
Emir tampak sedang mengobrol dengan sepasang suami istri, mereka adalah klien Emir yang baru saja bekerja sama. Setelah klien lama batal bekerja sama, kini Emir mendapat klien baru.
“Istrinya tidak ikut?” tanya Pria berkemeja putih di hadapan Emir.
“Dia akan menyusul. Dia akan membawa saudaranya turut serta kemari,” jawab Emir.
“Oh… pantas saja masih ada dua kursi yang kosong. Pak Emir sengaja memesan meja dengan lima kursi karena ada dua orang yang ditunggu,” sahut sang istri, wanita berkulit hitam manis yang tampak elegan dengan hijab biru. “Tapi saya sudah agak lapar ini. Bagaimana kalau kita pesan makanan dulu saja?”
“Oh. Bisa.” Emir sebenarnya menunggu Elnara untuk memesan makanan, tapi Elnara lama sekali. Ia jadi malu sama tamunya hingga mereka sampai harus kelaparan begini karena menunggu kedatangan Elnara.
Kemana wanita itu?
Emir memanggil pelayan. Mereka memesan makanan tiga porsi.
Sambil makan mereka mengobrol. Lebih tepatnya Emir mengobrol pun sambil mengirim chat kepada Elnara.
‘Aku sudah menunggumu sejak tadi?
Ayolah, jangan membuatku menunggu terlalu lama.’
Emir mengirim kata- kata itu kepada Elnara. Tak puas, ia pun kembali mengirimkan chat berikutnya.
‘Jika kamu tidak juga datang dalam hitungan lima menit,
maka aku akan menghukummu.
Kamu tidak berpakaian di hadapanku selama tiga jam, mau?’
Bahkan tak ada jawaban dari Elnara, dibaca pun tidak juga.
Ya ampun, Emir pun menahan kesal, ingin sekali memantulkan bola ke kening Elnara. Kemana wanita itu? makanan milik Emir sudah hampir habis.
“Istri bapak pasti beruntung memiliki suami seperti Pak Emir. Mapan, tampan, cerdas, rajin dan tegas. Urusan bisnis selalu lancar jaya,” ungkap pria berkemeja biru.
“Setiap manusia memiliki kekurangan. Dan… seperti yang Anda lihat, saya memakai ini.” Emir menunjuk kruk di sisinya. Seperti biasa, tatapan Emir selalu tegas, nada bicaranya pun tak kalah tegas. Inilah cirri khas Emir yang terlihat tanpa senyum setiap kali berada di luar rumah.
“Itu kan tidak permanen. Pak Emir pasti suatu saat akan bisa kembali berjalan lagi.”
“Justru saya lihat istri bapak beruntung memiliki suami seperti Anda. Saya yakin istri bapak betah dengan Anda karena Anda ini seorang yang perhatian.”
Wanita berhijab biru tertawa renyah sekali sambil mencubit sang suami. Inilah momen indah yang pantas disaksikan, ketika seorang wanita bermanja pada suaminya.
“Maaf, aku sedikit telat.”
Suara yang datangnya dari sebelah samping membuat pandangan Emir tertuju ke sumbernya. Ia melihat wajah yang tidak asing, siapa lagi kalau bukan wajah sang istri.
__ADS_1
Huh, akhirnya dia datang juga.
“Ini istriku!” Emir memperkenalkan, menunjuk Elnara yang menenteng tas kecil dengan dress warna putih.
“Wah, cantik sekali. Senang bertemu denganmu.” Wanita berhijab biru menatap takjub.
“Terima kasih.” Elnara menarik kursi dan duduk di sisi Emir.
“Elnara, kenapa kamu sendirian? Bukankah seharusnya kamu berdua?”
“Iya, soalnya Afsa nggak bisa ikut. Di tengah jalan tadi dia meminta untuk berhenti di minimarket, kemudian dia memutuskan untuk nggak ikut. Katanya dia bertemu dengan temannya. Lain kali dia akan datang ke rumah saja,” jelas Elnara.
“Okey.”
Emir kemudian memesankan makan untuk Elnara, tentu saja menanyai Elnara lebih dulu makanan apa yang diinginkan.
Elnara terpaksa makan sendiri. sedangkan yang lain asik membicarakan hal- hal mengenai pekerjaan.
