
“El! Elnara!”
Beberapa kali Emir berteriak memanggil nama Elnara, namun tak ada sahutan.
Kesal, Emir akhirnya memilih diam, menunggu keajaiban. Dan akhirnya keajaiban itu datang juga, Yuni. Iya, Yuni itu seperti keajaiban, suka datang di waktu yang tepat.
“Yun, Elnara mana?”
“Maaf, Mas. Saya nggak melihat Mbak El sejak tadi. Soalnya saya baru pulang dari warung. Ada yang bisa saya bantu, Mas?”
Emir diam saja. Beberapa detik mengawasi daging ayam yang hanya tinggal separuh. Ia mendapat telepon dari Yona dan segera dia jawab.
“Emir, ini kenapa Cindy bisa keracunan ya? Duh, kudisannya parah jadinya nih. Tiba- tiba saja Cindy jadi kudisan parah begini?” ucap Yona di seberang.
“Dokter bilang apa?”
“Katanya salah makan. Kandungan yang dimakan oleh Cindy itu berbahaya, bisa bikin kulit rusak begini. Besok- besok Cindy jangan dikasih ijin jajan sembarangan, bahaya!”
Pembicaraan diakhiri setelah Yona puas mengadu tentang kondisi Cindy.
“Yuni, bawa piring ini ke belakang dan buang ayamnya ya!” titah Emir.
“Kok, dibuang? Ini masih ada separuh, Mas.”
“Buang!”
“Eh, baik.” Melihat Emir yang tampak serius, Yuni tak berani banyak bicara. Ia langsung pergi membawa piring. Ia berpapasan dengan Elnara yang melangkah masuk.
Tatapan Emir kini tertuju pada Elnara yang berdiri tak jauh dari pintu. Wanita itu tampak ragu melihat tatapan Emir yang tampak kejam.
“Kemari kamu!” titah Emir pada Elnara.
Melihat raut wajah Emir yang sadis, Elnara jadi bingung. Seperti telah terjadi masalah besar yang ia tidak ketahui. “Ada apa?”
__ADS_1
“Kamu tadi pagi masak ayam saus itu kan?”
Elnara mengangguk.
“Sejak awal kamu memang tidak menyukai Cindy, tapi bukan berarti kamu korbankan dia hanya karena kamu tidak menyukainya. Rubahlah pola pikirmu itu!” Emir menarik lengan Elnara hingga tubuh kecil wanita itu terhuyung maju.
Bruk. Elnara terduduk di pangkuan Emir sesaat setelah tubuhnya itu berputar. Ia meringis merasakan lengannya dicengkeram sangat kuat. Ia ingat Emir adalah sosok yang kejam saat mengatur seluruh pegawainya di kantor. Bahkan peraturan yang dia terapkan di kantor pun cukup mencekik para pegawai.
Lalu, apakah Emir juga menerapkan sistem otoriter dan ketegasannya itu saat di rumah?
“Kamu tidak menyukai Cindy kan?” geram Emir dengan napas hangat yang menyapu wajah Elnara. Jarak mereka begitu dekat.
Elnara menunduk, ketakutan melihat wajah Emir yang tampak sangar saat begini. Jantungnya pun berpacu cepat.
“Kalau kamu tidak menyukai Cindy, bukan berarti harus menyakiti dia! Itu sama saja kamu tanamkan jiwa dengki dan dendam di hatimu! Apa bedanya kamu dengan Cindy? Singkirkan tabiat itu!” hardik Emir.
“Aku nggak menyakiti Cindy.”
“Aku nggak tau apa- apa. Aku nggak melakukan apa pun. Apakah jika Cindy sakit setelah menyantap makananku lantas aku yang salah? Bisa jadi kamu atau mama yang menyantap makanan itu kan? Bukan berarti harus Cindy yang memakannya.”
“Masih mengelak juga. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa sifat yang kamu pelihara itu buruk dan kamu harus meninggalkannya.” Emir melepas lengan Elnara kemudian menyentak lengan wanita itu hingga tubuh kecil itu terhuyung dan terbanting di sofa.
Elnara memilih untuk membungkam. Ia sebenarnya ingin melawan Emir, namun keberaniannya terpatahkan oleh kesangaran Emir. Baru kali ini Elnara melihat Emir marah, ia jadi takut. Nyalinya ambyar entah kemana. Jadi seperti ini jika Emir marah, pria itu terlihat sangar dan bengis.
Elnara terkejut saat tangannya diangkat dan sentuhan lembut mengenai lengan bagian siku, tak lain sentuhan kapas yang sudah dicelup ke betadin. Kapas itu dioleskan dengan lembut ke lengan dekat siku yang baru disadari oleh Elnara dalam keadaan terluka, terkena goresan tajam. Entah kena apa.
Dan Elnara hanya diam melihat Emir mengobati lengannya itu. Entah kapan Emir mengambil obat dan kemudian mengolesi obat ke lengannya. Bukankah Emir tadi dalam keadaan marah?
“Awh!” Elnara merintih merasakan pedih pada luka yang diobati.
“Ini tadi terkena kukuku. Tidak sengaja. Maaf.” Emir sibuk mengobati, memutar lengan itu ke sana dan kemari, membolak- balikkannya hingga Elnara malah merasa ngilu akibat lengannya diputar- putar begitu.
“Sudah,” pinta Elnara.
__ADS_1
“Lain kali mengaduh atau bicara apa pun dan bilang kalau kamu merasa kesakitan. Kenapa diam saja?”
Elnara menunduk. Lagi- lagi ia malah kena semprot. Bukankah ia korban di sini? Emir yang bersalah karena tanpa sadar sudah memberikan penganiayaan, lalu kenapa malah Elnara yang seakan- akan menjadi terdakwa sekarang?
Emir menghela napas. Terdengar embusannya cukup keras.
Elnara tak tahu kenapa ia merasa takut sekali pada kemarahan Emir yang menawarkan aura kebengisan seperti yang disebutkan orang- orang. Pelan ia mengangkat wajah, dan terkejut mendapati tatapan suaminya yang tajam, seperti hendak menelannya mentah- mentah. Kembali ia menundukkan wajah.
Elnara terkejut merasakan dagunya disentuh dengan lembut, kemudian dipaksa untuk terangkat. Memaksanya untuk bersitatap dengan mata elang milik Emir. Jantungnya benar- benar berlarian disaat begini.
“Bisa jawab pertanyaanku?” tanya Emir.
Elnara mengangguk dengan terpaksa.
“Kalau sakit, kamu bisa bilang kan? Jangan diam saja! Melindungi diri sendiri itu sangat penting!” pinta Emir tegas.
“Oleh sebab itu jangan sakiti aku.”
Sudut bibir Emir tertarik sedikit, membentuk senyuman manis yang membuat wajahnya semakin tampan. Dia benar- benar terlihat seperti pria muda yang menggemaskan, namun tak membuat kesangarannya runtuh.
“Aku suka dengan jawabanmu!” Emir mengelus pipi Elnara dengan jempolnya, membuat kulit tubuh Elnara meremang.
Kemudian tangan besar Emir menjulur ke arah dada Elnara. Telunjuknya menyentuh kulit di dekat leher.
Segera Elnara memundurkan tubuhnya dengan gugup.
“Aku hanya ingin mengancing bajumu. Itu terbuka,” ungkap Emir membuat Elnara sontak menunduk menatap kancing bajunya yang terbuka.
Elnara bergegas mengancingnya.
“Lain kali berhati- hatilah dengan kancing bajumu, jangan biarkan siapa pun menikmati pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat. Aku melarang keras!” tegas Emir.
Bersambung
__ADS_1