GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Membuka Kejujuran


__ADS_3

Di meja panjang itu, Elnara tengah menyantap sarapan pagi bersama dengan sang suami.  Ada juga Yona dan Cindy yang turut serta menyantap hidangan.


Pagi itu menunya pasta dan pastel.  Elnara- lah yang memasak sarapan.  Ini adalah hari terakhir proses skors untuk Yuni.  Besok asisten rumah tangga itu akan kembali bekerja seperti baisa.


“El, pagi ini kamu cantik sekali.  Mama lihat mukamu cerah.  Mama suka itu!”  Sambil mengunyah, Yona menyentil penampilan wajah menantunya yang tampak cerah sekali.


Elnara hanya tersenyum sipu.  Elnara pun menyadari hal itu.  Entah kenapa ia merasa berbunga- bunga, efeknya pun sampai ke muka.  Semua itu tak bisa dibohongi dan ditutup- tutupi.  Mungkin ini efek dari pertukaran dalam memadu kasih tadi malam, jadinya kebawa perasaan.  Apa lagi Emir menyediakan lengannya untuk kepala Elnara berbaring setelah itu, sepanjang malam pria itu memeluknya, pipi mereka menempel satu sama lain.  Indah sekali.  


Sesekali pandangan Elnara tertuju ke arah Emir dengan melirik singkat sambil tersenyum simpul.  Duuuh… rasanya tak karuan.  Deg- degan, malu, juga salah tingkah.  Gara- gara opsi yang namanya salah tingkah, Elnara sampai salah mengambil pasta, sumpit di tangannya kok ya malah mengambil pasta di piring Emir yang ada di sebelahnya. Dan saat pasta sudah terangkat, Elnara baru sadar kalau dia salah ambil.


“Kamu mau menyuapiku?” tanya Emir santai sekali. Ia heran melihat sumpit Elnara yang tiba- tiba mengambil pasta di piringnya.


“Eh?”  Elnara jadi bingung menjadi pusat perhatian semua orang.  Dih, nih tangan juga kenapa sampai selobotan ke piring sebelah segala?  Dasar kegatelan!  Bikin malu!  


Elnara tidak menjawab, ia langsung menyantap pasta yang dia rampok dari piring Emir.

__ADS_1


“Punyamu belum habis, kenapa mengambil punyaku?  Apa kamu mau mencicipi apa rasanya makanan setelah terkena salivaku?” Emir berucap dengan rileks.


“Aku hanya ingin mencicipi punya rasanya bagaimana, takut keasinan.  Soalnya tadi pas masak tuh ngaduknya kurang tepat.”  Elnara beralasan.


“Kalian ini memang lucu ya.  Sepasang suami istri yang humoris dan serasi.  Mama berharap akan cepat mendapat cucu.”  Yona menimpali.


Lagi- lagi Elnara harus menahan grogi, membicarakan masalah cucu membuatnya semakin tak karuan saja.


“Jadi sebenarnya Mama El ini punya saudara kembar ya?” Cindy tiba- tiba berbicara.  Kalimatnya cukup membuat Elnara terkesiap kaget.


“Berarti yang dulu memberi makanan beracun itu kembarannya Mama El.  Yang memukulku juga kembarannya Mama El.  Dia itu jahat ya?”  Cindy berucap polos sekali.


Elnara tersenyum simpul.  “Enggak jahat, hanya saja orangnya tuh pemarah.  Jadinya apa- apa selalu dibawa emosi.”


“Dan yang sempat datang lalu menghancurkan dokumen milikku menggunakan jus alpukat juga pasti Afsa, kembaranmu itu, El,” sahut Emir.

__ADS_1


“Mewakili Afsa, aku minta maaf.”  Elnara tertunduk.


“Perwakilan maaf darimu tidak ada gunanya.  Afsa memang harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.”  Emir menghela napas.


“Tante Afsa sempat mengumpatiku dengan kasar, bahkan juga sempat bilang bahwa aku ini anak pungut.”  Cindy tampak sedih, juga marah.


“Cindy, satu hal yang perlu kamu ketahui, sebenarnya papa belum ingin mengatakan ini sekarang, tapi kamu sudah besar dan mungkin sudah bisa menerima apa yang papa sampaikan kepadamu.”  Emir menjeda kalimat sambil menatap wajah putrinya dengan tatapan lembut.


“Papa mau ngomong apa?”  Bocah berseragam sekolah warna kuning itu menyilangkan tangan di meja, siap mendengarkan.


Emir menjulurkan tangan, menyentuh punggung tangan putrinya. Dia menatap dengan teduh.


Melihat sikap Emir yang penuh kasih sayang, tampak berthati- hati saat ingin bicara, membuat Elnara tersentuh.  Cindy padahal bukan anak kandung Emir, tapi pria itu begitu menyayanginya.


“Cindy, kamu anak pintar, kamu hebat.  Perlu kamu ketahui satu hal, bahwa sebenarnya papa ini bukanlah papa kandungmu.  Sama seperti Mama El, kami tidak memiliki ikatan darah denganmu,” ucap Emir dengan lembut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2