Setelah selesai pertemuan itu, Emir mengajak Elnara pulang. Mereka duduk bersisian di di dalam mobil yang dikemudikan oleh Elnara.
“Kenapa tidak baca chatku?” tanya Emir, membuat Elnara membelalak.
“Aku menyetir, aku nggak bisa baca chat.”
“Berhenti? Kenapa?”
“Ikuti saja perintahku! Kamu hentikan mobilnya dan baca chat dariku.”
“What? Aku sampai harus menghentikan mobil hanya untuk membaca chat darimu?”
“Hei, kenapa kamu membantahku? Tumben.”
“Kamu bisa mengatakannya kepadaku secara langsung, nggak harus aku yang membacanya.”
“Berhenti sekarang!” tegas Emir dengan nada yang sulit dibantah.
Elnara terpaksa menghentikan mobil. Mukanya memucat.
“Kenapa kamu terlihat bingung?” tanya Emir.
“Ini berhenti mau ngapain?”
“Ayo turun!” Emir menuruni mobil, Elnara pun ikut turun.
Wanita itu mengikuti Emir menuju ke sebuah toko. Ia membelalak saat menyadari kini ternyata berada di toko perhiasan.
__ADS_1
“Loh, ini toko perhiasan ya? Ini kenapa kamu mengajakku ke sini?” tanya wanita itu. "Mau ngapain kita di sini?"
“Kamu suka ini?" Emir menunjukkan cincin, kemudian langsung memasang cincin tersebut ke jari manis Elnara.
"Thanks. Aku suka." Elnara tersenyum lebar.
Emir membayar menggunakan kartu kredit. Sesekali ia melirik Elnara yang tampak bahagia, senyumnya tak pernah lepas.
Mereka kemudian kembali ke mobil, pulang.
"Bisakah kamu menyetir sedikit lebih pelan?" tanya Emir.
"Ini sudah pelan."
"Maksudku, gaya menyetirmu sedikit kasar. Kamu harus belajar bagaimana menyetir supaya terasa halus."
Sesampainya di rumah, Emir langsung menuju kamar. Langkahnya menuju ke meja, ia meletakkan ponsel ke meja itu.
Sesaat Emir tertegun merasakan perutnya yang tiba- tiba dipeluk dari belakang. Ia menoleh, menatap kepala Elnara yang nyender di punggung.
"Makasih ya, kamu udah berikan pengalaman yang membuatku hilang dengan rasa trauma." Elnara membenamkan wajahnya di punggung gagah itu.
Emir masih terdiam, ia bertanya- tanya, kenapa Elnara begitu hangat?
Wanita itu memutari tubuh Emir, kemudian ia berdiri menghadap dan kedua lengannya mengalung di leher Emir.
"Aku... Aku mau kamu peluk aku."
Emir menatap mata wanita itu, hingga ia kemudian maju dan memeluk istrinya. Meski ia merasa takjub dengan sikap Elnara yang menjadi hangat dan agresif, namun ia tak mau bertanya banyak hal.
Kepalanya mundur saat Elnara menciumnya. Wanita ini.... sungguh memikat. Emir merasakan sebuah permen berpindah dari mulut Elnara ke mulutnya. Permen yang manis dan sedikit asin. Sebenarnya ia tak menyukai rasa itu, namun ia tak bisa berdalih. Terpaksa menelan benda meski tanpa sengaja.
Beberapa menit, Emir merasakan suhu tubuhnya menjadi gerah. Panas.
Dan... ****! Emir sangat ingin. Elnara malam itu sangat menggoda. Segala rasa bercampur menjadi satu. Emir kehilangan akal sehatnya. Dalam dirinya seperti mendidih.
Sebenarnya Emir ingin menghindar karena satu hal, namun situasi yang memancing, ditambah hasrat yang memuncak membuatnya harus berbuat.
Detik berikutnya, Emir mundur dan mencengkeram dagu wanita yang terbaring di hadapannya, juga mencekik leher wanita itu.
"Siapa kau sebenarnya?" Pria itu berkata dengan suara serak, tatapan tajam dan ekspresi kejam. Dia mengambil pisau di atas meja dan mengangkatnya tinggi, siap menikam.
***
Bersambung
__ADS_1