GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Kejujuran


__ADS_3

“Maksudnya bagaimana ini?”  Yona menatap Elnara penuh tanya.  “Jadi ini ada penganiayaan atau tidak?  Jelaskan!”


“Nggak ada penganiayaan apa pun, Ma,” jelas Elnara.  “Emir sama sekali nggak melukai aku.  Kalau pun aku menangis, itu karena ulah para preman yang ingin melukai aku.  Dan Emir menyelamatkan aku.  Luka- luka ini disebabkan oleh para preman itu,” jelas Elnara lagi.


“Sungguh?  Jangan ada yang ditutup- tutupi ya.  Atau jangan sampai ini kamu katakan hanya karena di bawah pengaruh tekanan!  Sebab jika suatu saat nanti kamu mengaku bahwa di keluargamu ada KDRT, maka mama tidak akan mempercayainya lagi,” ancam Yona.


“Aku bicara benar, Ma.”


“Yuni, kamulah yang seharusnya bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi.”  Emir berucap tegas.


Tatapan Emir yang menusuk, membuat Yuni menunduk ketakutan.  Gadis itu pasti sedang mengumpati dirinya yang aslinya sedang ingin berusaha menjadi sang penyelamat, eh malah salah kaprah.  Yuni tampak sangat menyesal sekali.  Ketakutan melanda.  Takut dipecat.


Tatapan Yona kemudian beralih ke wajah Yuni.


Yang ditatap tampak memucat, bibirnya pun sampai berubah seputih kapas.

__ADS_1


"Jj jadi ss se sebenarnya ini cuma salah paham ya?" Yuni menunduk. Ia benar- benar seperti di ujung tanduk, terancam oleh situasi. 


"Lain kali, kamu harus teliti untuk hal- hal sensitif seperti ini," ucap Emir sambil menunjukkan jarinya ke arah Yuni dengan nada bicara yang mendominasi, tatapan tegas.


Yuni hanya menunduk saja. Takut.


"Efek dari sembarangan mengambil kesimpulan adalah kesalah pahaman yang berakibat fatal," imbuh Emir. "Kalau mama tadi memotong hidungku, mencincang kukuku, lalu menggoreng upilku, apa kamu mau tanggung jawab?"


Sebenarnya suasana terasa tegang saat Emir bicara dengan nada tinggi begini, tapi kok malah pada menahan tawa ya? Soalnya Emir membawa- bawa barang kecil yang tak disukai banyak orang itu. Dih. Meski ingin tertawa, namun tak ada satu pun orang yang berani tertawa, takut kena sembur oleh Emir. Pria itu kan kalau marah pasti mengerikan.


"Yuni, kamu ini sembarangan saja mengadu, jadinya salah paham begini!" tukas Yona geleng- geleng kepala.  Ia ingin memarahi Yuni, tapi tak tega mengingat nama mereka hampir sama seperti kembaran, Yona dan Yuni.  Masak nama seintim itu mesti bertengkar?


Yuni hanya mengangguk pasrah. Untungnya hanya mendapat skors alias tidak dipecat. 


"Mama, Yuni, aku hanya perlu ingatkan untuk waspada pada Afsa, dia adalah kembaranku. Kami kembar identik hingga sulit membedakan antara aku dan Afsa," jelas Elnara. "Afsa datang ke rumah ini dan menyamar menjadi aku. Emir hampir saja terkelabui, namun Emir sempat menyadari bahwa Afsa bukanlah aku. Inilah yang mengakibatkan Yuni salah paham, bahwa sebenarnya wanita yang berteriak di kamar saat dimarahin oleh Emir itu adalah afsa, dia ketahuan menyamar dan memperdaya Emir."

__ADS_1


Yona terperanjat kaget. "Benarkah?"


"Tolong untuk waspada pada Afsa, jangan sampai terkelabui olehnya saat dia mengaku menjadi aku. Dia ingin Emir hancur hingga dia melakukan segala cara untuk bisa memasuki rumah ini. Dia beranggapan bahwa Emir adalah pembunuh ayah kami."


Yona hampir tak percaya dengan semua penjelsan Elnara, tapi kenyataannya memang begitu, dan ia harus mempercayai peristiwa yang tak masuk akal itu.


“Eh, tunggu tunggu… Emir, kamu sudah bisa berjalan?”  Yona yang sejak tadi melihat Emir dalam keadaan berdiri tegap tanpa alat bantu bahkan baru menyadari bahwa putranya tidak lagi menggunakan kruk.  Saking fokusnya dengan masalah penganiayaan, ia sampai tidak sadar dengan pemandangan di depan mata.


“Ya.  Seperti yang mama lihat.  Aku sudah bisa berjalan.”


“Ya Tuhan… Syukurlah!  Ini kabar gembira.  Akhirnya kau bisa kembali berjalan.”  Yona mengelus- elus lengan putranya.


Elnara ikut tersenyum merasa terharu menyaksikan pemandangan itu.  namun senyumnya langsung lenyap begitu ia sadar menjadi pusat perhatian Emir.


Jangan sampai Emir jadi ke Ge Er an.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2