
"Bu, sibuk?" Elnara saat itu tengah berkunjung ke rumah Linol. Dia mendatangi ibunya yang tengah memandori empat tenaga kerjanya yang tengah sibuk memunguti telur bebek dari kandangnya.
"Tidak. Ibu hanya sedang mengecek pekerjaan anak buah. Ibu harus waspada. Produksi telur bebek kemarin menurun, takutnya ada pegawai yang nakal dan mencuri telur bebek ibu." Linol menjauhi kandang, kemudian menuju teras belakang rumah, ia duduk ke kursi sambil berkipas menggunakan kipas tangan. Matanya memperhatikan anak buahnya di kejauhan.
"Jangan suudzon, Bu." Elnara duduk di kursi sisi Linol.
"Ibu bukan berprasangka buruk, hanya waspada saja."
"Oh ya, Afsa mana?"
"Dia sedang pergi, katanya mau makan nasi goreng di tempat biasa. Anak itu tidak mau membantu ibu bekerja, tapi kerjaannya hanya menghabiskan uang ibu saja."
"Menafkahi Afsa sebagai anak adalah sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Tapi kalau ibu merasa tidak mampu menguliahkan Afsa, ibu boleh hentikan kuliahnya. Jangan memaksakan diri. Dan jika ibu merasa biaya hidup Afsa membengkak karena hal- hal yang tidak perlu, ibu bisa melarangnya atau pun menghentikan apa saja yang menjadi kebiasaan buruk baginya."
Linol menghela napas. "Sudahlah, kamu tidak perlu mengurus ini. Biarkan ini menjadi urusan ibu."
"Ibu adalah ibuku, Afsa pun saudara kembarku, maka urusan ibu dan Afsa bisa menjadi urusanku juga, apa lagi kalau ada apa- apa, ibu ngeluhnya ke aku. Wajar aku beri masukan. Kenapa ibu nggak mau menghentikan perilaku Afsa yang kerap berbuat tidak benar?"
Linol kembali menarik napas. "Ibu takut sama Afsa? Ibu nggak berani menindak Afsa? Ibu kalah sama bentakan Afsa?" sambung Elnara.
"El, maksudmu bicara begini tuh apa?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin ibu berbuat adil. Ibu tegas sama Afsa. Tapi yang terjadi selama ini ibu selalu saja kalah telak setiap kali Afsa marah sama ibu, dan ibu memilih untuk melimpahkan hal- hal buruk kepadaku karena aku lebih terlihat patuh pada ibu." Elnara mulai menunjukkan taring.
"Kamu jangan menambah beban pikiran ibu dengan bicara seperti ini. Ibu makin pusing."
"So, kalau tingkah Afsa makin menjadi- jadi, apakah ibu akan terus diam dan mengalah?" sambung Elnara dengan tatapan lekat.
Linol mematung. Memikirkan kata- kata Elnara.
"Apakah ibu tahu sejauh mana Afsa bertingkah? Saat Afsa tahu bahwa Emir adalah orang yang sudah menabrak ayah, Afsa melakukan banyak hal untuk dapat merusak kehidupan Emir karena dendam. Dan ibu pasti tahu tentang Emir yang merupakan penyebab kematian ayah sejak awal kan?” Elnara memegang lengan ibunya, berharap ibunya memahami posisinya. “Aku nggak ingin Afsa muncul di rumah tanggaku dan mengacak- acak semuanya. Dia mendatangi Emir dan mengaku sebagai aku. Dia bahkan menyerahkan kesuciannya untuk Emir. Meski ini tidak sempat terjadi karena ketahuan, tapi perilaku Afsa sudah keterlaluan. Niat awal Afsa yang ingin membalas dendam berubah haluan, dia ingin mendapatkan Emir, apa lagi Emir sudah tidak cacat lagi.”
Linol mengernyit heran. Ia tak menyangka Afsa bisa senekat itu. “Jadi, Emir tidak cacat lagi?”
Linol mengerutkan dahi, berpikir.
“Aku rela mengorbankan kehidupanku demi kehidupan ibu dan Afsa. Aku rela menjalani pernikahan tanpa cinta. Pun aku sudha berjuang menata rumah tanggaku meski harus berperang dengan perasaanku sendiri. Aku sudah mengalah demi kebaikan semuanya. Bahkan aku mengalah untuk dipaksa menikah dengan lelaki yang aku nggak cintai. Jadi tolong, bantu aku supaya Afsa tidak menghancurkan apa yang sudah aku bangun ini,” ucap Elnara meminta bantuan ibunya.
“Afsa melakukan hal itu karena ada alasan. Dia mungkin menginginkan kehidupanmu yang sekarang. Bukankah seharusnya memang Afsa yang ada di posisimu? Kamu harus memahami kenapa Afsa bisa berbuat hal itu.”
“Kalau memang begitu, kenapa tidak sejak awal saja dia yang menikah dengan Emir? Setelah aku mengorbankan segalanya, Afsa muncul dan ingin mengambil semua yang dia anggap bagus.”
“Wajar saja Afsa iri padamu, awalnya Emir terlihat sebagai duda cacat, siapa pun dan sekarang dia sudah sembuh.
__ADS_1
“Ya Tuhan, ibu masih juga membela Afsa? Atau ibu takut menghadapi Afsa? Selalu saja ibu kalah telak oleh Afsa.” Elnara bangkit berdiri, mengusap rambut frustasi.
“Afsa itu kan kembaranmu, kamu tidak bisa berbuat sadis kepadanya hanya karena dia melakukan kesalahan kepadamu.”
“Di sini yang melakukan kesalahan itu siapa? Afsa yang sadis kepadaku. Dia yang mengalihkan semua hal yang buruk kepadaku dan ingin mengambil semua yang baik dariku. Lalu kenapa masih Afsa dibela juga? Seharusnya ibu menindak Afsa, bukan melindungi karena takut kepadanya.”
“Sudah! Berhenti menyudutkan ibu!” Linol bangkit berdiri.
“Sampai di sini, aku paham kenapa Afsa tidak bisa menjadi anak yang baik, bahkan membangkang, melawan dan kasar pada ibu. Itulah hasil pendidikan ibu.”
“Stop, El! Kalian itu kembaran tapi kenapa seperti bermusuhan!”
“Seharusnya ibu sampaikan itu kepada Afsa. Aku tidak pernah menganggap Afsa sebagai musuh, apa lagi menganggapnya sebagai saingan. Aku ngenes melihat ibu yang takut pada Afsa.”
“Lebih baik kamu pulang!” Linol menunjuk pintu.
Elnara tampak kecewa. Sampai kapan ia disisihkan begini oleh ibunya hanya karena sang ibu takut pada Afsa? Sehingga segala hal buruk selalu dilimpahkan pada anak yang patuh.
“Aku kecewa pada ibu. Jangan salahkan aku kalau aku nggak akan pernah pulang kemari lagi, apa pun yang terjadi. Ibulah yang menutup pintu itu dariku.” Elnara melenggang pergi.
***
__ADS_1