
"Aku datang bukan untuk membuat kasih sayang papamu terbagi, tapi justru membuatmu merasakan kasih sayang yang lengkap." Elnara kembali mengulas senyum. Sepertinya bujuk rayunya berhasil, dan memang Cindy pun tentunya merasakan ketulusan Elnara.
"Ya sudah, ayo kita makan," ajak Elnara.
"Aku nggak lapar." Cindy menggeleng.
"Takin nggak mau makan? Nanti nyesel loh. Ini masakan asli hasil buatan tanganku."
Cindy yang tampak jual mahal untuk bersikap manis pada Elnara, akhirnya tak kuasa menahan senyum. Bocah itu punengulas senyum tipis dan menuruni kasur. Mereka memasuki ruang makan bersama- sama.
"Ya ampun, apa yang kalian lakukan sampai selama ini baru muncul ke ruang makan? Lihatlah, mie milikku sudah mau habis." Yona memperlihatkan mie miliknya yang sudah tinggal satu suap lagi. "Mie milik kaian pasti sudah tidak panas lagi."
Elnara tertawa kecil. Ia yang sejak tadi mengajak Yona makan, malah datang belakangan. "Maaf, Ma."
Elnara duduk di salah satu kursi. Demikian pula Cindy yang juga duduk dan langsung meraih salah satu piring berisi mie.
"Ya sudah, cepetan makan!" Yona menyudahi makan. Ia meneguk jus hangat. "Itu sudah aku buatkan susu untuk kalian berdua. Yang itu susu untuk Elnara, yang satu itu untuk Cindy. Awas jangan sampai ketuker, soalnya fungsinya beda- beda. Susu untuk Cindy adalah susu untuk kecerdasan otak biar nggak lemot saat di sekolah. Sedangkan susu untuk Elnara adalah susu untuk persiapan kehamilan." Yona mengulum senyum kemudian melenggang pergi.
Mendengar ucapan Yona, Cindy langsung menatap Elnara dengan tatapan aneh.
Elnara pun jadi salah tingkah ditatap begitu oleh Cindy. "Jangan dengarkan oma mu. Dia pasti sedang bercanda. Ayo cepat makan, keburu dingin," ucap Elnara sembari melirik ke arah gelas berisi susu.
Duh, apa itu beneran susu untuk persiapan hamil?
***
__ADS_1
Klek.
Pintu kamar terbuka, Emir menyembul masuk.
Elnara tengah berbaring di kasur dengan selimut menutup sampai ke dada.
Pukul satu dini hari, Emir baru pulang. Pria itu semenjak kakinya sudah bisa digunakan untuk berjalan memang terlihat sibuk. Jarang di rumah. Wajar dia pulang larut.
Namun kali ini ada yang tidak wajar dengan kondisi Emir, tampak bercak darah di lengan baju pria itu.
Darah apa itu? Meski dalam keadaan pencahayaan yang hanya remang- remang karena kamar hanya menggunakan lampu tidur, namun Elnara masih dapat melihat dengan jelas kondisi di depan matanya.
"Emir, kamu terluka?" Elnara langsung mendekati Emir. Melihat lengan baju yang terkena darah.
Emir malah tampak bingung. Dahinya sampai mengernyit. "Luka apa?"
Terlihat Emir yang tampak berpikir keras. "Oh... Ini sepertinya tadi terkena darahnya Hamish. Dia terluka, katanya ada preman yang iseng. Aku menolongnya saat memergokinya sedang berjalan sendirian dalam keadaan terluka."
Elnara tak yakin, ia menaikkan lengan baju Emir untuk melihat kondisi lengan suaminya. Ternyata lengan suaminya baik- baik saja. Tak ada luka.
“Jadi benar itu darahnya Hamish?”
Emir tersenyum tipis. “Kamu cemas? Aku suka melihatmu cemas begini.”
“Hilih.” Elnara meninju pelan lengan Emir. “Lalu bagaimana kondisi Hamish sekarang?”
__ADS_1
“Dia tadi dibawa ke rumah sakit. Lukanya dijahit, tapi sudah pulang.”
“Apakah preman yang melukainya itu ditangkap?”
“Katanya kabur entah kemana. Yang terpenting sekarang kondisi Hamish sudah membaik.”
Emir kemudian menukar pakaian setelah melepas baju.
Suara deringan ponsel membuat Elnara menjemput hp di atas kasur. Linol menelepon.
“Ibu, ada apa?” tanya Elnara usai menggeser tombol hijau. Agak heran dengan waktu telepon yang tak biasa, dini hari begini ibunya menlepon.
“Afsa masuk rumah sakit. Dia diserang orang dan terluka parah.” Terdengar suara Linol gemetaran di ujung telepon. Ia menyebutkan salah satu nama rumah sakit.
Elnara tercekat, tangannya kini gemetar dan lemas. Hp pun sampai hampir terjatuh. Tanpa sengaja jempolnya menggeser tombol merah hingga panggilan pun terputus.
Tatapan Elnara kini tertuju kepada Emir. Tatapan penuh kewaspadaan. “Emir, Afsa masuk rumah sakit diserang orang.”
“Lalu?” Emir mengernyit.
“Jawab aku, apa yang kamu lakukan kepada Afsa?”
“Kamu menuduhku mencelakai Afsa?” Emir menunjuk dadanya sendiri.
“Kamu pergi dari rumah dengan keinginan mencari tahu siapa orang yang telah menganiaya aku. Dan kamu sudah menemukan pelakunya kan? Lalu ini yang kamu lakukan kepada pelaku itu.”
__ADS_1
Bersambung