
Elnara keluar kamar. Menuju ke ruangan keluarga di lantai dua, kemudian ke balkon, melihat ke bawah. Sunyi.
Jam segini memang sedang sepi- sepinya. Ini jam terbang makhluk tak kasat mata. Yang bisa saja berkelebatan di udara dan menyapa dengan wajahnya yang super jelek.
Beberapa menit kemudian, subuh berganti dan pagi menjemput. Matahari terbit di ufuk timur.
Tiba- tiba Elnara membelalakkan mata saat melihat mobil milik Emir melintasi gerbang dan masuk ke area halaman rumah. Hati Elnara berbunga, akhirnya Emir pulang juga.
Elnara menghambur menuruni anak tangga dan menjemput Emir. Ia berpapasan dengan Emir ketika pria itu sudah berada di teras hendak melintasi pintu utama. Hampir saja mereka bertabrakan jika saja Elnara tidak gerak cepat untuk ngerem.
"Emir, kamu udah pulang?" Senyum Elnara mengembang. Ia pun heran kenapa bisa segirang ini melihat Emir pulang. Yang jelas ia ingin suaminya tidak marah lagi terhadapnya. "Kamu belum makan? Ayo makan, aku udah masak bubur enak sekali loh."
Emir heran melihat sikap Elnara yang mendadak sok akrab seakan- akan tidak ada masalah apa- apa sebelumnya. Padahal mereka tidak sedang baik- baik saja. Elnara telah membuat kondisi hati Emir kacau semalaman sampai- sampai ia menghabiskan waktu di kafe berteman dengan minuman hangat sampai pagi.
Emir terus berjalan seakan tak mempedulikan ucapan Elnara.
"Kamu udah makan ya? Pagi buta begini memangnya sarapan dimana?" Elnara tak patah semangat untuk terus merayu suaminya. Hei, kenapa sekarang malah dia yang jadi balik mengejar Emir begini?
__ADS_1
Emir hanya menoleh singkat saja. Tidak memberikan jawaban.
Hingga mereka memasuki kamar, Elnara masih ngintilin Emir.
Pria itu membuka kancing kemeja hendak mandi, badannya gerah tak nyaman.
"Aku bantuin." Elnara membantu membuka kancing kemeja hingga tangan Emir akhirnya turun dan melepas pekerjaannya. Membiarkan istrinya saja yang membuka bajunya, melepas dari lengan hingga lolos dari badan.
Emir meletakkan punggung tangan ke kening Elnara, membuat wanita itu nyengir kuda.
"Aku nggak panas, aku nggak gila," ucap Elnara yang menyadari maksud tindakan Emir. Wajah oria itu masih tampak kesal, sama seperti tadi malam ketika terakhir kali Elnara melihatnya. "Aku aneh ya?"
Duuh.... Suaranya kok bikin deg- degan?
"Aku... Aku mau disentuh sekarang." Elnara menghambur dan memeluk Emir, menelusupkan wajahnya yang memerah ke dada bidang suaminya. Malu deh setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi rasa cintanya membuatnya dengan mudah mengatakannya. Dia sudah rela dan menginginkannya. Dia sadar bahwa perasaannya kini sudah berubah haluan, bahwa yang dia rasakan itu adalah cinta. Dia ingin merasakan bagaimana memadu kasih bersama dengan orang yang dia cintai.
Emir mengernyit. Ia hanya bisa melihat kepala Elnara saja. Ia senang mendengar kalimat itu. Tingkah Elnara benar- benar aneh sekali. Tapi menggemaskan.
__ADS_1
"Aku udah dengar semuanya dari Hamish, bahwa kamu sama sekali nggak terlibat dalam kasus Afsa. Nanti aku akan bujuk ibu untuk mencabut perkara Hamish supaya nggak dilanjutkan," ucap Elnara.
Kekesalan Emir memudar. Akhirnya istrinya memahami juga. Emir menyentuh lembut lengan Elnara untuk melepas pelukan, namun Elnara tetap bertahan. Pelukannya semakin erat, tak mau dilepaskan. Wanita itu masih ingin menyembunyikan wajahnya di dada bidang. Malu sekali setelah mengucapkan kata- kata yang tadi. Ia jadi ingin mengumpati diri, beraninya berkata seperti tadi.
"Kamu yakin ibumu akan mau memcabut perkara itu?" tanya Emir lembut.
"Iya. Ibu pasti akan melakukan demi kamu. Jika dia tau orang yang menganiaya Afsa adalah Hamish, asistenmu pasti ibu akan mengalah. Ibu udah punya banyak hutang oadamu dan dianggap lunas bukan? Bahkan ibu juga udah memakai banyak uang untuk modal. Ini akan membuatnya paham dengan situasi. Aku akan bicara masalah yang sebenarnya hingga ibu mengerti."
Sunyi.
Beberapa detik mereka terdiam. Hingga akhirnya Elnara merasakan kupingnya disentuh dengan sesuatu yang dingin, yaitu bibir Emir.
Eh, mulai.
Meski dalam keadaan canggung, gugup dan malu, namun Elnara menerima ketika suaminya membimbingnya ke kasur dan memulai kegiatan halal itu. Kegiatan yang akan menjadi sejarah terindah di sepanjang hidup Elnara.
***
__ADS_1
Bersambung