampak duduk santai, selonjoran di sofa sambil mainan hp.


“Afsa, ayo bantu ibu menghitung.  Matematika ibu sangat buruk!” Linol mengeluh, bingung dengan angka- angka di hadapannya.


“Makanya ibu pakai laptop saja.  ada rumus yang akan membuat pekerjaan ibu menjadi mudah.”  Afsa masih asik dengan hp.


“Ibu tidak paham dengan laptop.  Kau anak muda, kau kusekolahkan tinggi- tinggi, kaulah yang seharusnya menerapkan ilmu yang kau dapatkan.”  Linol menggerutu, menatap bingung pada angka- angka yang semakin lama semakin membingungkan.


Pandangan Linol kemudian tertuju pada Elnara yang kini sudah berdiri di hadapannya.  “Oh… kebetulan sekali kau kemari.  Ibu sedang pusing sekali.  Ini pembukuannya berantakan sekali.  Ini adalah perhitungan penjualan telur- telur bebek ibu.  Kau bisa membantu ibu kan?”


Elnara melirik Afsa.  “Bu, aku bisa saja membantu ibu.  Tapi kan tidak selalu, Afsa bisa melakukan ini untuk ibu.  Afsa harus belajar supaya bisa bekerja membantu ibu di rumah.”


“Hei, jangan menyuruhku.  Aku capek.”  Afsa membanting tubuhnya ke sofa dan berbaring dengan nyaman.


“Lihatlah kelakuan kembaranmu itu.  selalu membingungkan.”  Linol kesal.  


“Baiklah, mari biar aku buat konsep supaya pembukuan ibu menjadi mudah.”  Elnara duduk.  Ia mulai mengambil penggaris dan pena.  Lalu membuat kolom.  Ia lalu memberi contoh kepada Linol cara mengisi kolom supaya pembukuan menjadi mudah dan rapi.


“Waah… ini menarik.  Terima kasih, El.”  Pandangan Linol kini tertuju ke pakaian Elnara yang cantik.  Gaunnya pasti mahal sekali.  Bahkan make up di wajah Elnara juga terlihat bagus.  “Hei, kamu terlihat berbeda malam ini.  Apakah kamu akan mendatangi sebuah pesta?”


Mendengar hal itu, pandangan Afsa pun mengikuti arah pandang ibunya.  Ia baru sadar dengan penampilan Elnara yang menarik sekali.  Cantik dengan dress warna putih, sepatu warna senada.  Ya ampun, Elnara nyaris seperti seorang cinderela.  

__ADS_1


Kembali muncul perasaan iri dalam benaknya, kenapa harus Elnara yang mendapatkan kesenangan itu?  Jika saja dulu dia yang menikah dengan Emir, pasti dialah yang menikmati posisi enak itu.  Afsa benar- benar menyesal sudah salam mengambil keputusan.  Elnara selalu mendapat keberuntungan.


“Emir akan bertemu dengan kliennya dari Korea di restoran Gemoki 365.  Dan dia mengajakku ke acara itu.  Aku ingin mengajak Afsa turut serta.  Aku ingin memperkenalkan Afsa pada Emir di momen ini.  Sebab Emir mengaku belum mengenal saudaraku,” jelas Elnara.  “Afsa dan Emir kan memang belum pernah ketemu.”


“Oh ya, kamu benar.  Emir memang belum mengenal Afsa.  Sewaktu hari pernikahanmu berlangsung, Afsa kan bersembunyi.  Baiklah, kaamu bawa Afsa pergi bersamamu sana.”  


Afsa bangkit berdiri.  “Baiklah.  Aku sangat setuju.  Tunggu aku.  Aku akan berkemas.”  Afsa melenggang pergi.


“El, bagaimana pernikahanmu dengan Emir?” tanya Linol.


“Ibu nggak perlu menanyakan itu.  Aku sudah kecewa sejak awal ibu memaksa pernikahanku dengan Emir.”


“Jadi… Kamu masih marah pada ibu?”


“Aku nggak bisa marah sama ibu, tapi kecewa iya.  Apa pun yang seorang ibu lakukan pada anaknya, pasti akan tetap dianggap benar.”


“Hei, ayo kita berangkat!” Afsa berdiri di pintu, ia mengenakan gaun yang juga putih.  Tapi beda kelas, bahan dan harga jauh berbeda dengan pakaian yang dikenakan Elnara.  


Afsa keluar dan terbelalak ketika melihat mobil yang bertengger di depan rumah.  “Ini… mobil siapa?”


“Emir menyuruhku memakai mobil ini.”


“Oh luar biasa!”  Afsa mendekati mobil, mengelus badan mobil dengan takjub.  “Ini bagus sekali.  Lihatlah, kamu diberi fasilitas mewah oleh suamimu itu.  ini bahan untuk menyogokmu supaya takluk kepadanya kan?”


Elnara malas menanggapi.  Sebab ia pasti akan mengucapkan kalimat yang sama seperti sebelumnya.  Oleh sebab itu ia tak ingin mendebat.  


“Biar aku aja yang nyetir!” ucap Afsa sambil menjulurkan tangan hendak meminta kunci.  Afsa dan Elnara sudah fasih menyetir sejak duduk di awal bangku kuliah.  Mereka sama- sama belajar mengemudi.  Awalnya Elnara yang bersemangat untuk belajar mengemudikan mobil, namun Afsa ikut- ikutan.  Apa saja yang disukai Elnara, Afsa pasti mengikutinya.  Termasuk belajar mengemudi.

__ADS_1


Elnara melempar kunci mobil, yang langsung ditangkap oleh Afsa.


Dengan semangat, Afsa memencet remot lalu menekan starter, mesin mobil menyala.


“Yuhuu… Ini menyenangkan sekali.”  Afsa sangat gembira.


Elnara melirik kalung yang dikenakan oleh Afsa.  Itu adalah kalung pemberian Emir untuk Elnara.  Ia ingin mengambil kembali kalung itu, tapi tak enak hati mengungkapkannya kepada Afsa.  Ia paham bahwa Afsa tidak pernah memakai kalung sebagus itu, mungkinkah Afsa akan tersinggung jika kalungnya diminta kembali?


“Afsa, aku ingin memakai kalung pemberian Emir di pertemuan malam ini, boleh?”


Afsa menatap singkat kalung di dadanya.  “Baiklah, nanti kulepas.”


Oh… ternyata responnya tidak seburuk yang diduga.  Dengan mudah Afsa menyetujui permintaan Elnara.


Setengah perjalanan, Afsa menghentikan mobil.  “Aku mau beli minum. Haus.”  Afsa turun.


Elnara menunggu, kepalanya melongok menatap Afsa yang tampak sibuk mencari sesuatu di pendingin minuman minimarket.


Sebuah chat mengalihkan perhatian Elnara. Pesan dari Emir.


Dimana? Aku sudah menunggu di restoran. Jangan lama ya.


Senyum Elnara mengembang. Ia lalu mengetuk pesan untuk membalas dengan pipi merah merona. Tapi ia bingung harus mengetik apa, sehingga beberapa kali mengetik pesan, namun kemudoan dihapus lagi. Begitu seterusnya. Hingga Emir pun heran melihat keterangan di akun Elnara yang memperlihatkan tulisan hijau sedang mengetik, membuat pria itu bertanya- tanya, jawaban apa yang sedang diketik Elnara sampai- sampai banyak sekali yang diketik. Memangnya menulis novel?


Aku masih di jalan.


Hanya itu yang dikirim oleh Elnara setelah menulis kata- kata yang akhirnya dihapus terus.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2