
“Oh… Justru aku baru tahu pelaku penganiayaan itu dari mulutmu sendiri sekarang.”
Elnara menggelengkan kepala. “Ini yang aku takutkan. Aku sembunyikan nama Afsa sebagai pelakunya karena aku nggak mau kamu nekat dan melakukan hal konyol terhadapnya.”
“Aku tadi keluar memang untuk mencari tahu, tapi aku belum menemukan siapa pelakunya. Jika kamu tidak mengatakan ini, aku bahkan belum tahu siapa pelakunya, El.”
“Lalu darah apa tadi? Itu darah siapa? Itu darahnya Afsa kan?” jerit elnara histeris.
Ekspresi wajah Emir langsung berubah, tampak emosional. “Kapan kamu bisa mempercayaiku, Elnara?” Emir melangkah maju. Suaranya serak dan rahangnya mengeras.
Elnara pun melangkah mundur. Nyalinya menciut melihat ekspresi Emir yang mendadak jadi seram.
“Aku suamimu. Tapi kamu tidak pernah bisa mendengarkan aku. Kapan kamu akan mendengarkan aku?” Emir marah.
“Melihat kondisi yang seperti ini, aku harus percaya pada siapa?” Elnara menghindari Emir, menjauhi pria itu. Ia menyambar tas dan menggantungnya di pundak. “Aku harus menemui Afsa.”
Emir menyusul Elnara. Pria itu mengikuti istrinya yang berjalan dengan langkah terburu- buru menuju ke luar.
“Jangan pergi!” Emir memegangi lengan Elnara.
“Saudaraku terkapar parah dan kamu melarangku untuk menjenguknya? Ada apa denganmu?” Elnara memberanikan diri untuk protes.
“Jangan pergi! Tanpa aku!”
__ADS_1
Elnara terdiam. Ia sudah salah sangka.
Emir mengeluarkan mobil dari garasi, menghempiri Elnara yang berdiri di teras.
Mobil kemudian melaju kencang.
“Sebegitu kerasnya kamu mengkhawatirkan saudaramu yang tidak punya otak itu.” Emir tampak semakin emosi. Ia bahkan menyetir dengan kecepatan tinggi, membuat ELnara ketakutan saja.
“Jangan katakan kalimat kasar itu!”
“Kamu tidak terima saudaramu itu dikatain begitu? Lalu apa namanya manusia yang menganiaya saudara kembarnya sendiri sampai separah itu? apakah itu bisa dikatakan punya otak? Manusia diciptakan lengkap dengan otaknya, Tuhan tidak akan mungkin lupa dengan hal itu. Tapi Afsa tidak pernah menggunakan organ penting itu untuk berpikir. Aku tidak suka setiap kali kamu membelanya.”
Elnara hanya diam saja. Entah kenapa ia pun tidak suka setiap kali mendengar orang lain menjelekkan kembarannya, meski itu adalah benar adanya. Nalurinya berkata bahwa aib kembarannya mesti dia tutupi. Entahlah, kenapa LEnara masih beranggapan demikian setelah apa yang dilakukan oleh Afsa terhadapnya.
Elnara diirngi oleh Emir memasuki sebuah kamar rumah sakit. Di sana sudah ada Linol yang menunggu dengan wajah sembab setelah menghabiskan air mata segayung. Tak henti menangis melihat kondisi Afsa yang mengenaskan. Dipasang gips di leher, peralatan medis hampir menutup wajahnya yang hancur. Pipinya rusak. Selang masuk ke mulut, membuat mulutnya hampir tersumbat penuh.
Infus menggantung, jarum menusuk punggung tangan.
“Kenapa ini bisa begini?” Linol menangis pilu. “Afsa diserang orang. Kondisinya parah sekali. Dia koma.”
“Ya Tuhan.” Elnara menyentuh kaki Afsa. Menatap prihatin. Seburuk- buruknya Afsa, tetap saja Elnara merasa iba, tak tega. Mungkin ikatan darah itu memang kental, membuatnya tak bisa membenci.
“Siapa yang tega melakukan ini?” Linol sesenggukan.
__ADS_1
Elnara menatap ke arah Emir.
Mendapat tatapan penuh kecurigaan itu, Emir mengangkat dagu kesal. Wajahnya tampak memerah karena emosi. Dia merasa tidak dipercayai, bahkan dicurigai terus.
“Kita harus lapor polisi. Ini criminal dan membahayakan nyawa,” ungkap elnara sambil melirik Emir.
Pria itu balik badan kemudian melangkah keluar.
“Ya. Ibu sudah laporkan ini ke polisi. Dan polisi juga sedang menyelidiki kasus ini. Mereka akan mencari titik terang melalui cctv yang menyorot langsung pada kejadian perkara,” jawab Linol dengan sedih.
Elnara kembali menatap ke arah Afsa. Kondisinya memang sangat mengenaskan. Kasihan. Hal itu terjadi setelah Afsa melakukan penganiayaan pada Elnara dengan tanpa belas kasihan. Setelah itu Afsa langsung mendapat balasan kontan. Bukan dari tangan Elnara, melainkan dari perantara orang lain.
Sebenarnya Elnara juga ingin mengatakan ‘kapok, begitulah akibatnya kalau jahat dan menganiaya orang, akibatnya balik dianiaya orang’.
Huh, tapi hati Elnara tak tega mengungkapkannya.
Kini bahkan wajah Afsa separuh hancur. Pasti butuh operasi beberapa kali untuk dapat memulihkannya.
Dan… entahlah, apakah wajah kembar mereka akan terlihat kembali serupa seperti sedia kala? Kemungkinan tidak.
Satu jam berada di ruangan itu, Emir tak kunjung datang. Kemana dia?
Bersambung
__ADS_1