GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN
Pisau


__ADS_3

Emir menatap nanar dengan napas keras wajah di bawahnya. Meski desakan dalam dirinya terus menyiksa, namun emosi ternyata mampu mengalahkan segalanya. "Aku akan melenyapkanmu!" Emir mengayunkan pisau.


"Aaaaa...." Wanita itu menjerit histeris ketakutan. Terlebih mata Emir tampak dipenuhi dengan amarah, ditambah ekspresi horor.


"Ll le lepaskan ini!" Wanita itu memohon dengan suara tercekat, tak sanggup bersuara akibat cekikan tangan Emir yang sangat kuat.


Pria itu melonggarkan cengkeraman tangannya di leher wanitanya. Lalu dengan suara geram dia kembali bertanya, "Siapa kau?"


"A aku Elnara, aku istrimu."


Emir kembali mengayunkan pisaunya membuat wanita itu kembali menjerit ketakutan. "Aku bisa mencincangmu jika mau. Tapi sayangnya aku tidak mau melukai wajah yang serupa dengan istriku, seakan- aku telah melukai istriku jika aku sampai merobek wajahmu."


"Ja jangan!"


"Kalau begitu, katakan siapa kau?" Emir mendaratkan ujung pisau tajam itu ke pipi wanita itu, menggerakkannya ke dagu, lalu ke leher. "Apa kau mau mati di tanganku, hm?"


Wanita itu menggeleng ketakutan, menangis tersedu. "Hentikan, Emir." Tangan wanita itu meraih perut rata Emir yang keras, lalu mengusapnya lembut, berusaha memberikan sentuhan manis untuk menggoyahkan pikiran Emir, ia ingin menggoda pria itu agar emosinya runtuh dan hasrat yang masih menguasai tubuh Emir kembali bangun.

__ADS_1


"Segini rendahnya caramu untuk menikmati kebodohan ini. Kau telah menjatuhkan harkat martabatmu sendiri. Rendahan!" Emir menjauhi wanita itu. Bangkit dan kakinya menuruni kasur, dia kini di posisi duduk di sisi ranjang. Dada bidangnya sudah dibanjiri peluh. "Dimana Elnara?" geram Emir sambil mengambil botol air mineral dari nakas, lalu meneguknya separuh. Sisa airnya disiramkan ke muka hingga air mengalir sampai ke dada dan perut. Tak peduli berjatuhan ke lantai.


"A apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu nggak mengenaliku?"


"Jika kau masih bersikeras mengakui dirimu sebagai Elnara, maka aku akan menghabisimu sekarang juga."


"Emir, aku nggak ngerti maksud ucapanmu."


"Kau bukan Elnara." Emir menghardik keras. Ia melempar botol bekas air mineral yang sudah habis ke lantai, meninggalkan suara dentuman keras.


Tubuh wanita itu sampai melompat hebat.


Wanita itu menjerit sambil menarik selimut untuk melindungi tubuhnya yang sudah tidak dilapisi baju. Ia bangkit bangun sambil berseru, "Aku Afsa."


Suara keras yang menyebut nama Afsa membuat ancaman Emir terhenti. Pria itu menurunkan pisau secara perlahan.


"Afsa. Kembaran Elnara?" Seringaian pun muncul di wajah Emir. "Dimana Elnara?"

__ADS_1


"Dia... Dia ada di jalan. I iya, aku menurunkannya di jalan."


"Pergi kau!" Emir tidak butuh penjelasan apa- apa lagi dari Afsa. Dia ingin wanita itu segera enyah dari hadapannya.


Afsa bergegas turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserak. Tangannya gemetar saat mengenakan pakaiannya itu. Emir kalau marah sangat menakutkan, hampir saja membuatnya gila.


Dengan wajah frustasi bercampur kecewa, Afsa melangkah keluar kamar. Keringat membasuh wajahnya bercampur dengan air mata. Wajah itu benar- benar basah.


"Loh, Mbak El, ada apa, Mbak?" Yuni yang berpapasan dengan Afsa pun terkejut melihat majikannya dalam kondisi sembab, wajah basah, rambut agak berantakan, pakaian pun tak begitu rapi. Afsa mengenakan pakaian dengan terburu- buru hingga membuat penampilannya sedikit kacau.


Afsa melengos pergi sambil memberikan tatapan tajam ke arah Yuni. Lalu berpaling, tak peduli dengan raut penasaran di wajah Yuni.


Tak lama kemudian menyusul Emir yang keluar dari kamar sambil mengenakan kaos, pria itu menarik ujung kaos ke bawah supaya menutup sampai ke perut bagian bawah. Satu tangan Emir memegangi kruk yang dia gunakan untuk alat bantu jalan.


Yuni tidak berani menyapa melihat wajah Emir yang memerah dipenuhi emosi. Tatapannya pun tampak tajam sekali.


Emir berjalan dengan langkah cepat, kruk yang menjadi penyangga tampak merepotkannya. Hingga saat tak ada lagi manusia di sekitarnya, dengan gerakan cepat, ia menenteng kruk lalu membawanya ke tepi jalan. Taksi membawanya pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2