
Elnara menggelengkan kepalanya yang terasa pusing sekali. Berat dan sakit. Kulit tubuhnya terasa dingin sekali. Ia pun menggigil dalam seketika waktu. Manik matanya mengedar melihat ke sekeliling. Rumput liar di sekitarnya, menggelikan sekali saat dia rasakan menyentuh kulitnya.
Tapi... Loh ini kenapa kulit badannya tersapu angin begini? Bukankah seharusnya kulit tubuhnya dilapisi pakaian? Tapi kenapa yang terlihat kini ia tanpa pakaian, hanya mengenakan sepotong bra serta celana sot pendek sepaha? Kemana pakaiannya?
Angin malam terasa dingin sekali, pasti ini sudah lewat dari tengah malam sehingga suhu pun rendah, membuat Elnara jadi menggigil.
Apa yang sudah terjadi padanya? Elnara berusaha mengingat- ingat.
Ah, ia ingat, terakhir kali ia naik mobil bersama dengan Afsa. Kemudian Afsa minta turun di minimarket untuk membeli minuman.
Tak lama kemudian, Afsa kembali membawa dua botol minuman. Dia meneguk salah satunya, sedangkan satunya lagi diberikan kepada Elnara.
Tenggorokan Elnara terasa nyaman setelah meneguk minuman itu. Tak berselang lama, Elnara merasa sangat mengantuk sekali hingga ia pun tak sadar kapan ia tertidur.
Dan sekarang ia sudah berada di semak belukar pinggir jalan aspal. Ia melihat seonggok pakaian tak jauh dari tempatnya duduk, seingatnya itu adalah pakaian yang dikenakan oleh Afsa saat terakhir kali bersama dengannya.
Elnara memungut pakaian itu, bergegas memasukkan tangan untuk segera memasang ke tubuhnya. Namun dress tersebut tiba- tiba terlepas begitu saja saat ditarik oleh seseorang.
__ADS_1
Elnara terkejut melihat dua pria berbadan tegap sudah ada di hadapannya, salah satunya mengayun- ayunkan dress tersebut di tangan, memutar- mutar dengan senyum lebar. Satu lainnya menatap Elnara dengan nanar, penuh keinginan.
Ternyata tidak hanya dua pria saja yang mendatangi Elnara, namun ada satu pria lain yang ada di belakang.
Ketiga pria itu memburu dengan tatapan mengerikan, seringaian seperti serigala kelaparan.
"Jangan lakukan apa pun, atau aku akan teriak!" ancam Elnara. "Toloooooong..." Elnara menjerit sekeras- kerasnya, berharap jalanan sepi itu akan berubah menjadi ramai. Atau mungkin Tuhan mengirimkan keajaiban baru dengan menjadikan tiga pria beringas itu menjadi kurcaci.
Ah, ke apa harus berkhayal? Semua itu tidak mungkin terjadi. Elnara benar- benar merasa ketakutan sekali. Disaat posisinya terpojok dengan pakaian mini begini, ancaman paling ditakutkan seluruh wanita telah menguasainya. Ia menyilangkan tangan di dada.
"Ayolah, mari bersenang- senang!" Pria berkumis bergerak cepat menangkap tubuh Elnara.
"Kena kau!" seru pria lain dengan tawa girang.
"Ayo, bawa dia ke arah dalam semak." Pria satunya tak sabar.
Pria berkumis melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Elnara dari arah belakang dengan kedua tangan Elnara yang juga ikut diikat ke dalam lingkaran lengan si kumis, pria berkumis itu dengan mudahnya menyeret tubuh Elnara dengan cara membopongnya begitu saja.
__ADS_1
Tubuh Elnara yang mungil itu dengan entengnya diangkat, dilempar ke semak- semak. Punggung Elnara terasa sakit sekali, terbanting di ranting- ranting yang secara langsung menggesek punggungnya. Ada rasa perih, ngilu dan nyeri.
Berbagai rapalam doa dirapalkan oleh Elnara. Ia adalah wanita yang terjaga, ancaman mengerikan yang tentu saja bisa merenggut kesuciannya menghantuinya.
Suara tawa terdengar menggelegar. Pria rambut keriting yang menunggu giliran tampak tak sabar melihat si kumis mulai beraksi.
Tak henti Elnara berteriak.
Merasa terancam atas teriakan Elnara, si rambut keriting memukul pippi Elnara.
Blugh!
Si kumis tiba- tiba memegangi kepalanya sesaat setelah terdengar suara pukulan. Si kumis ambruk, tergeletak ke arah belakang.
Si rambut keriting dan pria lainnya tampak emosi menatap sosok yang datang memegangi kayu yang digunakan untuk memukul.
Elnara masih tergeletak sambil menangis ketakutan. Ia merasakan sebuah jaket dilempar ke arahnya, tepat jatuh di atas dadanya, menutupi area unik.
__ADS_1
Bersambung