GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Permintaan Yang Tertunda


__ADS_3

“Yuni!” panggil Emir dengan keras.


Asisten rumah tangga itu tergopoh.  “Ya, Mas Emir?”


“Bersihkan lantainya!” titah Emir menatap lantai yang kotor oleh pecahan kaca.


“Baik, Mas.  Mari sini gelasnya biar saya bawa!”  Yuni mengambil alih gelas di tangan Elnara.  


“Ayo, ikut aku!” titah Emir pada Elnara.  Pria itu kemudian melangkah menuju ke kamar.


Elnara memegangi jemarinya yang terluka dan masih sedikit mengeluarkan darah itu sambil berjalan menuju ke kamar.  


Ini Emir kenapa malah mengajaknya ke kamar?  Bukannya pria itu mengobati luka di jemari Elnara, eh malah mengajak ke kamar.  Ke kamar mau ngapain coba?  Ah, pikiran Elnara kenapa jadi ruak begini?  


“Sini!”  Emir sudah duduk di sisi ranjang, dengan kedua tangan memangku kotak obat.


Oh… ternyata benar Emir mau mengobati, pikiran Elnara tadi sudah traveling saja.  hi hiii…


Elnara mendekati Emir.  Duduk di sisi pria itu.


Emir mulai mengobati luka di jari Elnara.  “Kamu tadi memasuki kamar Cindy, apa yang kamu lakukan di sana?”


Pertanyaan Emir membuat Elnara terkesiap dan terdiam.  Kok emir bisa tahu?  Apakah pria itu tadi mengintainya?


“Hei, aku sedang bertanya, dan kamu malah melamun.”  Emir mengguncang jari Elnara yang sedang dibalut perban.


“Aduh, sakit!”  Elnara mengeluh.


“Aku tahu itu sakit.  Makanya bicara!”


“Maaf.  Jangan marah- marah.”

__ADS_1


“Aku tidak marah.  Bedakan antara marah dan suara tegas.”


“Iya iya.  Jadi tadi tuh aku bawakan makanan untuk Cindy.  Dia kan pulang dari les belum sempat makan.  Kasian dia lapar.  Kulihat makannya pun lahap sekali.”


“Bukankah kamu tidak menyukainya?  Lalu kenapa terlihatmengasihaninya?” selidik Emir.


“Siapa bilang aku tidak menyukai Cindy?  Aku menyayanginya.  Hanya saja, dia itu terkadang memang menyebalkan.  Mungkin itu terjadi karena dia kekurangan kasih sayang.  Dia kan tidak ada ibu.  Memangnya ibunya kemana?”


“Ibunya sudah tidak ada.  Sudah lama meninggal.”


“Oh… maaf.”


“Kamulah yang akan menggantikan sebagai ibu.  Jangan bertengkar dengannya, jangan menyakiti hatinya, jangan lukai perasaannya.  Dia memang nakal, maka kau dan akulah yang bertugas mendidiknya.  Dia sudah tidak memiliki ibu.”


Elnara jadi iba mendengar perkataan Emir.  Cindy adalah anak yatim, sudah sewajarnya diberi perhatian dan kasih sayang.  “Ya itulah yang sedang aku lakukan.  Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk Cindy.  Aku sedang berusaha.  Cindy terlihat membenciku, dia ingin menjauhkanmu dariku karena dia takut kehilangan kasih sayangmu, dia takut perhatianmu terbagi.  Dia takut aku menjadi penyebab hilangnya kasih sayangmu kepadanya.  Maka aku harus menunjukkan kepadanya bahwa semua itu tidak akan terjadi, justru kehadiranku akan memberikan kasih sayang lengkap sebagai orang tua.” 


“Kamu merasakan kehilangan seorang ayah, dan itu menyakitkan.  Sedangkan Cindy tidak pernah merasakan kehilangan karena orang yang seharusnya dia miliki itu sudah tiada sebelum sempat dia memilikinya.”


“Oh ya?  Saudara?  Aku tidak pernah melihatmu bersama dengan saudaramu.  Bahkan aku tidak tahu itu.”


Elnara tersenyum.  “Suatu saat aku tentu akan mengenalkanmu.  Tentu kamu harus mengenal keluargaku bukan?”


Emir melepas jari Elnara yang sudah selesai diobati.  


Manik mata Elnara kemudian tertuju ke arah kruk yang bertengger di sisi ranjang.  “Itu kruknya kok hanya satu?”


“Aku sudah bisa menggunakan satu kruk saja.”


“Oh ya?  Selamat!” Elnara senang sekali.  Ia seperti mendapat kabar gembira yang membuat kehidupannya berubah.  Entahlah, kenapa Elnara bisa sebahagia ini saat tahu ada perubahan yang sangat baik dalam kesehatan Emir.


Eh?  Tunggu dulu, tapi ini kok terciuam aroma badan Emir ya?  Aromanya menyengat sekali.  Elnara membelalak saat sadar bahwa ia tengah memeluk Emir.  Saking gembira, ia sampai lupa diri.  Tubuhnya reflex maju dan memeluk Emir.  

__ADS_1


Sekarang, Elnara bingung harus berbuat apa, untuk memundurkan tubuhnya pun menjadi canggung.  Duuuh… 


Pelan, Elnara memundurkan tubuh dan menunduk.  Malu ya ampun malu sekali.


“Kenapa?  Kalau mau peluk lagi juga tidak apa- apa.”  Emir menangkap ekspresi malu di wajah Elnara, membuat pipi wanita itu semakin memanas saja.


Jantung Elnara seperti senam saat jemarinya disentuh dan digenggam oleh Emir.  Meski hanya jari yang dipegang, tapi rasanya nyetrum sampai kemana- mana.  Aliran darah pun mendadak jadi berpacu cepat.


Emir menyentuh dagu Elnara dan mengangkatnya hingga pandangan mereka bertemu.


“Elnara.”  Suara Emir serak.


Melihat tatapan mata Emir yang berbeda, Elnara makin tak karuan.  Emir mau apa ya?  Wajah Elnara mendadak memucat.  Kenapa ia benar- benar belum siap melayani Emir sebagai suaminya?


“Apakah kamu siap melayaniku?” tanya Emir.


Sungguh ini adalah pertanyaan yang paling sopan bagi laki- laki yang sudah berstatus sebagai suami.  Etikanya sangat tinggi.  Dia paham bahwa Elnara memendam perasaan berkecamuk karena dia adalah penyebab kematian ayahnya Elnara, sehingga ia merasa perlu mengajukan pertanyaan itu.  


Melihat wajah gugup Elnara, Emir sudah tahu jawabannya tanpa perlu menunggu wanita itu menjawab.


Pria itu membanting tubuhnya ke kasur.  


Elnara tertegun.  Emir ternyata melepaskannya.


“Aku tidak akan menyentuhmu jika kamu belum siap secara mental,” ucap Emir.  “Pergilah mandi!  Setelah itu makanlah.  Kamu belum makan bukan?”


“Iya, aku akan mandi dan langsung makan!”  Elnara bergegas ke kamar mandi dengan raut gembira.  Entah kenapa ia mendadak merasa bahagia mendapat perhatian dari Emir.  Disuruh mandi dan makan.  Perhatian yang sederhana itu rasanya sangat berarti untuk seorang wanita.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2