GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Baku Hantam


__ADS_3

Elnara hampir tak tahu apa yang terjadi di hadapannya. Terjadi baku hantam dan saling pukul, rasa takut dan trauma membuat Elnara tak ingin melihat kenyataan di hadapannya. Ia hanya bisa mendekap erat jaket itu sambil terisak.


Hingga saat Elnara mengangkat kepala, ia memberanikan diri untuk menyaksikan apa yang terjadi di depannya. Ternyata ia melihat Emir yang tengah berkelahi melawan tiga pria beringas sekali gus.


Emir tampak kesulitan menggunakan bantuan kruk saat melawan musuh, ia mendapat pukulan akibat mempertahankan kruk di ketiak. Lalu ia pun memanfaatkan kruk sebagai alat untuk berkelahi, ia melayangkan kruk untuk menyerang lawan. Hanya saja, kruk tersebut malah patah. Terpaksa Emir baku hantam tanpa menggunakan kruk. Ia dengan leluasa menghantam dan menendang lawan meski tanpa alat bantu tersebut.


Elnara menjerit dan memejamkan mata saat melihat Emir tersungkur akibat mendapat tendangan hebat dari lawan.


Elnara menutup mata, menunduk sambil menangis. Ia ketakutan hingga tak bisa melakukan apa- apa. Jika saja Emir sampai mati gara- gara kasus ini, sudah pasti Elnara akan rugi dua kali lipat. Pertama, rugi akan kematian Emir. Kedua, rugi akan kesuciannya yang pastinya akan dirampas.


Mungkin sekitar lima menit Elnara mematung di tempat. Duduk seperti sedang menunggu angkot. Hingga sebuah tangan terulur ke hadapan wajahnya.


Elnara terkejut dan menggeser duduk ke belakang, ketakutan. Jika penjahat itu muncul untuk kembali berusaha merenggut kesuciannya, bagaimana ia bisa tenang?


"Jangan mendekat! Pergi!" Elnara menjerit keras sekali sambil terus bergerak mundur dengan cara beringsut- ingsut. pahanya tergores- gores rerumputan yang rantingnya sedikit tajam. Namun ia seakan tak merasakan hal itu. Ia hanya ingin berlari menjauh, entah kenapa tubuhnya lemas sekali hingga kakinya tak bertenaga.


"El, bangunlah!" Suara pria tak asing terdengar serak.


Elnara melihat sepasang kaki di depannya. Ia mengangkat wajah, menatap Emir yang menganggukkan kepala.


Sontak Elnara menghambur bangkit berdiri, memeluk tubuh Emir erat. Tangisnya pecah.

__ADS_1


Emir malah terpaku. Matanya berputar. Setelah beberapa menit, barulah Emir mengangkat tangan dan membalas pelukan Elnara.


Sudah tidak ada lagi tiga pria menyeramkan itu. Mereka pergi tinggang langgang dengan kondisi babak belur.


Emir mengusap punggung polos Elnara merasakan pelukan lengan kecil wanita itu yang semakin kuat. Tangis Elnara sesenggukan.


"Ayo, pulang!"


Suara Emir menyadarkan Elnara bahwa ia sudah aman. Elnara mengangguk. Sebenarnya Elnara ingin sekali berteriak girang melihat kaki Emir yang ternyata sudah sembuh. Namun hatinya tak kuasa untuk mengekspresikannya. Ia terluka, perasaannya hancur, juga trauma. Bagaimana mungkin ia bisa tertawa disaat begini? Merasakan ketakutannya saja sudah membuatnya jadi kacau balau.


Emir memungut sehelai baju yang ada di sekitar sana, lalu memasangkannya ke tubuh Elnara. Pria itu merangkul pundak Elnara dan membawanya memasuki taksi yang baru saja di hentikan.


Sesampainya di rumah, Emir membimbing Elnara memasuki rumah.


"Loh, ini Mbak El kenapa?" Yuni terkejut melihat Elnara sembab, bahkan didapati luka goresan di wajah dan lengan wanita itu.


Elnara tak kuasa menjawab, dia melirik Emir, memberikan jawaban kepada suaminya.


"Minggir!" Bukannya menjawab, Emir malah meminta Yuni supaya menyingkir dari hadapannya karena menghalangi jalan.


Yuni spontan menyingkir. Ia menatap Emir dengan penuh kewaspadaan. Sebenarnya ia ingin menanyakan kaki Emir yang sudah bisa berjalan, namun urung, takut kena maki. Ekspresi wajah Emir tampak tak bersahabat saat ini.

__ADS_1


Emir membimbing Elnara menuju kamar. Wanita itu duduk di sisi kasur.


Emir ikutan duduk di sisi Elnara. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sekarang ia harus bicara apa? Sejak tadi Elnara terlihat murung dan ketakutan begitu. Sedikit pun tak terlintas kata- kata di kepala Emir tentang bagaimana caranya merayu wanita yangs edang sedih. Ah, ini sungguh tugas yang paling berat.


"Eh, ada kupu- kupu. Cantik sekali!" Emir menunjuk ke belakang.


Elnara pun menoleh, mencari kupu- kupu. Tapi tidak ada apa- apa di sana. Huh, rupanya Emir hanya nge prank.


Melihat Elnara yang sadar sedang dikibuli, Emir pun kembali menggaruk kepala.


"Dikira lucu? Aku bukan anak kecil yang bisa tertawa bahagia saat diperlihatkan kupu- kupu." Elnara memalingkan wajah.


Nah, maksud Emir tadi begitu, ingin membuat pikiran Elnara beralih dari kesedihannya saat di prank tentang kupu- kupu. Sama seperti anak kecil yang akan langsung tertawa mencari keberadaan kupu- kupu. Ah, tapi kann elnara bukan anak kecil. Sungguh ekstrim sekali pemikiran Emir.


Emir sebenarnya ingin menanyakan bagaimana kejadian awal hingga akhirnya Elnara bisa ditinggalkan oleh Afsa dan kemudian ditemukan di semak belukar bersama dengan tiga pria beringasan. Namun ia merasa waktunya tidak tepat. Kondisi Elnara masih sangat buruk sekarang.


Pria itu kembali berpikir, cara ampuh apa yang bisa dia gunakan untuk membuat pikiran Elnara berpaling dari kesedihan dan ketakutan itu?


Aha.. ada ide.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2