GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Marah


__ADS_3

“Bu, aku pulang dulu,” pamit Elnara.  “Besok aku akan kemari lagi.”


“Ya.  Pulanglah.  Ini sudah dini hari.”


Elnara melangkah keluar.  Mencari Emir.  Entah kemana pria itu.  setelah Linol membahas mengenai pelaporan kepada kepolisian mengenai kasus itu, tiba- tiba Emir langsung pergi begitu saja.


Elnara menyusuri koridor rumah sakit sambil mencoba untuk menelepon Emir, namun panggilannya tidak masuk- masuk.


Elnara berhenti ketika mendapati Emir tengah berdiri membelakangi sambil berteleponan di dekat toilet pria, di sebuah gang sempit.


Pantas saja telepon Elnara tidak masuk- masuk, rupanya Emir tengah berteleponan.


Elnara mendekati Emir, ingin mengajak pria itu pulang.  Tubuh Elnara masih terasa ngilu- ngilu.  Duduk pun tak nyaman saat nyender di kursi yang berbahan keras.


Saat sudah berdiri di jarak dua meter tepat di belakang Emir, pembicaraan pria itu membuat Elnara terdiam mematung.


“Polisi pasti akan mencarimu, Hamish.  Ibunya Afsa sidah melaporkan kasus ini ke polisi.  Afsa kini dalam keadaan kritis.  Pastikan cctv tidak menangkap wajahmu.  Kau ceroboh!  Baiklah, kau tenanglah dulu, aku akan mencari car supaya kau aman.”


Ngeeek!

__ADS_1


Kucing yang tanpa sengaja terpijak oleh kaki Elnara pun menjerit kesakitan, kemudian kucing itu kabur.


Emir menoleh, terkejut melihat keberadaan Elnara yang dipastikan mendengar pembicaraannya.  Jempol Emir langsung menggeser tombol merah sambil menurunkan benda pipih itu.


“Elnara!” Suara Emir lirih.


“Dugaanku benar bukan?  Ternyata kamu pelakunya.  Lalu kenapa aku harus mempercayaimu?”  Elnara geram sekali.  “Sejahat- jahatnya Afsa terhadapku, aku nggak pernah mau membalas kejahatannya.  Kalau aku menyakitinya sama seperti dia menyakitiku, lalu apa bedanya dia denganku?”  Suara Elnara sampai serak, menatap Emir tajam.


Emir hanya bisa diam mendengarkan amarah istrinya.


“Setelah kamu mengatur situasi supaya nggak ada tuntutan dari pihak keluarga korban tabrakan ayahku, sekarang kamu pun akan mengatur supaya Hamish yang menjadi suruhanmu itu aman dari hukuman, begitu?” sambung Elnara.  “Pernikahan kita sejak awal terjadi karena pernikahan paksa.  Mungkin memang kita ini nggak berjodoh, kita nggak pernah bisa sejalan.  Aku kecewa padamu.”  Elnara melangkah pergi.


Apakah kejahatan Afsa kemudian akan terbayar dengan tindakan kriminal itu?  Apakah penganiayaan terhadap Afsa merupakan perbuatan manusiawi?  Bahkan penganiayaan itu sangat sadis.  Ini keterlaluan.


Elnara terkejut saat tiba- tiba lengannya ditarik dan tubuhnya dimasukkan ke dalam mobil.  Tak lain mobil milik Emir.  


Elnara menoleh, menatap Emir yang menyusul masuk ke bagian kemudi.


“Pulang!” ucap Emir sambil menjalankan mobil keluar area rumah sakit.

__ADS_1


“Aku nggak suka padamu, Emir.  Kamu psychopath.”


Emir menatap Elnara dengan tajam.  Dan tatapan tjaam itu berhasil menusuk jantung Elnara.  Rasanya menakutkan.


“Kamu bilang suamimu ini psycopath?  Kamu akan menyesal dan menarik ulur perkataanmu itu.  Suamimu ini bukan penjahat.  Kamu harus percaya itu!  Sampai kapan kamu tidak bisa mempercayaiku?  Sampai kapan kamu anggap aku ini penjahat?”


“Kamu jelas menjadi dalang di balik kasus ini.  Aku mendengarnya sendiri.”


Emir tampak kesal sekali.  Ia memukul bundaran setiran.  Lalu menghentikan mobil.  “Kalau aku menjelaskan, apakah kamu akan mempercayaiku?”


“Enggak.”


“Pulanglah!”  Emir melempar remot mobil.  Ia lalu turun dari mobil dan dan berjalan menjauh, entah kemana.


Elnara menatap langkah Emir yang tegas hingga tubuh itu mengecil dan menghilang dari pandangan.  Beginikah cara Emir meluapkan emosi?


Elnara pindah duduk.  Menyetir mobil sendiri menuju ke rumah.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2